
***
Sejak kejadian beberapa hari yang lalu. Alani mulai sedikit menjauhi Jessi. Tapi namanya juga Jessi, meskipun dia dijauhi. Dia berusaha untuk tetap mendekati Alani. Ya seperti sekarang ini, saat Alani dan Alina tengah di kantin menikmati istirahatnya.
"Hai Alan, loe kenapa gak balas chat gue sih?" ujar Jessi sambil duduk tepat di samping Alani.
Dia adalah Jessi, yang tadinya ingin berbuat jahat kepada Alani. Tapi sekarang, niat itu sudah berbalik arah setelah mengetahui apa yang Alani rasakan. Dan juga Jessi menginginkan Alani.
"Hem, gue sibuk Jes. Gak sempet buka pesan dari loe," balas Alani santai.
"Seriusan?" Jessi kurang suka dengan jawaban Alani, tapi gimana lagi. Semakin Alani tak suka dengannya, disitulah Jessi bertindak.
"Iya, kami emang sibuk kok." Lina menimpali.
"Iya udah sih, gak masalah kok kalau sibuk. Tapi jangan abaikan gitu dong pesan dari gue? Loe gak mau berteman ma gue Lan? Gue gak gigit tahu? Loe gak kasian gitu ma gue?" Jessi mulai cari perhatian.
Plis deh, Alani sebenarnya jengah. Tapi dia teringat akan latar belakang Jessi yang gak punya ibu seperti dirinya. Pasti sangat berat juga beban Jessi.
"Bukannya gak mau, kebetulan kemarin emang lagi sibuk Jes. Kalau gue gak sibuk, pasti gue bales kok," balas Lani dengan maksud menghibur Jessi. Biar Jessi gak marah sama dia.
"Beneran loh yah? Elu bakal bales chat gue. Atau kapan-kapan elu main ke kosan gue?"
"Ngapain emangnya?" sahut Lina penuh selidik.
Lina curiga kalau Jessi ini cewek yang gak bener. Jadi dia harus wanti-wanti, takut kalau sikap Jessi berpengaruh pada Alani.
"Main doang, ngapain lagi? Loe kalau mau, ikut aja Lin," tawar Jessi sambil menyeruput jus buah yang barusan dia pesan.
"Hem, tentu. Di mana ada Alan, disitu pasti ada gue," balas Alina dengan santai. Dia mengunyah sebuah pentol yang ia pesan di kantin tadi. Itu adalah pentol terakhir sebelum dia dan Alani meninggalkan kantin.
"Ya udah, cabut yuk Lan. Bentar lagi mau masuk!" ajaknya.
"Yuk!" jawab Alani dengan mantap.
"Gue duluan ya Jes," pamitnya pada Jessi.
Terlihat sekali Jessi kecewa. Tapi Alani beneran risih. Dia gak ngerti apa yang terjadi dengan Jessi dan dirinya. Tapi berdekatan dengan Jessi membuatnya tak nyaman.
"Huh, untung kamu ngajakin pergi dari sana tadi," cerita Alani pada Lina.
"Ya aku tahu kamu itu gak nyaman. Makanya aku buru-buru ngajakin kamu pergi. Lagian Jessi kenapa sih?"
"Kenapa gimana?" tanya Alani penasaran.
"Itu, kenapa dia gampang banget ngajakin kamu ke rumahnya sih?"
"Entahlah, mungkin gara-gara kemarin itu. Jadi dia mikirnya aku dah akrab ma dia," balas Alani santai. Sebenarnya hatinya tidak berkata seperti itu.
"Ku pikir kamu sempat akrab ma dia," celetuk Alina pelan.
"Hah apa?" Alani gak mendengarnya.
__ADS_1
"Enggak sih, gak pa pa. Yok masuk!" ajak Alina.
'Sorry Lani, aku takut kalau kamu tersinggung gara-gara celetukanku tadi. Jadi, lebih baik kamu gak denger,' batin Lina sambil menatap punggung Alani yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.
***
Sepulang sekolah, Alani mencoba mengambil ponselnya dari laci. Mengecek pesan-pesan yang Jessi kirim buat dia.
Met bobo Alan. Nice dream.
Pagi Alan, udah bangun belum?
Alan, loe kemana sih? Kok chat gue diabaikan?
Lan, loe sekolah gak hari ini?
Seperti itulah chat dari Jessi. Sangat perhatian bukan?
"Jessi kenapa sih? Harus ku bales apa gak? Tapi..." Alani menjeda ucapannya. Dia gak pernah berpikir negatif thinking. Cuman, dia takut terbawa perasaan gara-gara perhatian Jessi kepadanya? Apakah salah?
Tuhkan, diread doang? Loe udah sampe rumah kan?
Alani kaget saat melihat pesan dari Jessi, berikut dengan tulisan online di sana.
"Jessi online? Astaghfirullah. Haruskah ku bales??" Alani bingung.
"Ya udah deh, ku bales aja. Lagian berteman ma Jessi gak buruk juga," ucap Alani lalu dia mulai membalas pesan dari Jessi. Dan chat keduanya berlangsung hingga mode curhat keadaan masing-masing.
Ya, Alani lupa waktu. Hingga sang bibi masuk dengan wajah yang garang.
"Bocah gak tahu diri. Bibi udah bilang, angkat jemuran! Tapi sampai sekarang gak berangkat juga. Udah bosen idup kah?" sindir Ana sambil melotot.
Alani meletakkan ponselnya. 'Ini bibi, kayaknya gak pernah ngasih gue waktu buat seneng deh. Bener-bener,' batin Alani sebal.
"Iya, Bi. Ono opo?" (Ada apa?)
"Angkat jemuran!" perintah dari Ana tanpa bantahan.
"Biar aku aja Bi," Alina datang sambil menawarkan diri.
"Tadi bibi bilang apa? Alina beresin dapur, masak. Dan Alani, angkat jemuran. Buru! Sebelum hujan," kata Ana lagi.
Setelah dilihatnya Alani pergi. Ana segera menelepon seseorang.
'Pacarnya lah tu,' batin Lina sambil menatap Ana yang ketawa ketiwi sama ponselnya. Entah bahas apa, tapi Alina merasa kasihan sama Alani.
"Maafin aku Lani, gak bantuin kamu," ucapnya lirih sebelum kembali ke dapur.
"Hem, kayak gini amat yak," keluh Alani.
Dia gak sadar kalau tengah diperhatikan oleh seseorang dari atas tangga.
__ADS_1
"Ma, ada tetangga barukah?" Orang itu menanyakan tentang Alani.
Alani yang mendengar ada suara langsung memicingkan matanya, mencari ke arah sumber suara tersebut. "Kak Hendra?" ucapnya pelan.
Ya, tetangga itu bernama Hendra. Kakak kelas masa SD nya dulu. "Ngapain dia di sana?" ucapnya lagi.
"Lani! Ngapain masih berdiri di situ! Masuk!!" teriak Ana dari kejauhan.
Lani segera menoleh dan buru-buru masuk ke dalam.
"Dasar lelet," kata Ana.
"Ya maaf Bi," jawab Lani sambil menunduk cemberut.
"Ya udah sana masuk. Setrika sekalian, atau gak makan!" ancam Ana.
"Iya Bi, iya."
Lani segera membawa baju yang ia angkati tadi ke ruang ganti. Dia menyiapkan setrika dan peralatan lainnya.
Sementara itu, si Jessi sudah mengirimkan beberapa chat. Sampai spam telepon juga. Tentunya Alani gak akan pernah menjawab telepon dari Jessi atau membalas chatnya.
Alani sibuk. Ya begitulah hidup menumpang. Semua harus Alani dan Alina sadari dan syukuri. Seenggaknya, bibinya masih mau merawat dia. Ya meskipun kalian tahu, bibinya suka menghabiskan uang peninggalan dari ayah dan ibu mereka.
Cukup lama, hingga sore hari kerjaannya baru beres. Dan baru itu juga sang bibi tercinta menyuruhnya makan.
"Gimana? Udah selesai?" tanya Ana.
"Udah Bi," balas Alani lesu.
"Ya udah, makanan tinggal di meja. Makan aja," ujar Ana menyuruh.
"Iya Bi," balas Alani lagi.
Alina yang baru selesai makan karena dipaksa sang bibi jadi merasa bersalah.
"Lani, maafin aku," katanya meminta maaf.
Alani merasa sedikit tercubit gara-gara melihat Alina yang lebih diperhatikan oleh sang bibi.
"Iya," balas Alani kecewa.
"Maaf Lani," ucap Alina lagi. Dia benar-benar merasa bersalah. Baru kali ini dia ninggalin Alani.
"Gak apa-apa," balas Alani santai.
Toh, inilah akibatnya kalau dia melawan takdir yang gak semestinya. Satu persatu orang yang ada di dekatnya bakal ngejauhinnya.
Semua karena perubahan dirinya.
Tomboi, apakah salah?
__ADS_1
Bersambung...