Setulus Cinta Zara

Setulus Cinta Zara
status baru


__ADS_3

Setelah sholat subuh Zara segera kedapur seperti biasa yang ia kerjakan dirumah mamanya mengerjakan pekerjaan rumah tapi bedanya sekarang ia mengerjakan pekerjaan rumah sendiri tanpa ada mamanya yang biasa membantunya.


Status baru yang ia sandang mengharuskan ia pergi dari hangatnya pelukan mamanya dan menjadi seorang istri dan seoarang ibu yang akan menyajikan masakan terenak untuk anak dan suaminya, ia sempat teringat obrolan terakhir denagn mamanya saat sebelum ia menikah.


"Zara lusa Zara akan meraskan jadi mama dulu, yang bangun pagi untuk memasak dan berberes rumah capek pasti tapi ada kepuasan tersendiri saat melihat suami dan anak tersenyum setelah meraskan nikmatnya masakan tangan kita,"kata Aminah.


Suara langkah Fatan turun dari lantai dua masih memakai pakaian tidurnya dengan menggendong Lana yang baru bangun. sesaat Zara bisa menagkap wajah kaget Fatan saat melihatnya didapur dengan cepat Fatan merubah mimic terkejutnya dengan wajah datar dan dinginnya.


"Assalamualikum abang." Sapa Zara saat Fatan sudah sampai di meja makan.


"Assalamualaikum anak mama yang cantic," sapa Zara pada Alana.


"Waalaikumsalam" jawab keduanya. Zara mengambil Lana dari gendongan Fatan agar Fatan bisa duduk dan mendudukan Lana pada kursi khususnya.


"hari ini Zara masak pancake dan waffle semoga Abang dan Lana suka," kata Zara.


"Hmm Lana Suka pancake, tapi Lana pengen waffle," kata Lana.


Zara tersenyum dan mengambilkan satu pancake dan satu waffle untuk Fatan dan kulumuri dengan sirup maple.


"jadi Lana mau yang apa?" Tanya Zara.


"Waffle aja ma," kata Lana.


"okey satu Waffle untuk Lana," kata Zara sambil meletakkan satu waffle kepiring Lana.


"Nanti Lana biar Zara saja yang antar kerumah mama, sekalian Zara berangkat kebutik," kata Zara. Fatan hanya mengangguk tanpa menjawab dan memandang Zara.


Lana mengangguk-angguk menikmati waffle yang ada dipiringnya. Zara melihat Fatan menghabiskan sarapannya dengan cepat kemudian ia beranjak menuju lantai atas untuk mandi dan bersiap kekantor.


"Lana habiskan sarapannya dulu mama mau nyiapin baju untuk papa," kata Zara. Lana hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan waffle. Zara melangka menuju kamar ia melihat Fatan baru yang berejalan kearah lemari untuk mengambil bajunya, "Abang! biar Zara yang nyiapin baju kerjanya, abang mandi saja!" pintyanya, tanpa menjawab Fatan melangkah kekamar mandi Zara hanya mengelu dengan sikap Fatan yang sangat dingin padanya. setelah menyiapkan baju kantor Fatan Zara segera turun melihat Lana, dari anak tangga atas Zara bisa melihat Lana sudah selesai dengan sarapannya.


"sudah selesai sayang?" Tanya Zara, Lana mengangguk.


"sekarang mandi sama mama ya,"ajaknya.


"okey mama," jawab Lana dengan semangat.


Setelah Lana selesai mandi berpakaian Zara membawanya turun untuk bertemu dengan papanya yang akan berangkat kerja.


"papa!!" panggil Lana dan berlari kepelukan papanya.


"Papa berangkat kerja dulu ya, jadi anak yang manis nggak boleh nyusahin mama," kata Fatan membuat Zara merasakan sedikit ada getar halus dihatinya saat Fatan menyebutnya mama.


"aku berangkat dulu, nanti makan siang aku jemput untuk makan siang bersama klienku yang dari Singapore," kata Ethan, kalimat terpanjang yang baru ia dengar dari mulut suaminya yang dingin dan irit bicara.


"baik bang, ayo sayang salim papa dulu," pintah Zara pada Lana, Lana mencium tangan papanya, Fatan mencium kening Lana. Zara meraih tangan Fatan dan menciumnya Fatn hanya diam tanpa ciuman sayang yang biasa sepasang suami istri lakukan.


"Assalamualaikum" salamnya.


"Waalaikumsalam" jawab Zara.


Setelah Fatan pergi Zara segera mengambil tasnya yang berada diruang tangah dan mengajak Lana pergi kerumah eyangnya.


Zara sudah sampai di rumah mertuanya keluarga Anggoro ia menurunkan Lana dan mengajaknya masuk belum sempat Zara mengetuk pintu, pintu sudah terbuka.


"E nona kecil sudah sampai," kata Bik Dilla.


"Assalamualikum Bik," salam Zara dan mencium tangan Bik Dilla membuat Bik Dilla salah tingkah karena selama ini belum ada yang berlaku seperti itui selain anaknya.


"eh,Waalaiukum salam non silakan masuk," kata Bik Dilla sedikit terkejut.


Zara mengangguk dan menggandeng tangan Lana masuk kedalam. Ia melihat mama mertuanya sedang duduk disofa sambil merajut.


"Assalamualaikum mama!" Salamnya dan meraih tangannya disalimnya.


"waalaikumsalam, baru sampai? Langsung mau kebutik?" Tanya Maryam


"Iya ma, Lana disini sama eyang apa ikut mama?" Tanya Zara.


"Biar disini Ra," kata mama.


Zara mengangguk, "iya ma tadi Bang Fatan juga mengajak Zara menemui partner kerjanya yang dari Singapore," kata Zara.


"yaudah biar Lana disini," Kata Maryam.


"sayang mama mau berangkat keButik ya, nanti mama jemput Lana okey."


"Okey mam,a" katanya sambil mengangkat kedua jempolnya


"Kalau gitu ma Zara berangkat dulu,"pamitku.


"Hati-hati Ra," pesan Maryam.


Zara mengangguk, "assalamualaikum" salamnya sambil mencium tangan mama mertyuanya.


"Waalaikum salam" jawab Maryam.


"Ma!" Panggil Lana saat ia berjalan keluar.


"Iya sayang?".


Zara berjongkok agar tubuhnya sejajar dengan Lana, Lana meraih leher Zara agar bisa mendekat dengannya dan membisikkan sesuatu ditelingaku yang tertutub hijab.


"Ma Lana ingin sekolah" bisiknya, Zara mengerutkan keningnya dan menatap Lana, Lana mengangguk penuh harap ahgar ia bisa sekolah Zara tersenyum. Dan mengangguk.


"Nanti biar mama bilang papa dulu ya," kata Zara dan diangguki oleh Lana.


"Kenapa bisik-bisik?" Tanya Maryam sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lana minta sekolah ma," kata Zara dan diangguki oleh Lana.


"Lana kan masih 3tahun sayang," kata Maryam.


"Nanti biar Zara tanya Bang Fatan ma, dan setahu Zara ada kok sekolah untuk anak 3tahun biasanya cuma diajari cara berhitung atau mewarnai, dan dengan itu Lana juga bisa bersosialisasi" kata Zara.


"bener juga ya, Lana tidak punya teman selama ini selalu bermain dengan mama saja, yaudah rundingkan dengan suamimu," kata mama.


"iya udah ma Zara pamit dulu, assalamualikum" salamnya dan berlalu pergi.


****


Fatan menatap laptopnya tapi pikirannya tidak terfokus pada laptop yang di hadapannya pikirannya melayang ke Zara istri yang baru kemarin dinikahinya.


Zara gadis yang baik menjaga auratnya dan selalu sopan dan tidak pernah mengeluarkan suara kerasnya dia lemah lembut, dan cantik.


Fatan Heran kenapa Zara hanya meminta mahar hanya dua juta enam belas ribu, dan seperangkat alat solat saja. Kenapa dia tidak meminta yang lebih dari itu seandainya Zara meminta mahar lebih dari itu Fatan sanggup memberikannya.


Tidak dengan Delisa dulu saat ia ingin mengajaknya menikah. Delisa meminta mahar yang sangat banyak, perhiasan, rumah dan uang.


Zara nama itu yang sekarang memenuhi pikiran Fatan, ia tidak tahu kenapa, tapi perasaannya tetap biasa, tidak ada getar-getar yang ia rasakan dulu saat bersama Delisa apa karena ia masih mengharap Delisa kembali padanya?.


Suara pintu terbuka membuyarkan pikirannya tentang Zara. Fatan memandang sinis Dewa,


"aku sudah mengetuk pintu dari tadi tapi tidak ada jawaban," kata Dewa mengerti arti tatapan Fatan.


Terlihat Dewa membawa beberapa dokumen untuk ditanda tanganinya.


Dewa adalah sahabat merangkap asisten, dan seketarisnya saat ini karena Fatan belum bisa percaya dengan orang lain.


"Kenapa, baru kemarin menikah sudah ngantor, apa tidak honeymoon?" Tanya Dewa yang heran dengan Fatan yang sudah masuk kantor setela kemarin pesta pernikahannya.


"Tidak penting begituan," jawab Fatan sambil tangannya bergerak menanda tangani dokumen yang di bawa Dewa.


"Ayo lah bro move on dari wanita itu, dan mulai sekarang stop maen perempuan ada istri lo dirumah," kata Dewa berusaha membuat sahabatnya ini sadar dan dia juga tidak mau sahabat istrinya menderita.


"Tidak tahu la bro," kata Fatan.


"Dia gadis baik bro, gue harap lo jangan sakiti dia," nasehat Dewa.


"Hati wanita itu rapuh meskipun diluar terlihat tegar dan tersenyum tapi dalam hatinya sakit bro," kata Dewa.


"gue tahu la, sudah sana kerjakan pekerjaanmu," perintah Fatan.


Dewa hanya geleng-geleng kepala dan pergi keluar.


Sebenarnya Fatan semenjak Lana berusia satu setengah tahun ia jarang pergi keluar malam kalau tidak sedang banyak Fikiran atau libidonya ingin dipuaskan.


Diliriknya jam tangannya sudah hampir jam makan siang dan ia suda membuat janji dengan client dari Singapore, akhirnya ia membereskan berkas-berkas yang dimeja kemudian ia keluar untuk menjemput Zara.


****


ternyata Suaminya yang datang Zara tersenyum kearah Fatan.


"Sachi!" Panggil Zara.


"Iya mbak?"


"Tolong layani pelanggan ini aku mau menemui suami ku," kata Zara.


"Baik mbak," jawab Sachi.


"Maaf ya Bu saya mau menemui suami saya dulu, pegawai saya yang akan mellayani ibu, "kata Zara pada pelanggannya.


pelanggan wanita parubaya itu tersenyum dan mengangguk. Zara melangkah menuju suaminya.


"Assalamualaikum abang" salam zara dan meraih tangannya untuk disalimnya.


"Abang keruang Zara dulu, Zara mau sholat dhuhur sebentar," ajak Zara dan melangkah menuju keruangannya bersama Fatan.


Fatan mengamati ruangan kecil itu, diruang itu ada meja kerja dan sofa sudut menghadap meja kerja, dan ada pintu seperti kamar tidur.


Fatan melangkah menuju meja kerja Zara disitu ada dua buah pigora foto Zara dan mamanya sedang tersenyum senang menatap kamera dan ka'bah menjadi latar belakang fotinya sungguh manis senyumnya. Dan satu pigora yang menarik perhatiannya, foto putrinya sedang mencium pipi Zara dan Zara tersenyum saat pipinya dicium latar belakang foto itu adalah ruangan yang sekarang ia berada.


Saat sedang asik mengamati foto Fatan tidak menyadari jika Zara sudah selesai dengan sholatnya dan sedang memandangnya.


"Foto itu diambil kemarin lusa saat abang mengantar Lana kesini," kata Zara mengagetkan Fatan.


"Maaf mengagetkan abang, abang tidak sholat?" Tanya Zara


Fatan tidak menjawab membuat Zara menghembuskan nafas jengah dengan sikap Fatan yang tidak mau bicara dengannya kalau tidak penting.


Zara mengikuti langkah Fatan keluar dari butiknya sebelum keluar Zara sudah pesan pada Sachi bahwa dirinya mungkin tidak kembali jadi ia menyuruh Sachi untuk menutup butiknya.


Zara masuk mobil BMW milik Fatan, setelah memasang seltbelt Fatan segera mestarter mobilnya menuju restoran tempat Fatan membuat janji dengan klien kerja Fatan.


Zara mengikuti Fatan dari belakang memasuki restoran mewah.


"Selamat siang," sapa Fatan dengan senyum pada pria tinggi putih tapi posturnya masih lebih tinggi badan Fatan.


"Selamat siang pak Fatan dan...?"


"Dia istri saya," kata Fatan.


"Selamat siang nyonya Fatan," sapa klien Fatan.


"Assalamu'alikum, selamat siang pak." Zara menjawab sapaannya. Fatan memulai meeting ringannya sambil menyantap hidangan yang sudah dipesan sebelumnnya.


Zara hanya diam dan memperhatikan setiap apa yang Fatan sampaikan untuk kerja sama proyek yang akan ia tangani di Singapore.

__ADS_1


Sesekali Zara memperhatikan klient Fatan mengangguk mengerti setiap apa yang disampaikan Fatan.


"Anda beruntung pak memiliki istri yang sangat cantic," kata klien Fatan, setelah Fatan menutup meeting pada siang itu, Fatan hanya tersenyum dan memandang Zara setelah ia merasa tangannya yang berada dibawah meja dipegang erat Zara..


"Okey jadi gimana pak?" Tanya Fatan.


"Okey deal pak saya setuju bekerja sama dengan anda," kata Fahri sesekali melirik Zara.


Fatan berdiri dan mengulurkan tangannya Fahri menyambutnya tanda kerja samanya diosetujui oleh Fahri. saat Fahri mengulurkan tangannya pada Zara, Zara hanya menagkupkan kedua tangannya didepan dada bukannya berlagak sombong atau tidak ingin bersalaman dengannya tapi Zara melihat tatapan aneh Fahri saat memandangnya itu membuat Zara takut


Farhri menarik tangannya kembali dengan canggung.


"Kalau begitu kami pamit dulu, terima kasih untuk proyek yang anda percayakan poada perusahaan saya," kata Fatan, Fahri mengangguk dan sekali lagi Fahri menatatap Zara dengan pandangan aneh, itu membuat Zara tidak nyaman dan menunduk.


Zara kaget saat tangannya digandeng Fatan untuk keluar dari restoran itu.


Zara masuk mobil memasang seltbelt, Fatan menjalankan mobilnya keluar dari parkiran Restoran. Sepanjang perjalananpun terasa sepi seperti biasanya karena fatan banyak diam.


Mobil berjalan menuju rumah ibu Mertuanya dan berhenti didepan pintu rumah mama.


"Assalamualaikum," salamnya.


"Waalaikum salam" jawab Maryam yang saat itu sedang bermain dengan Lana.


"Papa, mama," teriaknya setelah mendengar salam Zara dan berlari kearah Fatan mencium tangannya kedua pipinya kening dan bibir papanya.


"Hoho merindukanku princes?" tanya Fatan Zara tersenyum melihat kebersamaan papa dan anak itu ia melihat ada perbedaan saat Fatan bersama dirinya dan Fatan bersama anaknya. Saat Fatan bersama anaknya senyum dan itu selalu menghiasi bibirnya sedangkan dengannya Fatan hanya menampilkan wajah dinginnya.


"Assalamualikum mama," sapaku.


"Waalaikumsalam Zara," jawab mama. Zara duduk disebelah Maryam yang tersenyum melihat Fatan dan Lana bercanda.


"Sudah makan siang?" Tanya Maryam.


"sudah tadi ma Lana sudah makan siang?" Tanya Zara.


"sudah baru saja selesai,"


"Yaudah ma aku balik dulu ya," kata Fatan dan beranjak dari duduknya.


Zara mengikuti Fatan yang berjalan duluan sambil menggendong Lana.


*******


Fatan memberhentikan mobilnya di tempat pemancingan yang ada beberapa macam ikan dikolamnya.


"Papa Lana mau mincing," kata Lana pada Fatan.


"Okey sayang sekarang kita turun ya," kata Fatang mengambil Lana dari pangkuan Zara dan menggendongnya


"Mama!" Panggil Lana.


"Iya sayang"


"Jalan samping papa!" Pintanya.


Zara tersenyum dan mengangguk ia berjalan disamping Fatan yang hanya diam dan terus berjalan tanpa menghiraukan Zara disampingnya.


"selamat sore pak Fatan," sapa seorang pelayan kolam pancing.


Zara sedikit heran karena kolam pancing ada pegawainya yang memakai seragam, ia juga beranggapan kalau Fatan sering kesini sehingga pegawai dikolam itu kenal dengan Fatan.


"selamat sore Ndre," jawab Fatan.


Fatan mengambil pancing yang ada di dekat kolam ikan. Fatan menyerahkan satu pancing padanya tanpa bicara apapun.


Zara menerimanya satu pancing beserta umpannya yang menurutnya umpannya seperti lumut, Zara memasang umpan pada kailnya dan melemparkannya kekolam.


Lana tertawa saat umpan Fatan dimakan ikan dan pada saat ditarik ikannya lepas.


Memancing adalah suatu kegiatan yang mengajarkan kita arti kesabaran, sabar menunggu umpan kita dimakan ikan.


"Mama, umpannya di bawa lali tu," katanya sedikit cadel.


Zara langsung melihat pancingnya dan Zara segera menarik pancingnya sebuah ikan gurami besar berhasil Zara tangkap.


"Yeeee papa kalah," kata Lana membuat Fatan tersenyum melihat anaknya senang. Zara tersenyum melihat Fatan tersenyum.


"Sudah dapat berapa sayang?" Tanya Fatan pada Lana.


"dapat satu itu tadi mama yang dapat," kata Lana.


"Lana mau berapa ikann lagi?" Lana hanya mengangkat bahunya tidak tahu.


"sudah mau magrib kita pulang aja yuk," ajak Fatan. Lana mengangguk dan memberikan pancingnya pada Fatan, Zara menggendong Lana masuk kedalam untuk menimbang ikan yang didapat tadi, Zara baru tahu kalau didaerah sini ada tempat pemancingan yang seperti ini setahunya tempat pemancingan hanya diempang atau dirumah makan yang menyediakan tempat pemancingan dan ikannya langsung dimasak.


Zara melihat Fatan begitu telaten menghadapi Lana yang kadang terlalu banyak bertanya.


Zara mengukirkan senyumnya saat Lana memandangnya.


"Pak sekalian dibersihkan atau dibiarkan hidup?" Tanya karyawan. Fatan memandang Zara seperti Bahasa isyarat dari Fatan. "biarkan hidup aja, ouwh yah itu ikan laut ada juga?" Tanya Zara saat melihat ikan kerapu disebuah aquarium.


"iya bu," jawab karyawan itu.


"okey boleh sekilo saja," kata Zara.


Zara melihat Fatan yang terus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Lana sambil sesekali senyum membuat Zara semakin senang.


"Bismillah semoga ini yang terbaik Ya Allah semoga ini jalan yang Engkau berikan padaku suami yang akan menjadi panutanku yang menuntunku kesurgaMu.

__ADS_1


Aku menerima dengan ikhlas setatus baru yang sekarang kusandang." Bathin Zara.


__ADS_2