Setulus Cinta Zara

Setulus Cinta Zara
#8


__ADS_3

Zara masih terjaga dengan tubuh dibalut selimut dan pelukan Fatan, saat ingin bangun ia merasa berat diperutnya ia melihat kearah perutnya tangan suaminya melingkar diperutnya ia berusaha untuk menyingkirkannya tapi bukannya menyingkir malah Fatan makin merapatkan pelukannya.


"Abang!" Panggil Lirih Zara.


"Diamlah Delisa aku masih merindukanmu dan memelukmu" kata Fatan serak.


Zara menarik nafas dan membuangnya.


"Abang! Zara ingin kekamar mandi," kata Zara membuat Fatan membuka matanya dan melihat Zara.


"Zara ingin kekamar mandi abang," kata Zara dengan suara menahan tangis.


Fatan mengalihkan tangannya dari perut Zara.


Zara segera menutupi tubuhnya dengan selimut dan berjalan menuju kamar mandi. Ia segera menyalakan shower dibawah guyuran dingin air malam Zara meremas dadanya yang terasa sesak saat ini.


"tidak adakah sedikit celah dihatinya untuk aku?"


"Hanya sedikit, sedikit saja," kata Zara dalam tangisannya,tangisannya teredam guyuran air shower jadi Fatan tiodak akan mendengarnya.


Zara tersadar saat pintu kamar mandi diketuk. Ia segera menyelesaikan mandinya dan berwudlu. Zara membuka pintu kamar mandi dan melihat Fatan hanya memakai boxernya.


Ia ingin menyentuh Zara tapi Zara mundur selangkah.


"Maaf Abang Zara sudah wudlu," kata Zara dan diangguki oleh Fatan, dan minggir memberi jalan kepada Zara.


****


Fatan bangun karena mendengar alunan ayat suci yang merdu, Ia duduk dan bersandar dikepala ranjang mengamati wajah tenang Zara yang sedang mengaji.


Fatan sadar ia sudah lama tidak menjalankan kewajibannya terakhir dia menjalani kewajibannya itu lulus dari sekolah, setelah itu dia tidak menjalani kewajibannya lagi apalagi setelah mengenal Delisa ia lebih banyak membuat dosa daripada membuat pahala.


"Zara membangunkan abang?" Tanya Zara setelah menyelesaikan mengajinya.


Fatan menggeleng, Zara melepas mukenanya dan melipatnya ia mendekati suaminya disalam tangan suaminya, Ia mengambil hijabnya dan ingin pergi tapi tangannya dipegang oleh Fatan.


"mau kemana?" Tanya Fatan.


"mau buat sarapan untuk abang," kata Zara dengan wajah yang sedikit murumng tidak seperti biasanya.


"duduklah disini!" Perintah Fatan, Zara menurutinya.


"Ada apa abang?" Tanya Zara.


"Kenapa kamu dulu meminta Mahar hanya sedikit?" Tanya Fatan dari dulu ia ingin tahu alasannya kenapa Zara hanya meminta mahar Dua juta enam belas ribu saja.


Zara tersenyum sebelum menjawabnya.


"Zara ingin mendapat berkah pernikahan bang ada satu hadits mengatakan,


"Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad).


yang penting bagi Zara bukan banyak Mahar yang akan diberi tapi yang penting adalah berkahnya, Zara ingin pernikahan kita mendapat berkah dan ridho Allah," jawab Zara.


Fatan memandang Zara, ia melihat ada yang berbeda dimata Zara, Zara yang menyadari tatapan Fatan segera menundukkan wajahnya.


"Cepat mandi Zara akan buat sarapan untuk kita," kata Zara dan beranjak pergi.


Zara masih termenung didapur, sebenarnya ia sakit dengan sikap Fatan tidak bisakah dia melupakan mantannya saat bersama Zara tak terasa air matanya menetes dan buru-buru ia menghapusnya. Ia tidak mau Fatan mengetahuinya.


Zara berusaha tenang dan harus bersikap biasa, Senyuman tulus diberikan kepada suaminya yang kini telah turun menuju meja makan, tapi Fatan melihat senyuman Zara tidak seperti biasanya senyuman yang tersirat luka.


"Assalamualikum abang!" Salam Zara sambil memberikan kopi hitam untuk Fatan.


"Waalaikum salam" jawabnya.


"Lana kapan pulang bang? Zara kangen" tanya Zara.


"Mungkin dua hari lagi," kata Fatan.


"Zara! nanti makan siang aku jemput ikut aku meeting"


"Baik bang" jawab Zara.


Fatan menikmati sarapannya sedangkan Zara hanya memakan sarapannya sedikit, itu membuat Fatan merasa heran.


"Ada apa?" Tanya Fatan.


"Hmm?" Gumam Zara sambil memandang Fatan.


"Ada apa? Kenapa kamu ngelamun?" Tanya Fatan. Zara menggeleng.


"Aku merindukan Lana," jawab Zara sedikit berbohong.


"Dua hari lagi dia akan pulang, yaudah aku berangkat," kata Fatan.


"Hati-hati" pesan Zara, Fatan mengangguk.


"Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Zara.


Seperti biasa ia mencium tangan Fatan, Fatan mencium kening Zara singkat membuat Zara senang.


"Allahamdulillah" bathin Zara satu kemajuan lagi di hubungannya.


****


Ponsel Zara berdering ia melihat siapa yang menghubunginya. Tertera nama mama mertuanya.


"Mama" gumam Zara.


"Assalamualaikum mama!" Sapa Zara


"ini Lana Mama, " kata Lana yang disebrang telfon


"Lana sayang, mama kangen Lana," kata Zara ternyata anaknya yang menelfonnya.


"Lana juga kangen mama," kata Lana.


"Benarkah sayang? Mama lebih-lebih rindu kamu sayang," kata Zara sambil terseyum mendengar Lana cekikikan.


"papa dimana Ma?"


"Papa? Ouwh papa ah itu papa baru datang," kata Zara karena melihat Fatan baru masuk ruang kerjanya.


"Yaudah Ma Lana mau diajak eyang jalan-jalan, Lana sayang mama Assalamu'alaikum," kata Lana mengakhiri panggilannya.


"yaudah iya mama juga sangat sayang Lana waalaikumsalam," kata Zara mengakhiri telfonnya.


"Assalamualaikum abang!" Salam Zara dan mencium tangan suaminya.


"waalaikumsalam" jawab Fatan sambil mencium kening Zara singkat.


"Siapa?" Tanya Fatan.


"Lana bang, katanya kangen sama Zara," kata Zara.


"Ayo!" Ajak Fatan, Zara mengangguk dan mengambil tas yang ada di sofa.


Zara keluar dari ruangannya mengikuti Fatan sebelumnya ia sudah berpesan kepada orang kepercayaannya kalau dia tidak kembali setelah makan siang.


"maaf sudah mengganggu pekerjaanmu,". Kata Fatan sambil menyetir mobilnya.


"Tidak bang, tidak ada yang penting dari abang," kata Zara sambil memandang wajah Fatan yang sedang serius menyetir.


"Kenapa?" Tanya Fatan pada Zara yang dari tadi menatapnya. Zara menggeleng dan mengalihakan pandangannya ke depan. Fatan membelokkan mobilnya keperataran restoran.


"Selamat siang pak Restu," sapa Fatan.


"Selamat siang pak Fatan, dan istrinya benar?" Tanya pak Restu.


"Ya! Zara dia istriku" kata Fatan.


"Wanita sempurna," kata Restu.


Zara hanya menunduk. Risih sebenarnya dia mendengar kalimat itu dari pria lain kecuali suaminya.


"Istri anda dimana pak?" Tanya Fatan.


"Sedang ditoilet tadi," kata Pak Restu.


"Selamat siang pak Fatan!" Wanita cantik yang baru datang.


Fatan hanya mengangguk sedang kan Zara tersenyum, Fatan dan pak Restu membahas masalah pekerjaan sedang kan Zara dan istri Pak Restu ngobrol .


Zara hanya menyahuti dengan senyuman dan sesekali menjawab karena istri pak Restu ngomongin tentang aib suaminya, dan Zara tidak suka itu tidak seharusnya seorang istri mengumbar aib suaminya.


"Maaf bu saya ingin ketoilet dulu." potong Zara karena ia tidak ingin dosa mendengar cerita Amel nama istri Restu.


"Abang Zara ketoilet dulu!" Pamit Zara Fatan mengangguk.


Saat Zara kembali Zara melihat Istri pak Restu duduk disebelah Fatan dan tidak malu dengan Suaminya.


"Permisi!" Kata Zara membuat Amel nama istri pak Restu mendongak dan mengangkat Alisnya.


Zara hanya menunjuk kursinya dengan matanya Amel berdiri dan pindah kursi tempatnya tadi. Fatan memandang Zara saat Zara duduk.


"ada apa?" Tanya Fatan yang melihat Wajah Zara sedikit jengkel. Zara hanya menggeleng ia ingin cepat pergi dari sini.


Setelah menyelesaikan meeting dan jamuan makan Fatan segera pamit ia mengerti Zara tidak nyaman. Amel memeluk Fatan dan ingin mencium Pipi Fatan tapi Zara keburu menarik Fatan.


"Maaf kami permisi!" Pamit Zara dan menggandeng tangan Fatan untuk keluar.


Tidak sopan!" Tegur Fatan saat mereka sudah didalam mobil.


"Maaf abang, bukan maksud Zara tidak sopan, tapi tidak pantas saja seorang istri didepan suaminya peluk-peluk lelaki lain," kata Zara.


Fatan diam saja dan menjalankan mobilnya menuju kantor Fatan, Sampai didepan kantor Fatan Zara bingung mau apa Fatan mengajaknya kekantornya.

__ADS_1


"Abang!" Panggil Zara.


"Ikut turun aku ada meeting sebentar nanti kamu tunggu di ruanganku," kata Fatan, Zara menurut saja.


Saat masuk kekantor Fatan semua karyawan melihat Zara, Zara hanya bisa tersenyum ramah dan mengikuti Fatan dari belakang.


"Masuk dulu sejam lagi aku kembali," kata Fatan.


Zara mengangguk dan masuk kedalam sedangkan Fatan mengambil dokumen dan pergi untuk meeting.


Zara melihat ruang kerja suaminya sangat Rapi dan wangi. Ia tersenyum melihat Foto Lana yang sedang tertawa gembira saat sedang bermain pasir dipantai.


Zara juga melihat sebuah foto wanita cantik yang tersenyuma saat diamati matanya mirip dengan mata Lana dan ada foto lagi suaminya sedang mencium kening wanita tadi didepannya ada kue ulang tahun.


"Apa dia Delisa?" Tanya Zara pada dirinya sendiri. Zara mengamati setiap isi ruangan ia tidak melihat foto pernikahannya terpajang diruangan Fatan.


"Tidak pentingkah aku buatnya?" Zara tersenyum pahit teringat dia tidak penting untuk Fatan, "Sadar Zara kau tidak ada dihatinya sedikitpun," kata Zara pelan.


"Ya Allah kuatkan hati Zara dalam menyikapi ini, sebenarnya ini adalah ujian yang Kau berikan pada hamba, aku ikhlas Ya Allah menerima ini semua," kata Zara dalam hati, kemudian ia duduk disofa yang ada didalam ruangan Fatan.


*****


Selesai meeting Fatan segera kembali keruangannya saat ia membuka pintu Fatan melihat Zara sedang berbaring disofanya. Fatan berjalan mendekati Zara ia melihat ada bekas air mata dipipi Zara.


"Apa dia habis menangis tapi karena apa?" gumam Fatan.


Ia menyelimuti Zara dengan Jasnya ia berjalan menuju mejanya dan menatap foto Delisa.


"Aku masih mencintaimu Delisa masih sangat mencintaimu," kata Fatan tanpa menyadari ada telinga lain yang mendengarkan ungkapan hatinya.


"Tapi aku harus bisa melupakanmu karena aku tidak mau menyakiti wanita sebaik Zara" lanjutnya dalam hati.


Seolah diremas sangat sakit saat mendengar suaminya mengatakan itu pada foto mantan kekasihnya.


"Ya Allah begini sakitkah mencintai tanpa dicintai," bathin Zara.


Fatan terus memandangi foto Delisa tapi ia sudah berjanji akan mencoba menerima Zara sebagai istriya, ia membalikkan Foto Delisa dan ia berjanji pada dirinya sendiri ia tidak akan mengingat Delisa lagi, besok ia akan membuang semua benda yang mengingatkan tentang Delisa.


"Maaf abang Zara ketiduran," kata Zara membuat Fatan menoleh pada Zara.


"Sudah bangun?" Tanya Fatan.


"Maaf abang!" Kata Zara, Tanpa menjawab Fatan berdiri dan mengjak Zara untuk pulang.


"Ayo pulang!" Ajak Fatan.


Zara mengangguk dan berdiri sambil membawakan jas kantor Fatan, Ia berjalan keluar kantor dengan mengapit lengan Fatan. Semua karyawan Fatan menyapanya.


Zaramengangguk dan tersenyum ramah pada setiap karyawan Fatan yang menyapanya.


"Itu istri pak Fatan ya cantik banget ya, natural," Kata Salah satu pegawai.


"Iya cocok dengan pak Fatan," Desas desus setiap pegawai Fatan yang melihat Zara.


****


Sampai dirumah Zara segera mandi dan sholat ashar setelah itu ia memasak untuk makan malam untuk suaminya.


"Tidak perlu masak kita akan makan diluar," kata Fatan saat melihat Zara mengeluarkan bahan dari lemari es.


,"Baik bang" kata Zara sambil memasukkan kembali bahan masakannya kedalam lemari es, Zara mengikuti Fatan duduk disofa ruang tengah.


"Zara!" Panggil Fatan.


"Hmm" jawab Zara.


"terima kasih" kata Fatan.


"untuk?" Tanya Zara


"Sudah sabar dengan sikapku selama sebulan ini, kamu tidak pernah mengeluh dengan sikapku padamu," Kata Fatan.


"Itu sudah kewajiban Zara sebagai istri abang," kata Zara.


"Apa kamu mau mengulang dari awal? kita akan menjadi suami istri yang selayaknya suami istri lakukan?" Tanya Fatan membuat Zara tersenyum, Dengan mengucap bismillah dalam hati Zara mengangguk ia berharap ini adalah awal dari segalanya.


"Aku akan belajar ikhlas menerima ini semua dan ajari dan tegur aku jika aku salah" pinta Fatan.


Fatan sudah berjanji pada dirinya akan menerima Zara, Zara begitu baik dan bertanggung jawab dan mama yang baik untuk Lana.


"Insyaallah abang" jawab Zara.


"Aku akan belajar menerimamu meski aku belum bisa mencintaimu tapi aku akan mencoba mencintaimu melupakan semua masa laluku," Kata Fatan.


Zara tersenyum dan mengangguk ia akan belajar sabar lagi untuk mendapat cinta dari Fatan.


"Sini!" Pinta Fatan, Zara mendekat dan Fatan menariknya kedalam pelukannya.


"apa ini nyata Ya Allah? Suamiku akan belajar menerima ku, meski dia belum bisa mencintaiku tapi aku percaya kalau cinta akan datang karena terbiasa bersama.

__ADS_1


apa ini mimpi? Jika ini mimpi maka jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini Ya Allah." Bathin Zara tanpa ia sadari ia meneteskan air mata bahagia.


__ADS_2