Sepenggal Kisah Alani

Sepenggal Kisah Alani
Kesamaan


__ADS_3

Episode 5. Kesamaan


***


Hari ini adalah hari Senin. Yang di mana setiap siswi mengadakan upacara bendera. Meskipun semua warganya berjenis kelamin perempuan. Mereka semua tetaplah semangat. Dari para guru, siswi, semuanya terkumpul jadi satu di lapangan.


Kepsek (Kepala sekolah) adalah seorang perempuan. Berumur setengah abad. Tapi jiwa semangatnya masih membara. Membacakan pidato dengan semangat 45.


"Kita adalah perempuan. Punya impian dan tujuan yang sama seperti laki-laki. Perempuan bisa segalanya, bahkan kalian juga bisa jadi pemimpin. Jangan jadikan alasan, kalau perempuan adalah wanita yang lemah. Perempuan hanya lemah hatinya. Tapi jiwanya juga bisa berkobar.


Wahai anak didikku. Meskipun kalian seorang perempuan, ibu berharap kalian semua tetaplah menjadi perempuan yang kuat dan tangguh dalam menghadapi segala hal."


Itu adalah sepenggal pidato dari ibu kepala sekolah. Alani hanya bisa mendengarkannya. Mungkin intisari dari pidato itu, wanita tidak boleh lemah.


"Apa caraku ini salah?" gumamnya sambil menatap kepala temannya yang ada tepat di depannya.


Sejauh ini, hanya dia yang berpenampilan tomboi. Layaknya menyalahi kodrat sebagai perempuan. Tapi hanya ini pilihannya, agar dia terlihat kuat dan tegar. Dan satu lagi, terjauh dari godaan para pria yang kini dia kutuk kalau setiap laki-laki itu bejat.


Tak jauh dari tempat Alani berdiri, ada Jessi yang tengah mengawasi gerak-geriknya. 'Si Alan kenapa ya? Kok sedih gitu?' batin Jessi penasaran.


Tak lama, setelah upacara dibubarkan. Jessi segera berlari, menghampiri keberadaan Alani. "Alan!" panggilnya.


Alani dan Alina menoleh secara bersamaan. Alina mulai tak suka dengan Jessi. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa selain hanya mengingatkan Alani.


"Jaga dirimu baik-baik ya, jangan sampai terpengaruh ke hal-hal yang negatif," ujar Alina.


Alani hanya menatap Alina datar. Lalu dia mengangguk pelan. Alina cukup lega dan berpamitan masuk kelas duluan.


"Iya Jessi," sahut Alani saat Jessi sudah berada di dekatnya.


"Are you okay?" tanya Jessi sambil memegang jidat Alani.


Alani terdiam sambil menatap wajah Jessi. Sesuatu yang berbeda. Ya Alani merasakan itu. Alani merasa diperhatikan oleh seseorang. Alani rindu sosok ini.


Ibu....


"Hello Alan?" Jessi menurunkan tangannya. Kini tangan itu melambai-lambai di depan wajah Alani.


"Ah iya Jes."


"Lu kenapa Lan? Cerita sama gue yuk!" tawar Jessi.


"Gue kangen ibu gue Jes," balas Alani dengan lesu.


"Ibu? Nasib kita sama Lan," balas Jessi.


"Ibu lo kemana?" tanya Alani. Keduanya beristirahat, duduk di bawah pohon beringin yang berada di samping kelas Alani.


Kedua insan sesama jenis itu duduk berdampingan, saling menatap ke depan. Menceritakan hal pahit tentang masalah hidupnya.


"Ibu, dia ninggalin gue Lan," curhat Jessi sedih. Dia bersandar di pohon beringin yang rindang. Raut kesedihan itu terlihat begitu jelas.


"Huuuuhh!" Alani menarik nafasnya begitu dalam.

__ADS_1


"Kita sama, sama-sama ditinggalin sama ibu kita," sahut Lani sambil mengikuti jejak Jessi. Bedanya, Lani sambil bermain akar yang bergelantungan di atas kepalanya.


"Meninggal?" Jessi menginterupsi.


"Iya, dari gue masih SMP," balas Alani datar. Sudah capek dia menangis, jadi kali ini dia gak akan menangis lagi. Biarkanlah ibu dan ayahnya tenang di sana.


"Gue dari kecil Lan. Ibu bunuh diri," cerita Jessi.


"Sabar ya Jess. Gue yakin Lo itu kuat." Lani mendekap tubuh Jessi.


Sekilas, mereka terlihat seperti pasangan muda-mudi yang tengah berpacaran. Hanya sekilas, tapi aslinya hanya menyalurkan kesedihan.


Jessi menangis tersedu-sedu dipelukan Alani. Dia merasa hangat dalam pelukan Alani.


"Gue mau tiap hari dipeluk ma elu Lan," ujar Jessi tiba-tiba.


Seketika itu juga Alani melepaskan pelukannya.


Apa? Bukankah itu gila?


"Ah, udah mau masuk Jes. Ayo kita balik ke kelas!" ajak Alani mengalihkan pembicaraan mereka. Tentu Alani tak enak hati. Di sisi lain dia juga nyaman dengan Jessi. Tapi dia tak boleh begitu. Dia masih normal. Ya dengan sekuat hati dia yakin, bahwa dia masih normal.


***


"Kamu dari mana aja?" tanya Alina penasaran.


"Gak dari mana-mana. Aku sama Jessi cuma duduk-duduk aja di bawah pohon," balas Alani santai.


"Ngapain aja?"


"Gak ngapa-ngapain, cuma cerita doang."


"Yakin?" tanya Alina menaruh curiga.


"Yakinlah," balas Alani masih santai. Dalam hatinya, dia sebenarnya juga gugup.


"Cerita apa emangnya?" Alina kembali kepo. Karena cerita dari Alani adalah yang paling penting dari pada apapun.


"Kita dengan Jessi punya kesamaan," jawabnya.


"Kesamaan?" Alina berpikir. "Kesamaan apa emangnya?" lanjut Alina.


"Jessi gak punya ibu." Alani menjawabnya dengan tatapan penuh kesedihan juga.


"Innalilahi," sahut Alina kaget.


"Ibunya meninggal kayak orang tua kita?" tanya Alina memastikan.


"Iya Lin." Alani lesu sudah.


"Kasihan juga ya dia."


"Iya, kasihan."

__ADS_1


"Bu guru datang!!" teriak salah seorang siswi.


"Eh, datang. Ya udah, selamat belajar Alan," ujar Alina memberikan semangat untuk Alani.


"Iya, kamu juga ya Lin," balasnya.


Alina hanya balas mengangguk dan kembali ke bangkunya. Sementara Alani, dia menerawang jauh kisah hidupnya yang tak tahu bagaimana ujungnya. Karena suara Jessi tiba-tiba saja menggema di telinganya.


Gue mau tiap hari dipeluk ma elu Lan


'Aaaahhhh!!' teriak Alani dalam hati.


Seenggaknya dia sama Jessi hanyalah teman biasa pada umumnya. Iya, Alani harus yakin itu. "Jessi gak mungkin kayak gitu," gumamnya sebelum dia memulai pelajarannya hari ini, yang di mulai dengan pelajaran matematika. Serumit kisahnya pagi ini.


***


"Huft, capek banget," keluh Alani sambil rebahan di atas kasur.


Ting!!


HP Alani berbunyi, itu adalah pertanda bahwa seseorang telah menghubunginya.


Alani meraih ponselnya yang ia letakkan di dalam laci. "Pesan dari Jessi," gumamnya.


Lani terdiam, tapi penasaran juga apa isinya. "Baiklah, aku akan buka," ujarnya sambil kembali merebahkan diri di atas kasur mungilnya.


"Hai Alan, udah sampai rumah belum?"


Itulah bunyi chat dari Jessi. Sangat perhatian melebihi seorang bestie (bahasa jaman now yang artinya sahabat terbaik).


Gak pernah dapat perhatian lebih, tiba-tiba ada yang perhatian. Tentu saja Alani gak akan melewatkan itu.


"Sudah kok Jes."


Pesan itu sudah langsung terkirim, bahkan langsung centang biru. Centang biru? Artinya Jessi stay menunggu balasan dari Alani.


Alani mengamati layar ponselnya sambi melihat tulisan mengetik di sana.


"Jangan lupa maem. Ntar lu sakit lagi."


"Ck." Alani tersenyum kecil membaca balasan dari Jessi.


"Lu juga makan. Gak usah sedih-sedih lagi," balas Alani.


Ternyata Jessi sangat gercep (gerak cepat). Beberapa detik aja dia sudah membalas pesan dari Alani.


"Gue gak sedih Lan, asal dipeluk sama elu tiap hari."


Alani kembali diam. Dia langsung keluar dari aplikasi WhatsApp dan mematikan layar ponselnya.


"Harus ku iyain apa gak?" pikirnya.


Bersambung...

__ADS_1


Nah loh, kira-kira apa ya yang terjadi pada mereka?


__ADS_2