
Orang tua Viko dan Yana yang tak sengaja ingin menghampiri mereka akhirnya terkaget melihat Viko dan Yana yang tengah saling tatap menatap. Yana yang mengetahui keberadaan mereka akhirnya terbangun dan segera memberesi buku dan laptopnya.
" Eh.. eh papa ga lihat ya , ya kan ma hehe ". sembari ketawa dan melirik ke arah mereka
" Hehe Iya pa, haduhh mama papa ganggu ya , kalau gitu kita turun yuk pa ". melangkah meninggalkan anaknya dengan cekikikan.
" Ada apa ma pa ? ". Menghentikan langkahmama dan papanya ..
" Kalian sedang apa ? Tidak sabar sekali ingin bermesraan , makanya cepat menikah nak". Ucap pak BIAN
" Isshh apaan sih pa tadi aku jatuh terus gak sengaja jatuh ke mas Viko, iya kan mas ?".
" Eh iya om, ". Jawab Viko gugup
mendengar keributan di atas pak Roy dan istri pun mengikuti langkah mereka. tapi melihat kedua pasangan yang salah tingkah pun melirik pak BIAN sembari mengeluarkan kata candaan.
" Ah sudahlah pak Bian kaya ga tau saja jaman muda kita mendapatkan istri kita ini ". Melirik istrinya yang mulai tersenyum.
" Ehh i-iyaa hehe". Mengingat dan tertawa terbahak-bahak.
" Ayo pulang Viko kamu mau pulang kan atau mau masih disini ?". Goda bu Rita melirik ke arah anaknya.
" Males , ya udah yuk pulang ". Ucap Viko menuruni anak tangga .
Keluarga pak Roy pun pulang dan papa mulai meminta jawaban rencana perjodohan mereka, eh tanpa Yana jawab mau tidak mau Yana harus menuruti permintaan papa nya. Toh tidak salah mencoba nya .
" Harus bisa dan harus mau ya, huhh tapi mas Viko kelihatanya baik , hiss apaan sih kamu Yana ". Mengibas-ngibaskan tangan ke langit.
" Kamu kenapa Yana , cepat tidur besok kamu dan Viko harus fitting baju. Dan kamu akan segera melangsungkan pernikahan ".! Perintah papa
" Ta-ta pii pa .... ". Belum sempat bicara Yana akhirnya mengalah
" Tidur ".! Bentak pak Bian
Yana pun berjalan dengan layu karena Yana sangat kecewa tapi mau bagaimana lagi . Pukul 21.00 Yana yang belum bisa tidur pun meminta ijin kepada orang tuanya ingin membeli martabak depan komplek perumahan. setelah mendapat ijin dia pun bergegas menuju garasi dan segera pergi dengan motor kesayangan nya.
__ADS_1
Sesampainya di warung martabak pinggir jalan ternyata pembeli nya sangat ramai sampai Yana harus menunggu didepan warung. Martabaknya sangat enak bahkan sangat murah makanya pembeli nya sangat ramai. Yana yang menggunakan celana pendek memperlihatkan mulus dan putih kakinya tak jarang banyak lelaki yang memandanginya dengan penuh cinta. Tiba-tiba saja ada tatapan mata yang sangat menakutkan menatap kearah Yana siapa lagi kalo bukan viko dan temannya.
" Vik itu bukanya cewek yang mau dijodohin sama elu kan". Kata Axel
" Cantik banget sih mulus sexy lagi kalah jauh mah Ama si Dinda ". Kata Bima
" Diem bisa diem gak sih kalian ". Kata Viko marah mengepalkan tangannya.
" Siapa sih ceweknya gue penasaran sampai-sampai Viko gak bisa buka hati lagi". Ujar Johan
" Noh yang lagi berdiri di sono ". Menunjuk arah Yana
" Yana itu benar Yana kan iya itu Yana ". Kata Viki
" Kalian duluan saja aku ingin memberi pelajaran untuk dia". Keluar dari mobil menuju ke arah Yana
Viko yang memakai kemeja putih dan rambut berantakan tatapan mata yang sangat menakutkan tetapi tetap membuatnya tampan dan gagah.
Yana yang kaget melihat Viko dibelakangnya pun langsung ingin beranjak pergi,. Tetapi saat ingin melangkah tangan Yana ditarik oleh Viko dan membuatnya jatuh ke pelukan nya. Deru nafas Viko menyapu poni Yana, dapat dirasakan oleh Yana nafas yang sangat hangat dan penuh amarah. Kaki Yana serasa lemas dan gemetar melihat tatapan Viko. Bahkan penjual martabak yang melihat tatapan mata nya langsung bergidik ngeri.
" Kenapa kau ada disini dengan baju seperti ini hah". Bentak Viko Semua orang yang disitu melihatnya .
" Eh kak Viko aku hanya ingin beli martabak kak, aku lapar tau . Kok Kaka ada disini sih bukannya tadi udah pulang sama Tante dan om ". Kata yana tanpa salah".
" Terus mana pesanannya atau jangan-jangan kamu mau ketemuan iya ". Tanya dengan nada intimidasi dan tegas.
" Kalian bubar atau mau saya buat kalian menderita". Teriakan Viko membuat orang-orang bubar karena takut dengan ancaman yang bisa membuat keluarga mereka jatuh miskin dan bahkan bisa tinggal kenangan.
" Kau kenapa kau tak melayani calon istriku". Bicara kepada penjual.
" Eh-Eh-Eh harus antri dulu tuan". Kata penjualnya sangat ketakutan.
__ADS_1
" Bulshit cepat layani wanitaku kalau tidak". Ancam Viko
" Baik tuan ,. Nona mau pesan apa".
" Martabak manis pake seres cokelat sama keju ya pak".
" Kak kamu keterlaluan banget sih tuh liat penjualnya ketakutan dasar kejam ". melepaskan tangan yang dipegang Viko dan mulai duduk ke kursi.
" Biarlah". Dengan nada cuek menjawab dan ikut duduk disamping Yana .
" I-inii nona pesanannya sudah ada dan ti-tidak usah bayar nona". Kata penjualnya ketakutan melihat sorot mata Viko yang tajam.
" Kak bisa gak Kaka jangan menatap mereka seperti itu, udah bang ini uangnya gak usah dengerin dia ". menyodorkan uang dan pergi
" Ayo kuantar pulang sekalian mau mampir ". titah Viko mulai mengandeng tangan Yana.
" hisss ya tadi kan udah dari rumah masak mau mampir lagi sihh dasar om om tua gak tau malu ". geritik mulut Yana ngedumel
" Mana kunci motonya sini biar aku yang bawa. pegangan yang kuat ". perintah Viko dengan tegas.
Dengan malas Yana mulai naik motor dan pegangan dengan erat ke pinggang Viko. Viko tersenyum tipis dan mulai membawa motor ke jalan pulang.
Sesampainya di rumah Yana Viko pun mampir dan segera mengambil sesuatu di sakunya mengambil benda pipih dan segera melakukan panggilan.
Yana bergegas masuk dan keluar membawa martabak yang sudah diletakkan di dalam piring dan membawa dua gelas susu hangat untuknya dan lelaki yang yang sangat menyebalkan.
" Mas minum dulu gih mumpung masih hangat dan ini cobain martabaknya enak banget tau". menyodorkan piring kedepannya.
" Taruh situ saja aku anti sama makanan jalanan, nanti perutku sakit ". tolak Viko namun Yana tidak kehabisan akal mulai menyuapkan martabak kemulut Viko yang masih ngedumel. Viko yang mulutnya belepotan mulai mengunyah dan mulai merasa nikmat dengan makanan tersebut.
" Suapin lagi ". perintah Viko
" Hihh tadi katanya gak mau bisa sakit bisa ...". belum menyelesaikan omongannya Viko pun menatap bibir Yana . Yana yang menyadari itu langsung menyuapkam martabak lagi.
to be continued
__ADS_1