Setulus Cinta Zara

Setulus Cinta Zara
wedding


__ADS_3

"Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku" (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)


*****


Hari ini adalah hari yang akan Zara ingat selama hidupnya dimana ia akan melepas masa mudanya, dengan menikah dengan seorang pengusaha muda.


Zara duduk dikamar ditemani Helen dan kakak tiri, anak dari istri kedua papahnya meski saudara tiri hubungan mereka sangat baik.


"Jangan gugup, tanganmu sangat dingin," kata Helen.


"Iya dek tanganmu dingin banget," kata Sandra kakak tirinya.


zara hanya tersenyum, "Ya Allah semoga ini menjadi pertama dan terakhir untukku" do'anya dalam hati. "Ayo sudah selesai," kata bunda istri muda papanya.


Zara dituntun Helen dan Sandra Menuju lantai bawah dimana akad nikah dilaksanakan. Zara melihat beberapa orang yang sedang memperhatikannya dengan pandangan kagum membuatnya sedikit malu. Zara mengedarkan pandangannya mencari sosok yang akan menjadi imamnya.


"please deh Ra nanti kan juga ketemu tu suamimu," kata Helen mengetahui Zara mencari sosok Fatan. Sandra tersenyum mendengar Helen menggoda adik tirinya. Zara duduk diantara Aminah dan Maryam. Aminah meremas tangan Zara ia tahu anaknya gugup meski bukan dia yang mengucap ijab qobul.


"Saya terima nikahnya Fatimah Azzara binti Darman Prayoko dengan mas kawin seperangkat alat solat dan uang dua juta enam belas ribu rupiah dibayar tunai," lafad Fatan dengan sekali nafas.


Sah?


Sah.


Zara semakin deg-degan saat Fatan mendekat padanya, ini adalah pertama kali seorang pria mendekat dan menyentuh tangannya menyematkan cincin bertahta berlian. Zara menundukkan kepalanya saat tangan Fatan diletakkan dikepalanya. Zara mencium tangan Fatan saat Fatan sudah selesai membaca do'a.


"Assalamu'alikum" salamnya.


"Waalaikum salam" jawabnya dan mengecup puncak kepala Zara.


Zara melihat Helen yang tersenyum menggoda saat dirinya sedang sesi foto, "ehem yang sudah dihalalin," goda Helen yang akan ikut berfoto dengan Zara.


Saat foto berdua Zara baru menyadari bahwa suaminya adalah orang yang pernah ia temui dulu lelaki pertama yang menyentuh mengusik hati seorang Zara tiga tahun lalu. lelaki berambut berantakan keluar dari supermarket dengan membawa beberapa diapers bayi dengan wajah kesalnya.


"Jangan terus memandangiku, semua orang pada melihat kearah kita" kata Fatan menyadarkan lamunannya dan membuatnya tertunduk malu.


Acara sudah selesai Zara sudah berada dikamar untuk menghapus riasannya dan mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai.


Saat merapikan rambutnya Zara teringat ketika dia pertama kali bertemu dengan Fatan.


Zara yang waktu itu baru ingin masuk supermarket ditabrak dengan seorang pria membawa banyak tas plastik berisi diapers bayi yang jatuh berhambur ketanah


"Sial, jalan tidak lihat-lihat," umpatnya


"Assalamu'alaikum, maaf tuan saya tidak sengaja," kata Zara meminta maaf bukannya memaafkan Fatan malah menatap Zara dan memaki Zara.


"He mbk lain kali jalan itu lihat kedepan," katanya. "maafkan saya tuan saya tidak sengaja," kata Zara sambil membantu mengambil diapers yang terjatuh..


Saat pandangannya kearahnya.a


"Masya Allah, pria ini," katanya dalam hati. "Astagfirullahaladzim" Zara beristigfar dalam hati setelah menyadari ia mengagumi pria yang bukan muhrimnya.


"Ini tuan maafkan saya" katanya sekali lagi sambil memberikan tas plastik


sepeninggal Fatan Zara memegangi dadanya yang terasa dag dig dug.


"Ya Allah kenapa dengan aku?"


"kenapa kamu diam saja rapikan rambutmu, dan bersiap." Katanya membuyarkan lamunan Zara


"Emangnya mau kemana?" Tanya Zara bingung.


"Pergi ke rumahku cepat" katanya dan berlalu pergi.


Zara cepat merapikan rambutnya dan pergi menyusul Fatan kedepan.


"Mama!" Panggil zra saat melihat Aminah.


"Cepat siap-siap" kata Aminah.


"Emank mau kemana mama?" Tanya Zara bingung kenapa semua orang menyuruhnya bersiap-siap.


"Pulang kerumah suamimu, anakmu sendirian dirumah," kata Aminah.


Anak? astagfirullah Zara lupa kalau dirinya mempunyai anak expres. "Astagfirullah ma Zara lupa, Zara pamit dulu ma," pamit Zara.


"Hati-hati sayang," kata Aminah saat Zara masuk kedalam mobilnya.


Sekarang giliran Fatan yang berpamitan dengan Aminah.


"Ma Fatan pamit, kami akan sering-sering kemari," kata Fatan sambil mencium tangan Aminah.


"Jaga anak mama, dia harta mama satu-satunya," pesan Aminah.


"ingatkan dia bila salah ya," sambung Aminah.

__ADS_1


Fatan memgangguk.


"Fatan akan menjaga Zara, kami pergi dulu." pamitnya dan masuk kedalam mobil.


"Assalamualaikum mama," salam Zara. mobil perlahan berjalan meninggalkan pekarangan rumah milik Aminah yang menjadi saksi bisu dia tumbuh besar sampai dia menikah.


****


Zara melihat rumah besar yang berada didepannya, rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang dan selama insyaallah.


"Sampai kapan kamu diam disitu" Tanya Fatan sambil menenteng tas miliknya yang sudah ada didepan pintu.


Zara sedikit tersentak saat mendengar suara Fatan, "maaf," gumam Zara sambil berjalan mengikuti Fatan. Zara rumah Fatan yang meurutnya indah penataan ruangnya sangat pas dengan Fatan yang berwibawa dan mewah.


"awwuh," keluh Zara saat ia menabrak tubuh belakang Fatan yang berhenti mendadak.


"Ini kamar kita, disebelah kamar Lana," kata Fatan sambil menatap Zara galak.


Zara mengangguk mendengar penjelasan Fatan. "Istirahatlah, aku mau menyelesaikan tugas kantor," kata Fatan.


"emh maaf Bang, baju-baju Zara gimana?" Tanya Zara.


"kamu lihat ada lemarikan? Letakkan disana!" kata Fatan dengan suara sedikit keras membuat Zra sedikit menunduk takut.


Setelah FAtan keluar, Zara berjalan menuju lemari yang berada disisi kanan kamar milik Fatan ia menata bajunya kedalam lemari yang menyatu dengan dinding.


"rumah sebesar hanya tinggal berdua" gumamnya mengingat rumah besar ini hanya ditempati dengan Lana saja bahkan pembantu rumah tangga tidak ada.


Zara yang selesai menata bajunya keluar kamar menuju dapur ia membuka kulkas didalam kulkas penuh dengan ice cream coklat, buah, sayuran.


Zara mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk dimasak ia tahu Fatan belum makan dari pagi karena setelah resepsi tadi mereka langsung kerumah ini.


"Aku menjemput Lana dulu,"


"Astagfirullahaladzim." suara barito Fatan sungguh mengagetkan Zara yang sedang asik memotong sayur.


"Apa Zara perlu ikut?" Tanya Zara.


"Tidak perlu," jawabnya singkat, Zara menganguk dan berjalan kearah Fatan sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Fatan, Fatan menatapnya bingung.


"Salim," ucap Zara ia mengangkat tangannya dan mengulurkan tangannya menyambut tangan Zara. "hati-hati bang" pesan Zara, Fatan hanya mengangguk.


Zara mengikuti Fatan tanpa diminta mengantar Fatan sampai kedepan pintu dan kembali untuk melanjutkan masaknya setelah mobil Fatan menghilang dari pandangannya.


Zara selesai memasak dan menyiapkan dimeja makan matanya melilir jam didinding yang sudah masuk waktu sholat isya' ia segera bergegas kekamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Assalamualaikum," salam Zara.


"Waalaikum salam" jawabnya Zara meraih tangan Fatan untuk disalamnya tanpa berkata-kata Fatan masuk kedalam meninggalkan Zara dengan Lana didepan pintu.


"Assalamualaikum sayang," salam Zara pada Alana yang diam mematung didepan pintu.


"Waalaikumsalam," jawabnya pelan, Zara berjongkok agar sejajar dengan anaknya.


"Ada apa kok diam saja?" tanya Zara.


"mama disini?" Tanya Alana kaget dan bingung.


Zara mengangguk dan tersenyum geli melihat keterkejutan anaknya.


"mama akan tinggal disini?" tanyanya lagi.


Zara mengangguk lagi, "selamanya?" ucapnya memastikan


"Insyaallah sayang" jawab Zara.


"Yeeaaaahhh" teriaknya senang dan berambur dipelukan Zara.


"Alana senang?"


"tentu dong Alana sangat senang sekali," jawabnya dengan suara khasnya membuat Zara sangat menyayangi Alana saat pertama kali ia bertemu dengan Alana.


"Lana sudah mamam?" Alana menggeleng.


"Mama tadi sudah masak, mau mamam masakan mama?" Tanya Zara sambil menggendong Alana maasuk, Alana mengangguk senang.


Zara mendudukkan Alana kekursi khusus milik Alana setelah itu ia memanggil Fatan untuk makan bersama.


"Lana bentar mama mau panggil papa dulu ya," pamit Zara. Dia mengangguk tanpa memandang Zara karena ia sudah tergoda dengan hidangan dimeja makan yang ada beberapa masakan lezat menurutnya.


Zara tersenyum melihat gelagat Alana yang teruja dengan hidangan dimeja makan, ia melangkah menuju ruaang kerja Fatan yang berada di dekat ruang kumpul keluarga.


Zara mengetuk pintunya dibukanya sedikit ia melihat Fatan sedang serius dengan kerjanya.


"Maaf abang, makan dulu Lana sudah menunggu dimeja makan," kata Zara. Fatan melihat Zara sebentar kemudian kembali fokus pada lembar kerjanya.

__ADS_1


tak lama Fatan menutup lembar kerjanya dan beranjak keluar Zara mengikuti dibelakangnya.


Zara duduk di samping Lana sedangkan Fatan duduk ujung meja sambil memperhatikan Zara berinteraksi dengan anaknya.


"Mama, Lana minta bulet-bulet itu," tunjuk Lana pada piring yang berisi tahu pulat


"Tahu sayang?" Tanya Zara sambil mengambilkan tahu bulat kepiring Lana.


"Lana tidak tahu namanya mama, tapi yang bulet-bulet seperti bola pingpong itu lo ma," kata Lana. Zara mengangguk "iya sayang ini namanya tahu bulat," kata Zara memberitahu.


"Bang mau yang mana?" Tanyanya pada Fatan tapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Fatan, Zara hanya bisa menghembuskan nafas semoga diberi kesabaran.


"astagfirullah sabar Zara," batin Zara.


"papa suka semua makanan mama ambil semuanya saja untuk papa," kata Lana sambil menikmati tahu bulat buatannya.


Zara mengangguk ia memberikan beberapa masakannya kepiring Fatan.


"Lana selesai makan langsung tidur seperti biasa," kata Fatan dan berlalu pergi membuat Zara sedikit terbengong dengan sifat Fatan.


"Mama temani Lana bobok ya!" Kata Lana, Zara yang tadi bengong segera memfokuskan lagi pada Lana.


"okey tapi tunggu sebentar ya mama mau membereskan ini dulu," kata Zara dan mendapat anggukan setuju dari Lana.


*****


Zara membacakan dongeng pengantar tidur untuk Lana dikamar Lana ia melihat ada beberapa buku dongeng yang tertata rapi dirak kecil samping tempatr tidur Lana.


"papa selalu membacakan dongeng untuk Lana setiap hari kalau papa tidak sibuk," celotehnya khas anak usia 3tahun, Zara menghentikan bacaannya dan fokus mendegarkan tanpa bersuara.


"mama temani Lana terus ya? Jangan pernah tinggalin Lana," pintahnya. Mendengar itu Zara langsung memeluk Lana, "InsyaAllah sayang mama akan temani Lana sampai kapanpun."


Zara menruskan bacaannya sampai tak terdengar lagi suara lucu Lana ia tersenyum saat melihat Lana sudah tertidur, Zara beranjak berdiri memakaikan selimut pada tubuh kecil Lana ia kecup keningnya dan menyalakan lampu tidur setalah ia keluar.


Sebelum masuk kamar Zara kembali kedapur untuk mencuci bekas makan malamnya tadi setelah semua selesai ia segera berjalan menuju kamar saat masuk kamar ia melihat Fatan sudah bersandar di ranjang dengan tangan memegang tabletnya.


Zara berjalan menuju lemari ia mengambil piyama lengan panjang dan segera masuk kekamar mandi. Dengan ragu Zara melangkah keluar kamar mandi Zara sedikit takut karena ini adalah malam pertamanya, Zara terus berfikir apa Fatan akan menuntutnya untuk memenuhi haknya, biarkan waktu yang menjawab itu semua karena dari tadi Zara merasa seperti menghindarinya.


Zara duduk ditepi ranjang ia melihat kearah Fatan yang masih sibuk dengan tabletnya tanpa menghiraukan Zara yang berada di sampingnya.


"Bang!" Panggilnya.


Fatan menoleh pada Zara, Fatan mengerutkan kening saat melihat Zara mengulurkan tangannya dengan perasaan bingung Fatan menyambut uluran tangan Zara.


"Zara tidur dulu bang, maaf jika Zara membuat salah assalamu'alaikilum" salam Zara


Sudah menjadi kebiasaannya saat ingin pergi tidur selalu meminta maaf pada mamanya karena tidak ada yang pernah tahu kapan malaikat pencabut nyawa datang menghampiri kita karena kematian adalah rahasia ilahi.


"Waalaikumsalam" jawab Fatan dengan nada bingung melihat ritual Zara sebelum tidur.


*****


Fatan melihat Zara yang sudah tidur terlentang, ia pandang tubuh kecil itu sejujurnya dia gadis yang baik dan cantik, tapi ia masih belum percaya dengan wanita seprnuhnya. Alasannya karena seorang wanita dimasa lalu masa depannya nyaris hancur. kebodohannya dimasa lalu yang sangat mencintai wanita itu bahkan mungkin sampai saat ini masih sangat ia cintai. Wanita yang memberinya seorang putri cantik, tapi sayangnya wanita yang ia cintai lebih memilih pria lain yang lebih kaya darinya dan meninggalkan putri kecil tanpa dosa bersamanya.


Flasback.


Fatan teringat kejadian tiga tahun lalu dimana dia baru pulang dari perjalanan bisnisnya ia dikejutkan dengan kedatangan Delisa kekasihnya kekantor miliknya dengan menggendong bayi mungil tanpa dosa, dengan senyuman Fatan menyambutnya dan mempersilakan Delisa masuk. Ia sangat yakin bayi mungil yang ada digendongan Delisa adalah anaknya, karena sebulan kepergiannya Delisa memberi tahu bahwa dirinya sedang mengandung hasil dari hubungannya pada malam perpisahannya dulu.


Fatan sempat pulang dari perjalanan bisnisnya hanya untuk menemani Delisa pergi memeriksakan kandungannya tanpa sepengetahuan keluarganya. Ia tidak memberitahukan kondisi Delisa pada kedua orang tuanya begitu pula Delisa ia tidak memberitahukan kondisinya pada orang tuanya karena ia tinggal sendiri di ibu kota. Saat itu Fatan berjanji sepulang dari perjalanan bisnisnya ia akan menikahinya.


"Hay sayang," sapa Fatan "aku sangat merindukanmu, apa dia anakku?" tanyanya.


"ya, dia anakmu dan akan jadi anakmu sendiri,? Kata Delisa membuat Fatan bingung.


"maksudmu apa? Ini anak kita akan menjadi anak kita, lusa aku akan mengajak orang tuaku untuk melamarmu,"


"tidak perlu, aku menyerahkan anak ini padamu, bukannya kamu mau aku mempertahankannya bukan, sekarang anak ini sudah lahir dan aku menyerahkan sepenuhnya padamu,"kata Delisa yang semakin membuat Fatan bingung.


"maksud kamu apa? Aku semakin tidak mengerti," kata Fatan.


"aku akan menikah dengan orang lain yang mungkin lebih dari kamu, dan dia menolak anak ini, aku menyesal mengikuti perintahmu untuk mempertahankan dia waktu itu," kata Delisa membuat Fatan kecewa.


Fatan tidak menyangkah Delisa akan berkata seperti itu, kekasih yang amat ia cintai tega berkata seperti itu. Ia merintis bisnis yang ia jalani sekarang hanya untuk masa depannya nanti bersama Delisa karena Fatan menyadari gaya hidup Delisa yang tidak mau hidup biasa, bahkan ia menerima perjalanan bisnis keluar negeri hanya untuk mengembangkan bisnisnya itupun desakan dari Delisa. Tapi apa yang ia dapat sepulangnya dari perjalanan bisnisnya ia mendapat pengkhianatan dari kekasihnya.


"jangan pernah libatkan aku dengan anak ini lagi aku akana hidup bahagia dengan calon suamiku nanti dan aku tidak ingin kamu datang membawa anak ini padaku," kata Delisa dan menyerahkan bayi mungil itu pada Fatan. Belum sempat Fatan berkata apa-apa Delisa sudah pergi meninggalkannya dengan bayi mungil yang ada digendongannya.


Pada saat itu Fatan berjanji pada bayi yang ada digendongannya untuk bekerja dengan keras untuk membuktikan bahwa dirinya tidak ada bandingannya dengan pria manapun, dia juga bersumpah suatu saat Delisa akan kembali lagi padanya.


"jangan kwatir sayang papa akan menjaga dan merawatmu, papa akan bekerja dengan keras agar mamamu kembali pada papa, kau tahu sayang papa sangat mencintai mamamu," bisik Fatan.


Fatan melihat tubuh kecil itu mengeliat ia segera berbaring dan memejamkan matanya pura-pura ia membuka matanya saat merasakan sisi ranjang bergerak, Zara yang menyadari itu segera meminta maaf pada Fatan.


"maaf Bang Zara membangunkan abang ya?" kata Zara.


Fatan memejamkan matanya kembali tanpa menjawab pertanyaan Zara, Zara mengeluh dan beranjak kekamar mandi.

__ADS_1


Fatan membuka kembali matanya melihat jam yang masih jam setengah dua pagi, Fatan bingung dengan Zara kenapa dia bangun dijam segini dan menjalankan sholat. Sebenarnya Fatan masih belum siap untuk membuka hati kembali untuk wanita lain, tapi Lana selalu menanyakan dimana mamanya dan selalu menangis ingin mempunyai mama, Fatan merasa tidak tega melihatnya akhirnya Fatan menerima saran dari mamanya untuk menikah dengan anak sahabatnya yang belum pernah aku temui sebelumnya.


******


__ADS_2