
"Non. Ayok Non, Nyonya Emma meminta bibi agar membantu Non. Mari bibi antarkan ke kamar Non Embun," ujar Bi Ijah pada Embun.
"Oh, iya Bi. Terimakasih ya Bi. Bibi baik banget," kata Embun pada Bi Ijah.
"Ah, tidak usah begitu, Non. Bibi jadi malu, ayok Non."
Bi Ijah bangkit dari sofa, dan masuk ke rumah megah itu. Embun mengikutinya dari belakang sambil menyeret koper. Embun melewati ruang makan yang besar tadi. Kali ini ruang makan itu sudah tertata rapi dengan semua hidangan makanan. Sudah tak ada lagi para pelayan yang berlalulalang di ruangan itu. Embun tetap berjalan saja di belakang Bi Ijah. Mereka melewati kolam renang dan taman yang berada di tengah rumah mewah itu. Ada ayunan berwarna putih di tengah taman. Embun masih terus berjalan, Bi Ijah dan Embun melewati ruang gym yang biasanya digunakan berolahraga oleh Tuan Muda Utama Keluarga Bhaskara Granada, Reyji.
Setelah berjalan beberapa waktu melewati rumah megah itu. Akhirnya mereka telah sampai di depan kamar yang nantinya akan ditinggali oleh Embun.
"Ini kamarnya, Non. Malam ini dan seterusnya Non bisa tinggal disini."
Bi Ijah berkata sambil membuka kunci pintu kamar itu. Setelah pintu terbuka, ia mempersilakan Embun untuk masuk.
"Silakan, Non. Kamarnya sudah dibersihkan para pelayan disini kok Non."
Bi Ijah menjelaskan. Embun segera memasuki kamar itu dengan menyeret kopernya. Kamar yang akan embun huni juga tampak mewah. Ada kamar mandi dengan shower yang di desain mewah, satu ranjang single bad. Sebuah almari, cermin, dan dinding yang dilukis gambar salah satu kota di spanyol. Benar benar tampak menakjubkan.
"Aku akan tinggal disini? Pasti nyaman sekali," batin Embun.
"Non, nanti serahkan berkas berkasnya Non ke bibi ya," ujar Bi Ijah pada Embun.
"Eh? Untuk apa Bi?" tanya Embun ragu-ragu.
"Non masih sekolah, kan?" tanya Bi Ijah.
"Eh iya, Bi."
"Iyaa, bibi minta berkasnya. Besok bibi yang daftarin Non ke sekolah ya. Nanti Non sekolah bareng sama Den Leon," ujar Bi Ijah pada Embun.
"Den Leon?" sahut Embun.
"Iya, Den Leon itu anak nomor duanya Nyonya Emma, Non."
__ADS_1
Bi Ijah menjelaskan pada Embun.
"Oh, iya Bi. Kalo gitu saya mau menata barang barang saya dulu, ya Bi."
"Iya, silakan Non. Bibi tinggal dulu ya, nanti berkasnya tolong kasihkan bibi."
"Baik, Bi."
Bi Ijah berlalu meninggalkan kamar Embun. Tanpa menunggu lama lagi, Embun segera menata barang barangnya. Pertama ia melepas sepatu yang dipakainya. Ditaruhnya di rak sepatu yang telah tersedia di pojok kamarnya. Kemduian ia membuka kopernya, mengeluarkan baju-baju dari koper. Ia menatanya rapi didalam almari. Embun meraih peralatan mandinya seperti sikat gigi, sabun, dan shamponya di kamar mandi. Setelah ia menata semua dengan rapi, Embun bergegas mandi. Karena dirinya merasa perlu mandi setelah seharian menempuh perjalanan.
Embun memasuki kamar mandi mewah itu. Awalnya ia bingung, bagaimana cara ia mandi. Tidak ada gayung di kamar mandi itu. Yang ada hanyalah shower dan toilet duduk serta tisu. Lantai kamar mandi terbuat dari keramik dan di pinggir pinggirnya terdapat bebatuan kecil yang halus.
"Kamar mandinya kok gini? Ini saya kalo mandi kelihatan dari luar apa engga ya?" pikir Embun was was ketika mendapati dinding kamar mandi yang hanya dari kaca buram, bukan dari tembok. Pintu kamar mandi juga dari kaca. Ada handuk putih halus yang tergantung di sudut kamar mandi itu. Embun memutar otak bereksperimen. Ia mencoba menyalakan shower. Dan berhasil. Air dari shower memancar dengan sempurna.
Tanpa pikir panjang lagi, Embun segera melepas pakaiannya, kemudian menggantungkannya di sudut kamar mandi. Ia menikmati setiap air yang keluar memancar dari shower itu.
"Ahh segarnyaaaaaa," lengguh Embun. Tak lupa ia memakai sabun, kemudian membasuhnya kembali dibawah shower.
Setelah selesai mandi, Embun menggunakan handuk putih halus yang berada di sudut kamar mandi.
"Oh, ini mungkin dipakai," pikir Embun. Akhirnya ia memakainya dan keluar dari kamar mandi.
Ia lalu mengambil baju tidurnya. Dan memakainya. Embun menyisir rambutnya di depan cermin dan memakai hand body lotion nya. Ia juga memakai cream wajah yang biasanya ia gunakan sebelum tidur.
Puk! Puk! Puk!
Embun menepuk nepukkan telapak tangannya pelan di kedua pipinya.
"Dah, selesai. Pengen tidur capeeeek," umpatnya kemudian melemparkan dirinya ke kasur yang empuk itu.
"Huuhhftt..," lengguhnya ketika melemparkan dirinya.
"Sebenernya hubungan ayah dengan Keluarga Bhaskara Granada apa ya? Apa mereka teman ayah? Atau salah satu kerabat tiri ayah?" pikir Embun mengira-ngira.
__ADS_1
Akan tetapi, ia masih tak menemukan jawabannya. Sepertinya Embun harus mencari tahu sendiri. Yang terpenting sekarang adalah Embun tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan selama dia ada disini. Tujuannya disini adalah ia harus belajar serajin mungkin dan meraih cita-citanya. Karena tak ada lagi yang ia andalkan selain dirinya sendiri.
Ketika ia tengah sibuk berpikir, mendadak Embun teringat jika ia harus menyerahkan berkas berkasnya pada Bi Ijah. Ia segera bangkit dari tidurnya, kemudian mengambil berkas berkasnya.
Ia segera keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Bi Ijah.
"Bi Ijah tadi gak bilang dia mau kemana, dimana ya kamar Bi Ijah?" Embun berjalan menyusuri rumah keluarga bhaskara granada. Terlihat Embun yang membawa berkas berkas nya di tangan itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangannya disetiap sudut rumah itu, mencari-cari keberadaan Bi Ijah.
Embun melewati bagian dapur keluarga bhaskara granada yang sangat luas. Tampak ada delapan orang pelayan yang sedang berada di dapur itu membersihkan peralatan dapur.
"Sepertinya mereka baru selesai memasak," batin Embun.
Ia kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu pelayan keluarga bhaskara granada.
"Permisi, maaf saya mau tanya Bi Ijah ada dimana ya?" tanya Embun hati-hati.
"Bi Ijah sepertinya tadi ada di ruang makan, coba cari disana," jawab salah satu pelayan rumah keluarga bhaskara granada.
"Oh iya, saya cari kesana coba, terimakasih, mari."
Embun berucap sembari senyum pada para pelayan itu.
"Iya," sahut pelayan yang tadi menjawab pertanyaan Embun.
***
"Itu siapa, syah?" tanya salah satu pelayan bernama Fitri.
"Gatau, tanya kebaradaan Bi Ijah. Yaa saya jawab aja ada di ruang makan," jawab Aisyah yang juga merupakan pelajan di rumah itu.
"Yaudah kita beres beres saja cepat. Sebentar lagi teman temannya Den Leon datang. Nanti kita di omelin sama Den Leon kalo masih disini," kata Fitri pada Aisyah.
"Iya iya," sahut Aisyah segera bergegas menyelesaikan tugas bersih bersih peralatan dapur itu.
__ADS_1
***