Serumah Dengan Ketua Jurusan

Serumah Dengan Ketua Jurusan
8. FlashBack, Leon Frustasi


__ADS_3

"Iya, punya Alvin satu tadi. Lo makan aja daripada gak kemakan," ujar Leon pada Max.


"Anjir gue disuruh makan punya Alvin."


Max protes.


"Lah kan belum dimakan, mubazir dodol kalo mau pesan again!" kesal Leon.


"Yaudah lah gue makan."


Max melahap soto lezat yang telah diberikan Leon untuknya. Leon juga tampak menikmati soto yang dipesannya.


"Kak Leooon."


"Kakak ganteeeng!!"


"Kak Leooon," panggil salah satu siswi SMK Shalazz yang lewat di kantin.


Leon hanya tersenyum mengangguk. Kemudian melanjutkan makannya lagi.


"Kakak rajaaaa, Kak Max...," panggil adik kelas perempuan yang lagi- lagi lewat di dekat Leon dan Max.


Lagi- lagi, entah sudah yang kesekian kalinya Leon dipanggil oleh para siswi SMK Shalazz yang merupakan penggemar beratnya itu. Yang terakhir kali Max ikut mengangguk kemudian tersenyum.


"Panggil lo mulu, gue jarang dipanggil," protes Max.


"Telinga lo ketinggalan? adik kelas yang terakhir juga panggil nama lo anjir!" umpat Leon sambil makan.


"Kan sekali doang," kesal Max.


"Heh!! Kantin ini kan emang di jurusan marketing. Kalo kita di kantin jurusan akutansi juga akan banyak yang nyapa lo disana," kata Leon.


"Iya juga ya. Gue penasaran kalo kita di kantin jurusan akutansi lo bakal disapa ngga ya sama para dedek emesh?" tanya Max.


"Ya disapa lah, gue kan The King, hahahaaa."


Leon menyombongkan dirinya.


"Dih!" Max mencibir.


"Kak Leon. Boleh minta tanda tangannya di buku harian aku?" ujar adik kelas perempuan yang tiba tiba menghampiri.


"Boleh, dengan senang hati."


Leon menerima buku harian itu dan menandatanganinya. Kemudian mengambalikannya lagi pada adik kelas perempuan itu.


"Wuah, terimakasih kak! Tanda tangannya keren. Leon Bhaskara Granada."


Adik kelas perempuan itu membaca nama lengkap Leon.


Leon hanya tersenyum. Kemudian adik kelas itu melangkah pergi.


"Lo liat kan? Betapa siswi SMK Shalazz tergila- gila sama gue, ahahhaa."

__ADS_1


Leon lagi- lagi menyombongkan dirinya.


"Awas aja kalo lo punya pacar! Semua fans lo itu nakal kabur atau kalo engga bakal nyerang cewek lo nanti! Dikira famous itu selamanya enak apa!" Max mencibir.


"Gue harus punya cewek yang selevel sama gue, lah. Kayak lisa blackpink gitu gapapa."


"Gila! Selera The King Leon! Gak sanggup gue!"


Max menggelengkan kepalanya. Kemudian meneruskan makan sotonya.


"Abisin cepet, gue mau bolos hari ini," ujar Leon.


"Mau kemana lo?" tanya Max.


"Ngapain lagi? Belajar lah, gue mana bisa fokus kalo belajar di sekolah banyaknya ganggu gue, terutama para fans, hahaha."


"Terus lo mau belajar dimana, Leon? Mau gue temenin?" tawar Max.


"Gausah. Kalo gue pergi sama lo ntar yang ada kita main game! Gak jadi belajar! gue mau belajar sendiri aja!" jawab Leon mantap.


"Ngapain sih lo usaha keras gini? Tinggal bilang aja sama guru olahraga kita dan suruh bawa aja itu proposal, ngapain sampe terima tantangan gak berguna dari Teddy kayak gini!! Lagian itu guru olahraga lo siapa namanya?"


"Bu Romlah?"


"Naaaahh! dia pasti dengan senang hati ngawal proposal kita!" ujar Max menggebu-gebu.


"Gak! Ntar gue diremehin lagi sama Teddy kalo gak berani terima tantangan dari dia!" kesal Leon.


"Terus kalo lo besok kalah gimana? Sorry, bukannya gue gak percaya sama lo tapi memang bakat lo gak disini, bro! Kenapa gak tanding basket aja? Or tanding yang lain gitu public speaking? Or ganteng- gantengan wajah?"


"Udah tenang aja, gue bakal berusaha. Ntar kalo gue kalah, gantian gue yang ngajakin dia tanding basket!" ujar Leon.


"Nah! Bagus itu! Kalo gitu gue besok bakal jadi juri kalian aja," sahut Max.


"Biar Bu Nita aja yang jadi juri besok, ntar kalo lo yang jadi malahan kita dikira curang lagi, gue gamau nama baik gue yang famous ini ternodai, hahaha."


"Gitu?"


Max menyahut.


"Iyaa gue cabut dulu ya, ntar tolong bawain tas gue ke rumah ya."


Leon menepuk bahu Max. Kemudian pergi mendahului Max.


Hanya dengan membawa dompet, kunci mobil dan ponsel, Leon berjalan menuju parkiran sekolahnya. Tampak mobil sport mewahnya yang berwarna hitam terparkir di barisan paling depan tanpa ada mobil yang terparkir disebelah kanan dan kirinya. Pantas saja, para siswa siswi yang lain takut jika menggores mobil Leon, makanya tak berani memarkirkan mobil mereka dekat dekat dengan mobil Leon.


Leon kini melangkah memasuki mobil sport kemudian menghidupkannya dan melajukannya menuju rumahnya.


***


Bruuuuummm Bruuummmmm Bruuummmm!!


Leon menginjak pol gas mobil sport mewahnya, hingga menunjukkan  kecepatan 120km per jam.

__ADS_1


Hingga sekitar lima belas menit kemudian, ia tiba didepan gerbang rumahnya.


TIN! TIN! TIN!


Leon membunyikan klakson tiga kali, kemudian Pak Kris dan Pak Joko yang merupakan satpam keluarga bhaskara granada membukakan gerbang untuknya.


SREEEEETTTTT!!!


Pintu gerbang telah terbuka. Leon segera melajukan kembali mobilnya memasuki rumah dan memarkirkannya.


Leon kini keluar dari mobil sport mewahnya. Ia langsung dihampiri oleh Bi Ijah yang lari tergopoh-gopoh dari arah lobi depan rumah.


"Dan Leooonn!!" panggil Bi Ijah.


Leon segera menoleh.


"Apa Bi? Gausah teriak teriak!" kesal Leon.


Kepalanya telah pusing memikirkan ia akan tanding bersama Teddy besok, malahan Bi Ijah teriak teriak yang membikin badmoodnya muncul.


"Den Leon kenapa pulang jam segini? Ini baru setengah sembilan pagi, Den."


"Iya, tadi selesai upacara memang langsung pulang," jawab Leon santai.


Bi Ijah tampak mendelik ke arahnya.


"Benarkah? Den Leon gak bolos kan?"


"Sebenernya bolos sih bik, hehehe."


"Hah?! Den Leon bolos?!"


Bi Ijah seketika naik emosinya.


"Iya, hehehe," kekeh Leon tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tampak wajahnya yang tampan dan mempesona ketika ia tertawa.


"Den! Bibi jadi gak bisa marah! Wajah Den Leon yang ganteng menyihir bibi. Jadi kenapa Den Leon teh bolos? Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Bi Ijah.


"Iya, dan gue lagi pusing nih, Bik. Gue ke kamar dulu ya," ujarnya pada Bi Ijah kemduian mendahului perempuan patuh baya itu.


"Den Leon kenapa atuh? Gak biasanya bolos begini. Meski nilainya jelek biasanya Den Leon tetap percaya diri dan gak pernah bolos. Tapi kenapa ini teh Den Leon bolos?"


Bi Ijah bertanya tanya dalam hati.


***


Leon masuk melewati lobi depan rumahnya, ketika sampai di ruang tamu. Ia melihat Reiji sedang duduk di sofa sambil memegangi laptop di pangkuannya.


"Kak!" sapa Leon melewatinya begitu saja.


"Hmmm," sahut Reiji menjawabi Leon.


"Tumben tuh anak udah pulang,"  batin Reiji dalam hati.

__ADS_1


Tapi ia masih terus sibuk dengan laptop yang berada di pangkuannya. Tak menanyai Leon, hanya membatinnya dalam hati.


***


__ADS_2