
Embun melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah nan megah itu. Tampak ukiran tulisan yang mewah bertuliskan "Keluarga Bhaskara Granada" tepat di atas pintu masuk rumah mewah itu. Embun menyeret kopernya dengan diikuti Pak Satpam yang tadi mempersilakannya masuk.
Ketika di dalam rumah, Pak Satpam yang bernama Kris itu langsung membawa Embun menemui Bi Ijah di rumah makan. Seorang kepala pelayan rumah mewah itu. Meski Bi Ijah sudah terhitung tua usianya dan ia berasal dari desa, Bi Ijahlah pembantu paling senior di Keluarga Bhaskara Granada. Mungkin saja karena ia telah mengabdi begitu lama pada keluarga itu.
"Bi Ijah, ini ada pembantu baru yang datang!" ujar Pak Kris yang mengenakan baju satpam cokelat mirip polisi.
"Eh?" sahut Embun.
Embun tampak memperhatikan sekelilingnya. Tampak para pelayan yang berjumlah lebih dari sepuluh orang sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam.
Ruang makan Keluarga Bhaskara Granada begitu luas nan mewah. Gelas gelas kaca tertata rapi diatas meja. Begitu pula piring, sendok dan garpu yang ditata rapi di sebelahnya. Ditengah meja makan itu terdapat vas bunga beserta lilin. Persis tampak seperti dinner yang disiapkan di hotel berbintang.
Bi Ijah menghentikan sejenak kesibukannya. Ia menoleh kearah Pak Kris dan Embun yang barusaja datang.
"Pelayan yang dari Mojokerto, nduk?" tanya Bi Ijah menghampiri Embun.
"Eh? Ma-af, saya bukan dari Mojokerto bu, saya dari Demak. Dan sebenarnya saya kesini bukan untuk menjadi pelayan, saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, ada suatu hal yang harus saya katakan," jelas Embun panjang lebar pada Bi Ijah.
"Suatu hal apa? Duduk dulu mari kita ke ruang tamu saja, nduk. Bibi kira kamu pelayan baru ternyata bukan, kita berbicara di depan saja ya, sebentar lagi ruang makan ini akan digunakan makan malam oleh Den Leon dan teman temannya," jelas Bi Ijah.
Embun hanya mengangguk mengiyakan saja perkataan Bi Ijah. Meski ia sebenarnya tidak tahu siapa itu Leon.
***
Bi Ijah melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Disusul oleh Embun yang berjalan dibelakangnya sembari masih menyeret kopernya. Pak Kris juga mengikuti mereka menuju ruang tamu. Ketika berjalan ke ruang tamu, Embun tak henti hentinya memperhatikan rumah yang luas itu.
"Ini rumah atau hotel ya, besar banget. Wuih lukisannya bagus banget," batinnya dalam hati melihat dinding yang terpajang berjajar lukisan dinding yang dilukis oleh pelukis terkenal spanyol.
Sesampainya di ruang tamu, Embun memperhatikan sofa yang begitu besar dan dinding ruang tamu yang juga dilukis dengan gambar bangunan khas Granada.
"Silakan duduk, Non."
Bi Ijah mempersilakan Embun duduk di sofa besar ruang tamu itu.
Tanpa pikir panjang, Embun mengiyakan dan segera duduk.
"Jadi begini, Bu. Saya Embun dari Demak. Saya datang ke rumah ini karena ingin menunjukkan surat wasiat dari ayah saya."
Embun mengeluarkan surat wasiat itu dari dalam ranselnya.
Bi Ijah duduk di sebelah Embun. Melihat surat wasiat yang ditunjukkan Rumpun padanya.
__ADS_1
"Disini tertulis jika saya harus datang ke rumah ini, Bu. Alamatnya benar rumah ini kan?" tanya Embun memastikan.
"Betul, Non. Ini adalah alamat rumah Keluarga Bhaskara Granada. Coba saya telfon Nyonya dulu ya, Non."
Bi Ijah bangkit dari sofa dan mengambil ponselnya. Embun tetap menunggu di ruang tamu.
"Non, tunggu saja Bi Ijah ya, saya ke depan dulu," pamit Pak Kris pada Embun.
"Baik pak. Terimaksih."
Pak Kris kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu.
Lalu Bi Ijah datang dengan membawa ponsel miliknya. Ia duduk kembali di sebelah Embun. Bi Ijah mencari nomor Nyonya Emma Bhaskara. Ia ingin memberitahu perihal kedatangan Embun ke rumah Keluarga Bhaskara Granada.
"Nyonya sedang perjalanan bisnis ke liar negeri, Non. Coba saya telfon dulu," ujar Bi Ijah sembari memencet tombol call pada nomor whatsapp Nyonya Emma.
"Iya Bu. Terimakasih."
Jantung Embun dag dig dug berdegup kencang. Dalam hatinya, ia berdoa agar Nyonya pemilik rumah mengangkat telfon Bi Ijah. Sebab, ia tak tau lagi harus kemana jika rumah Keluarga Bhaskara Granada tak menerimanya. Di Kota Jakarta Pusat yang besar Embun tak mengenal siapapun.
Tuutt! Tuuuut! Tuuut!
Telfon Bi Ijah terdengar berdering. Empun yang berada di sebelah Bi Ijah dapat mendengarnya. Mungkin karena Bi Ijah menyalakan tombol load speaker panggilannya.
("Maaf, Nyonya. Apakah saya mengganggu waktu Nyonya Emma?") tanya Bi Ijah hati-hati.
("Tidak, Bi. Saya di Spanyol sekarang. Ada pekerjaan tapi belum deadline. Ada apa Bi? Leon membikin ulah lagi?") tanya Nyonya Emma.
("Tidak Nyonya. Den Leon tidak membikin ulah hari ini, malahan Den Leon sepertinya menjalin hubungan baik dengan teman-temannya di sekolah. Malam ini teman temannya akan datang dan makan malam di rumah ini, Nyonya.") jawab Bi Ijah melalui telfon.
("Teman- temannya? Baiklah, tidak apa-apa Bi. Tetap awasi Leon ya, Bi.")
("Iya, Nyonya. Saya dan para pelayan disini pasti akan mengawasi Den Leon dengan baik, Nyonya.") ucap Bi Ijah terdengar patuh.
("Iya jadi kenapa tadi bibi telfon?") Nyonya Emma bertanya kembali.
("Eh, itu Nyonya. Hari ini ada anak perempuan yang datang ke rumah, katanya ingin bertemu Nyonya. Dia membawa surat wasiat ayahnya,") jelas Bi Ijah.
("Surat wasiat? Siapa namanya? Nama lengkap?") tanya Nyonya Emma.
Bi Ijah tampak menjauhkan sedikit telfonnya. Kemudian menoleh kearah Embun yang juga sedang mendengarkan panggilan itu dengan saksama.
__ADS_1
"Embun, Bi. Mutiara Embun Pagi."
Embun membisikkan namanya ke telingan Bi Ijah.
("Embun Nyonya. Embun Pagi.") kata Bi Ijah menjawab pertanyaan Nyonya Emma di telfon.
Dan Embun seketika mengisyaratkan pada Bi Ijah jika Bi Ijah salah menyebut nama lengkapnya, "bukaan, Bi. Bukan Embun Pagi tapi Mutiara Embun Pagi."
("Embun Pagi?") sahut Nyonya Emma. Suaranya terdengar seperti ia sedang berpikir, mengingat siapa anak perempuan bernama Embun Pagi yang disebutkan Bi Ijah.
("Kebetulan ini orangnya masih di sebelah saya, Nyonya.")
("Tolong kasihkan telfon ini padanya, Bi.") pinta Nyonya Emma.
("Baik Nyonya.")
Bi Ijah menyodorkan ponselnya pada Embun.
("Salam Nyonya, saya Mutiara Embun Pagi.") ucap Embun menyapa Nyonya Emma melalui telfon.
("Oh, jadi kamu anak perempuan yang bernama Mutiara Embun Pagi. Maaf ya, saya masih di Spanyol. Jadi saya belum bisa menemui kamu secara langsung,") ujar Nyonya Emma.
("Tidak apa- apa, Nyonya.") jawab Embun ikut memanggil Nyonya Emma dengan sebutan Nyonya, bukan Bu. Ia hanya mengikuti Bi Ijah.
("Tolong telfonnya kasih ke Bi Ijah kembali,") pinya Nyonya Emma melalui telfon.
("Baik, Nyonya.")
Embun hanya menurut saja. Ia mengembalikan ponsel itu kepada Bi Ijah.
("Bi Ijah.") panggil Nyonya Emma.
("Iya, Nyonya. Gimana Nyonya?")
("Bi. Embun akan tinggal dirumah Keluarga Bhaskara Granada. Tolong bibi dan para pelayan lainnya dapat membantu kebutuhannya ya Bi. Untuk sekolahnya saya minta tolong daftarkan saja di sekolah yang sama dengan Leon.") ujar Nyonya Emma pada Bi Ijah.
("Baik, Nyonya. Saya dan para pelayan disini akan membantunya.") jawab Bi Ijah.
("Terimakasih, Bi. Saya tutup dulu telfonnya ya, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan saya,")
("Baik, Nyonya.")
__ADS_1
Dan Nyonya Emma menutup telfonnya.
***