Short Story About Sadness

Short Story About Sadness
Episode 11 (Dari balik tirai)


__ADS_3

Di seberang sebuah hotel, saat matahari tertutup awan.


Wanita itu bersimpuh pada jalanan yang becek. Tangannya mempermainkan sisa-sia hujan tadi malam. Rambut kusutnya beriap diterpa angin pagi hingga tampak jelaslah wajah rupawannya.


Sebuah longdress kumal membalut tubuh sintalnya yang kotor. Namun sobekan di beberapa bagian membuat kulit putihnya jelas terlihat. Ia nampak tertegun tatkala seorang pejalan kaki melemparkan kepingan uang receh padanya.


Ditatapnya orang tersebut dengan bibir komat-kamit layaknya sedang melafalkan do’a atau mantra. Mungkin ia mengucapkan terima kasih atau mungkin juga berusaha menyapa dan mengajak berbincang-bincang pada pejalan kaki tersebut, karena di hari sepagi itu belum ada seorang pun yang bisa ia ajak bicara kecuali tetasan-tetesan air hujan yang masih menggenang.


Bahkan mataharipun seakan enggan untuk sedikit beramah-tamah dan menghangatkan alam. Ia tetap bersembunyi dibalik awan hitam yang sejak semalam menggayuti.


“Bukan, bukan,” bisiknya sambil menatap pejalan kaki tersebut. Ia pun segera menundukkan wajah sambil terus mempermainkan genangan air dengan jari-jari tangannya.


Sebuah mobil mewah berhenti di halaman parkir hotel tersebut, dan tampaklah seorang pria dan wanita berjalan menuju pintu hotel.


Ia mengangkat wajah dan memandang kedua insan tersebut. Namun kemudian ia menggelengkan kepala dengan dahi mengkerut.


“Bukan, bukan,” gumamnya. Wajahnya kembali menunduk.


Hari beranjak siang. Hotel mulai ramai oleh para pengunjung dan jalan dipenuhi oleh kendaraan dan para pejalan kaki. Ia segera menegakkan wajah dan matanya meneliti satu persatu dari setiap orang yang dilihatnya.


“Ah, bukan. Tak ada satupun. Tak ada..,” ucapnya lesu. Wajahnya menampakkan kekecewaan namun matanya tetap meneliti. Ia sama sekali tak mempedulikan kepingan-kepingan uang receh yang berhamburan di hadapannya, yang dilemparkan oleh para pejalan kaki


Matahari semakin meninggi dan membakar kulit. Awan hitam musnah seketika. Kesibukan kota siang itu mulai terlihat seperti biasanya. Kendaraan berlalu lalang menebar asap yang menyesakkan. Deru bis kota bersahutan dengan teriakan pengamen yang menyuguhkan tembang-tembang. Para pedagang kaki lima dan kedai-kedai makanan di penuhi pembeli. Harum makanan menggelitik hidung, membuat perut keroncongan di siang hari bolong begitu.


Namun wanita tersebut seperti tak terganggu oleh suasana yang ada. Kedua matanya tetap memandangi dan meneliti para tamu hotel dan setiap orang yang lewat di hadapannya, namun berkali-kali pula ia menggelengkan kepala. Bibirnya terus berkomat-kamit dan sesekali tangannya menggaruk tubuh yang dihinggapi lalat dan nyamuk.


Ketika matahari telah bergulir ke sebelah barat, wanita itu tetap dalam penantian. Raut mukanya terlihat resah. Desisan sesekali terdengar dari mulutnya yang kadang diselingi oleh cipratan ludah.


Hingga warna jingga membayangi langit dan kemudian matahari perlahan mulai tenggelam, kedua matanya masih tetap meneliti dan mencari-cari. Ia tak beranjak dari tempat itu kecuali saat mengais sisa makanan dari tong sampah.


“Dia… mana dia? Mengapa tak datang juga? Kemanakah dia?” Bibir keringnya bergumam. Tangannya mengusap wajah pucatnnya. Matanya dengan nanar memandang orang-orang yang masih tersisa di penghujung hari. Lesu, lelah, putus asa….


Akhirnya dengan lemas ia merebahkan tubuh dan dengan segera matanya terpejam. Rambut kusamnya menutupi wajah dan bagian dada yang sedikit terbuka. Sisa-sisa makanan yang tadi ia dapat dari tong sampah berceceran di sampingnya.


Namun ia tak peduli. Ia tertidur dalam rasa lelah dan penat, beralaskan bumi, beratapkan langit, dan berselimutkan udara malam gemintang berkelip, mengucapkan selamat malam padanya.


***

__ADS_1


Di malam itu, di sebuah kamar hotel yang temaram, dua jiwa berpadu rindu, dua raga bertaut dalam cumbu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu pun mereka lewati dengan penuh gairah.


Beberapa adegan percintaan dan beberapa kisah romantis tercipta dalam beberapa malam di kamar itu, dan terukir menjadi sekelumit sejarah dalam kehidupan mereka.


Dan setiap suatu malam berujung, mereka mulai lagi malam yang baru, dengan kisah cinta yang baru, namun dengan gelora yang tetap membara. Seperti halnya malam ini, keduanya terbuai keindahan yang tak berujung.


“Roy..,” terdengar bisikan seorang wanita.


“Hmmm..?” gumam sang peria.


“Apakah yang kita lakukan ini benar?” Tanya wanita tersebut lirih.


“Tentu saja. Kita saling mencintai. Lantas apa lagi?” jawab si peria.


“Tapi, benarkan kau akan bertanggung jawab dan menikahiku?” bisik wanita tersebut.


“Menikahimu? Tentu saja. Tapi sementara, kita nikmati saja yang ada. Kau mencintaiku, aku mencintaimu, itu sudah cukup bagi kita,”


“Tapi… aku ingin secepatnya. Aku ingin kau segera menikahiku,” suara wanita itu terdengar resah.


“Kenapa?”


“Apa?” Tanya pria itu dengan nada terkejut.


“Ya, aku hamil dan aku sangat bahagia. Bukankah kau pun begitu? Bukankah kau pun bahagia?” di balik temaramnya lampu, sekilas terlihat wajah riang wanita tersebut.


Pria itu diam. Pikirannya berkecamuk. Wajahnya berubah pucat dan jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin perlahan membasahi dahi.


“Kenapa diam? Bukankah kau pun bahagia?” ulang wanita tersebut sambil memeluknya erat.


“Ya… ya, aku bahagia.” ucap peria tersebut dengan suara bergetar. Wanita itu tersenyum senang. Namun ia tak menangkap getaran pada suara kekasihnya.


***


Roy memarkir mobilnya di tempat biasa, di depan sebuah hotel di mana ia sering menghabiskan waktu. Tempat di mana ia menikmati dan menjalani hidup sebagaimana adanya tanpa banyak terbebani. Ia menikmati hidupnya sebagaimana ia menikmati berbagai tubuh indah yang berhasil masuk dalam pelukannya.


Saat itu, dari seberang sana, sepasang mata tampak memperhatikannya. Mata itu terbeliak dengan wajah tegang. Kemudian sesaat menyipit dengan kening berkerut. Namun lagi, mata itu terbeliak. Hal itu terjadi berulang-ulang. Mimik wajahnya pun berubah-ubah mengiringi gerakan mata.

__ADS_1


Roy membuka pintu mobil dan tangannya menyambut tangan kekasihnya. Sebuah senyum yang memikat dilemparkan Roy saat membuka pintu mobil. Dengan sedikit membungkuk dan seulas kecupan di tangan sang kekasih, Roy mempersilahkan kekasihnya turun.


Sepasang mata itu kembali terbeliak. Digosoknya mata itu dengan tangannya untuk meyakinkan apa yang sedang dilihatnya. Tiba-tiba ia berdiri. Dengan tertatih-tatih, ia berjalan meyeberangi jalanan yang ramai menuju halaman parkir hotel. Bibirnya meringis kesakitan tatkala ia rasakan perut buncitnya bergerak.


“Roy…Roy,” bibir keringnya berteriak.


Roy, yang sedang menggandeng kekasihnya dengan penuh cinta, menghentikan langkah dan menoleh seketika. Dilihatnya seorang wanita dengan langkah tertatih-tatih menghampirinya. Pakaiannya kumal dan tubuhnya menebar bau busuk. Kedua tangan wanita itu memegangi perut buncitnya.


“Siapa dia?” Tanya gadis di samping Roy sambil menutupi hidung dengan tangannya.


“Tau! Orang gila kayaknya,” jawab Roy.


“Tapi, kenapa dia tahu namamu?” gadis itu bertanya lagi. Roy menggedikan bahu dan segera berbalik arah. Namun sebuah tangan meraihnya.


“Roy, aku Lina. Aku menunggumu lama sekali. Bayi kita akan segera lahir,”ujar wanita itu dengan wajah memelas.


“Aku tak mengenalimu, dasar orang gila! Pergi sana, badanmu bau busuk,” Roy menepis tangan itu dengan jijik.


“Satpam, tolong singkirkan orang gila ini. Mengganggu saja,”teriaknya pada satpam.


“Hush… pergi sana. Dasar orang gila,” usir satpam sambil memamerkan pentungannya. Wanita itu pergi dengan tubuh terseok-seok.


***


Wanita itu menyandarkan tubuh pada sebuah pohon besar. Wajahnya kusam dan kotor dengan bibir kering pecah-pecah. Sang bayu mempermainkan rambut panjangnya yang kusut dan sesekali membuat longdress kumalnya tersingkap. Kaki yang telanjang terlihat kotor dan pecah-pecah. Kulitnnya nampak diselimuti debu dan daki yang bertumpuk yang semuanya itu menebar bau tidak sedap.


Bibirnya komat-kamit dan sesekali kepalanya menggeleng. Tangannya menunjuk-nunjuk dan kadang membentak setiap orang yang lewat di depannya. Derai tawa kerap keluar dari mulutnnya yang dipenuhi busa ludah.


Langit gelap, kilat menyambar, halilintar menggelegar. Tak terelakkan, air hujan mengucur dengan derasnnya, membasahi setiap benda yang berada di bawahnya.


Wanita itu berdiri tegak dengan wajah menantang langit. Kedua tangannya terentang keatas. Rambut panjangnya beriap mengikuti arah sang bayu. Derai tawa, yang sebenarnnya mirip lengkingan, keluar dari bibir mengiringi gemuruhnya air hujan.


Di seberang sana, dari balik tirai pada sebuah kamar hotel yang hangat, sepasang mata memperhatikannya.


“Tunggulah, seseorang akan segera menyusulmu dan kau tidak akan sendirian lagi,” gumamnya sambil menoleh pada tubuh indah di atas ranjang yang sedang tertidur lelap. Kemudian ia tersenyum aneh, senyum penuh misteri.


*The End

__ADS_1


Hai guys ini foto di panel terakhir ya,,, btw serem amat ya😔*



__ADS_2