Short Story About Sadness

Short Story About Sadness
Episode 3 (Aku wanita)


__ADS_3

Kuikat kata dalam mata batinku; kuredam rasa dalam sanubariku; kutelan sakit yang merajai; dan harus kukatakan dengan tegar: aku adalah wanita.


Kurangakaikan kata demi kata, dan setelah sekian lama semua tercipta menjadi sebuah pengungkapan dari alunan kepedihan. Kepedihan yang telah mengeras yang kemudian menjadikan jiwaku membatu.


Ingin kubagi duka-lara, pada siapa aku bisa menyandarkan asa. Ingin kuungkapkan kepedihan, dengan siapa aku bisa merasakan kebahagiaan dan cinta.


Angan adalah tunas dari sebuah asa; khayal adalah impian dan keinginan. Setelah sekian lama aku hidup dalam lumpur kepedihan, dalam sebuah rumah tangga yang membuat rasaku sebagai wanita terhempaskan maka salahkah bila aku berangan untuk mendapat kebahagiaan yang nyata?


Salahkah jika aku berkhayal bahwa aku, wanita, ingin dihargai seutuhnya? Dan salahkah aku jika akibat dari perlakuan mengerikan dari partner hidupku, maka aku lalu memimpikan kasih sayang yang lain?


Aku adalah seorang istri; aku adalah manusia. Kebutuhanku sebagai seorang istri lebih dari sekedar permainan di atas ranjang. Aku butuh lebih dari sekedar materi, kedudukan, ataupun gelar bahwa aku adalah istri yang baik dan penurut. Perasaanku adalah sebagai wanita seutuhnya yang ingin perhatian, kasih sayang dan kelembutan.

__ADS_1


Aku merasa kesepian tatkala suamiku sering membiarkan aku kedinginan bermalam-malam. Aku merasa sakit hati tatkala ia dengan sengaja memasukkan perempuan diantara kami yang kemudian semakin menghempaskan perasaanku sebagai seorang istri, sebagai seorang wanita.


Aku bukanlah robot yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhannya, sementara ia mengabaikan kebutuhanku. Aku bukanlah sukarelawan yang harus selalu memperhatikannya dan tak boleh mengharapkan imbalan sedikit pun yang sebenarnya sangat kuinginkan: perhatian dan kasih sayangnya.


Bahwasanya kehidupan yang selama ini kujalani tidaklah begitu menyenangkan sehingga aku berharap seseorang datang mengeluarkanku dari ketidakpastian yang menjemukan ini.


Namun atas dasar apapun, aku, wanita, pada akhirnya tetap harus melalui ketentuan. Aku harus siap setiap kali suamiku membutuhkanku. Aku harus tetap mengurus rumah tangga. Aku harus tetap melakukan semua kewajiban meski suamiku bahkan telah lupa bahwa dia pun harus juga melakukan kewajibannya.


Bukanlah ia yang membiarkan aku lelah dan sedih. Bukanlah ia yang bahkan tak tahu betapa cantiknya aku, betapa berharganya aku. Bukanlah ia yang memarahi dan menamparku saat aku melakukan kesalahan. Bukanlah ia yang selalu marah dan beringas saat problema melanda.


Kekasih adalah jiwa terindah yang pernah tercipta setiap dekapnya janjikan kedamaian tuturnya adalah untaian cinta dan kelembutan dan semua tentangnya adalah lukisan indah tentang kebahagiaan Dan aku terpasung pada dinding sepi yang mendingin gelap bertaut di setiap relung mengiris dan merambati dinding hati kemudian aku terhempas dalam bimbang dan keputusasaan.

__ADS_1


Namun berapa banyak pun perempuan yang menjadi mainan atau bahkan menjadi maduku, maka tak boleh sedikitpun bagiku untuk menerima dan memberi bahkan hanya untuk satu cinta yang lain. Semua perasaan itu harus kuredam karena terbentur oleh norma yang mengikat.


Baca juga: Kata kata LDR Buat Kamu yang Menjalani Hubungan Jarak Jauh


Aku tak butuh orang membenarkan perkataanku. Aku tak butuh justifikasi atas apapun atas apa yang kulakukan. Aku hanya ingin hidup damai dan bahagia bersama orang yang kucintai, bersama orang yang rela menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.


Dan andai saja tak ada norma apapun yang mengikat, andai saja aku hidup di negri dongeng, negeri angan dan khayal, maka dengan mudahnya aku akan memilih jalanku untuk hidup bersama kekasih dalam kebahagiaan. Dan aku selalu menunggu tibanya kebahagiaan. Mungkinkah ??


~***The End**~


Wanita selalu ingin dihargai, sekuat apapun wanita di matamu, dia pasti memiliki kerapuhan*.

__ADS_1


__ADS_2