Short Story About Sadness

Short Story About Sadness
Episode 33 (Kini aku mengerti)


__ADS_3

Getaran handphoneku bener-bener bikin aku pusing. Emang sihh, gak biasanya aku sebel sama getaran handphoneku. Tapi kali ini bener-bener beda, sangat berbeda dari biasanya. Karena getaran itu menandakan ada sms dari orang yang sebenernya aku sayang.


Aku mengenalnya cukup lama, aku pernah bertatap muka dengannya sekali, itupun hanya kebetulan. Yunaz namanya. Aku lebih mengenalnya dekat hanya lewat dunia maya. Dia juga termasuk sahabatku yang pengertian. Kalo dilihat dari sisi kepribadiannya, dia memang cukup menjadi idaman setiap cewek.


Sejak kemarin sore, dia terus mengirim pesan yang menurutku terlalu romantis. Aku sadar, dia menyukaiku bahkan lebih dari itu. Awal aku mengenalnya, aku memutuskan untuk menjadikannya seorang sahabat sejatiku.


Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku sekarang mulai menyukainya padahal niat awalku hanya ingin bersahabat dengannya, tapi aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang timbul dari fikiranku itu sendiri. Belum sampai aku menemukan jawaban itu, getaran handphoneku kembali menggangguku.


Lagi-lagi Yunaz yang mengirimiku pesan. Dia kembali memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku mulai bingung untuk membalasnya. Mungkin karena aku terlalu lama memberinya jawaban, dia memberiku pesan kosong sebanyak 3 kali. Aku mulai takut untuk memberi jawaban padanya. Andai saja aku bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya kurasakan saat ini padanya, pasti dia juga bakal seneng.


Tapi hidup tak semudah itu. Hidup ini penuh dengan pilihan. Termasuk untuk memilih keputusan untuk menjawab permintaan darinya. Bahkan kurasa itu adalah soal tersulit, terumit yang pernah kutemui. Aku belum pernah mendapatkan soal itu sebelumnya, jadi secara kalo aku gaa bisa jawab.


Kini Aku Mengerti


Sebenarnya, untuk menjawab itu mudah. Tapi mempertimbangkannya yang sulit. Aku harus bisa memandang ke depan, bagaimana keadaan setelahnya.


Kurasa jika aku memilih Yunaz menjadi kekasihku itu lebih buruk daripada aku menolaknya. Tidak hanya dalam satu pandangan, disisi lain, kalo aku nolak Yunaz aku takut dia dendam denganku dan aku akan kehilangan dia sebagai sahabatku dan akan berubah menjadi musuhku. Aku tak ingin itu terjadi.


Akhirnya aku putuskan untuk menerimanya. Dia sangat senang dengan jawabanku ini, begitu pula aku. Aku juga merasakan hal yang sama seperti Yunaz. Aku dan dia sama-sama senang dengan hubungan yang lebih dari sepasang sahabat sejati. Tak lama kemudian aku berfikir, apakah aku akan bisa selamanya bahagia bersamanya ?.


Hari ini aku harus pergi ke sekolah. Seperti hari-hari biasa saat sekolah, aku duduk bersama Nana, sahabat karibku sejak awal menduduki tingkat SMP. Saat istirahat tiba, aku menceritakan apa yang berubah dari statusku. Nana terkejut mendengar apa yang kuceritakan. Ia tak mengira aku bisa mengubah statusku dari lajang menjadi berpacaran.


Karena sebelum-sebelumnya dia mengenalku sebagai wanita yang tak pernah memiliki rasa kepada orang lain. Kali ini ceritanya beda, aku memang sudah lama memendam rasa ini sejak bertemu dengannya saat aku dinner bareng temen”ku di sebuah restaurant yang cukup ramai. Nana hanya tersenyum senang mendengar cerita itu.


Sepulang sekolah aku langsung menuju kamar untuk membuka handphoneku. Ternyata ada pesan dari Yunaz, dia memberiku semangat untuk belajar giat. Tapi sayang aku baru membacanya, kalo aja aku baca sebelum berangkat sekolah, pasti Ulangan Harianku tadi bisa dapet nilai sempurna. Aku membalasnya dengan ucapan terima kasih. Aku sangat senang dengan posisiku sekarang, memiliki orang yang begitu perhatian dan bisa menjadi inspirasiku.

__ADS_1


“Nez, makan dulu nih, udah Mama siapin makan siangnya. Jangan lupa minum vitaminnya.” Ajak mama untuk makan siang bersama.


“Iya Ma, Nezti ganti baju dulu ya Ma. Habis itu langsung ke ruang makan.” Jawabku dengan menyertakan alasan.


“Cepetan ya Nez, udah ditungguin Dede’ tuh !.” kata Mama agak sebel gara” aku cukup lama.


“Ok Ma, !.” jawabku simple.


Aku segera menuju ruang makan untuk makan bareng Mama dan Dede’ tersayangku. Aku tiba-tiba pengen mandang Mama dalam-dalam. Aku gaa tau kenapa aku jadi seperti ini. Aku merasakan ada yang berbeda dengan perasaanku.


“Nez, kenapa liatin Mama kayak gitu ? cepetan makan dulu. Habis itu bantuin Mama beres-beres.” Tegur Mama.


“Ehh.. Ii iya Ma, siiph. Prajurit siap komandan.” Jawabku sedikit kaget mendengar kata-kata dari Mama.


Selesai makan siang aku segera membantu Mamaku membereskan meja makan. Setelahnya aku belajar untuk pelajaran besok. Tapi belum sampai aku membuka buku materiku, aku merasa lemas disertai pusing sehingga buku yang kubawa terjatuh. Tak terasa ada darah yang menetes dari hidungku.


Keesokan harinya aku tetap menjalani hari-hariku seperti biasa. Meski sedikit ada yang berbeda, hari ini aku berangkat menggunakan mobil pribadi Nana karena Papa gaa bisa anterin aku ke sekolah. Papa sedang ada urusan bisnis ke luar kota. Aku senang hari ini aku bisa berangkat bareng Nana. Dia juga seneng bisa bareng sama aku, kan di mobil bisa bercanda bareng.


Tengah asyik bercanda aku ngerasa kepalaku seakan begitu berat dan tak bisa menggeleng. Tapi aku tak menunjukkannya pada Nana, aku takut dia khawatir denganku. Sampai di sekolah aku langsung menuju bangkuku dan tak duduk terlebih dahulu di depan kelas seperti biasa. Nana terlihat begitu memperhatikanku, sehingga kuputuskan untuk kembali ke depan dan bergurau bersama temen” yang laen, padahal asal mereka tau aku merasakan begitu sakit di kepalaku ini.


Jam pelajaran pun usai. Aku hari ini seperti tadi saat berangkat, pulang pun aku bareng sama Nana. Sampainya di rumah aku langsung menuju kamar dan membuka HPku sebentar untuk mengecek pesan yang masuk. Ternyata ada 7 pesan. 3 dari Yunaz dan 4 dari teman sekolahku. Aku hanya membacanya dan tak membalasnya. Setelah itu aku langsung berbaring di tempat tidurku karena aku tak kuat merasakan sakit ini.


Aku terbangun dari tidurku, tapi aku tak mendapati aku berada di dalam kamar pribadiku. Aku ada di sebuah ruangan yang asing bagiku. Rasanya di ruangan ini begitu dingin, disampingku ada Papa, Mama, dan Dede’. Aku senang karena Papa sudah pulang, padahal di jadwal Papa baru pulang lusa depan.


“Pa, Ma, kakak kenapa ?.” Tanya Dede’ku

__ADS_1


“gapapa Dede’. Kakak cuma capek aja.” Jawab Papa


Akhirnya masuklah tante dan omku, mereka hanya menyapaku dan tak mengobrol denganku. Tapi aku melihat mata mereka merah seperti bekas menangis. Mereka mengajak Dede’ keluar dari ruangan. Aku bingung kenapa aku bisa nyasar ke tempat ini. Padahal sebelumnya aku tidur di kamarku, bukan di ruangan dingin ini.


“Pa, aku seneng Papa udah pulang dan bisa ada disamping aku lagi.” Kataku penuh kebahagiaan.


“Iya sayang, Papa juga seneng bisa disamping kamu lagi. Habis jadwal Papa terlalu panjang, jadi Papa wakilin aja ke Om Didik. Kan dia juga bisa urusin bisnis Papa.” Kata Papa dengan alasan panjang lebar.


**SELANJUTNYA DI PART 2


***Baca juga cerita aku yang lain biar bisa saling support.


Judulnya :


1.Balas Dendam Ratu (Tamat)


2.Budak Gadis Imut


3.Sora Yang Pemalas (Tamat)


4.Cinta Jatuh (Tamat)



Protagonis Sang Pemilik Harem***

__ADS_1



:) maaf ya baru update*****


__ADS_2