
Fatimah Azzara dia gadis berhijab berusia 23 tahun mempunyai usaha cake shop dan butik muslimah, berawal dari hobi yang suka membuat kue dan menggambar serta dukungan penuh dari mamahnya ia memulai usaha kecil-kecilan sejak usianya 19 tahun hingga ia kini yang memiliki cake shop sendiri dan butik muslimah.
Hanya tinggal berdua dengan mamanya ia belajar untuk mandiri, orang tuanya memutuskan untuk bercerai saat usianya 17tahun dan ayahnya sudah menikah lagi dengan wanita lain.
ia sangat tahu bahwa mamanya sangat mencintai papanya, dan rela bermadu dengan wanita muda papanya, tapi papanya yang tidak mau karena papa takut tidak bisa bersikap adil pada mamanya, akhirnya dengan berat hati mamanya melepaskan papanya.
Tapi Zara tidak pernah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya karena sebelum berpisah dulu sudah membuat perjanjian bahwa tidak akan membatasi papanya untuk mencurahkan kasih sayangnya pada putrinya.
Hari ini Zara mengawali pagi dengan senyuman sehabis sholat subuh tadi ia sudah keluar rumah untuk jogging, kebiasaan sehat yang tidak pernah ia lewatkan,kali ini dia tidak sendiri ia ditemani sahabat terbaiknya Helen dan suaminya,
"Hay," sapa Helen dengan menepuk bahu Zara.
"Assalamualaikum," salamnya sambil menekankan salam pada Helen. Helen hanya tersenyum sambil mulutnya bergerak menjawab salam Zara.
"wa'alaikumsalam maaf."
"Sendirian?" Zara bertanya pada Helen yang duduk disampingnya.
"Tidak, Dewa lagi parkir mobil, mana boleh aku pergi sendirian bisa-bisa si tuan pengatur marah padaku," katanya.
Zara langsung menepuk tangannya. "hush nggak baik ngomongin suami sendiri." Helen hanya tertawa kecil sambil minta maaf "Hehehe, maaf lah Zara."
"Eh Ra kamu serius apa yang kamu katakan kemarin?" Tanyanya, Zara mengerti apa yang ditanyakan oleh Helen.
"Iya, lusa aku menikah, mendadak emang tapi aku menerimanya, mama juga setuju," jelas Zara.
memang mendadak lusa semua akan berubah Zara akan menjadi seorang istri dari seorang Fatan ia hanya tahu namanya saja ia tidak tahu seperti apa calon suaminya.
ia percaya dengan pilihan papahnya dan mungkin ini jodohnya yang diberikan Allah untuknya.
"Tapi ini pilihan papamu?" Kata Helen kwatir karena setahu Helen papa adalah orang yang menyakiti mamanya.
"Papaku juga orangtuaku Helen, pasti papa tidak salah pilih dan tidak akan membiarkan anaknya tersiksa nantinya," kata Zara.
"kamu tahu dia siapa?" Tanya Helen.
"Dia Fatan lah," jawabnya. Sepontan Helen memukul dahinya.
"aku tahulah dia namanya Fatan, kamu tahu tidak dia seperti apa?" Tanya Helen yang sedikit kurang sabar dengan Zara yang kadang mulai lemot. "dia teman Dewa, dan dia itu playboy bahkan sudah memiliki anak diluar nikah dan parahnya dia yang mengurus anak itu. Dia juga membesarkannya, sedangkan ibu anak itu pergi entah kemana kamu mau menjadi ibu dari anak haram itu?" Tanya Helen dengan suara sedikit ditekankan.
"Hush, Helen kamu itu ngomong apa si? Anak itu suci Helen tidak ada nama anak haram, Kalaupun ia ditakdirkan lahir dari hasil zina kedua orang tuanya, namun dosa zina bukan pada si anak tapi pada kedua orang tuanya," tegur Zara.
"Iya-iya maaf," kata Helen menyadari kesalahannya.
"Assalamualikum," salam Dewa suami Helen.
"Waalaikum salam," jawab Zara dan Helen barengan.
"Bener berita itu Zara?" Tanya Dewa tiba-tiba sambil duduk disebelah Helen.
"Ya Allah kamu juga Tahu Dewa?" Tanya Zara.
"Iya lah Zara, Helen sahabatmu dan dia istriku pasti dia ceritalah sama aku, apalagi kamu anak dari seorang pengusaha yang cukup terkenal, dan calon suamimu pengusaha muda yang cukup disegani, bahkan semua karyawan cewek dikantor pada patah hati karena bos kecenya akan menikah, tapi apa kamu yakin?" Tanya Dewa.
"Insya Allah Dewa semua sudah diatur," katanya tenang.
"Semoga bahagia." do'a Dewa.
"Amin," jawab Zara.
*****
Zara selesai sholat isya' segera turun menemui mama yang sedang duduk santai bersama bi Imah pembantu rumah tangga dirumahku.
"assalamualikum mama, bi imah," salamnya sambil duduk sebelah mamanya.
"Waalaikum salam sayang, gimana sudah siap?" Tanya Aminah mamah Zara.
"insya Allah mama aku siap," jawabnya mencoba membuat mamanya tidak kwatir,
Zara tahu dengan keputusannya mamanya sangat kwatir karena selama ini dia tidak pernah jauh dari Aminah.
"mama tidak usah kwatir, mama tahukan anak mama ini kuat," katanya mencoba menenangkan Aminah.
Aminah mengangguk dan tersenyum padanya. "mamah percaya padamu," kata Aminah sambil mengelus kepala Zara.
Zara melihat kue nastar dimeja ia mengambilnya dan memasukkan kedalam mulutnya dengan ekspresi menilai.
"Hmmm enak ma," pujinya saat nastar cengkeh buatan mama masuk dalam mulutnya.
__ADS_1
"Tapi menurut Zara kurang menteganya," koreksinya.
"iya tadi kehabisan mentega," Kata Aminah. Zara melihat raut wajah kwatir Aminah.
"Mama percaya pada papakan?" Amnah mengangguk,
"jadi mama pasti percaya kan kalau pilihan papa tidak salah?" Zara mencoba embuat mamanya percaya.
"Semoga saja sayang, tapi mama merasa tidak tenang," kata Aminah.
"Mama percaya Zara ya." Zara mengambil tangan mamanya dan menciumnya "Zara akan bahagia dengan jalan ini ma."
Aminah mengangguk meski ia merasa belum begitu tenang melihat keyakinan yang dimiliki anaknya ia mencoba menerima dan mempercayai mantan suaminya.
"Semoga kamu bahagia sayang" do'a mama.
"Amin ma terima kasih," ucapnya sambil memeluk Aminah.
Pagi ini Zara berencana mengunjungi cake shopnya dulu sebelum menikah besok.
Ya, besok ia akan menikah, menikah dengan duda belum kawin, Kenapa begitu?
Karena calon suaminya belum menikah tapi sudah mempunyai anak, Zara tidak perduli dengan setatus itu, karena ia yakin pria pilihan papahnya adalah jodoh yang dikirim Allah untuk dia.
"Assalamualaikum mbak Zara," sapa salah satu karyawannya.
"Waalaikum salam Inun," jawab Zara dan pergi kedalam ruangan yang biasa ia gunakan untuk bekerja.
Zara mengecek pemasukan yang terjadi sebulan ini dan Alhamdulillah pemasukanya tiap bulan selalu bertambah.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu sedikit mengganggu konsentrasinya, Zara berjalan menuju pintu dan saat dibuka ia melihat anak kecil berusia 3 tahunan berdiri didepan pintu dengan rambut yang dikepang dua, dengan senyuman ia menyambut bocah kecil calon anaknya.
"Mama!" Panggilnya.
Zara berjongkok biar bisa sejajar denganya."Assalamualikum sayang," salam Zara.
"Lana sama siapa sayang?"tanyanya karena ia tidak menemukan siapapun yang bersama anak ini.
"Tadi sama papa, tapi papa ada meeting katanya jadi Lana ditinggal disini," katanya, Zara mengangguk dan menggiringnya masuk kedalam ruang kerjanya.
Alana Queta Anggara itu nama gadis kecil yang sangat cantik ini.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi tertera nama Fatan terpampang layar ponselnya,
"Hallo, sorry aku tinggal Lana dia dari tadi nangis, minta diantar cake shop" katanya panjang lebar tanpa mengucap salam terlebih dahulu.
"Assalamu'alikum, iya ia sekarang ada bersama, saya akan menjaga Lana sampai kamu menjemputnya," katanya.
"Terima kasih," Katanya dan menutup telfonnya tanpa menjawab salam Zara
Zara hanya bisa menggeleng kepala.
Zara duduk mengamati Alana yang sedang memakan cake coklat kesukaannya. Dia mengingat pertama kali keluarga Fatan datang kerumahnya untuk melamar setelah sehari diberi tahu papanya bahwa ia dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis papanya, awalnya Aminah tidak setuju tapi setelah tahu dari keluarga baik-baik, akhirnya Aminah setuju. Tapi yang membuatnya bimbang adalah kelakuan Fatan terdahulu.
"Jangan gila mas, biarkan Zara yang memilih calon suaminya sendiri." marah Aminah saat mantan suaminya datang kerumah.
"Aminah, mereka dari keluarga baik-baik, dan kamu kenal orangnya, dia Anggara dan Maryam," katanya.
"Anak Anggara dan Maryam?" Aminah memastikan.
"Iya dia anak Anggara sahabat kita," jawabnya, Aminah diam dan berfikir ia sangat kenal dengan Anggara da Maryam mereka sangat baik.
"baiklah mereka dari keluarga baik-baik, tapi anaknya ..." kata Aminah menggantung memikirkan dan ia baru ingat Anggara hanya memiliki seorang putra yang bermasalah. "tidak mas, Anggara hanya memiliki satu anak dan anak itu yang ada skandal 3tahun lalu," katanya.
"Dia sudah berubah Aminah."
"Tapi mas, tidak Ami tetap tidak setuju," katanya.
"Mama! Jangan menghakimi orang karena masa lalunya," kata Zara lembut.
"Jika memang Zara berjodoh dengannya perjodohan ini akan berlanjut mama, percaya jika Allah sudah menentukan jodoh Zara," kata Zara,.
"Tapi sayang...," Zara menggeleng mencoba membuat mamanya mengerti.
__ADS_1
"Baiklah mama setuju,kalua kamu memang sudah pas" kata Amina.
sehari kemudian keluarga Anggara datang kerumah berniat langsung menentukan tanggal pernikahan.
"Yang uti, apa itu mama Lana?" Tanya gadis berumur 3tahunan.
"Dia akan menjadi mamamu sayang," kata Maryam.
Anak kecil itu berjalan mendekati Zara.
"Aunty mau jadi mama Lana ya?" Tanyanya polos.
Zara mengangguk setelah melihat mamanya.
"Iya sayang, Lana sayang tidak sama Aunty?" Tanya Zara.
"Aku sayang Aunty, boleh Lana panggil Mama?" Zara mengangguk lagi.
"Yeah,, yang uti Lana punya mama baru," katanya girang khas anak kecil
"Gimana Ami kamu setuju?" tanya Anggara.
"Iya saya setuju mas karena Zara sudah setuju," kata Aminah.
"Terima kasih Ami," kata Maryam.
"Sama-sama mbak."
"Jadi lusa aku mau pernikahannya," kata Anggara.
"Secepat itu mas?" Tanya Aminah.
"Iya lebih cepat lebih baik, aku takut Zara berubah pikiran."
"Anakku tidak seperti itu mas,"kata Amina.
"Hehehe, iya saya tahu bagaimana Zara, Makanya saya ingin menikahkan Anak saya dengan Zara," kata Anggara.
"Biar zara yang menentukan hari pernikahannya," kata Amina.
Zara mendekat dengan menggendong gadis kecil itu. "Zara setuju asal mama setuju," putus Zara setelah mendengar rundingan mamanya tadi.
Lamunan Zara buyar karena tangannya ada yang menarik.
"Mama Lana sudah selesai,"Kata Lana sambil menyodorkan piring bekas cake coklatnya.
"Anak pintar," puji Zara sambil meletakkan piring kotor diatas meja.
Jujur Zara belum pernah bertemu dengan papanya Lana calon suaminya hanya sekedar tahu nomor telfonnya saja itupun dari calon mertuanya dan Zara juga berniat bertemu saat acara akad nikah besok.
"Mbk Zara!" Panggil Inun.
"Ya Inun?"
"Ada yang mencari mbak, namanya bu Maryam," Kata Inun. Zara mengangguk menyuruh Ainun membiarkan Maryam calon ibu mertuanya masuk. "Suruh langsung ke sini saja Inun." Inun mengangguk dan mempersilakan Maryam masuk.
Tak lama sosok wanita paruhbaya datang sosok yang masih terlihat cantik diusianya yang hamper memsuki setengah abat.
"Assalamu'alaikum," salamnya.
"Waalaikumsalam mama" jawabnya. Maryam tersenyum mendengar panggilan Zara sesuai dengan permintaannya.
"Lana tidur?" Tanyanya melihat Lana terbaring di pangkuan Zara.
"Sepertinya ma, baru makan cake coklat tadi maaf ma," katanya saat tidak bisa berdiri untuk berjabat tangan dengan Maryam.
"sudah tidak apa-apa," jawab Maryam.
"Mau jemput pulang Lana, Fatan tidak bisa jemput," kata Mama Maryam sambil duduk disofa depan Zara.
"langsung pulang ma?" Tanya Zara Maryam mengangguk, "mau ada acara nanti Ra jadi langsung pulang tidak apa-apakan?" Zara mengangguk "Biar Zara gendong ma," tawar Zara. Zara menggendong Lana yang sedang tertidur keluar ruangannya menuju parkiran mobil.
"Mama pulang dulu ya jangan lupa besok," katanya mangingatkan.
Zara tersenyum dan mengangguk.
besok adalah hari terpenting dihidupnya, dimana dua hati akan dipersatukan dalam ikatan suci dan sakral.
*****
__ADS_1