Sepenggal Kisah Alani

Sepenggal Kisah Alani
Pahlawan Kesiangan


__ADS_3

***


Pagi ini Alani harus berangkat sendirian. Ini dikarenakan si Alina demam dadakan.


"Hem, cepet sembuh Lin," ujar Lani sambil mengelus pundak Alina.


"Aku bakalan sembuh kok. Ini demam biasa. Maaf ya Lani, gak bisa nemenin kamu hari ini," kata Alina dengan raut sedih.


"Gak apa-apa, kesembuhanmu lebih penting," balas Alani.


"Maaf ya..." ucap Alina dengan rasa bersalah yang besar. Pasalnya, dia gak yakin kalau Alani akan baik-baik saja. Orang-orang di sekitarnya banyak yang gak menyukai gaya penampilan Alani yang lebih condong ke cowok.


"Udah gak usah dipikirin. Aku bakal baik-baik aja kok," ucap Alani meyakinkan sang kembaran.


"Ya uwes, aku berangkat dulu ya," pamit Alani dan beranjak meninggalkan Alina terbaring di kamarnya.


Baru beberapa langkah keluar dari halaman rumahnya. Alani sudah melihat Hendra yang tengah berdiri di seberang jalan.


'Kak Hendra ngapain sih? Palingan nunggu Alina,' batin Alani sambil berjalan cuek melewati Hendra.


"Hai Lani!" panggil Hendra memberanikan diri.


Alani cuma melirik sekilas. Seperti tahu apa yang hendak Hendra tanyakan padanya. Alani segera bersuara. "Lina gak masuk sekolah kalau kak Hendra mau tahu," ucapnya dan langsung meninggalkan Hendra.


"Hah! Tu anak kenapa sih? Padahal aku ingin ngobrol berdua sama dia," gumam Hendra kesal. Lagi-lagi dia dicuekin oleh Alani.


"Dasar tomboi," maki Hendra sambil menendang kerikil ke sembarang arah. Kemudian dia mulai mengayunkan kakinya menuju ke arah lain.


***


Di sekolah.


Melihat Alani yang tengah berjalan sendirian, si Tasya dan Meta mulai beraksi. Kini pasukan Tasya terlihat semakin banyak saja. Tasya yang cerewet, suka gibah alias ngegosip, ternyata mempermudahnya untuk mendapatkan teman. Gak kayak Alani yang sampai sekarang belum punya teman.


Jessi? Entah, pantaskah Jessi dianggap teman oleh Alani?


"Ckckck, si tomboi sendirian nih? Mana kembaran lu?" tanya Tasya sambil meyedekapkan kedua tangannya.


Alani menatap Tasya dengan tajam. Lalu dia menatap wajah-wajah gadis yang lain yang kini sudah berada di samping Tasya.


Sangat menarik!


Tapi Alani malas untuk berantem dengan mereka. Tak bisakah dia hidup aman damai tanpa ada gangguan dari para siswi lain?


"Budek ya lu!" Tasya menaikkan nada bicaranya.


"Apa urusan lu?" sahut Alani. Kali ini dia mencoba untuk menanggapi pertanyaan yang Tasya lontarkan.


"Ck, sombong banget nih anak. Belagu!" maki Tasya dengan tajam.


"Lu cewek aneh," maki yang lain.

__ADS_1


"Tomboi!"


"Jelek!"


"Lu gak pantes sekolah di sini!"


"Jangan-jangan..." Meta menyahut dan menjeda ucapannya.


"Jaga ucapan kalian!" teriak Alani kesal.


"Wahaha, si tomboi marah rek?" ujar Tasya dengan wajah bahagianya.


'Kurang ajar Tasya, awas aja lu. Gue tandain elu,' batin Alani ingin balas dendam akan sikap Tasya yang membuatnya makin sengsara seperti saat ini.


"Semarah apa sih dia? Emang tomboi bisa marah?"


Pluk!!


Seseorang telah melempar Alani dengan sebuah bola kertas.


Pluk!!


Pluk!!


Dan lemparan itu semakin menjadi.


"HEH!! GILA KALIAN!!" Jessi yang baru sampai ke sekolah langsung berlari ke arah Alani.


Rupanya Tasya melayangkan bendera permusuhan antara dia dan Jessi. Tasya merasa ditipu oleh kejahatan Jessi yang ternyata hanyalah pura-pura.


"Bukan pahlawan lagi. Tapi cewek pe-la-ngi," ujar Meta dengan enteng.


"Sinting kalian. Awas aja, gue gak bakal tinggal diem. Dudul," teriak Jessi emosi.


Jessi segera pergi mengajak Alani ke bawah pohon beringin. "Lu gak apa-apa Lan? Kenapa lu diem aja sih dilempari kertas kayak gitu?" Jessi masih terbawa emosi.


Alani menunduk. Dia tak bisa berkutik. Jujur dia ingin membalas. Tapi nyalinya terlalu ciut untuk melawan. Dia takut, gak berani untuk melawan keadaan yang sama sekali gak mendukungnya.


"Kenapa lu diem Lan?" tanya Jessi curiga.


Melihat wajah merah padam Alani. Jessi akhirnya paham. Dia langsung mendekat ke arah Alani. Kali ini memberikan pelukan hangat seperti biasanya.


"Udah, jangan dipikirin. Ada gue di sisi lu Lan. Lu jangan jauh-jauh ma gue ya, biar mereka semua gak jahilin elu," kata Jessi menenangkan.


Cekrek!!


Terdengar bunyi kamera yang tengah mengambil gambar. Jessi langsung menoleh dan kaget.


"Woi!! Ngapain lu!!" teriak Jessi protes.


"Hahaha, kalian berdua ternyata les to the be," ujar siswi yang barusan mengambil gambar pelukan mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian emang bener-bener ya? Apa untungnya buat kalian kalau kami emang cewek pelangi? Apa? Kalian dapat apa ha!!" Jessi melepaskan pelukannya dan menghampiri siswi satu ini.


"Ya gue dapat gosiplah!" balas siswi ini dengan enteng.


"Sis, lu butuh duit berapa?" tanya Jessi dengan lembut. Dia tahu, Siska si pengambil foto secara diam-diam ini adalah gadis yang gak mampu. Mungkin dia butuh duit, makanya dia ngelakuin hal rendah kayak gini.


"Apa maksud lu Jess?" Siska ketar-ketir. Dia antara takut dan nekat.


"Bilang, butuh berapa?"


"Lu tahu apa yang gue mau Jess?" tanya Siska lagi.


"Iya. Gue bakal kasih lu 300 ribu. Tapi hapus foto itu. Kalau foto itu tersebar, gue pastiin keluarga lu gak ada yang selamat," ancam Jessi emosi.


"Ya udah iya, gue delete nih. Tapi genapin lah, 500 ribu," tawar Siska.


"Jess, jangan lakuin itu. Tuman nanti," sahut Alani. Rupanya keberaniannya sudah kembali pulih. Seenggaknya otak Alani masih waras. Kalau kebiasaan dikasih uang, yang ada justru berujung pemerasan nanti.


"Gak apa-apa Lan. Kali ini aja." Jessi senang. Dia merasa Alan mulai perhatian dengannya.


"Tapi Jess---" cegah Alani lagi.


"Udah tenang aja." Jessi meyakinkan.


Alani hanya bisa menarik nafas panjang. Dia gak bisa berbuat apa-apa selain balas budi kepada Jessi nanti. Sebab, Jessi berbuat ini juga demi kebaikannya.


"Makasih ya Jes," ucap Alani lesu.


Jessi tersenyum senang. Lalu dia menatap Siska dengan tajam. "Hapus sekarang!!" suruhnya.


"Yaelah, iya," balas Siska sambil menghapus file foto yang barusan dia ambil.


"Done," ucap Siska.


"Terus mana uangnya?" tanya Siska dengan gak tahu malunya.


"Bentar." Jessi membuka resleting tas sekolahnya. Dia mengambil ponselnya.


"Tulis nomor rekeningnya?" pinta Jessi.


"Gue gak punya rekening. Transfer ke shopeepay, ovo atau dana aja?" saran dari Siska. Ternyata jaman now, transfer ke bank sudah gak terlalu dipakai. Mereka lebih senang menggunakan aplikasi belanja atau yang sejenisnya.


"Oke, gue TF ke dana," ujar Jessi dan transaksi pun dimulai.


"Udah. Puaskan lu?" ujar Jessi sambil mengumbar senyum kesal. Tapi bagaimana lagi, dia melakukan ini demi menarik perhatian yang lebih dari Alani.


"Udah. Thanks," sahut Siska. Dia seneng dan ingin mencari kesalahan dari Jessi lagi.


'Ternyata, cari uang itu mudah,' batin Siska sambil menjauh dari tempat itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2