Short Story About Sadness

Short Story About Sadness
Episode 1 (Si cantik)


__ADS_3

Perkenalkan, namaku Cantik. Orang tua menamakanku begitu karena mereka menginginkanku menjadi anak yang cantik. Dan mujur, aku memang tumbuh menjadi wanita yang cantik.


Aku memang cantik. Semua orang yang mengenalku mengakui hal itu. Wajahku oval dengan hidung mancung dan mata yang indah. Bibirku merah segar meski tanpa pemoles. Kulitku putih halus dan akan nampak kemerah-merahan jika panas matahari menyinari, bagai buah ranum yang setiap lelaki ingin memetiknya,” kata Om Naryo, salah satu fansku.


Rambutku hitam bergelombang. Tubuhku sintal dengan dada membusung. Badanku akan terlihat gemulai jika aku berjalan.


“Bak gitar atau biola yang setip lelaki ingin memainkannya,” ujar Om Doni, fansku yang lain.


Aku memang cantik. Semua orang pasti mengakuinya. Jika ada yang tidak setuju dengan pendapat itu, maka orang itu biasanya iri dengan kecantikanku. Para lelaki hidung belang sangat memujaku. Mereka selalu memimpikanku untuk mereka miliki. Mereka selalu mendekati dan berharap dapat menikmati tubuhku, membelai kulit putihku, dan merasakan segarnya bibir merahku.


Tetapi, banyak sekali wanita yang membenciku. Mereka tidak suka jika para suami atau ayah mereka mendekatiku.


***


Suatu hari di rumah Pak Nata.


“Pantas saja beberapa hari ini nggak pulang. Rupanya ngebooking perempuan ****** itu lagi,” teriak bu Ria, istri pak Nata.


“Sabar, Bu, sabar. Mana ada aku pergi main perempuan? Aku kan mencari uang untuk kamu. Nih…,” jawab pak Nata tenang. Disodorkannya beberapa lembar uang lima puluh ribuan pada istrinya. Masih dengan cemberut, bu Ria menerima uang itu.


“Ya, sudah. Mandi dulu sana. Air hangatnya sudah siap,” suara bu Ria melunak. Ia tak lagi sewot seperti sebelumnya.


“Untung tak ketahuan,” batin pak Nata sambil mengusap dada. Diingatnya lagi tadi malam saat ia menyalipkan beberapa lembar ratusan ribu pada belahan dada si Cantik.


***

__ADS_1


Aku memang cantik. Aku tak bosan mengatakan hal itu karena aku memang cantik. Banyak lelaki bertekuk lutut karena kecantikanku. Tetapi, sebenarnya modalku bukan hanya kecantikan wajah. Ada rahasia-rahasia lain yang kumiliki untuk membuat kaum Adam tak berdaya.


Ingin tahu rahasianya? Ssst…. ini antara kita saja. Orang lain tak usah tahu. Pertama, aku selalu bertutur kata halus dan lembut agar meraih simpati semua orang terutama para pria. Malahan, terkadang aku pun mengenakan kerudung gaul dan baju panjang. Bukan untuk menutupi aurat, melainkan untuk menutupi profesiku sebenarnya.


Kedua, aku selalu memperlakukan lelaki sesuai dengan yang mereka inginkan. Aku tahu pasti dimana letak kelemahan mereka dan aku pun punya cara agar mereka bisa berpaling dari para istrinya.


Dan yang ketiga, Ssst…ini yang paling rahasia, sebenarnya aku menggunakan sedikit pelet, susuk, dan jampi-jampi dari Mbah Dukun kepercayaanku supaya profesiku ini laku keras.


***


Di rumah Pak Ryan


“Prang…”


Suara piring pecah membuka suasana pagi. Wajah pria itu terlihat merah dan membesi. Piring yang barusan di lemparnya pecah berkeping-keping.


“Tapi… aku melihat sendiri kamu pergi dengan perempuan itu,” Ujar bu Noni, di sela isak tangis.


“Dengar! Aku pergi dengannya hanya untuk urusan bisnis. Kamu dengar? Hanya untuk urusan bisnis. Tak lebih dari itu. Dasar perempuan tak tahu diuntung!” ujarnya garang. Dibantingnya pintu dan kemudian ia pun pergi. Bayangan si Cantik menari-nari di pelupuk matanya. Ingin sekali hatinya untuk segera memeluk boneka itu.


***


Aku memang cantik. Aku tak takut dengan ketuaan yang menggerogoti karena aku telah memakai susuk dari Mbah dukun. Aku pun tak takut dengan kemarahan suamiku jika ia tahu keberadaanku dengan lelaki lain. Malahan, ia sangat mendukung profesiku karena ia tak perlu capek-capek cari uang. Anak-anakku pun, yang juga sama cantiknya sepertiku, mendukung pekerjaanku.


Dan pada mereka, yang aku sendiri tak tahu lelaki mana yang menjadi bapak mereka, ku ajarkan bagaimana caranya menekuni bidang ini. Siapa tahu mereka tertarik dengan apa yang kulakukan. Karena mereka pun tahu bahwa profesi ini sangat menjanjikan, hi…hi…hi..

__ADS_1


Mungkin ada sebagian yang heran kenapa keluargaku begitu kompak. Jawabannya adalah karena aku selalu menggunakan mantra penakluk dari mbah dukun kesayanganku. Selain itu, mungkin karena nasibku yang selalu mujur bahwa aku memiliki wajah cantik dan juga keluarga yang sangat mendukung.


***


Di penghujung malam yang dingin


Bu Dina masih bersimpuh pada sajadahnya. Mulutnya komat-kamit dengan kedua angan terangkat. Butiran air mata membasahi kelopak dan bulu-bulu matanya.


“Ya Allah. Sadarkanlah suamiku dari apa yang selama ini diperbuatnya. Yang dia lakukan telah lebih dari sekedar menyakiti hamba sebagai istrinya, tetapi juga telah keluar dari jalan-Mu, yaitu selalu berzina dengan perempuan ******.


Kehidupan kami pun menjadi hancur setelah ia sering pergi pada perempuan itu. Hati ini terasa sangat sakit dan hamba yakin bahwa banyak wanita-wanita lain yang merasa sakit karena perselingkuhan suaminya. Karena itu, sadarkanlah mereka, suami hamba dan juga perempuan itu. Jika tidak, maka hamba serahkan semuanya pada-Mu, yang Maha Mengetahui dan Menguasai,”


***


Kukatakan sekali lagi, aku memang cantik. Aku tak bosan dan tak akan pernah bosan mengatakan kalimat itu, seperti halnya om Diki yang tak pernah bosan merayuku untuk menjadikanku isteri kesekiannya. Tapi aku tak mau sedikit pun untuk menjadi isteri dari para penggemarku.


Yang kuinginkan dari mereka hanyalah uang, tak lebih dari itu. Masih kuingat kata-kata rayuan Om beristeri tujuh beranak sembilan ini.


“Kamu begitu hebat. Permainanmu lincah dan menggemaskan. Akan kuberikan semua yang kamu minta jika kamu bersedia menjadi istriku,” ujarnya.


Tapi segala rayuan yang ia lontarkan bahwa aku cantik, bahwa aku hebat tak akan mempan bagiku. Aku tak perlu rayuan itu, aku tak butuh kegombalan itu. Aku sudah merasa cukup puas jika berhasil membuat para pria bertekuk lutut, dan para wanita merasa sakit hati dan mengecamku. Ada kepuasan tersendiri jika aku melakukan hal itu.


Dan selain itu, tentu karena uang. Jika uang tersedia, maka si cantik dengan segala kehebatannya menjadi milikmu. Tak percaya?


~ ***The End*** ~

__ADS_1


Nah ini cerita tentang si cantik, terima kasih bagi kalian yang membaca.


__ADS_2