Short Story About Sadness

Short Story About Sadness
Episode 22 {Spesial Ramadhan} (Ramadhan di tengah pandemik Corona)


__ADS_3

Ramadhan adalah bulan suci yang sangat dinanti oleh umat Islam seluruh dunia. Tapi di Ramadhan 1441 Hijriah tahun ini, tidak seperti biasanya. Pandemik Covid-19 telah memudarkan harapan umat muslim untuk melakukan kegiatan yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan yaitu Sholat Tarawih, buka bersama, Sahur di Jalan (2), dan masih banyak kegiatan yang lainnya.


Nama ku Naina. Aku berasal dari ujung pulau paling barat di Indonesia yaitu Aceh. Aku dan keluarga tinggal di sebuah desa. Suasana tenang yang sejuk, indah, nyaman dan belum tersentuh oleh tanah.


Saat bulan Ramadhan akan dimulai, seluruh umat Islam akan bersuka-cita menyambut bulan suci yang penuh berkah, khusus di daerah ku, antusias dan kegembiraan sangat terasa.


Tidak terkecuali dengan Umi ku (sebutan untuk Ibu ku), berangkat ke pasar sejak pagi untuk membeli daging dan kebutuhan lainnya untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.


Di daerah ku disebut istilah 'Meugang' dalam bahasa Aceh atau istilah 'Munggah' dalam bahasa Sunda. Meugang dilakukan satu atau dua hari sebelum puasa.


Aku pun bersorak riang. “Horeee, bulan puasa telah tiba. Mulai nanti malam aku akan Sholat Tarawih berjama'ah bersama keluarga dan teman-teman ku di masjid yang ada di desa ku. Lalu akan dilanjutkan dengan tadarus.


"Assalamualaikum," terdengar suara Umi yang baru pulang dari pasar. "Waalaikumsalam Umi," jawab ku.


Umi langsung melewati ke dapur. Lalu Umi langsung memasak daging rendang. Itu adalah masakan favorit keluarga ku. Setelah selesai memasak, Umi menyiapkan masakan ke dalam piring. Aku pun membantu membawakan masakan ke meja makan.


Setelah rapi, lalu seluruh keluarga berkumpul, dan kami pun makan bersama-sama. Istilah makan bersama dalam bahasa Aceh adalah 'Meuramin' atau dalam bahasa Sunda adalah 'Papahare'.


Sementara anak laki-laki siap menyiapkan pentungan, kaleng bekas dan beduk. Semua ini akan digunakan untuk berkeliling desa dan membangun warga untuk sahur.


Suara pentungan, bekas pakai dan beduk terdengar riuh. Sambil berteriak, “Sahuuuurrrrr… .sahuuuurrrrr… ..sahuuuurrrr… .sahuuuurrrr.”


Kegiatan seperti ini sangat membantu warga dan merupakan suatu kebahagiaan khusus untuk anak-anak. Tapi sayang, Virus Corona sudah menunggu masyarakat untuk 'Menginap di Rumah ”.


Lebih dari Kementerian Agama menghimbau agar umat Islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa Ramadhan di rumah saja (3).


“Dalam rangka untuk mencegah perpindahan yang lebih luas dari wabah (Covid-19) yang sedang mewabah di Indonesia dihimbau agar melaksanakan ibadah baik itu sholat dan segala aktivitas yang berkaitan dengan datangnya bulan suci Ramadhan diharapkan untuk tetap bertahan di rumah,” kata Dirjen Bimas Islam Prof Phil. H. komaruddin Amin, MA., Dalam sebuah konferensi video.


“Mulai dari pelaksanaan ibadah puasa agar dapat dilaksanakan sesuai dengan fiqih puasa dan dalam pelaksanaan ibadah puasa ini kita harap buka puasa bersama ditiadakan, Sholat Tarawih dilaksanakan di rumah masing-masing, kemudian Nuzulul Quran juga ditiadakan, sehingga juga dilakukan tadarus di masjid ditiadakan.


Aku agak terkejut mendengar berita ini, aku langung membahas untuk Umi. “Umi, aku baru saja mendengar berita tentang semua kegiatan ibadah bulan Ramadhan harus dilaksanakan di rumah. Bagaimana ini Umi? Tanya ku ke Umi.


Umi menjawab. “Sabar ya Nai, semua ini kehendak Allah SWT. Kita tidak bisa melakukan apa pun selain berdoa dan tawaqal untuk-Nya. Keputusan ini diambil untuk mencegah penyebaran Virus Corona, ”ucap Umi. "Ya Umi," jawab ku dengan sedikit kecewa.


Yang lebih menarik lagi, Kemenag juga meminta seluruh masyarakat untuk tidak mudik atau pulang kampung saat diminta Idul Fitri 1441 H.


"Ya Tuhan ku, cobaan ini begitu besar." Lirih hati ku


Mudik adalah tradisi yang sudah berlangsung dari jaman ke jaman. Seolah mudik itu wajib dilakukan pada saat lebaran tiba. Selain sungkeman dengan orang tua, kumpul bersama keluarga, dan berziarah ke makam sanak saudara yang telah meninggal dunia.


Aku juga membahas soal ini dengan Umi. "Umi kita akan mudik kan ?. Aku ingin bertemu Kakek, Nenek dan keluarga yang lain. ” Kata ku.


Umi hanya tersenyum dan menjawab. "Kita berdoa saja ya Nai, semoga Virus Corona bisa segera berakhir dan kita bisa mudik ya," jawab Umi.

__ADS_1


Aku pun terdiam seribu bahasa.


Atas dasar himbauan dari Kemenag tersebut, maka masjid pun mengikuti aturan tersebut (4).


Masjid adalah tempat suci, rumah ibadah umat Islam. Jika Ramadhan tiba, maka masyarakat akan berbondong-bondong memenuhi masjid untuk melaksanakan ibadah Sholat Tarawih berjama'ah.


Selain Sholat Tarawih berjama'ah, kegiatan lain yang biasanya dilakukan di masjid pada bulan Ramadhan adalah berbuka puasa bersama, tadarus, I'tiqah dan masih banyak lagi. Tapi untuk kali ini ditiadakan.


Hanya dapat menetapkan zakat fitrah dan santunan anak yatim yang akan dilaksanakan. Dengan catatan untuk santunan anak yatim juga akan dilaksanakan secara online.


“Santunan yatim ini pun, pada dasarnya mereka tidak datang ke sini, tapi melalui sistem daring. Tautan terkait sudah saya sebar di semua yayasan, sudah banyak yang terdata, ”jelas pengurus masjid.


Tidak sampai di situ saja. Untuk membuka para jama'ah, pengelola masjid pun menutup gerbang masuk dan memasang himbauan di kawasan masjid yang akan dibuka seperti kebijakan yang disuarakan oleh Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia.


"Masyaallah." Aku mengelus dada. Ini adalah ujian terberat untuk umat Islam.


Aku teringat bulan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Aku dan keluarga ku selalu melaksanakan ibadah Sholat Tarawih di masjid.


Begitu juga dengan berbuka bersama. Kami mengundang saudara, sahabat dan handai taulan untuk berbuka puasa bersama sehingga bisa mempererat silaturrahmi.


“Tapi kita tidak boleh kecewa. Ujian pasti akan berakhir. " Guman ku.


Tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Semua cobaan ini harus kita hadapi.


Saya sangat setuju dengan artikel ini.


“Puasa di bulan suci Ramadhan hanya dilakukan selama satu tahun sekali. Meskipun Ramadhan tahun ini diwarnai dengan tantangan Pandemik Covid-19, namun kegembiraan dan semangat untuk menyambutnya tak dapat diterima, ”ujar Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Selatan, Cokky Guntara.


“Banyak hikmah yang bisa dipetik di balik Pandemik ini, Apa itu? Yakni umat muslim bisa punya banyak waktu untuk menjalankan amalan baik seperti membaca Al-Quran, ”tambah Cokky.


Saatnya kita sebagai masyarakat untuk merenung sebentar. Karena kesibukan di luar rumah yang menjadi rutinitas, seperti bekerja, berbisnis atau bepergian menghabiskan waktu.


Umi juga berpesan untuk ku. “Naina, di tengah Pandemik Covid-19, mari kita fokus untuk ibadat puasa, perbanyak amalan baik, maka ibadah puasa yang kita lakukan berkualitas dan terhindar dari perbuatan yang merusak pahala puasa,” ucap Umi.


"Baik Umi," jawab ku.


Yang lebih mengkhawatirkan saat ini, menyebarkan Virus Corona yang semakin meningkatkan dampak pada sosial di berbagai sektor, yaitu mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi hingga aktivitas beribadah di masyarakat (6).


Sampai 30 Maret 2020 sudah diterima yang positif ada 1,414 kasus, diselesaikan 75 kasus, dan meninggal 122 kasus.


Pandemik Covid-19, juga berharap untuk Pemerintah selain untuk menangani Pandemik Covid-19, juga. Jika kesejahteraan masyarakat diabaikan, dikuatirkan akan menyetujui 'verifikasi sosial' yang masif di masyarakat.


Pandemik Covid-19 merupakan bentuk bahaya (hazard) yang memiliki potensi bahaya segi aspek masyarakat. Kondisi kritis (Kerentanan Sosial) menjadi kenyataan nyata yang terjadi pada masyarakat dalam kesulitan Pandemik Covid-19. Kerusakan sosial menjadi posisi kritis masyarakat (Memperbaiki Komunitas) memperbaiki guncangan (Syok) akibat Pandemik Covid-19.

__ADS_1


Sejenak aku terdiam. Sore itu aku sedang duduk di teras, sambil menonton hamparan sawah yang indah.


Di pikiran ku berkecamuk tentang apa yang akan terjadi dengan masyarakat jika wabah Virus Corona atau Covid-19 tidak segera bisa diatasi.


Instruksi penyetelan fisik tidak berjalan dengan efektif. Karena pertimbangan fisik menjauhkan dari pertimbangan sosial pada masyarakat. Khususnya masyarakat yang memiliki status pekerjaan informal yang sumber pemasukan ekonominya didapat sehari-hari dan tidak memiliki penerima pokok tetap. (Seperti pedagang dan ojek online).


Berdasarkan data Survei A Angkatan Kerja Nasional Statistik 2019. Jumlah masyarakat yang berstatus pekerja formal sebanyak 55.272.968 orang dan masyarakat yang berstatus pekerja informal sebanyak 74.093.224 orang (7).


Data ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang bekerja di sektor informal, dan ini yang membuat masyarakat tidak melakukan jarak fisik karena untuk mempertahankan keberlanjutan ekonomi petani.


Dampak tanggapan sosial yang lebih signifikan lagi adalah masyarakat akan melakukan tiga tindakan yang saling terkait, yaitu tindakan apatis, tindakan irasional dan tindakan kriminal (8). Hal ini dapat dilihat pada fenomena di masyarakat yang terjadi saat ini.


Aku memang melihat fenomena di masyarakat saat ini, salah satu contoh tindakan apatis yaitu Pemerintah telah menginstruksikan untuk jarak fisik dan tidak boleh mudik ke kampung. Tapi apa yang terjadi, masyarakat tidak menggubris pelaksanaan tersebut.


Selain tindakan apatis, masyarakat juga melakukan tindakan irasional yaitu salah satunya dengan percaya bahan-bahan dan metode pengganti agar tidak ditolak Covid-19. Contohnya dengan metode berjemur di bawah matahari dan menghabiskan udara perasan jeruk nipis dan agar-agar terhindar dari Virus Corona.


Yang tak kalah maraknya adalah tindakan kriminal. Banyaknya terjadi pencurian, penjambretan, pencopetan, pemulihan, penjarahan bahkan pembunuhan.


Pandemik Covid-19, dapatkah kita bahas dari berbagai media yang sudah mulai terjadi di negara-negara lain (seperti Italia, India, Cina, Amerika), bahkan di Indonesia.


Sudah semestinya Pemerintah memperhatikan aspek sosial di masyarakat sebelum meminta kebijakan jarak fisik, karantina wilayah atau kuncian. Maka masyarakat akan mendukung kebijakan pemerintah.


Dalam hati ku berdoa. "Semoga dengan datangnya bulan Ramadhan ini, semua masalah yang ada di hadapi bangsa ini dan seluruh negara yang dapat mengatasi Covid-19 dapat segera teratasi," ucap ku dalam hati.


Akhirnya setelah berbuka puasa, aku dipanggil Umi. "Umi, kita Sholat Tarawih mana?" Tanya ku. "Lebih baik kita mengikuti instruksi Pemerintah saja, jadi kita Sholat Tarawih berjama'ah di rumah saja ya." Jawab Umi.


Lalu aku dan keluargaku mengatur di ruang tengah dan melaksanakan Sholat Tarawih berjama'ah di ruang. Kemudian di lanjutkan dengan tadarus dan berdoa bersama.


Aku pun menerima tantangan yang terjadi saat ini. Meski ditengah Covid-19, ibadah puasa tetap dilakukan dengan penuh suka cita dan gembira.


*The End


Jangan terlarut pada kesedihan ya,,, walau author suka bikin cerita sedih bukan berarti author orang nya sedih terus, malahan author periang lo. Selamat menjalankan puasa terakhir ini dengan semangat. (23 Mei 2020)


Baca juga cerita aku yang lain biar bisa saling support.


Judulnya :


1.Balas Dendam Ratu (Tamat)


2.Budak Gadis Imut


3.Sora Yang Pemalas (Tamat)

__ADS_1


4.Cinta Jatuh (Tamat*)


__ADS_2