
"Gapapa, biar gak ngantuk."
Leon menajwab dengan masih memfokuskan pandangannya pada buku yang ia pelajari.
"Yaudah bibik ganti dulu ya Den. Ini jus jeruknya bibi ambil ya," kata Bi Ijah mengkonfirmasi. Kemudian keluar kamar Leon untuk membuatkan Leon es kopi.
Leon masih saja belajar, ia membolak balik bukunya.
"Teks Eksplanasi adalah teks atau paragraf yang berisi tentang “alasan” dan “metode” proses terjadinya suatu peristiwa. Peristiwa tersebut dapat berupa alam, sosial, ilmu pengetahuan, budaya, dan fenomena lain yang dapat terjadi. Selalu ada hubungan sebab akibat dan proses dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita, baik alam maupun sosial."
Leon membaca keras paragraf yang berisi pengertian teks eksplanasi.
"Tujuan dari teks ini adalah untuk menggambarkan satu atau lebih peristiwa yang melibatkan kausalitas dan proses. Di sini, penulis harus menjelaskan kejadian sejelas mungkin sehingga pembaca dapat mengumpulkan informasi penting dari apa yang sedang dijelaskan."
Leon juga membaca materi mengenai tujuan teks eksplanasi.
"Teks eksplanasi ini memiliki struktur untuk mengidentifikasi peristiwa, menggambarkan peristiwa, pola dan hasil deret waktu yang terperinci, dan meninjau peristiwa. Deskripsi menggunakan konjungsi di setiap kalimat, serta kata-kata ekstensional sederhana. Teks deskriptif termasuk dalam jenis teks fakta. Teks deskriptif lebih seperti sebuah pernyataan daripada teks yang berisi perintah atau instruksi."
Leon juga belajar tentang struktur teks eksplanasi. Ia benar benar belajar dengan keras. Hingga Bi Ijah kembali membuka pintu kamarnya.
"Ini Den Leon es kopinya."
Bi ijah meletakkannya diatas meja, disamping chicken teriyaki dan salad buah.
"Loh Den kok belum dimakan? Ini makan dulu terus istirahat aja, udah serahin aja besok apapun yang terjadi yang penting teh Den Leon udah berusaha keras atuh."
"Iya taruh situ aja, Bi. Ntar gue makan," ujar Leon.
"Bibik gak akan pergi kalo Den Leon gak makan! Bibik akan bilang sama Nyonya Emma jika Den Leon mogok makan, biar si L gak boleh dipakai lagi sama Den Leon."
Bi Ijah mengancam.
"Jangan! iya iya gue makan sekarang!"
Leon segera bangkit, mengambil makanannya. Ia khawatir jika saja Bi ijah benar- benar melaporkannya pada mamahnya jika ia menunda- nunda makan dan ia tidak akan bisa lagi menggunakan mobil sport Lamborghini kesayangannya.
Bi Ijah tersenyum senang karena ancamannya berhasil.
"Nah gitu dong," sahut Bi ijah.
"Kak Reiji masih di ruang tamu, bik?" tanya Leon di sela sela makannya.
"Masih kayaknya, kenapa Den?"
"Nggak, heran aja tumben dia ada dirumah," kata Leon.
"Den Reiji mungkin lagi libur kerja."
Bi Ijah menyahut.
__ADS_1
"Ini gue udah makan, bibik keluar aja sana gapapa. Istirahat," suruh Leon.
"Baiklah Den Leon yang ganteng kesayangan bibik."
"Lebay!" umpat Leon.
Bi ijah pun kemudian meninggalkan kamar Leon. Sementara Leon melanjutkan makannya sampai selesai.
***
Sementara dari rumahnya, Max menelfon Leon.
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
Panggilannya berdering.
Dan sesaat kemudian, Leon mengangkatnya.
("Mana tas gue?") sahut Leon ketika mengangkat telfon.
("Hujan nih, bro. Besok pagi aja ya gue bawa ke school,") sahut Max.
("Yaudah ok, gue tutup dulu ya,") pamit Leon.
Sebelum mendengar jawaban dari Max. Leon langsung menutup telfonnya begitu saja.
Leon kembali melahap makanannya, tak lupa ia juga memakan salad buah dan minum es kopi yang telah disiapkan Bi Ijah untuknya.
Setelah selesai makan dan minum es kopi, ia malahan merasakan kenyang dan tetap mengantuk.
"Kan udah minum es kopi, kenapa gue masih ngantukkkkk," decaknya kesal dalam hati, sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya di muka.
"Gue pusiiing, butuh refreshing. Ke club aja kali ya? Ah jangan, gue harus belajar!" kekehnya keras dalam hati.
Entah mengapa sehabis makan, Leon memakan gerah. Ia meraih remote AC dan menyetelnya ke suhu terendah. Kemudian membuka seragam yang masih ia kenakan sedari siang. Hingga tubuh atletisnya terlihat jelas. Perutnya kotak kotak. Pantas saja Leon dinobatkan menjadi The King of School. Selain public speaking nya yang bagus, ternyata tubuhnya juga sangat eksotis. Kini Leon hanya memakai celana pendek dengan dada atletis yang terpampang nyata.
Ia kembali duduk di meja belajarnya, dan kembali membuka bukunya. Ia benar benar kembali belajar. Hingga tak sengaja ia tertidur di meja belajarnya.
***
Jam telah menunjukkan pukul lima pagi hari. Leon masih tertidur di meja belajarnya. Dengan tangan kiri yang menjadi bantalnya.
Tok! Tok! Tok!
"Den? Udah pagi Den Leon. Bangun, ayo berangkat ke sekolah, Den. Bibi masuk yaaa," teriak Bi Ijah dari luar.
Namun, tak ada jawaban dari Leon. Akhirnya Bi Ijah membuka pintu kamar Leon.
Ceklek!
__ADS_1
Ia mendapati Leon tengah tertidur di meja belajarnya.
"Loh Den Leon semalaman teh tidurnya begini? Kenapa gak tidur di kasur atuh? Den Den Den Leon!"
Bi Ijah mengguncangkan pelan lengan Leon. Sesaat kemudian, Leon membuka matanya.
"Hoaaam, udah pagi kah bik?" sahutnya.
"Iya ayok berangkat ke sekolah! Sana mandi dulu Den!" suruh Bi Ijah.
"Iya iya, udah bibi keluar sana. Gue pengen minum susu keju," kata Leon.
"Oke Den. Bibi siapkan di meja makan ya," jawab Bi Ijah.
Leon mengangguk kemudian bergegas mandi.
***
Selesai mandi ia mengenakan seragam sekolahnya. Leon memakai parfum dan getsby di rambutnya. Dengan usia remaja yang sedang duduk di bangku kelas sebelas SMK, Leon juga sudah menjadi model yang berada di beberapa majalah.
Fotonya terpampang jelas di cover edaran majalah remaja sebagai The King of School dari SMK Shalazz.
***
Leon kemudian keluar kamar menuju ruang makan. Didapatinya Reiji yang telah duduk disana.
"Kamu lama," kata Reiji ketika Leon sampai di ruang makan keluarga bhaskara granada yang mewah.
"Ngapain kakak nunggu?" sahut Leon.
Dan Reiji tak mnjawab pertanyaannya. Justru menyahuti dengan pembicaraan yang lain.
"Saya lihat foto kamu di beberapa majalah, kapan kamu mau berhenti menjadi tenar seperti ini?" tanya Reiji tanpa basa basi.
"Hah? Ini hidupku! Kalo kakak gasuka ya gausah liat, simpel kan?" sahut Leon.
"Kamu kira menjadi terkenal akan selamanya enak? Ini kamu belum merasakan! Disaat kamu membuat kesalahan secuil kamu akan dihujat para penggemarmu!"
Reiji menatap Leon tajam.
"Semua orang punya cita cita masing masing, Kak! Mengapa kakak ikut campur dengan hidupku? Aku aja gak pernah melarang kakak jadi seorang dokter!" ketus Leon.
Dan BRAKK!!!
Reiji memukul meja makan. Hingga para pelayan langsung menoleh kearah mereka.
"Apa? Mau berantem? Ayok!" tantang Leon.
***
__ADS_1