
Abu Daud, Nabi Muhammad SAW. bersabda : Datangilah (gauli) ladangmu ( Istrimu ) menurut yang kau ingini, berilah ia makan jika engkau makan, berilah ia pakaian, jangan bermuka masam kepadanya dan jangan kau pukul dia.
****
Sepulang dari pesta Zara segera melakukan sholat isya' sedangkan Fatan masuk keruang kerjanya. Dan langsung duduk di meja kerjanya sambil memikirkan apa yang dikatakan temannya tadi tentang Zara.
"Apa aku beruntung memilikinya?" Tanya Fatan pada dirinya sendiri.
Ketukan pintu membuat Fatan berdiri dan membuka pintunya. Zara Berdiri didepan pintu dengan masih mengenakan mukenanya. Fatan mengangkat alisnya.
"ponsel abang bunyi, Zara fikir penting jadi Zara bawa kesini," kata Zara sambil mengulurkan ponsel Fatan, Fatan mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Makasih," kata Fatan dan kembali masuk keruangannya.
Sedangkan Zara kembali lagi ke kamar untuk melepas mukenanya.
Saat ingin naik keatas ranjang Zara mendengar suara pintu terbuka, dilihat suaminya baru masuk kamar.
"Mau tidur?" Tanya Fatan.
Zara mendengar pertanyaan suaminya hanya diam masih tidak percaya.
"Zara!" Panggil Fatan.
"Ah! Tidak bang, Zara belum mau tidur mau ngecek pemasukan kafe Zara" jawab Zara sedikit kaget.
"Abang mau minum?" Tanya Zara, Fatan menggeleng.
Zara masih memandang Fatan menunggu apa yang akan dikatakan Fatan karena ia tahu bahwa Fatan ingin mengutarakan sesuatu terlihat dari raut wajah Fatan yang gelisah.
Zara memtuskan untuk mengambil tab nya karena Fatan tak kunjung mengutarakan apa keinginannya, ia mulai membuka emailnya sedangkan Fatan bingung untuk ngomong pada Zara kalau ia ingin meminta haknya sebagai suami tapi Fatan sadar diri apa ia pantas disebut suami?
Saat temannya menghina Zara dia hanya diam, dan dia juga selalu bersikap dingin padanya apa pantas dia disebut suami?
Tapi keinginan Fatan sudah tidak bisa ditunda lagi, dulu sebelum ia beristri saat libidonya ingin di puaskan ia akan mencari wanita malam tapi sekarang ia ada Zara istrinya ia tidak ingin membuat dosa lagi dengan menyakiti istrinya cukup dulu dosa besar yang ia lakukan.
"Abang ingin sesuatu?" Tanya Zara.
Fatan menggeleng, Zara masih menatap wajah gelisah suaminya
Zara meletakkan tabnya dimeja samping ranjangnya. Ia menegakkan duduknya menghadap Fatan yang sekarang sudah rebahan mencoba memejamkan matanya.
"Abang! Jika abang tidak bisa menerima Zara sebagai istri abang, terima Zara sebagai sahabat abang, sahabat yang ada saat abang membutuhkan," kata Zara membuat Fatan membuka matanya dan melirik Zara.
"Tidurlah!" Perintahnya.
Zara hanya bisa mendesah kecil Fatan masih belum bisa menerima dirinya.
Akhirnya Zara membaringkan badannya terlentang ia tidak ingin mendapat dosa sia-sia karena tidur membelakangi suaminya.
Fatan membuka matanya dan melirik Zara yang sudah memejamkan matanya.
Ia memandang wajah ayu Zara, wajah yang bersinar memberikan keteduhan untuk siapa saja yang memandang.
sekarang ia juga terbiasa dengan kebiasaan Zara yang bangun malam untuk sholat walaupun usia pernikahannya masih satu bulan.
Ia tidak bisa tidur sama sekali, Ia sesekali melirik Zara yang lelap dalam tidurnya.
Perlahan ia mengangkat tangannya ia arahkan pada wajah Zara dia usap perlahan pipi putih mulus Zara.
"Dia cantik, lembut dan penyayang," gumamnya, Disentuhnya bibir merah alami tanpa lipstick.
"Ajari aku untuk bisa menerimamu," gumamnya.
Perlahan ia mendekatkan dirinya kearah Zara dan mengecup kening Zara singkat kemudian ia membaringkan badannya lagi karena sebentar lagi Zara akan bangun.
Dan benar tak lama Zara bangun dan turun dari Ranjang dan melihat kearah suaminya.
Menarik selimut keatas untuk menyelimuti suaminya, kemudian dia melangkah menuju kekamar mandi.
****
Satu bulan kemudian.
Zara sudah menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, karena Lana sedang menginap dirumah mamanya.
"Assalamualaikum" sapa Fatan yang sudah Rapi dengan setelan kerjanya.
"Waalaikumsalam" jawab Zara.
"Hari ini Zara masak mie goreng," kata Zara sambil tersenyum.
Fatan membalas tersenyum dan itu pertama kalinya membuat Zara senang, sempat tertegun dengan senyum Fatan untuk dirinya.
__ADS_1
Ia juga menyiapkan kopi hitam untuk Fatan.
"Nanti biar Zara yang jemput Lana," kata Zara.
"Tidak perlu, Lana dibawa mama ke singapore untuk seminggu kedepan," jawab Fatan.
"mama?" Tanya Zara.
"iya mama kemarin menghubungiku," Kata Fatan.
Zara mengangguk dan tidak bertanya lagi ia mulai memakan sarapannya.
Fatan yang sudah menghabiskan sarapannya bersiap untuk berangkat seperti biasa Zara mencium tangan Fatan dan seperti biasa tanpa ada kecupan sayang.
"Assalamualikum" salam Fatan.
"waalaikumsalam, hati-hati" kata Zara.
Fatan mengangguk saja. Fatan masih belum siap untuk menjadikan Zara istri seutuhnya.
Fatan dikantor merenung ia berjanji akan mencoba menerima Zara sebagai istrinya.
Meskipun hatinya masih untuk Delisa.
"Kemana kamu pergi sebenarnya Delisa?" Tanya Fatan pada dirinya sendiri.
"Aku sangat merindukanmu," katannya lagi.
"Hmmm begini ini yang tidak akan pernah bahagia," kata Dewa yang baru masuk seperti biasa tanpa mengetuk pintu dulu.
"Bisa mengetuk pintu dulu tidak?" geram Fatan, Dewa hanya nyengir saja.
"istri lo yang sudah sabar menghadapi lo yang tidak pernah bisa melihat kebaikannya" kata Dewa sambil duduk dikursi depan meja kerja Fatan. Dewa sudah mulai hilang kesabaran melihat sikap sahabatnya yang tidak pernah bisa menghargai istrinya.
"lo pernah ngerasain dikecewakan seharusnya lo bisa menghargai perasaan seorang apalagi itu istri lo," nasehat Dewa.
"Gue harus bagaimana Wa?" Tanya Fatan. Yang menurut Dewa itu pertanyaan bodoh untuk sekelas Fatan.
"terima dia bro, dia gadis yang sangat istimewa, aku tahu semua itu dari Helen karena Helen berteman baik dengan dia semenjak ia kecil," kata Dewa
"Akan aku coba," katanya.
"Jangan pernah kecewakan dia, dia gadis yang baik, terlalu baik malah, jujur saat aku mendengar pertama kali dari Helen dia akan menikah denganmu aku sempat memperingatkan dia untuk menolak karena gue tidak yakin sama lo, dan lo sudah mempunyai anak bahkan diluar nikah," kata Dewa tanpa memperhatikan perubahan wajah Fatan.
"Dia ngomong gitu belum bertemu dengan anakmu dan sekarang lihat anakmu sangat menyayanginya, pikirkan itu! " kata Dewa, "ingat jangan pernah menyesal jika suatu saat Zara pergi meniggalkanmu, kalau kamu tidak mau merubah sikapmu," sambung Dewa dan pergi.
Fatan melihat kepergian Dewa hanya bisa melongo Dewa sengaja datang keruangannya hanya untuk berceramah.
"Sialan lo Wa!" Umpat Fatan.
Benar kata Dewa dia harus bisa menerima Zara, Zara begitu baik dengannya bahkan dia rela merawat anaknyadan sangat menyayangi anaknya.
****
Sore hari Fatan mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Sampai dirumah Fatan langsung masuk kedalam kamarnya saat pintu terbuka Fatan diam mematung, dia melihat Zara sedang berganti baju ia tak berniat untuk membalikkan badan ia terus menatap punggung mulus Zara sampai pekikan Zara mengagetkannya.
"Astagfirullah!" Pekik Zara saat melihat Fatan berdiri mematung didepan pintu.
Dengan cepat Zara merubah mimik wajah terkejutnya dengan senyuman seperti biasa untuk menyamarkan degub jantungnya.
"assalamualaikum," salam Zara sambil mengulurkan tangannya untuk menyalaminya.
"Abang mandi biar Zara buatin minum dulu." Kata Zara dan berlalu keluar.
Sedangkan Fatan duduk ditepi Ranjang untuk menormalkan detak jantungnya.
Fatan turun dari lantai atas melihat Zara sedang menelfon seseorang dengan wajah serius membuat Fatan penasaran dan mendekatinya.
"Ada masalah?" Tanya Fatan.
"Sedikit tapi sudah diselesaikan bang," jawab Zara tanpa ingin memberitahu apa masalahnya.
"Abang makan dulu," ajak Zara.
Setelah makan Fatan langsung masuk ruang kerjanya hanya ruang kerjanya yang membuat dia bisa berfikir, Sedangkan Zara berada diruang tv sebegitu cintakah suaminya dengan mantan kekasihnya sampai dia tidak mau menerima wanita lain dihatinya.
"Ya Allah sesulit inikah mendapat secuil kasih dari suamiku?" Bathin Zara sambil menatap foto besar dihadapannya.
"Sanggupkah aku bertahan menjalani ini ? beri zara Jalan Ya Allah," sambungnya.
Setitik air mata jatuh dipipinya ia segera menghapusnya, sebenarnya ia sangat rapuh didalam, tidak ada siapa yang diajaknya untuk berbicar untuk mengeluarkan semua unek-unek yang ada dihatinya saat seperti ini.
Adzan isya' berkumandang menyuruh semua umat muslim segera menjalankan kewajibannya bersimpuh pada yang punya seluruh alam semesta ini.
__ADS_1
Zara segera naik keatas untuk menjalankan sholat isya', Sebenarnya ia ingin suaminya menjadi imam saat sholat tapi sepertinya itu akan sulit melihat Fatan yang selalu menghindar saat diajak untuk berjama'ah.
Zara menengadakan tanganya keatas meminta kepada Sang Maha Esa.
"Ya Allah! Tidak banyak permintaanku hanya satu bukakan sedikit pintu hati suami Zara." pintah Zara,
"Beri Zara kesabaran untuk menghadapi suami Zara, beri kelapangan hati suami Zara untuk menerima Zara," pintah Zara dan tanpa sepengetahuan Zara Fatan berdiri dibalik pintu, ia mendengar semua apa yang dikatakan Zara, Saat ia masuk Zara sudah duduk dimeja Rias sambil merapikan rambutnya.
Fatan duduk ditepi ranjang dan memperhatikan Zara yang sedang menyisir rambutnya.
"Zara!" Panggil Fatan.
"Iya bang?" Jawab Zara lembut sambil menghadap suaminya.
"Aku ingin meminta hakku," kata Fatan tiba-tiba, Zara membeku Fatan pun begitu sebenarnya ia ingin meminta maaf atas sikapmya selama ini tapi apa yang dikatakan tidak sesuai apa yang ada dihatinya.
"Zara siap dan ikhlas bang," kata Zara sambil tersenyum.
Fatan berdiri dan melangkah mendekati Zara, dikecupnya kening Zara untuk ketiga kalinya bagi Fatan, ya tiga kali pertama saat usai akad nikah, kedua kemarin ketiga sekarang ini Zara hanya memejamkan matanya meresapi kecupan seorang suami yang kedua kalinya bagi Zara.
Dalam hati Zara hanya berucap syukur, semoga ini menjadi awal yang akan merubah sikap dinginnya pada Zara.
Dibopongnya tubuh kecil Zara keatas ranjang ditidurkannya tubuh kecil Zara, ia juga ikut berbaring.
"Apa yang membuatmu cinta kepadaku?" Tanya Fatan, ia tahu Zara gugup sekarang makanya dia tidak langsung menjalankan haknya ia ingin mengajak ngobrol Zara agar Zara lebih rilex.
Fatan tiduran miring menghadap Zara dengan satu tangannya untuk menyanggah kepalanya.
"Zara tidak tahu" jawab Zara dengan sedikit gugup.
"Itu bukan jawaban, kenapa kamu bisa mencintaiku? kasih satu alasan," pinta Fatan.
"Zara tidak mempunyai alasan kenapa Zara mencintai abang...,"
Fatang mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan jawaban menggantung Zara.
"Jika Zara mencintai abang karena harta abang yang banyak tapi suatu saat jika Allah mengambil semua harta abang dan abang tidak mempunyai harta lagi Zara tidak ada alasan lagi untuk tetap mencintai abang, jika Zara mencintai abang karena abang tampan jika abang tua Zara tidak akan lagi mencintai abang karena wajah abang akan keriput dan tidak tampan lagi maka dari itu Zara tidak punya alasan untuk mencintai abang, Zara mencintai abang karena Allah, Zara mencintai Abang tidak ada alasan kenapa Zara bisa mencintai abang," jawab Zara membuat Fatan diam memandang Zara, Tangannya terulur menyentuh pipi Zara.
"tidak pantas aku memiliki gadis sepertimu kamu terlalu baik," ucapan Fatan, Zara menggeleng.
"bukan pantas tidak pantas bang semua pantas bersanding dengan siapa, aku malah lebih beruntung bisa menjadi salah satu anggota keluarga dirumah ini hidup dengan pria yang mampu membesarkan putri kecilnya sendiri," kata Zara.
"Aku tidak merawatnya sendiri mama membantuku".
Zara mengangguk dan memandang wajah Fatan dengan berani Zara memegang tangan Zara memegang tangan Fatan yang membelai pipinya.
"Aku masih merasa tidak pantas untukmu dengan masa laluku bahkan aku masih belum bisa mencintaimu," kata Fatan, Zara menggeleng pelan.
"tidak apa abang jangan terbebani tentang hal itu, Zara menerima abang apa adanya, menerima masa lalu abang, masa lalu adalah guru terbaik bukan begitu abang?" Tanya Zara.
Fatan mengangguk dan memandang Zara.
"Aku bahkan tidak bisa melihat wanita lain dihatiku masih terpatri namanya," kata Fatan membuat Zara tersenyum dalam kepahitan.
Zara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan menghilangkan sesak didadanya.
"Ajari aku untuk menerimamu!" Pinta Fatan. Zara mengangguk.
"aku tidak bisa mengajari abang untuk menerimaku karena menerima atau menolaknya adalah pilihan abang, hanya satu bang ikhlas, jika abang ikhlas menerima Zara Insya Allah abang bisa menerima Zara," jawab Zara pelan.
"Zara!" Panggil Fatan.
"Ya?"
"Ijinkan aku meminta hakku," katanya.
"Tak perlu meminta ijin bang Zara siap dan ikhlas".
Fatan mendekati Zara dikecupnya kening Zara, saat Fatan ingin mencumbunya Zara menahannya, Membuat Fatan memandangnya dengan kilatan kekecewaan dimatanya.
"maaf Bang, Baca do'a dulu! Biar Allah meridhoi apa yang akan terjadi nanti," pinta Zara.
Fatan mengangguk dan membacakan do'a dan meniupkan ke atas ubun-ubun Zara.
Zara sedikit terpaku bahwa Fatan mengerti sunnah saat sebelum melakukan itu.
"Bismillaahirrahmaanirrahiim." ucap Zara sambil memejamkan matanya saat tubuh mereka menyatu.
"Alhamdulillah" ucap Zara saat dia mendapatkan kenikmatan dunia pertama bersama pria yang halal.
"Delisa!!" Teriak Fatan saat mencapai puncaknya.
Membuat Zara menitihkan air mata dan segera memalingkan wajahnya ia tidak ingin air matanya dilihat oleh Fatan, dan membuat Zara sedikit kecewa bahkan saat seperti ini yang ada dipikiran dan hati Fatan hanya mantan kekasihnya.
__ADS_1
"Sabarkanlah aku Ya Allah, sesungguhnya hanya Engkau yang bisa membolak-balikan hati." Bathin Zara,