Serumah Dengan Ketua Jurusan

Serumah Dengan Ketua Jurusan
7. Flashback, Perdebatan di Kantin


__ADS_3

"Hahaa, iya. Tiap hari gue kesini dipanggil Den. Kenapa? Bi Ijah juga sering manggil gue Den kalo dirumah," jelas Leon pada Alvin.


"Bi Ijah?"


Alvin tampak tak mengerti.


"Pembantu senior dirumah gue," sahut Leon.


"Oh, lo punya pembantu banyak ya pasti."


Alvin menimpali.


"Lumayan, sih. Ada sekitar tiga puluh orang, belum satpam."


Leon menjawab. Membuat Alvin melongo seketika.


"Gila, gue gak bisa bayangin batapa sultannya lo, kayak Max ya berarti, pembantu di rumahnya juga banyak, gue pernah dateng sekali dulu saat abis rapat ketua jurusan," kata Alvin.


"Di rumahnya Max ada sekitar dua puluh orang, masih banyak gue, hahahaaa. Tunggu tunggu, kapan lo ke rumah Max? Kok gue gatau!" ujar Leon protes.


"Karena lo waktu itu lagi ikut Ajang Pemilihan King of School di Bandung, Lex. Jadi kita rapat tanpa lo," ujar Max yang datang tiba- tiba dari belakang mereka.


"Gue kira lo ke kelas tadi, Max. Sini duduk sini," ujar Alvin pada Max.


Sementara Max menampakkan raut wajah kesal terhadap Alvin.


"Lo mau bicaraain apa sih Lex? Sama wakilnya si Teddy ini, udah tau proposal lo ditolak masih aja bergaul sama anak Administrasi perkantoran," ketus Max tanpa basa basi.


"Gue gak ada sangkut pautnya sama Teddy ya Max! Bukan gue yang tolak proposal Tim Basket kalian!" protes Alvin.


"Iya gue tau, Teddy yang tolak, tapi masalahnya gue ditantang sama dia buat bersaing di ulangan harian mata pelajaran bahasa indonesia Bu Nita. Ntar bagusan mana gue sama dia, kalo bagus gue ya dia bakal Acc proposal gue, tapi kalo bagusan dia ya terpaksa proposalnya bakal di singkirkan."


Leon menjelaskan pada Alvin dan Max.


"Dasar Ketua Osis sialan!!" umpat Max dengan emosinya.


"Kalo menurut gue, dia mungkin takut kalo lo makin tenar, Leon. Hahahaa kan dia kalah waktu seleksi Ajang King of School kemarin, dia gak terima mungkin! Makanya proposal lo dipersulit sama dia."


Alvin membuat kesimpulan.


"Lo biarin aja ketua jurusan lo itu bertindak seenaknya?"


Max melirik tajam kearah Alvin.

__ADS_1


"Lo marah aja sama Teddy sana! Ngapain lo malahan julid ke gue sih, Max!" Alvin mencibir.


"Enggak. Max bukannya julid, dia kesel aja. Makanya gue ngajakin lo kesini itu buat gue mintai solusi, ini gimana caranya biar gue bisa kalahin tuh Teddy brengsek!" ujar Leon.


"Gini aja. ulangan bahasa indonesia kapan?" tanya Alvin.


"Besok," jawab Leon singkat.


"HAHH?!!" kaget Max dan Alvin bersamaan.


"Iya makanya gue pusing nih," keluh Leon.


"Gimana kalo kita gagalin aja besok? Kita adain rapat ketua jurusan bahas persiapan Ajang Queen of School?" usul Max.


"Ntar gue dikira menghindar," sahut Leon.


"Ya gak bakalan lah, secara nih lo kan pemenang King of School, The King of SMK Shalazz kita. Kalo ada pembahasan Queen of School kan lo wajib dateng. Nah jadiin alasan aja buat lo gajadi tanding sama Teddy. Gue tau kok otak lo gak sampai kalo harus tanding ulangan," ujar Max terang -terangan.


"Anjir! Gue ganteng, kaya lagi, apa belum cukup?"


Leon mengumpati Max.


"Iya maksud gue gitu, otak lo itu otak-otak idola. Famous gitu, jadi buku bukan selera lo, apalagi ulangan," cecar Max.


"Hehehee, gue jjuga kalo liat buku langsung pengen muntah," sahut Max.


"Iya, jadi ketua jurusan akutansi modal ganteng sama kaya doang lo!!"


Kini giliran Leon yang mengumpati Max.


"Gue jadi ketua juga bukan gue yang jadiin diri gue sendiri ya, temen temen satu jurusan yang milih gue!" ujar Max lagi- lagi tak mau kalah.


"Ada lo disini gue gak nemuin solusi malahan debat mulu sama lo, Max."


Leon tampak kesal.


"Engga- engga maafin gue bos Leon tampan, jangan marah lah, gitu aja marah lo kek perawan," ujar Max lagi.


"Sekali lagi lo bicara gue lempar pakai soto ini," ketus Leon.


"Mana mana sotonya? orang belum dateng!" ujar Max.


"Bu Haaaar, sotonya kenapa lama sih bu?" teriak Leon.

__ADS_1


"Sebentar Deeennn. Aduh den Leon yang tampan sabar sedikit yaaaa, nanti gantengnya hilang loh kalo gak sabar," jawab Bu Har yang masih menyiapkan soto.


"Iya dah."


Leon menyahut dengan lesu. Mau tak mau ia harus sabar. Padahal kepalanya sudah pusing memikirkan bagaimana ia akan menghadapi Teddy besok.


Alvin melihat kearah Leon. Tanpa berkedip.


"Woy ngapain lo?" tanya Leon yang menyadari ia diperhatikan Alvin dari tadi.


"Gue ada ide," ujar Alvin singkat.


"Apa?" sahut Leon acuh.


"Lo tadi panggil gue karena mau tanya kan soal yang bakal keluar besok? Karena gue anaknya Bu Nita? atau lo mau mastiin sama gue kalo Teddy curang apa engga, gitu kan? karena gue juga deket sama Teddy."


Alvin tiba- tiba berucap. Membuat Max menelan ludahnya. Leon kini menatap wajah Alvin tajam.


"Iya, gue pengen tau Teddy curang apa engga? Lo pinter banget akhirnya bisa ngerti maksud gue manggil lo selesai upacara tadi. Dan Teddy tadi liat waktu gue manggil lo di lapangan. Gue sih santai aja. Kan gue tau kalo lo sahabatnya dia, Vin."


Leon berkata dengan santai.


"Teddy gak curang, dia gak minta apapun dari gue, soal atau kunci jawawban juga engga," jelas Alvin.


"Oh, yaudah kalo gitu udah cukup. Sepertinya gue harus tanding murni sama dia besok. Singan otak!" Leon menekankan kata- katanya.


"Lo harus belajar keras malam ini, Leon. Lo baca aja dari bab satu sampe lima di buku modul. Pasti bakal keluar semua besok, soalnya ibu gue gak pernah bikin soal yang gak ada di buku modul. Semuanya pasti ada di modul."


Alvin menjelaskan. Leon kini tampak diam berpikir.


"Kalo gitu gue cabut dulu, gue doain lo menang besok. Sorry gue gabisa bantu apa-apa," kata Alvin. Kemudian berlalu menuju kelasnya.


Max tampak melihat kepergian Alvin. Dan ketika punggung Alvin sudah tak lagi terlihat, Max berbicara pada Leon.


"Lo percaya sama tuh bocah?" tanya Max pada Leon.


"Gue coba percaya sama dia aja. Setidaknya gue tenang dengan jawaban dia kalo Teddy gak curang. Jadi gue rasa jalan satu satunya hanya belajar buku modul. Biar gue bisa kalahin dia besok," jawab Leon.


Kemudian Bu Har datang dengan membawa dua soto di tangannya.


"Ini, Den Leon sotonya, langsung dimakan ya mumpung masih anget," ujar Bu Har.


"Kok dua?" tanya Max melihat soto yang diletakkan Bu Har diatas meja.

__ADS_1


***


__ADS_2