
Tidak terasa seminggu sudah Zara menjadi istri seorang pengusaha muda yang tampan, tapi dalam seminggu ini Zara belum bisa bicara soal Lana yang ingin sekolah karena Fatan selalu pulang larut malam saat Zara sudah tidur.
Bukannya Zara tidak melayani suaminyja tapi Fatan yang selalu pulang terlalu larut saat Dia bangun untuk sholat malam Fatan baru selesai mandi dan pagi biasanya berangkat kerja jam tujuh seminggu ini ia berangkat jam 6 pagi Lana sering menanyakan papanya untung Zara bisa mengatasinya.
Zara sempat bertanya-tanya dalam hatinya apa Fatan seperti ini sebelum dirinya menjadi istrinya atau hanya ingin menghindaribya saja Zara tidak tahu.
Hari ini Zara mengajak Lana membuat onde-onde kebiasaan mengisi setiap sore sambil menunggu papanya pulang.
Selama seminggu ini Lana selalu ikut dengan Zara ke butik dan cafe miliknya.
"Ma ini apa?" Tanya Lana sambil menunjuk sebungkus tepung ketan.
"Itu tepung ketan sayang," jawab Zara.
"Ini ma?" Sambil menunjuk kotak berwarna kuning.
"Itu maizena." Lana mengangguk mengerti.
Setelah menyiapkan semua bahan dimeja Zara mengambil celemek satu untuk Lana dan satu untuk dirinya.
"Mama lihat," pinta Lana.
Zara mendudukkan Lana diatas kursi dekat meja pantry ia terus mengamati apa yang Zara lakukan dari Zara menuangkan sebungkus tepung ketan kedalam wadah lalu memasukkan sesendok maizena kemudian gula sedikit air kapur sirih lalu mencampurnya dengan air hangat
Zara menguleni sampai adonan kalis. setelah itu Zara membaginya menjadi bulatan kecil-kecil sampai adonan habis.
Lana memperhatikan setiap apa yang Zara lakukan sambil memakan kacang hijau yang sudah diolah menjadi isian onde-onde. Zara menggelengkan kepalanya melihat pola lucu Lana.
"Hehehe enak ma," kekehnya sambil terus memakan kacang hijaunya.
Zara mengangguk, "Lana suka?" Tanyanya " Lana suka ma," jawabnya.
"Lebih enak dibuat isi ini menjadi bola pingpong" kata Zara.
"Buatkan Lana bola pingpong ma" katanya Zara mengangguk dan mulai memipihkan adonan kulit tadi dan diisi dengan isian kacang hijau kemudian mengelindingkan kedalam wijen.
Setelah semua selesai Zara menyalakan api untuk menggorengnya.
"Ma lihat," katanya saat Zara mulai mengisi wajan dengan onde-onde, sebelumnya apinya sudah Zara kecilkan karena menggoreng onde-onde tidak bisa dengan api besar nanti tidak akan bisa mengembang jika terlalu panas apinya.
Setelah menyelesaikan acara membuat onde-onde bersama Zara mengajak Lana main di halaman belakang rumah yang baru Zara tahu sangat indah saat sore hari.
"Assalamualaikum," salam seseorang membuat Zara menoleh dan melihat siapa yang datang ternyata orang yang selama seminggu ini selalu pulang malam dan tidak ada waktu untuk Lana siapa lagi kalau bukan Fatan Dwija Anggara papa dari Lana.
"Waalaikumsalam," jawab Zara, Lana yang mendengar suara papanya segera menyambut kedatangan papanya dengan pelukan.
Zara mengambil jas yang dibawa Fatan dan tas kerjanya Zara melihat Fatan terlihat lelah kantung mata yang terlihat dibawah matanya Zara mengambil tangan Fatan untuk disalimnya dan mencium punggung tangannya,
Zara masuk kedalam tepatnya kedapur dan kembali dengan membawakan segelas air putih dingin untuk Fatan.
"minum bang!" Kata Zara sambil menyerahkan segelas air putih pada Fatan. Zara memngangguk dan menerima gelas kosong setelah Fatan meminumnya.
"Papa tadi Lana cama mama buat bola pingpong ada kutunya," kata Lana.
"Bola pingpong ada kutunya?" Tanya Fatan pada Lana.
"Iya papa, ya kan ma bola pingpong ada kutunya kan?" Tanya Lana pada Zara yang baru keluar dari dalam rumah dengan membawa sepiring onde-onde.
"namanya onde-onde sayang," kata Zara membenarkan.
"Onde-onde bang," tawar Zara sambil duduk dikursi taman disebelah Fatan.
"Silakan cicipi bang" kata Zara sambil menyodorkan sepiring onde-onde.
Fatan mengambil satu dan memakannya, Fatan diam sambil menikmati kunyahan onde-onde yang ada dimulutnya.
"Giamana papa?" Tanya Lana.
"Lana yang buat?" Tanya Fatan. Lana mengangguk terus menggeleng.
"Jadi siapa yang membuatnya?" Tanya Fatan.
"Mama yang buat adonanya aku yang menggelindingkan kedalam kutu-kutunya" kata Lana,
"Tadi itu namanya Wijen sayang bukan kutu," kata Zara membenarkan.
__ADS_1
Fatan melirik Zara sebentar kemudian fokus lagi pada Lana.
"Lana biarkan papa mandi dulu kita main sama kelinci lagi ya," kata Zara dan diangguki oleh Lana Zara mengangkat Lana dari pangkuan Fatan untuk mengajaknya mengejar kelinci.
"Aku sudah menyiapkan baju abang ditempat biasanya" kata Zara Fatan hanya mengangguk dan masuk kedalam.
"Hmmm sabar Zara," kata Zara sambil kembali memperhatikan Lana yang sedang mengejar kelinci.
"Hati-hati nak jangan lari-lari," teriak Zara pada Lana yang mengejar kelinci.
"Mama kelincinya lali kecana," katanya sambil menunjuk kelinci yang berlari kedalam lubang tanah.
"Iya jangan dikejar lagi sepertinya kelincinya mau bobok sayang, sini minum susunya" kata Zara.
Lana berlari kearah Zara, ia memberikan segelas susu untuk Lana.
"Sayang mama mau ngambil tab mama dulu ya jangan kemana –mana," pesan Zara, Lana mengangguk.
Zara masuk kedalam untuk mengambil tab dan buku desainnya yang ada di meja makan.
Dan kembali lagi menemui Lana yang sedang asik menikmati susu diayunan yang ada ditaman.
"Apa itu mama?" Tanyanya.
"Ini buku kerja mama sayang," jawab Zara.
Lana kembali lagi bermain dengan kelincinya yang keluar lagi dari lubang tanah sampai menjelang magrib.
"Sayang mainnya sudah ya mau magrib kita masuk yuk," ajak Zara.
Lana mengangguk dan menggandeng tangan Zara untuk masuk kedalam. didalam Zara melihat Fatan sedang memangku laptopnya diruang tengah.
"Papa!" Panggil Lana dan berlari kearah papanya.
Fatan yang mendengar dipanggil ia meletakkan laptopnya dimeja dan menyambut Lana mengangkat Lana kepangkuannya.
Zara meletakkan pekerjaannya di meja depan Fatan kemudian beranjak masuk kekamar untuk menunaikan kewajibannya sebagai orang muslim.
******
"Mama!" Panggil Lana saat Zara turun dari lantai atas.
Zara tersenyum pada Lana yang terlihat takut saat menganggkat lembar kerja miliknya yang kotor dengan susu , "nggak apa-apa nanti mama buat lagi, tapi lain kali Lana harus hati-hati ya!" pinta Zara. Zara tidak mau membuat anaknya takut padanya tapi ia juga tidak mau membuat anaknya tidak tahu salahnya dan tidak hati-hati.
"Maafin Lana mama," kata Lana.
"Mama maafin sayang yaudah Lana belajar lagi ya," kata Zara dia mengangguk dan kembali belajar. Zara sempat melirik Fatan yang masih fokus dengan laptopnya.
*****
Fatan pulang cepat hari ini karena pekerjaan dikantornya sudah selesai, ia segera membawa mobilnya pulang kerumah dengan kecepatan sedang.
Fatan langkahkan kakinya masuk kedalam rumah yang tampak sepi ia sedikit bingung karena tidak biasnya rumahnya sepi tanpa celoteh anak semata wayangnya. Saat Fatan berada dekat dapur ia mendengar suara Lana yang tertawa riang dihalaman belakang rumahnya.
Fatan melihat Zara sedang focus memperhatikan Lana yang sedang asik mengejar kelinci yang baru sebualan lalu ia beli untuk anaknya.
"Assalamualaikum," salam Fatan. semenjak ia menikah dengan Zara ia jadi terbiasa dengan mengucap salam yang selama ini tidak pernah ia ucapkan.
"Waalaikumsalam," jawab keduanya Lana langsung berlari memeluk Fatan.
seperti biasa Zara mengambil tas dan jas kerja Fatan kemudian Zara masuk rumah tak lama Zara kembali dengan membawa air putih untuknya seperti biasa ia selalu menjaga makan minum Fatan.
Sebenarnya selama seminggu Fatan menikah dengan Zara, Zara selalu melayaninya dengan baik dia juga selalu berbuat baik pada Lana, Lana duduk dipangkuan Fatan sambil berceloteh riang.
Fatan melihat Lana begitu mencintai Zara, Fatan mengetahui itu dari tatapan mata Lana saat Zara mengajarkannya menulis.
setelah mandi Fatan segera membuka laptopnya memeriksa pekerjaannya tadi.
saat sedang asik memeriksa pekerjaannya Fatan mendengar celoteh anaknya dari pintu belakang, Fatan melihat Zara membawa Lana masuk dan berjalan kearahnya sambil meletakkan beberapa lembar kertas dengan beberapa gambar baju dimeja kemudian dia naik kelantai atas.
Fatan tahu selama Zara menjadi istrinya Zara tidak lupa denagn kewajibannya sebagai seorang muslim. Fatan memperhatikan Lana yang sedang belajar menulis dimeja.
Dan ketika Lana ingin memperlihatkan tulisannya pada Fatan tanpa sengaja ia menumpahkan susu coklatnya kelembar desainan Zara.
"Papa!" panggilnya.
__ADS_1
"Nanti bilang mama dan minta maaf lain kali Lana harus hati-hati ya nak," kata Fatan.
Saat Zara turun Lana langsung memberitahunya dan Fatan sedikit kaget dengan sifat lembut Zara yang tidak marah pada Lana anaknya. "Ya Allah terbuat dari apa hatinya padahal aku tahu itu pekerjaan penting untuknya" bathin Fatan
Zara begitu baik dengan Lana, Zara selalu melayaninys menyiapkan makan,minum dan pakaian untuknya tapi Fatan masih belum bisa menerima Zara.
Hatinya masih berharap ibu kandung Lana kembali meski dulu ia sempat sakit hati. Fatan masih berharap Delisa kembali padanya.
******
Zara duduk bersama Fatan disofa, Fatan masih saja fokus dengan laptopnya, tapi Zara harus ngomong mumpung Fatan ada dirumah karena biasanya dia sangat sibuk.
"Bang!" Panggil Zara.
"Hem" jawabnya dengan gumaman.
"Lana minggu lalu ngomong kalau dia ingin sekolah," kata Zara membuat dia menoleh pada Zara.
"Sekolah?" Tanyanya.
Zara mengangguk, "sebenarnya dari kemarin Zara ingin ngomong initapi Abang selalu pulang malam dan paginya Abang berangkat pagi sekali jadi Zara tidak sempat untuk ngomong ini pada Abang," kata Zara.
"nanti aku cari sekolah yang baik untuk Lana," putusnya dan kembali fokus pada laptopnya.
"Maaf Abang, Zara ada rekomendasi sekolah Lana ada deket butik Zara jika boleh nanti Zara tanyakan pada teman Zara kebetulan teman Zara yang mengelola," kata Zara.
"Terserah kamu," katanya.
"Terima kasih," kata Zara.
seperti biasa Fatan hanya mengangguk tanpa bilang apa-apa.
Zara mulai mengambil buku untuk mendesain ulang pekerjaannya mau tidak mau Zara harus lembur malam ini karena besok desainan itu akan dilihat oleh pelanggannya.
"Mama!" Panggil Lana.
"Ya sayang?"
"Bobok, Lana udah ngantuk," kata Lana, Zara tersenyum dan beranjak menghampiri Lana mengajaknya untuk tidur semenjak Zara menikah dengan Fatan Lana lebih suka ditemani tidur oleh Zara.
Setelah Lana tidur Zara segera kembali keruang tengah untuk mengerjakan pekerjaannya yang tadi rusak.
"Tidak tidur?" Tanya Fatan yang ingin masuk kedalam kamar.
Zara yang mendengar suara Fatan segera menoleh, "nanti bang, kerjaannya belum selesai dan besok sudah harus diberikan pada pemesannya," kata Zara, sedikit senang hati Zara karena Fatan sedikit sudah mau bicara pada Zara, Zara melihat Fatan yang tidak jadi masuk kekamar tapi Fatan duduk disebelahnya, Fatan menarik lembar kerja Zara dan meletakkan dimeja, "sudah malam ayo tidur," kata Fatan.
Zara ingin sekali membantah tapi Fatan adalah suaminya, surganya ada ditelapak kaki Fatan akhirnya Zara mengangguk dan melangkah mengikutinya masuk kedalam kamar.
Seperti biasa Zara mengulurkan tangannya Fatan menyambut "bang maafkan jika Zara ada salah hari ini, Zara tidur dulu assalamualikum.".
"Waalikumsalam," jawabnya dan ikut berbaring .
Sebenarnya Zara tidak bisa tidur karena pekerjaannya belum selesai tapi bagaimana lagi Fatan sudah memintanya untuk tidur.
Seperti biasa Zara bangun untuk sholat malam setelah sholat malam Zara membuka lembar kerjanya yang hampir selesai mungkin tinggal 10% selesai dengan cekatan Zara mengerjakannya.
Saat Zara ingin beranjak dari duduknya untuk mengambil air minum ia dikagetkan dengan Fatan yang berdiri didepannya membuat Zara kaget.
"Astagfirullahaladzim," kata Zara sambil mengelus dadanya karena kaget.
"Kenapa tidak tidur?" Tanyanya.
"Zara selesai sholat malam Bang, Zara belum bisa tidur jadi meneruskannya yang belum selesai, tapi sudah selesai kok, abang haus Zara ambilkan minun ya?" Tanya Zara karena melihat dia membawa gelas air yang biasa Zara sediakan dikamar, Zara melihatk jam dinding yang ada didalam kamarnya sudah jam tiga pagi.
Zara mengambil gelas ditangan Fatan dan berjalan membuka pintu untuk mengisi air lagi. Fatan mengikutinya dan duduk dimeja makan sambil memperhatikan Zara, "maaf jika tadi Zara membangunkan abang," kata Zara merasa bersalah.
Fatan tidak menjawab dan terus menatap Zara itu membuat Zara terdunduk malu.
"Kenapa tidak marah tadi?" Pertanyaan Fatan membuat Zara bingung.
"Marah?" Tanya Zara.
"Saat tahu lembar kerjamu dirusak anakku." Zara tersenyum lembut mendengar kata-kata Fatan.
"Gimana mau marah Bang Lana juga anak Zara jugakan sekarang dia lebih berharga dibanding kertas itu jika Zara marah padanya apa bisa lembar kerja Z bisaara kembali seperti awal, tisdakkan bang? nanti dia malah takut dengan Zara itu yang lebih membuat Zara tidak tenang, dia juga sudah minta maafkan pada Zara." Kata Zara pada Fatan.
__ADS_1
Fatan tidak bertanya lagi dan membawa gelasnya masuk kekamar Zara hanya memandamng kepergian Fatan.
Zara sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka keluarga kecilnya, hari ini juga hari kamis seperti biasa Zara ingin berpuasa Sunnah seperti apa yang biasa ia lakukan sebelum menikah dengan Fatan.