Serumah Dengan Ketua Jurusan

Serumah Dengan Ketua Jurusan
4. Melihat Leon Sekilas


__ADS_3

Embun melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ia mengedarkan seluruh pandangan matanya disetiap sudut ruangan itu. Dicarinya Bi Ijah. Akan tetapi, sayang sekali ia tak menemukan Bi Ijah disana. Hanya tampak beberapa pelayan sedang berdiri siap. Seperti menunggu seseorang yang akan datang.


"Sepertinya aku harus mencari ke tempat lain," ucapnya dalam hati.


Ia kembali melangkahkan kakinya mencari keberadaan Bi Ijah. Dilewatinya taman besar ditengah rumah. Ia berhenti sejenak. Melihat sekeliling barangkali ia menemukan sosok yang dicarinya. Akan tetapi, nihil juga. Embun tak menemukan Bi Ijah di taman. Hanya terlihat beberapa orang pelayan yang juga sedang berdiri disetiap sudut taman itu.


"Ini mereka mau adain pesta ya?" batin Embun melihat taman yang sudah dihias dengan lampu lampu berwarna putih.


Embun kembali memberanikan diri bertanya dengan salah satu pelayan yang tengah berdiri di taman itu.


"Permisi, maaf saya mau bertanya, apa mbak melihat Bi Ijah?" tanya Embun.


"Tidak, Non. Maaf, coba cari ditempat lain, mungkin di lobi," jawab pelayan yang bernama ida.


"Oh, iya. Terimakasih."


Embun membungkukkan setengah badannya. Ia kemudian berniat mencari Bi Ijah ke lobi. Ketika ia akan melenggang pergi, ia baru menyadari jika pelayan di taman barusan memanggilnya dengan sebutan Non.


"Aku dianggap tuan puteri di rumah ini? Kenapa mereka memanggilku dengan sebutan Non? Lebay sekali!" ketus Embun dalam hati.


***


Embun melangkahkan kakinya menuju lobi bagian depan rumah keluarga bhaskara granada. Dilewatinya kembali ruang tamu yang terlukis gambar kota khas Spanyol. Ia berhenti sejenak. Lagi- lagi Embun mengarahkan pandangannya kearah lukisan itu. Ia mengingat-ingat seperti pernah melihat gambar kota itu di salah satu situs internet. Tetapi ia lupa apa namanya. Yang pasti itu salah satu bangunan yang berada di Kota Granada Spanyol.


"Ah, aku tidak boleh berlama- lama disini, aku harus mencari Bi Ijah."


Sambil membawa berkas di tangannya, Embun meneruskan jalannya menuju lobi. Dapat diakui, kakinya kali ini telah capek. Setelah menempuh perjalanan dari Kota Demak ke Kota Jakarta, belum lagi ia harus mutar- mutar dirumah keluarga bhaskara granada yang luas mencari keberadaan Bi Ijah yang sampai saat ini belum ketemu.


"Semoga Bi Ijah ada di lobi depan."


Embun benar- benar berharap.


Sesampainya di lobi depan, akhirnya ia berhasil menemukan Bi ijah. Dilihatnya Bi Ijah sedang bersama pak satpam berdiri menyambut para tamu yang datang.


"Bi Ijaahh!" panggil Embun pada perempuan paruh baya itu. Embun berlari menghampiri Bi Ijah.


Mendengar ada yang memanggilnya, seketika Bi Ijah menoleh kearah sumber suara.

__ADS_1


"Sebentar, ya. Pak Joko. Saya bicara sama Non Embun dulu," kata Bi Ijah pada satpam yang bernama Joko.


"Iya, Bi. Jangan lama- lama nanti Den Leon marah kalo teman- temannya tidak disambut, Bi."


Pak Joko tampak sedikit was-was.


"Iya, wong cuma sebantar kok. Kamu tetep berdiri disini nyambut temannya Den Leon!" perintah Bi Ijah pada Pak Joko.


"Bi??" panggil Embun kembali. Kini Embun sudah berada didepan Bi Ijah.


"Eh? Non Embun. Sudah Non berkasnya?" tanya Bi Ijah.


"Sudah, Bi. Ini dilihat dulu," ujar Embun.


Bi Ijah menerima berkas itu.


"Bibi teliti nanti ya, Non. Kalau selesai acara. Ini bibi baru menyambut tamu yang datang," ujar Bi Ijah pada Embun.


"Emang mau ada acara apa sih, Bi?" tanya Embun penasaran.


"Hah?!" kata Embun yang refleks kaget.


"Dapat nilai 90 dirayain pakai pesta segala? Emang gitu ya kalo orang kaya! Perasaan aku yang nilai bahasa indonesiaku selalu 100 saja biasa aja, gak perlu pesta!"  pekik Embun dalam hati.


"Kenapa Non? Ini nilai Den Leon yang paling bagus selama ia duduk di kelas sebelas, Non!" ujar Bi Ijah.


"HAAHH??!!" Embun semakin refleks kaget.


"Kenapa atuh Non?" tanya Bi Ijah heran.


"Engga, Bi. Emang Leon itu Tuan Muda di rumah ini ya bi?" tanya Embun asal.


"Iya, Non. Den Leon itu anak keduanya Nyonya Emma sama Tuan Bhaskara, Non."


Bi Ijah menjelaskan.


"Oh, anak kedua. Lalu anak pertamanya?" tanya Embun ingin tahu.

__ADS_1


"Anak pertama Tuan Reiji. Sudah duduk di bangku kuliah, Non."


Embun tampak menganggukkan kepalanya pada Bi Ijah tanda mengerti.


"Lalu anak ketiga?" tanya Embun lagi.


"Anaknya Nyonya Emma dan Tuan Bhaskara hanya dua saja, Non. Den Reiji sama Den Leon."


"Bi Ijaaaahhh!!!! Ngapain malahan ngobrol disitu??!!" teriak Leon yang tiba- tiba muncul dari arah taman depan yang terhubung dengan taman kolam renang yang berada di tengah rumah mewah keluarga bhaskara garanada.


"Eh? Tidak, Den. Bibi teh ngga mengobrol tapi lagi koordinaaasiii!" teriak Bi Ijah di depan Embun menjawabi perkataan Leon.


Sekilas Embun melirik ke arah Leon yang berdiri di taman depan itu.


"Jadi itu yang namanya Leon, kayaknya menyebalkan!" batinnya dalam hati.


Leon menyadari Embun melirik ke arahnya, tapi ia tak peduli. Ia malahan melangkah pergi menuju taman tengah.


"Tadi dia liat aku kan? but acuh gitu aja? menyebalkan! Nyapa engga! Gak ada sopan santun sama sekali ya emang cowok kota besar kek gini!" umpat Embun mati- matian dalam hatinya.


"Non, bibi lanjutin menyapa teman- temannya Den Leon yang datang dulu ya, Non. Ini berkasnya tolong taruh di kamar bibi, Non. Masuk aja gak dikunci kok. Kamar bibi di sebalah ruang makan yang besar tadi loh, Non."


Embun tampak ragu- ragu ketika akan menjalankan perintah dari Bi Ijah.


"Gak apa-apa, Non. Masuk aja gausah takut, anggap aja rumah sendiri. Kamarnya bibi di pintu ada tulisannya nama bibi. Lagian Nyonya Emma dan Tuan Bhaskara juga tidak dirumah. Dan Non sekarang bagian dari keluaga ini," kata Bi Ijah meyakinkan Embun.


"Baiklah, Bi. Saya taruh di kamar Bibi ya ini."


Embun menerima kembali berkas- berkasnya. Ia sudah lelah, tetapi ia tetap harus berjalan kembali ke ruang makan, bukan. Ke kamar Bi Ijah yang berada di dekat ruang makan.


Ketika akan menaruh berkas itu, ia mendadak penasaran kembali dengan Tuan Muda kedua Keluarga Bhaskara Granada yang bernama Leon.


"Sepertinya tadi Tuan Muda kedua itu jalan ke arah taman tengah yang ada kolam renangnya itu," pikir Embun.


Karena rasa penasarannya, ia sengaja tak melewati lobi depan dan ruang tamu untuk menuju ke ruang makan. Tetapi, ia melewati taman halaman depan yang terhubung dengan taman kolam renang halaman tengah yang juga menghubungkan dengan ruang makan dan dapur.


***

__ADS_1


__ADS_2