
Episode 3. Tertarik
"Jess, apa lu lupa dengan rencana awal kita?" bisik Tasya mengingatkan.
Jessi sebenarnya gak lupa. Tapi emang ini tujuan dia mau gabung bareng Tasya. Bukan buat ngebully, tapi ingin mencari sesuatu yang ada pada diri Alani. Sesuatu yang lain, yang ia harapkan akan sepemikiran dengannya.
"Gue gak pernah lupa ya Tasya. Tapi gue harap elu diem dulu," sahut Jessi dengan sedikit penekanan. Intinya dia belum ingin diganggu oleh Tasya.
"Dih, elu mah kayak gitu Jes," gerutu Tasya.
"Kalian ngapain ke sini heh!" tegur Alani.
"Ya ampun Alan, lu pake nanya lagi. Ya jelas lah kami ingin deket sama elu," jawab Jessi seraya mendekat ke arah Alani.
"Cih, kalau niat gue mah ya ingin ngebully," sahut Tasya sambil memutar balikkan matanya, seolah-olah dia jengah.
"Lu ingin deket ma gue?" tanya Alani ke arah Jessi. Dan dilanjutkannya dengan menunjuk muka Tasya. "Dan elu ingin ngebully gue Sya, ck. Bully aja kalau berani, gue gak takut."
Rupanya Alani mulai tertarik dengan bully-an mereka berdua. Bukannya takut, tapi sekarang Alani lebih ke arah yang berani. Dia tak setakut dulu dan ingin menantang mereka.
"Lu nantangin?" balas Tasya dengan emosi.
"Tasya, gue bilang elu diem dulu!" gertak Jessi. Jessi ingin pagi ini dia mengetahui sesuatu hal tentang Alani. Tapi terhalang melulu oleh kehadiran Tasya yang ternyata justru mengacaukan keadaan.
"Terserah gue dong Jes. Elu bisa ke sini juga karena gue kan?"
"Terserah lu deh mau ngomong apa?" Kesal sudah si Jessi.
"Hahaha, jadi cuma segitu kemampuan kalian buat ngebully gue. Gue kira, lu bakalan bikin gue nangis," ujar Alani dengan nada mengejek. Santai banget gayanya kayak di pantai.
"Heh, lu makin menjadi ya Lan!" Tasya emosi.
"Apa? Lu pikir gue takut. Mau berantem? Ayo sini! Lawan gue!" Tantang Alani lagi.
"Hih!! Kurang ajar lu Lan. Kurang ajar!!" Tasya menjambak rambut Alani.
'Ya Allah, maafkan aku!' batin Alani yang sebenarnya begitu lemah. Dalam hatinya dia menangis. Dia hanya pura-pura berani, tapi faktanya, mentalnya tetaplah lemah.
"Sakit!!" desisnya pelan. Tak ada yang mendengar selain dirinya sendiri saat itu.
"Tasya!!" bentak Jessi kesal.
Tasya menyudahi aksinya barusan. Dia menjauhkan tangannya dari rambut Alani. Mengusapnya ke ujung rok sekolahnya. Seolah-olah Alani adalah benda yang menjijikkan.
"Rasain!!" Maki Tasya saat melihat Alani kesakitan.
"Duh Alan... sakit ya?" Jessi sok perhatian. Dia mendekat dan berusaha menyentuh rambut Alani. Alani menepisnya.
"Kenapa?" tanya Jessi dengan lembut.
__ADS_1
"Gue gak butuh simpati dari lu!" sahut Alani tanpa berbelit-belit.
"Jadi, lu gak mau dapat perhatian dari gue?" Jessi cemberut. Wajahnya mengisyaratkan kalau dia seperti sedang ditolak oleh seseorang yang dia kenal dengan akrab.
"Hah!! Lu aneh," ungkap Alani.
"Gue gak aneh Lan," bisik Jessi yang tak sengaja mulutnya menyentuh daun telinga Alani.
Alani melotot. Dia teringat dengan kejadian buruk setahun silam.
"Pergi!! Pergi dari hadapan gue!! Pergi!!" Alani histeris.
Jessi kebingungan. Karena setelah teriakan Alani barusan, beberapa siswi langsung berhamburan masuk ke dalam kelas.
'Apa yang terjadi?' batin Alina yang baru saja keluar dari kantin. Alina melihat beberapa teman sebayanya masuk ke dalam kelas. Tanpa pikir panjang, Alina ikut berlari dengan sekuat tenaganya.
Brak!!!
Dia membanting pintu kelas. Tak perduli seberapa banyak pasang mata yang menatapnya. Karena di otaknya sekarang adalah Alani.
"Lan!!" panggilnya.
Tapi yang terlihat di sana tak seperti apa yang Alina pikirkan.
"Thanks Jes!!" ucap Alani yang sudah berada dalam pelukan Jessi.
'Ada apa?' Alina bertanya-tanya. Apa kejadian ini yang membuat siswi kelas lain masuk ke dalam kelasnya?
"Gak ada apa-apa Lina. Gimana tadi di kantinnya?" balas Alani sambil menyunggingkan senyuman. Deru nafasnya sudah tak seburuk tadi. Jessi? Iya ini berkat Jessi yang berani mendekapnya saat dia berteriak histeris tadi.
'Kenapa harus Jessi?' pikir Alani tiba-tiba. Kenapa malah Jessi yang membuatnya nyaman? 'Kenapa?'
***
Sepulang sekolah. Alina masih mendapati Alani yang terdiam. Sebenarnya Alina juga terdiam karena kepikiran sesuatu. Kepikiran tentang kejadian tadi pagi yang Alani belum mau menceritakannya. Alina ingin bertanya, tapi dia masih takut. Takut kalau emosi Alani tak terkendalikan seperti yang sudah-sudah.
'Mungkin nunggu dia tenang,' batinnya.
Alani duduk menatap meja. Tak ada hal yang ia pikirkan. Cukup diam dan menatap meja yang tak bergerak sedikitpun itu. Kosong. Mungkin itulah kata yang tepat untuk Alani saat ini.
Sebagai kembaran 10 menitnya, Alina tak akan membiarkan her twin nya melamun gak jelas seperti itu.
"Oya Lani, mau minum ndak?" tawarnya basa-basi.
Seperti mendapatkan nyawa lagi. Alani segera merespon ucapan dari Alina.
"Hah opo? "
"Kan, kan. Makanya jangan ngelamun terus dong? Emang kamu lagi mikirin apa?" Alina memancing. Biasanya dengan pertanyaan yang seperti ini, Alani akan bercerita dengan sendirinya.
__ADS_1
"Endak sih..." sahut Alani dengan nada datar tapi seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ndak usah bohong Lani. Ayo, cerita. Aku ini kembaranmu lho?" Alina merayu. Soalnya dia setengah kepo dengan kejadian yang menimpa Alani dan Jessi tadi pagi.
"Ya udah, aku mau cerita ma kamu," balasnya datar.
"Iya apa?" Dengan sangat tak sabar Alina mendengarkan cerita itu. Dia langsung merapatkan duduknya di samping Alani. Tak ingin melewatkan barang secuilpun cerita yang keluar dari mulut Alani.
"Tadi pagi Tasya dan Jessi datengin aku..."
"Ya..." Alina terkejut. Pasalnya dia telah meninggalkan Alani sendirian. 'Gara-gara Meta nih.'
"Jessi ingin deket denganku, tapi Tasya..."
Alani menjeda ceritanya.
"Kenapa dengan Tasya?"
"Tasya ingin ngebully aku. Karena aku tertarik, aku tantang sekalian. Tapi yang ada aku kesakitan," ceritanya pada Alina.
"Ya Allah Lani, mana yang sakit?" Alina segera menyentuh pundak Alani. Mencari-cari luka atau hal apapun itu yang membuat Alani kesakitan.
"Aku udah gak apa-apa," stopnya. Dan seketika itu, Alina menghentikan aksi heroiknya. Dan Alani lega sudah terjauhkan dari sikap overnya si Alina.
"Terus kenapa ada Jessi di sana?" tanya Alina menginterupsi.
Alani terdiam. Dia teringat akan sentuhan mulut Jessi di telinganya. Lalu dia menangis dan Jessi langsung memeluknya. Dan Alani balas memeluk Jessi. Lani pun merasa nyaman berada di pelukan Jessi.
"Lani, hello? Ngelamun lagi ni anak," gerutu Alina. Dia hanya ingin tahu, apa Jessi mendekati Alani dengan maksud tersembunyi atau bagaimana?
"Hah!!"
"Ceritalah Lan! Aku ndak mau ada hal yang kamu tutupin dariku Lan?" pinta Alina dengan sungguh-sungguh.
"Aku merasakan hal lain saat dekat dengan Jessi," jujur Alani.
"APA?" Alina melotot.
"Gak tahu. Tapi seperti itu Lin yang ku rasain."
"Emmm, kamu cocok berteman dengan dia?" tanya Alina. Dia hanya berpikir hal yang positif saja. Mungkin perasaan lain itu adalah Jessi yang tadinya jahat ternyata baik. Ya, Alina mencoba berpikir seperti itu.
"Aku gak tahu Lin..." balas Alani dengan bingung.
"Ya udah, mendingan kamu ganti baju. Terus makan!" suruh Alina kepada Alani dan ini adalah perintah.
"Iya Lina yang cerewet...!" ejek Alani dengan menjulurkan lidahnya.
Ah, Alina senang. Seenggaknya Alani tak berlarut dalam kesedihan.
__ADS_1
Bersambung...