Setulus Cinta Zara

Setulus Cinta Zara
#6


__ADS_3

Fatan masuk kamarnya setelah menidurkan Lana tapi ia tidak melihat Zara ada dikamarnya, Ia memutuskan untuk mencari Zara didapur, Dan saat ia ingin masuk dapur ia melihat Zara sedang duduk dibawah dengan laptop didepannya saking seriusnya Zara tidak menyadari jika Fatan sedang memperhatikannya.


Fatan terus melihat gerak gerik Zara kadang mengusap hidung mancungnya, terkadang menggaruk rambut hitamnya kadang cemberut dan kadang tersenyum. Membuat Fatan penasaran akhirnya ia melangkah diam-diam dan duduk disofa belakang Zara.


Fatan mengerutkan keningnya melihat Zara sedang mendesain baju bayi dan apa yang membuat dia cemberut.


Zara mengirim desainannya ke Helen dan dapat komentar tidak mengenakkan, jadi Fatan tahu apa yang membuat Zara Cemberut.


"Malam-malam kenapa tidak tidur?" Kata Fatan membuat Zara terjengkit kaget.


"Astagfirullah abang! Buat Zara kaget saja" kata Zara sambil menoleh kebelakang dan memegang dadanya.


"Zara ganggu tidur abang ya?" Tanya Zara, Fatan menggeleng karena ia sama sekali belum tidur baru masuk kamar tapi Zara tidak ada dikamar.


Zara menghadap laptopnya lagi meneruskan desain baju bayinya, tanpa menghiraukan fatan yang ada dibelakangnya.


"Chating dengan siapa?" Tanya Fatan.


"Helen bang!" Jawabnya sambil tangannya terus bergerak.


"Siapa Helen? Tapi itu seperti foto Dewa, jadi Helen itu istri Dewa? Wanita cerewet." tanya Fatan tanpa putus membuat Zara diam, kemajuan Fatan bertanya panjang lebar apa ini lampu hijau untuk keterusan rumah tangganya.


"Iya bang, emang Helen istri Dewa, Abang kenal?" jawab Zara.


Dia mengakhiri chatingnya dan duduk disamping Fatan, Fatan memandang Zara begitu sebaliknya.


"Apa kamu mengenalku sebelumnya?" Tanya Fatan tiba-tiba, tanpa menjawab pertanyaan Zara.


Zara menggeleng, "tapi pernah lihat Abang sebelumnya" jawab Zara.


"Dimana?"


"Didepan minimarket saat itu Zara tidak sengaja menabrak abang," kata Zara jujur.


"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Fatan membuat Zara kaget, dari mana Fatan tahu tentang itu semua,Zara diam tidak menjawab.


"Zara!" Panggil Fatan, Pertama kali Fatan memanggil namanya.


"Tentu bang, tentu Zara mencintai abang, abang suami Zara" jawab Zara jujur sebenarnya ia mencintai suaminya saat pertama Fatan mengucapkan ijab qobul didepan papanya.


"Tapi aku tidak mencintaim,u" kata Fatan langsung tanpa memikirkan perasaan Zara.


Zara hanya tersenyum, meski sedikit kecewa dengan peryataan Fatan tapi ia mencoba legowo dengan itu semua, karena ia yakin cinta akan hadir karena terbiasa.


"cinta itu pilihan bang, aku mencintai abang apa adanya meski abang tidak mencintai Zara, Zara akan tetap disini menemani abang Dan menjadi mama untuk Lana, Zara akan pergi jika abang meminta Zara pergi," katA Zara.


"Cinta Zara tulus bang," sambung Zara, Fatan yang mendengarnya hanya diam dia tidak menyangka selapang apa hati Zara hingga ia menerima semua ini.


"apa yang membuatmu tetap bertahan?' Tanya Fatan.


Zara memandang suaminya, "ikhlas bang, hanya ikhlas" jawab Zara.


"Zara ikhlas mencintai abang, ikhlas menerima ini semua?" Jawab Zara.


Fatab diam mencerna setiap kata yang diucap dari bibir Zara.


"Aku masih mencintai mama kandung Lana" kata Fatan pelan.


"Masih berharap dia kembali" sambung Fatan.


Zara mendengarnya hanya mampu tersenyum meskipun hatinya sedikit nyerik,ecewa dengan kejujuran Fatan tapi mau bagaimana lagi, ia sudah ikhlas dengan jalan yang ditakdirkan Allah.


Bagaimana tidak suami yang dicintainya mencintai mantan kekasihnya.


*****


Pagi hari seperti biasa Zara menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya seperti biasa.


Obrolan kemarin malam berdampak baik untuk hubungan Zara dan Fatan meski hati Zara sedikit sakit dengan pengakuan Zara.


"Zara!" Panggil Fatan.


"Assalamualaikum" salam Zara, Zara ingin membiasakan keluarganya dengan mengucap salam saat bertemu dengan sesama muslim.


"Waalaikumsalam, Nanti malam dapat undangan dari Dewa" kata Fatan sambil duduk di meja makan.


"Zara juga diundang Helen bang, kemarin lupa mau ngomong, Zara boleh datang?" Tanya Zara.


"Berangkat bareng aku nanti" ucap Fatan. Zara mengangguk dan pergi untuk membangunkan anaknya.


Zara turun dari lantai atas dengan menggendong Lana yang masih mengantuk.


"Assamulaikum papa!" Salam Lana dan mencium pipi papanya


"Waalaikumsalam, awal masuk sekolah, harus rajin bangun pagi," kata Fatan membuat Lana nyengir.


Zara tersenyum dan mengambilkan nasi goreng untuk Fatan dan Lana.


"Kamu tidak makan?" Tanya Fatan melihat Zara duduk sambil menyuapi Lana.


"Zara puasa bang" kata Zara. Fatan mengangguk mengerti.


Setelah menghabiskan sarapannya Fatan kembali keatas untuk mandi sedangkan Zara mengurus Lana.


*****


Lana sudah bersiap dengan seragam sekolah dan tas kecil dipunggungnya, Zara tersenyum melihat Lana yang begitu cantic pagi ini. Fatan menggendong Lana dan mendudukkannya sofa ruang tengah.


"Lana sudah siap sekolah sayang?" Tanya Zara. Lana mengangguk dengan semangatnya.


"Okey bentar mama ambil hijab mama dulu," kata Zara.


Saat ingin naik kelantai atas Zara berhenti karena Fatan memanggilnya.


"Ya?" Tanya Zara.


Fatan mengangkat tangannya yang memegang kerudungnya. Zara memukul keningnya pelan sambil tersenyum karena lupa tidak menyiapkannya seperti biasa.


"Terima kasih bang," kata Zara dan memakai hijabnya simple dan mengambil tas yang sudah dimeja ruang tengah.


"Seharusnya Zara ambil sendiri bang, kalau begini jadi ngerepotin abang," kata Zara.


Fatan hanya diam, ia sendiri juga tidak tahu kenapa ia mengambilkan kerudung dan tas Zara tadi.


******


Sampai di sekolah Lana langsung turun dengan wajah yang sumringah, ia berjalan duluan meninggalkan mama dan papanya.


"Lana terlihat sangat bahagia," kata Fatan saat melihat anaknya tersenyum dan bisa langsung beradaptasi dengan lingkungan sekolah.


"iya bang, Lana anak yang sangat pintar dan bisa langsung beradaptasi meski baru pertama masuk sekolah." Zara menyetujui apa yang dikatakan Fatan.

__ADS_1


Zara ingin berkunjung kekafenya tapi tidak enak jika meminta Fatan untuk mengantarnya karena arah kafenya tidak searah dengan kantor Fatan.


" nanti Zara turun didepan saja bang," kata Zara membuat Fatan melihatnya sebentar.


"Kenapa?"


"Zara ingin mengunjungi kafe Zara sudah lama Zara tidak melihatnya," kata Zara.


"Aku antar," putus Fatan, Zara hanya mengangguk.


Sampai di kafe Zara turun sebelum turun ia mencium tangan Fatan seperti biasa.


"Nggak mampir dulu bang?" Tanya Zara.


"Ada meeting pagi ini," kata Fatan.


Zara mengangguk, "hati-hati bang," pesan Zara, Fatan hanya mengangguk dan pergi.


tepat saat mobil Fatan pergi Mobil Aminah datang, Zara tersenyum melihat mamanya yang cantik turun dari mobil, karena sudah lama ia tidak bertemu Mamanya semenjak ia ikut kerumah Fatan


"Assalamualaikum mamaku yang cantic," salam Zara dan menyambut mamanya dengan pelukan.


"Waalaikumsalam anak mama," jawab Aminah mama Zara.


"ayo masuk mama ingin mendengar ceritamu," ajak Aminah.


"Yuk ma!" Zara menggandeng tangan mamanya. Zara membuka pintu kafe untuk mamanya.


"Assamalamualaikum mbak Zara bu Aminah" salam Luna pegawai Zara.


"Waalaikum salam Luna" jawab Zara.


"Mbak minum apa?" Tanya Luna pegawai Zara


"Teh manis saja sama camilan ya untuk mama," pinta Zara.


Luna mengangngguk, Luna beruntung bertemu dengan Zara karena Zara ia bisa melanjutkan kuliahnya dan ia juga mendapat tempat tinggal, Luna membawa pesanan Zara keruangannya.


"Makasih Lun!" Kata Zara.


"Sama-sama mbak, saya permisi bu," pamitnya Aminah mengangguk.


"Bagaimana hubunganmu dengan suamimu sayang?" Tanya Aminah setelah Luna pergi.


"Alhamdulillah ma semua baik-baik saja," jawab Zara.


"Syukurlah nak, mama kwatir sayang," kata Aminah.


"Mama!" panggil Zara yang melihat raut wajah mamanya yang kwatir.


"Percaya sama Zara, Zara bahagia dengan semua ini." Sambung Zara sambil memegang tangan Aminah mencoba untuk tidak membuat mamanya kwatir.


"Bagaimana tidak kwatir sayang melihat suamimu masalalunya...," kata Aminah tidak meneruskan kata-katanya.


"Ma!" Panggil Zara memegang tangan mamanya.


"Jangan hukum seseorang karena masa lalunya, kita juga mempunyai masa lalu ma, dengan masa lalu kita bisa belajar itukan kata mama dulu," kata Zara.


"Zara bahagia ma sama Bang Fatan apalagi anak Zara sangat menyayangi Zara." sambung Zara.


Mamanya tersenyum mendengar kata Zara, "anak mama sudah Dewasa, " kata mamanya.


"Tentu sayang, mama selalu mendoakan kalian," kata Mama.


Zara memeluk mamanya, bersyukur memiliki mama seperti Aminah yang selalu mengerti dan mendukung dirinya.


"Maaf Zara belum sempat menjenguk mama akhir-akhir ini Zara dan Bang Fatan sangat sibuk ma," kata Zara


"Mama mengerti sayang," jawab mamanya, Zara tersenyum mamanya selalu mengerti dirinya.


"Lana sudah mulai sekolah hari ini ma," kata Zara.


"sekolah? Apa tidak terlalu kecil untuk dia sekolah Ra?" Tanya Aminah. Zara tersenyum dan mengangguk.


"Zara sudah berbicara dengan Bang Fatan masalah ini tapi Lana sangat ingin sekolah Ma, dia terus merengek ingin sekolah," Kata Zara.


"kalau Lana yang menginginkannya ya sudah jangan pernah memaksakan kehendak tanpa kemauan anaknya Ra, itu tidak baik," kata Aminah.


Zara mengangguk mengerti.


*****


Zara melihat jam didinding sudah jam sepuluh dan waktunya Lana pulang, Zara meminta ijin pada mamanya untuk menjemput Lana.


"ma, waktunya Lana pulang Zara mau menjemputnya,"kata Zara. Aminah mengangguk. Zara keluar dari ruangannya dan meminjam mobil mamanya untuk menjemput Lana.


Tidak samapi lima belas menit Zara sudah sampai disekolah Lana. Zara keluar dari mobil dan melihat Lana sedang duduk dengan Yeni teman Zara.


"assalamu'alaikum," salam Zara. Lana yang mendengar suara mamanya segera berlari kearah mamanya.


"lama nunggu mama sayang?"Tanya Zara.


"tidak ma, sekolah baru saja bubar," kata Lana.


"Yen, makasih ya, kami pulang dulu," Pamit Zara.


"iya, tumben naik mobil, biasanya jalan kaki,"


"iya tadi aku dari kafe jadi lumayan jauh dari sini," kata Zara.


"ouwh, iya yaudah hati-hati," kata Yeni.


Zara mengangguk, " assalamu'alaikum," salam Zara.


"waalaiku salam,"


Mobil Zara meninggalkan kawasan sekolah menuju untuk kafenya.


*******


Malam hari Zara sudah siap dengan gaun hitam coklatnya sangat anggun dengan hijab menutupi rambut yang bagi Zara adalah makhotanya, mahkota yang selalu ditutupinya.


Zara menunggu dikafenya karena tadi Fatan menelfonnya untuk menunggunya dikafe karena kalau pulang kerumah akan memakan waktu yang lama.


"cantiknya anak mama," puji Aminah saat melihat anaknya keluar dari kamar mandi yang ada diruangannya.


"Mama yang lebih cantik dari Zara," kata Zara. Aminah hanya tersenyum.


Suara ketukan pintu membuat Zara berjalan kearah pintu untuk membuka pintunya, ia tersenyum saat melihat Suaminya sedang berdiri sangat tampan, dan selalu tampan dimatanya.


"Assalamualaikum abang!" Salam Zara dan mencium tangan Fatan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Fatan, Fatan melangkah melewati Zara saat melihat mama mertuanya berada di dalam.


"Assalamualikum ma!" Salam Fatan dan mencium tangan mama mertuanya.


"Waalaiukumsalam nak" jawab Aminah.


"Ma Fatan mau mengajak Zara keacara Dewa teman kantor Fatan,"


Aminah mengangguk, "iya, nanti biar kafenya mama yang menutupnya," kata Aminah


"kami pergi dulu!" Pamit Fatan.


"Iya hati-hati," kata Aminah.


"Assalamualaikum!" Salam Zara.


"Waalaikumsalam" jawab Aminah.


Zara dan Fatan berjalan bersama saat keluar dari kafe Zara, Aminah melihatnya semakin tenang karena Fatan memperlakukan anaknya dengan baik. "Alhamdulillah kalau merekaa bahagia, selalu lindungi mereka Ya Allah," bathin Aminah


Fatan mengendarai mobilnya menuju rumah Dewa karena acara diadakan dirumah Dewa.


Sesekali Fatan melirik wajah tenang istrinya, wajah Zara selalu tenang ia tidak pernah menampakkan kesedihannya dan selalu tersenyum.


Mobil Fatan memasuki halaman Rumah Dewa dan sudah banyak mobil yang berjajar.


Zara turun dari mobil Fatan, Fatan juga turun dia mengulurkan lengannya Zara mengerti segera mengapit tangan Fatan untuk pertama kalinya. mereka masuk kerumah Dewa semua tamu melihat kearahnya membuat Zara menunduk malu. dan saat Zara melangkah ia mendengar bisik-bisik dari tamu undangan yang memuji suaminya, Zara semakin mengeratkan pegangannya membuat Fatan menoleh pada Zara, tapi Zara tetap memandang kedepan seperti tidak menyadari apa yang ia lakukan poada pegangannya.


Fatan mengajak Zara menemui temannya mereka berjalan menuju salah satu teman Fatan, Fatan menepuk pundak temannya.


"Bro!" Panggil Fatan, Pria yang ditepuk punggungnya menoleh.


"Hay bro," katanya sambil melihat kearah wanita yang disamping Fatan dan mengapit lengan Fatan, Fatan melihat kearah dimana temannya melirik.


"Dia bukan Delisa setahu saya Delisa tidak berhijab?" Tanya Febi teman w anita Fatan.


"Sayang!" Tegur teman prianya. Fatan melirik Zara karena ia tahu kata-kata temannya itu menyakiti hati Zara, tapi apa yang diloihat Fatan Zara hanya menampilakan senyum Manisnya tanpa raut wajah yang tersinggung.


"Kenalin istri gue Zara," kata Fatan memperkenalkan Zara. Zara mengangguk dan tersenyum.


"Bukannya lo sama Delisa kok bisa menikah dengan perempuan lain apa perempuan ini yang merebutmu dari Delisa," cerocos Febi, Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan hubungan Fatan dan Delisa tiga tahun ini karena selama ini ia tinggal diluar negeri, Zara hanya diam dia tidak mengerti, dia juga tidak tahu siapa Delisa.


"Jaga bicaramu Feb!" Tegur Dewa yang baru ikut berkumpul.


"Dia wanita terhormat tidak seperti temanmu itu," kata Dewa membuat Febi terdiam.


Dewa memandang Zara, Zara hanya menggeleng pelan dan Dewa hanya mengangguk mengerti.


Fatan meremas tangan Zara dan memandangnya dengan tatapan minta maaf, Zara hanya tersenyum dan membalas mengenggam tangan Fatan memberikan isyarat kalau dirinya tidak apa-apa.


"Assalamualikum, maaf sebelumnya saya Zara," Kata Zara sambil mengulurkan tangannya pada Febi. Dengan Ragu Wanita itu menyambutnya.


"Febi," katanya sedikit ketus karena ia belum bisa menerima kalau sahabatnya Delisa tidak jadi menikah dengan Fatan.


"Sella," kata wanita lainnya yang dari tadi diam.


"Zara," kata Zara sambil tersenyum.


Fatan sedikit lega dengan sikap Zara yang tidak mengambil hati dengan ucapan Febi teman Delisa yang dari dulu kalau bicara tidak difikir dulu.


"Zara!" Panggil Helen.


Zara menoleh dan tersenyum dan dia memandang Fatan meminta izin untuk menemui Helen Fatan hanya mengangguk.


"maaf saya ingin menemui Helen dulu, permisi," kata Zara sambil melangkah mendekat ke arah Helen.


"Tidak apa-apa," kata Zara setelah mendapat pandangan cemas dari sahabat kecilnya.


"Seharusnya kamu memarahi dia seenaknya saja dia memaki dirimu, dari dulu tu orang kalau ngomong tidak difikirkan," katanya Jengkel.


"Helen!, biarkan orang berkata apa yang penting kita tidak melakukan apa yang ia tuduhkan pada kita dan ingat kamu sedang hamil besar jangan begitu." Zara mengingatkan, Helen hanya nyengir saja.


"Mama ingin bertemu denganmu," beritahu Helen, Zara mengangguk dan mengikuti langkah Helen mendekati wanita parubaya yang masih cantic dengan balutan gaun berwarna biru tua.


"Anak cantik Tante," kata Mamanya Helen setelah melihat Zara mendekat kearahnya.


"Assalamualikum tante, bagaimana kabarnya?" Tanya Zara sambil menyalami dan mencium pipi kanan kiri mamanya Helen.


"Waalaiukumsalam Zara alhamdulillah sehat, Zara sendiri gimana? Udah isi?" Tanya mamanya Helen.


"baik tante alhamdulillah, belum ada rejeki tante do'akan Zara semoga cepet nyusul Helen," kata Zara.


"Tante selalu mendo'akan kamu sayang, yaudah nikmati acaranya tante mau menyapa teman tante," pamit Mama Helen. Zara dan Helen mengangguk. Saat Zara dan Helen sedang asik berbicara teman Fatan yang bernama Sella datang menghampiri mereka berdua.


"maaf, boleh gabung?" Tanya Sella.


"boleh silakan," kata Helen.


Sella selalu memandang Zara ada rasa kagum melihat kesabaran Zara terlihat dari matanya yang terlihat teduh, dan tutur bahasanya.


Fatan mendekati Zara yang sedang berbicara dengan Helen dan Sella, ia sempat mencari Zara tadi karena ia terlalu sibuk dengan teman kuliahnya dulu.


"Beruntung banget lo Tan dapat istri sesabar dia," kata Sella saat Fatan duduk disamping Zara, seperti biasa Fatan hanya diam saja. Zara melihat Fatan yang duduk disampingnya seperti biasa terlihat dingin.


"Abang mau minum?" Bisik Zara, Fatan mengangguk,


"maaf saya mau ambil minuman, ada yang mau minum nanti Zara ambilin? Tanya Zara.


"tidak terima kasih," kata Sella. Zara mengangguk dan berdiri untuk mengambilkan Fatan minuman.


"Lo nemu dimana bro istri seperti dia?" Tanya Geri suami Sella yang juga sahabat Fatan selain Dewa.


Fatan hanya mengangkat bahunya, sahabat Fatan tahu sifat Fatan yang irit bicara sejak Delisa pergi.


Geri hanya bisa menggeleng dengan sifat Fatan tiga tahun ini.


Dewa baru bergabung dengan Fatan karena sejak tadi ia sibuk menyambut tamunya.


"lo tahukan Ger begitulah Fatan sekarang yang terlalu dingin dengan istrinya, jangan sampai Zara bosen dengan sifat lo terus dia ninggalin lo," kata Dewa dan mendapat pukulan dari Helen.


"Sahabat aku tidak seperti itu Dewa," kata Helen. Dewa hanya nyengir dan mengelus lengannya yang dipukul Helen.


"sahabat?" Tanya Sella dan Geri bersamaan.


Helen mengangguk "iya, wanita yang sabar itu sahabatku," kata Helen. Fatan yang mendengar itu hanya diam dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suami istri itu. Zara kembali membawa segelas jus dan kue untuk Fatan.


Saat teman-temannya bercanda Fatan hanya diam dan sesekali tersenyum mendengar Lelucon sahabatnya.


****


mohon dukungannya dengan like dan masukkan favorit ya!!

__ADS_1


__ADS_2