
Episode 4. Makin Dekat
Pagi ini terasa begitu dingin. Alani segera bangun dan bercermin menatap dirinya. Rambut panjangnya telah ia cukur menjadi layaknya seorang pria. Dia benar-benar tak ingin melihat wajah cantiknya lagi. Dia hanya ingin dia yang sekarang. Bersikap layaknya seorang pria.
"Kau sangat cantik Alani. Namun sayang kau sangat sombong. Maafin aku, kalau aku harus terpaksa memaksamu seperti ini. Mmuah!! Mmuah!!"
"Tidaaaak!!"
PRANG!!!
Alani membanting benda yang ada di dekatnya. Trauma itu masih membekas. Ciuman kakak kelasnya yang tak beradab itu masih terngiang-ngiang membayanginya.
"Ya Allah Lani!" Alina segera terbangun dan mendekati Alani.
Sang bibi muncul di balik pintu kamarnya. Dia menatap Alani dengan wajah yang seperti biasanya, tak suka.
"Opo eneh iki? (Apalagi ini?) Dasar pembuat onar! Bikin beban bibi makin bertambah aja," ujar bibi Ana dengan culas.
"Maafin Lani, Bi. Mungkin tadi Lani ndak sengaja," sahut Alina dengan takut.
"Selama ini kesabaran bibi belum habis ya Lin. Sekali lagi saudaramu itu bertingkah, bibi ndak segan-segan buat ngusir kalian dari rumah ini!" ancam Ana dengan emosi.
Dari awal dia memang tak menyukai keponakannya ini. Tapi karena ada beberapa warisan yang ditinggalkan oleh orang tua si gadis kembar ini, makanya si Ana mau mengasuhnya. Tapi makin ke sini, Ana sudah bosen. Warisan juga sudah mulai habis. Jadi dia berencana untuk membuang gadis kembar yang mungkin akan bernasib malang karena ulahnya.
"Masa bodo lah sama mereka. Jadi gembel pun juga gak masalah," gerutu Ana sambil meninggalkan kamar Alani.
Sepergian bibinya tadi. Alani menangis tersedu di dalam pelukan Alina. Sungguh, dia tetaplah gadis remaja pada umumnya. Punya hati dan perasaan. Dia cuma terlihat tegar di luarnya. Tapi dalamnya, benar-benar terpukul.
***
"Bibi, kami mau berangkat," pamit Lina pada bibinya.
Ana menatapnya penuh kebencian. "Kalau mau berangkat, ya berangkat aja. Ngapain pamitan?"
"Iya Bi." Lina lesu menatap ke bawah.
"Kalian pamitan sengaja mau minta uang jajan kan? Jangan harap! Uang warisan kalian udah habis. Buat kalian makan sehari-hari aja gak cukup," sahut Ana.
Mereka gak bodoh. Alani dan Alina cukup mengerti tentang duit. Mereka yakin, warisannya tak semudah itu langsung habis.
"Gak usah nipu kami Bi. Seenggaknya warisan dari orang tua kami itu masih cukup untuk bertahan 2 tahun lagi," balas Lani dengan santai.
__ADS_1
"Hei!! Dasar ponakan durhaka. Harusnya kowe (kamu) bersyukur udah bibi rawat. Bukannya malah nuduh nipu. Kurang ajar!!" Emosi Ana memuncak.
"Itu udah kami hitung buat kita bertiga Bi. Aku gak mempermasalahkan bibi pakai buat apa. Kalau dihitung lebih detail lagi, mungkin bisa buat 5 tahun ke depan. Tapi kami sadar. Ya kan Lin, kalau kita numpang itu gak ada yang gratis," ujar Alani sambil minta persetujuan Alina.
"Iya, tapi kami gak mempermasalahkan kalau itu buat kebutuhan bibi aja. Bukan buat pacar bibi," sahut Alina.
Mereka sangat santai. Gak mikirin nafas bibinya yang udah ngos-ngosan. Jelas Ana tersinggung, karena apa yang dikatakan 2 keponakannya itu adalah benar.
"Kurang ajar kalian! Pergi gak? Kalau gak, bibi siram air nih!" Ana meraih air minum yang ada di depannya. Menakut-nakuti kedua keponakannya agar cepat menghilang dari hadapannya.
"Yuk Lin, ada yang kebakaran jenggot!" ujar Alani sambil tersenyum mengejek.
"Dasar anak gak tahu diuntung!!" gerutu Ana sambil mengatur nafasnya yang sempat memburu gara-gara tadi. Setengah takut juga kalau dia ketahuan korupsi dari uang warisan anak yatim-piatu. "Bisa masuk sel ini."
***
Hari ini begitu cerah. Secerah hati Alani yang puas dengan sikapnya pagi ini. Dia tersenyum simpul saat mengingat bagaimana mimik ketakutan dari sang Bibi. 'Bagaimanapun juga, hak ku tetaplah hak ku,' batinnya.
Dia mengayunkan langkah kakinya dengan teratur. Mata-mata siswi lain menatapnya dengan pandangan yang aneh. Alani tahu itu, tapi dia berusaha cuek. Toh, inilah yang dia mau. Masa bodo dengan pendapat orang. Mungkin itu kata hatinya saat ada yang menatapnya heran dengan penampilannya yang lebih wow dari pada kemarin.
Alina hanya bisa menarik nafasnya perlahan. Dia berharap, ini jalan terbaik untuk Alani, kembarannya.
Alina menoleh ke samping kiri. Mendapati siapa yang menyapa kembarannya itu.
'Jessi,' batinnya kaget.
"Hai Jess, apa kabar?" Alani menanggapi Jessi.
Jessi langsung memeluk Alani, memberikan sebuah kecupan singkat di pipi kanan dan pipi kiri Alani.
'Kenapa Lani makin dekat dengan Jessi?'
"Gue hari ini sehat. Lu sendiri gimana?"
"Seperti yang lu lihat Jess," balas Alani.
"Cakep kok. Rambut lu makin keren," puji Jessi.
"Ah, thanks Jess. Ya udah, gue masuk kelas duluan ya," pamit Lani.
"Jangan lupa, bagi gue nomor WhatsApp lu," pesan Jessi sambil menatap Alina dengan sedikit kecanggungan.
__ADS_1
"Beres!!" balas Lani sambil mengajak Lina masuk ke dalam kelas mereka.
"Kamu udah baikan sama Jessi?" tanya Lina sambil berjalan di samping Alani.
Alina menarik kursinya ke belakang. Lalu dia duduk sambil bersandar dengan santai.
"Ngapain musuhan terus? Kalau kita bisa berteman kenapa enggak?" sahutnya.
"Yakin cuma berteman? Aku gak yakin Jessi wong apik," (orang baik) ucap Alina mencoba mengingatkan.
"Jangan menuduh kalau kamu aja gak tahu sikap dia kek gimana!" Alina mendorong maju mejanya. Dia menatap sekelilingnya yang ternyata dari tadi ikut memperhatikannya.
"Kenapa kalian?" tegur Alani dengan bengis.
"Gak ngapa-ngapain," sahut beberapa siswi yang lain. Takut.
"Kepo banget ma urusan orang. Kek gak ada kerjaan aja," dengus Lani kesal.
"Udah Lan, jangan emosi kayak gitu. Mereka cuma melihat kita doang kok, gak lebih," ujar Alina mencoba meluruskan.
"Ya kalau mau lihat sih gak apa-apa. Tapi rasanya kayak diintimidasi. Parah banget tatapan mereka. Dan aku benci." Alani meremas tasnya hingga kusut. Dia masih mengingat kejadian kelam itu. Tatapan mengintimidasi dari seseorang yang membuat harga dirinya hilang.
***
"Sore Alan yang tampan. Ini Jessi." Bunyi pesan Jessi melalui aplikasi WA (WhatsApp).
Tadinya Alani biasa saja. Tapi melihat typingan tampan membuat matanya membola. Karena dia tak yakin, dia langsung beranjak dari kasurnya. Menatap dirinya di cermin.
'Apa benar aku tampan?' batinnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Mengamati wajahnya inchi demi inchi.
Sebuah senyuman mengembang secara tiba-tiba. Dia senang, bangga akan jati dirinya yang baru. Dari situlah, kepercayaan diri Alani kembali timbul.
"Ya, ternyata gue emang tampan. Bener kata Jessi, gue ini tampan, hahaha!" Alani tertawa renyah. Berkat Jessi dia yakin, bahwa setelah ini tak akan ada lagi cowok yang mendekatinya.
"F*ck you!! I really hate men," (Persetan kau!! Aku sangat benci dengan laki-laki) ujar Alani dengan emosi.
"Gue akan balas perbuatanmu Gilang," lanjutnya sambil menatap dirinya di cermin.
Siapa Gilang?
Bersambung...
__ADS_1