
Sekolah yang baru membawa dampak yang baik bagiku . Aku yang awalnya tak banyak memiliki temanpun kini berubah 354 derajat.
Kini temanku mulai banyak dan ketika jam kosong layaknya bocah Sd kamipun bermain bola bersama .
Meski KBM masih berjalan dikelas lain . Tak mengurungkan niat kami untuk bermain bola .
dalam 1 kelasku terdapat 26 murid laki-laki . Sehingga ada beberapa orang yang tak bisa masuk dalam team.
Ya , mereka adalah orang-orang yang tergolong KUPER atau gak gaul . Selama jam koson aku dan teman-teman kupun bermain bola .
Tak terasa jam telah berlalu . Kami mendengar bell tanda istirahat berbunyi . Waktunya kami untuk istirahat .
Adat ataupun kebiasaan aku dan teman-teman segerombolanku adalah : pulang ketika jam istirahat . Beruntung bagi rifai yang rumahnya berhadapan dengan sekolah.
Rifai termasuk salah satu gerombolanku . Tak jarang kamipun mampir kerumah rifai untuk meminta air minum . Ya , hitung-hitung menghemat uang saku guna membeli kelereng .
Setelah puas beristirahat kamipun beranjak menuju ke sungai yang berada dibelakang rumah rifai . Sewaktu aku SD jam istirahatku cukup panjang yaitu 1jam penuh . Sehingga kami tak perlu khawatir untuk bersantai.
Aku , ni'am , rifai , faizin , agus dan yuda pun menuju ke sungai . Kami bercanda tawa bersama saat mandi . Momen yang sangat indah karena kami sama sekali tak memikirkan beban hidup.
Skip .....
Jam pulang sekolahpun telah tiba . Aku . Ni'am . Aldi . Koko . Ipin . Aray . Dan ihsan berencana untuk mencari ikan di saluran irigasi .
Yups . Ini adalah kali pertama aku mencari ikan . Karena memang sebelumnya aku tak pernah mengenal kawan-kawan ku saat ini .
Aldi . Ipin. Dan koko adalah adik kelasku . Mereka berusia 2th dibawahku sehingga aku merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga mereka .
Untuk mencari ikan . Kami tak membawa alat khusus . Ya . Kami mencari dengan menggunakan tangan kosong atau biasa disebut GOGO oleh orang inggris.
Setelah persiapan selesai . Kamipun dengan percaya diri berjalan menuju ke tempat dimana bagian terdalam saluran irigasi berada . Butuh waktu sekitar 30menit berjalan kaki menyusuri persawahan akhirnya kamipun sampai .
"Teng . Lu nyebur dulu lah . Di bikin keruh dulu". Celethuk niam kepada aldi .
Yups . Aldi memiliki pigmen kulit yang paling banyak diantara kami semua . Sehingga ia mendapat julukan jiteng .
Dengan semangat 69 jitengpun masuk dan segera membuat keruh air di dalam saluran irigasi . Jiteng nampak sudah sangat berpengalaman dalam hal ini .
__ADS_1
Setelah semua keruh kami semuapun segera masuk kedalam dan mencari ikan . Aku yang tak memiliki pengalaman hanya plonga plongo dan mencoba menangkap ikan yang kulihat .
Ya. Yang aku lihat hanyalah ikan-ikan kecil sejenis wader (gatau indonesianya apa) . Yang jelas hanya itu yang bisa aku tangkap.
Tak lama berselang jiteng mendapat sebuah ikan berjenis gabus dengan ukuran sebesar lengan anak SD . Sungguh sebuah tangkapan yang menggembirakan bagi kami semua.
Kami mengumpulkan ikan menjadi satu dan berniat menggorengnya ditempatku sore nanti .
"Woiii". Teriak seseorang yabg berada beberapa ratus meter dari kami .
"Mati. Arwani tuh". Celetuk koko.
Arwani adalah pemilik sawah yang saluran irigasinya kami buat keruh . Tanpa komando kami semuapun berlari melewati perkebunan jagung agar tak terdeteksi oleh arwani .
Setelah jarak diperkirakan aman . Kamipun istirahat dan mengobrol sejenak melepas lelah .
Saat keasyikan ngobrol jitenh melihat seekor ular yang cukup besar .
"Ular kayu". Celetuk jiteng.
"Wah dijual laku tuh. Kejar...". Seru ihsan .
Aku sebenarnya adalah yang paling kencang berlari . Tapi jujur aku cukup takut dengan ular. Tak lama kemudian jiteng menyusulku dan berhasil menginjak buntut dari ular tersebut hingga ular tersebut berbalik dan menggigit celana jiteng.
Sontak saja jitengpun berbalik dan kembali berlari berharap gigitan ular terlepas . Tapi dugaannya salah karena gigitan yang begitu kuat ular itupun ikut terseret oleh jiteng .
Karena kehabisan akal . Akhirnya jiteng melompat ke saluran irigasi hingga ularpun menyerah dan melepas gigitannya .
Ular tak tertangkap badan kami lelah. Akhirnya kami putuskan untuk pulang karena hari sudah mulai senja .
Sepanjang perjalanan pulang kamipun terus menertawakan jiteng yang digigit ular.
skip....
Hari itu adalah sebuah hari dibulan januari . Dimana musim penghujan telah tiba .
Aku memang sangat mencintai sungai . Aku mencoba keberanianku mandi di bendungan pada saat banjir telah surut .
__ADS_1
akhirnya aku . Niam . Dan koko menuju ke bendungan yang tak jauh dari rumahku .
"Jangan kesana-sana dik . Ntar kesedot loh". Ucap niam memperingatkanku.
Tapi aku tak mengindahkan peringatan niam . Aku tetap mendekati air yang jatuh dari atas bendungan . Aku merasa tertantang untuk merasakan air terjun .
Sial bagiku apa yang diucapkan niam benar terjadi padaku . Aku tersedot oleh air yang jatuh dari atas . Air yeng membuat sebuah pusaran dan menyedotku . Aku benar-benar tersedot dan sebisa mungkin meminta tolong . Tapi kedua temanku tak ada yang berani menolong .
Aku berusaha keluar dari pusaran itu tapi hasilnya nihil . Aku sudah lelah untuk berusaha . Mungkin ini adalah akhir dari perjalanan hidupku .
Ditengah keputus asaanku datang seorang warga yang tinggal didekat bendungan dan beliau dengan berani menolongku . Aku benar-benar sudah kelelahan hingga aku hanya bisa berbaring dipinggiran bendungan .
Selain lelah . Aku juga terlalu banyak meminum air . Ya . Air sungai yang keruh terlalu banyak masuk ke tenggorokanku .
Setelah beberapa saat aku beristirahat dipinggiran bendungan . Aku mulai berangsur-angsur pulih .
"Tadi yang nolong aku siapa am ?". Tanyaku.
Ya . Aku memang tak melihat siapa yang menolongku karena pandangan mataku telah kabur.
"Aku juga gatau dik . Aku gak kenal". Ucap niam
Ah sial . Aku bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih . Kalo tak ada beliau mungkin nyawaku telah melayang .
Seusai kejadian itu . Aku bukannya takut . Justru aku penasaran mengapa bisa manusia yang sempurna kalah dengan air ?.
Akhirnya aku niam dan koko pindah menuju sungai yang berada di hulu. Sungai yang biasa kami gunakan untuk bermain smack down.
Sesampainya disungai . Kami bertemu dengan wawan. Ya . Wawan adalah kawan sekampung kami yang usianya 2th diatasku .
Kehadiran wawan menambah keseruan kami dalam bersmack down . Kedalaman sungai yang sebatas leherku membuat kami sangat asik membanting lawan karena harapan untuk cidera sangat kecil.
Badan wawan yang paling besar diantara kami akhirnya tak terkalahkan . Bahkan tak ada yang sanggup mengangkatnya . Dan sial bagi koko yang memiliki badan paling kecil menjadi bulan2an kami bertiga .
Baru beberapa saat kami bersmackdown tiba-tiba.....
"Woi....." teriak seorang laki-laki sekampungku yang bernama samuji.
__ADS_1
Samuji ini kebiasaannya memarahi anak-anak yang bermain dikali. Hingga kami berempatpun bergegas lari menyembunyikan diri di perkebunan jagung.
Kami sama sekali tak berani keluar sebelum kondisi dirasa aman . Hingga senjapun tiba akhirnya kami pulang dengan rasa aman .