Sepenggal Kisah Alani

Sepenggal Kisah Alani
Musuh Baru


__ADS_3

Episode 2 Musuh Baru


***


"Sial banget sih, kenapa harus ada Alina coba!" Tasya marah-marah.


"Dia ngebelain Alan banget ya," cetus Meta.


"Gue rasa, kita gak bisa ngebully Alan kalau ada Alina," ungkap Jessi.


"Ya gitu deh. Gue pun gak bisa apa-apa kalau ada si Lina," sahut Tasya masih emosi.


Barusan, ketiganya keluar kelas gara-gara kepergok oleh Alina. Alina emang benar-benar melindungi kembarannya banget.


Tapi namanya gadis naughty. Tasya dan kawan-kawan gak perduli. Dia tetap mau cari cara lain buat ngebully si Alani. Baginya ngejudge orang lebih menyenangkan. Apalagi penampilan Alani yang berbeda dari yang lain, pastilah itu membuat mereka gak kesusahan untuk membully.


"Gue ada cara sih?" ucap Jessi sambil menyeringai.


Tasya dan Meta langsung menatap ke arah Jessy.


"Apa itu?"


***


Brugh!


Alani membanting tas sekolahnya ke sembarang arah. Dia langsung membanting tubuhnya ke sofa terdekat. "Apa salahku? Gak berubah salah, berubah salah. Mereka maunya apa sih?" keluhnya kesal.


"Lani... aku udah bilang ke kamu. Lebih baik kamu kembali ke awal aja Lani. Kalau kamu pura-pura tomboi kayak gini, semua orang akan bully kamu." Alina mengelus pundak Lani dengan sayang.


"Kita kembar, tapi kita berbeda Lina..." Alani menarik nafasnya dalam. "Kamu banyak disukai orang, berbeda denganku. Di mana-mana aku menemui musuh baru. Gak di SMP, di SMA pun masih dipertemukan dengan musuh baru."


Alina terdiam. Rasanya dia ingin menangis. Cobaan emang begitu berat buat Alani. Mungkin yang sebenarnya terjadi adalah... Alani banyak disukai orang, makanya dia begitu. Berbeda dengan dirinya, yang sebenarnya tak bisa semenarik Alani, jadi orang menganggapnya biasa aja.


'Padahal ndak gitu,' batin Alina ingin protes. Tapi dia gak bisa. Dia malah berusaha mengalihkan topik.


"Emmm, Lani..."


"Apa?" sewot Alani.


"Aku boleh minta sesuatu ma kamu gak?" ucap Alina berhati-hati.


"Apaan?" Masih dengan nada yang sewot.


"Mau ndak, kalau besok kamu kembali ke jati dirimu," ucap Alina.


Alani langsung melotot menatap Alina. "Kembali ke cewek? Apa maksudmu Lin? Kamu ingin aku makin dibully apa?"


"Bukan Lani. Maksud aku... jika kamu kembali ke sebelumnya, siapa tahu mereka udah gak ngebully kamu." Alina menarik nafas dalam-dalam. Sulit memang jika harus jadi Alani.


FLASHBACK


Sore itu, Alani dan Alina tengah berteduh dari derasnya hujan yang mengguyur kota Kediri. Kota yang terkenal akan tahu Pong nya dan wisata simpang 5 nya ini meninggalkan kenangan yang begitu pahit bagi kedua gadis kembar yang masih berusia 14 tahun ini.

__ADS_1


Hujan deras, menunggu dijemput sang bibi? Mungkin itu cuma mimpi, chat mereka saja hanya ceklis 2 tanpa dibaca. Tapi mereka juga sudah meyakini, bahwa sang bibi tak akan menjemputnya.


Senja pun tiba. Beberapa pemuda tiba-tiba menghampiri mereka. Alani merasa familiar pada seorang pemuda yang kini tengah menghampirinya.


"Hai Alani," sapa pemuda itu.


"Ah hai," balas Alani sedikit terbata. Cuaca yang dingin akibat hujan, ditambah lagi bajunya yang basah, membuat mulut Alani kaku dan bergetar jika mengeluarkan suara.


"Mau sampai kapan kamu di sini? Mau ku anterin pulang?"


Sebuah tawaran yang baik. Tapi apakah dengan mudah gadis polos seperti Alani mengiyakan? No. Dia bukan gadis gampangan yang mau-mau aja saat dikasih tawaran seperti itu.


"Makasih kak. Aku nunggu sampai reda aja, bareng Alina," balasnya.


Bukankah ini penolakan sopan? Tapi sepertinya pemuda ini tak suka ditolak. Berawal dari penolakan halus inilah yang membuat Alani merubah hidupnya.


Kejadian setahun lalu yang masih segar dan fresh dalam ingatan kedua gadis kembar ini. Tak akan pernah bisa dilupakan oleh Alani.


***


"Lani..." panggil Alina. Alina terlihat begitu kecewa. Ternyata Alani masih keukeh dengan keputusannya.


"Kamu yakin tetep begini?" tanya Alina lagi.


"Menurutmu Lin, aku kudu piye? (harus bagaimana?)Aku pikir-pikir, aku lebih penak ngene Lin." (enak begini)


Ada mimik menyesal, tapi ini jalur yang Alani pilih saat ini.


'Aku berharap ada hidayah, suatu saat nanti. Semoga traumamu itu hilang Lani,' batin Alina sambil menitikkan air mata.


"Ayok berangkat!" ajaknya.


"Ayok," balas Alina sambil menghapus air matanya.


Meskipun dia bahagia karena Alani tetap perhatian padanya. Tapi rasa sedih itu tetaplah ada. Karena kaca yang retak itu tak akan kembali utuh meskipun sudah di lem kaca sekalipun.


***


Di sekolah.


"Alihkan perhatian Alina," suruh Jessi saat melihat kedatangan Alani dan Alina.


"Caranya Jes?" tanya Meta yang masih lemot.


"Ya elah, ajak ke kantin atau perpus kek," sahut Tasya dengan kesal.


"Sendirian gitu? Mana bisa gue." Meta cemberut.


"Ya sendirian lah, masa sama gue. Gue kan mau ikutan ngebully si Alan," ketus si Tasya.


"Ya udah, oke-oke. Gue coba deketin Alina dulu deh." Meta mengalah, dia langsung menghampiri Alina yang baru saja masuk ke kelasnya.


"Hai Alina," sapa Meta dengan penuh kepura-puraannya.

__ADS_1


"Apa? Lu yang kemarin gangguin Alan kan?" tanya Alina dengan nada tinggi.


Bahkan tanpa sadar, Alani tersenyum kecil mendengar kembarannya telah menyebutkan namanya dengan panggilan Alan seperti apa yang dia mau. 'Thanks Lina, kamu adalah kembaran terbaik.'


"Kali ini enggak kok. Gue ke sini mau minta maaf sama Alan. Terus mau ngajakin kamu ke kantin. Emmm, aku traktir deh. Sebagai permintaan maaf ku," ucap Meta tanpa pikir panjang.


'Hah, kok jadi gue yang traktir?' batin Meta yang baru ngeh. Tapi apa boleh buat. Bersikap seperti itu biar Alina gak curiga kan?


"Serius ditraktir? Mayan ya Lan, kita bisa hemat," ungkap Alina yang mau saja menerima tawaran dari Meta.


Berbeda dengan Alani yang pada dasarnya emang tidak suka dengan tawaran orang lain. Alani sudah tak percaya lagi. Bahkan meskipun nyawa taruhannya, Alani tetap akan menolak tawaran dari musuhnya.


"Kamu duluan aja Lin. Ntar aku susul," jawab Alani berbohong.


'Yes, bagus kalau begitu. Rencana gue berhasil,' batin Meta mulai seneng.


"Yakin gak apa-apa? Atau ntar pas istirahat aja deh." Alina mulai bimbang.


"Gue gimana kalian aja, tugas gue minta maaf dan traktir kalian." Kayaknya si Meta perlu diacungi jempol. Tugasnya untuk memanipulasi si kembar begitu mulus.


'Bagi gue, kapan aja gak masalah. Yang penting gue menjauhkan Alina dari si Alan,' batin Meta dengan senyum jahatnya.


"Ya udah deh, sekarang juga boleh. Mumpung gue laper," ujar Alina.


'Ku rasa, waktu buat masuk kelas lebih cepet. Jadi aku gak akan lama tinggalin Lani,' batin Alina sambil menatap Alani.


Alani tersenyum meyakinkan Alina, bahwa dia akan baik-baik saja. Percayalah Alina, Alani tak serapuh itu. Hanya saja, emosi kejiwaannya yang kadang tak bisa ia kontrol.


"Kamu titip apa?" Nawarin ke Alani.


"Ndak aja, nanti aku susul," balas Alani.


"Ya udah deh. Yok Met, jadi nraktir gue kan?" Alina mengejutkan Meta.


"Ah eh, jadi lah. Cussss!!"


Sepergian Meta dan Alina, Jessi dan Tasya menyunggingkan sebuah senyuman terjahatnya.


"Saatnya beraksi," ujar Jessi dengan wajah penuh misteri.


Tasya yang sebenarnya gak ngerti apa-apa, hanya ngikut saja apa yang Jessi inginkan.


"Hai Alan, selamat pagi," sapa Jessi dengan tenang.


Lah kok. Tasya curiga. Ini sebenarnya, Jessi musuhin Alani atau gak sih? Pikirnya.


"Jess lu..."


"Diem lu!!" bentak Jessi.


Nah loh!!


Tasya benar-benar dibuat bingung sekarang. Lalu bagaimana kelanjutannya?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2