
Suara decitan pintu itu tedengar dari arah luar, tak lama kemudian ketiga orang itu mulai memasuki kamar mandi dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat seorang perempuan yang memakai kardus di atas kepalanya.
" Ehhh lihat. Itu orang ngapain, aneh banget kepalanya pakai di tutup-tutupin kardus." ucap Zoya.
"Anjir, iya ngapain tu orang" ucap Gempita.
" Gretha! Lo ngadain acara apa lagi di sekolah kita sampai ada yang cosplay juga lagi, niat banget" sambungnya lagi.
" Ehhh Bentar-bentar, Tata kalau ngak salah lo pernah kan cerita ke kita. kalau ada murid aneh disekolah ini,Jangan-jangan ini orang yang lo maksud." ucap Zoya.
"M-maaf kak saya harus kembali ke kelas." ucap Anya sambil tergesa-gesa keluar dari toilet itu.
" Gretha!" panggil Gempita
"Tata?" Panggilnya lagi sambil menggoyangkan perlahan bahu Gretha.
"Benar, Karena dia juga gue di permalukan di hadapan anak-anak yang gue ospek. Bahkan Endra sampai ngebentak gue untuk bela tu cewek sialan." ucap Gretha menatap pintu yang kini telah tertutup dengan sempurna. " Lihat aja. Gue bakalan bikin lo menderita di sekolah ini." ucapnya kembali dengan tangan yang terkepal kuat.
Zoya dan Gempita yang melihatnya pun hanya dapat terdiam kaku. Gretha bukan lah tipikal orang yang suka membual, apa yang dikatakannya harus menjadi kenyataan, Sudah jelas apa yang akan terjadi kedepannya gadis berkepala kardus itu tidak akan lagi bisa menjalani harinya dengan tenang, karna Gretha akan selalu mengusiknya.
Di koridor sekolah Anya berjalan dengan sangat tergesa-gesa ia sampai tidak memperhatikan jalan lagi hingga ia menabrak seseorang.
" Maaf aku ngak sengaja." ucap Anya
" Ngak punya mata lo!" ucapnya dengan nada membentak.
"M-maaf"
" Pergi! Dan jangan pernah muncul di hadapan gue lagi. Ngerti lo!" ucapnya dengan penuh penekanan.
"I-iya, aku permisi". ucap Anya dan bergegas segera pergi meninggalkan orang tersebut.
*******
Bel istirahat telah berbunyi lima belas menit yang lalu. Semua murid telah kembali kedalam kelas mereka masing-masing untuk memulai pelajaran selanjutnya. Tak terkecuali kelas X IPS 3 saat ini, miss Aulia selaku guru bahasa Inggris tengah menyampaikan materinya, Anya yang berada di luar pintu pun hanya dapat menghela nafasnya dan memberanikan diri untuk masuk kedalamnya.
__ADS_1
Dengan segenap keberanian yang ia punya. Ia memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kelas tersebut. " Permisi miss, maaf saya terlambat." ucapnya kepada miss Aulia meminta izin untuk di persilahkan masuk.
" Kenapa terlambat?" tanya miss Aulia yang kini tengah menatap Anya yang berada di depannya saat ini.
" Maaf miss saya habis dari toilet."
" Yaudah, silahkan kembali ke tempat dudukmu. Hari ini saya izinkan terlambat, Namun jika masih di ulangi kembali kamu saya hukum."
" Baik miss"
*******
Di Rumah
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Anya. Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian rumahan ia memutuskan untuk turun kebawah menemui Bagas sang Ayah.
" Putri cantik ayah hari ini mau makan apa?" tanya Bagas sang Ayah.
"Ehhmm apa ya? Ucap Anya bingung sambil mengetukkan jari telunjuk ke dagunya.
"Anya lagi kangen dehh sama masakan nasi gorengnya ayah." ucapnya lagi mengambil keputusan.
" Bolehkan yah?" ucapnya lagi kali ini dengan mata berbinarnya itu.
" Hahahah...boleh donk apa sihhhh yang ngak buat putri cantik ayah ini." ucap Bagas gemas. Bagaimana bisa ia menolak permintaan putrinya itu. Tak mau membuat sang putri menunggu lama Bagas langsung bergegas mengambil beberapa bahan yang ada di kulkas untuk membuat nasi goreng spesial untuk putrinya itu.
Sebenarnya Anya tidak hanya tinggal berdua dengan sang Ayah, ada seorang bibi yang telah bekerja dirumah ini cukup lama. Namun sang bibi kini sedang pulang kampung untuk sementara waktu dan diperkirakan ia akan kembali sekitar 2 minggu lagi.
Bisa dibilang Anya lebih dekat dengan bibinya ketimbang sang Ayah. Bagas terlalu sibuk bekerja bahkan sering kali Anya ditinggal sendirian dirumahnya itu. Walaupun hanya membuka toko yang menjual barang sembako dan kebutuhan harian lainnya, Namun tak bisa di pungkiri bahwa toko yang dimiliki Bagas sangat laris dan berkembang sangat pesat terbukti dengan banyaknya pengunjung yang berdatangan setiap harinya bahkan toko tersebut sudah memiliki cabang di daerah Bogor Tak jauh beda dengan di pusatnya toko tersebut juga ramai pengunjung setiap harinya. Dan rencananya Bagas akan kembali membuka cabang yang ketiga yang ia rencanakan di daerah Bandung. kesibukan Bagas itulah yang sering kali membuat rasa kesepian, Sedangkan sang Ibu? Anya sudah kehilangan sosok itu sejak ia lahir dan hanya Ayahnya yang ia miliki. Walaupun ada sang bibi yang berusaha menjadi ibu buat Anya, tapi tetap saja sosok Ibu tidak akan bisa di tergantikan oleh siapapun.
Sambil menunggu sang Ayah memasak nasi goreng,Anya memutuskan kembali ke kamarnya. Mengerjakan beberapa PR yang belum sempat selesai ia kerjakan di sekolah sebelumnya, itulah kebiasaan Anya ia tidak suka menunda pekerjaan jika ia memiliki waktu sengang ia akan gunakan waktu itu dengan sebaik- baiknya, termasuk PR walaupun tugas tersebut di kumpulkan minggu depan tetapi Anya akan langsung mengerjakan setiap pulang sekolah.
Sejak kecil Anya sudah menyukai musik. Bahkan ia telah menekuni dunia musik sejak berusia 13 tahun, ia juga pandai memainkan berbagai jenis alat musik seperti piano,gitar,dan juga biola. Namun alat musik yang menjadi kegemarannya adalah biola, Anya sering kali mengikuti lomba memainkan alat musik biola tersebut dan tak meraih penghargaan. Dan Anya memiliki sebuah impian yaitu ingin menjadi pemain biola terkenal seperti Bella Aswara.
Tapi satu hal yang sangat di sayangkan, Bagas sang Ayah justru tak menyukai hobi Anya itu. Karena menurut sang ayah itu tidak ada gunanya hanya sekedar memainkan alat musik tidak akan mendapatkan keuntungan sama sekali Bagas sang ayah justru menginginkan sang anak menekuni dunia bisnis sepertinya karena itu akan lebih menjamin masa depannya nanti.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Anya. " Anya! nak ini nasi gorengnya udah jadi" ucap sang ayah.
"iya, yah " ucap Anya. Kemudian langsung melepaskan earphone dan menutup bukunya lalu segera bergegas turun kebawah untuk menyantap nasi goreng buatan ayahnya itu.
"wahhh kelihatannya enak nihh yah" ucap Anya dan langsung menduduki dirinya di kursi meja makan tersebut.
"udah dimakan, nanti keburu dingin nasi gorengnya" ucap Bagas sang ayah.
"Anya cobain ya..." ucapnya. Kemudian mulai menyuapkan se sendok nasi goreng kedalam mulutnya itu.
Ada rasa penasaran muncul ketika melihat Anya mulai menikmati nasi goreng buatannya itu tanpa mengatakan satu kata pun "Gimana? Enak ngak?" tanya Bagas dengan rasa penasarannya.
"Enak banget yah, lebih enak nasi goreng buatan ayah dari pada yang biasa di buat direstoran bintang 5".
"Bisa aja kamu, udah cepet di habisin"
"Anya beneran loh yah"
"iya...ayah percaya" ucap Bagas sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri kecilnya itu.
" Yah. Heummm Anya pengen menekuni dunia musik mulai dari sekarang yah. Izinin ayah bermain biola lagi seperti dulu, Anya..."
"Anya!" teriak sang Ayah disertai gebrakan meja yang seketika membuat Anya terdiam.
"Ayah udah berapakali bilang. Ayah ngak suka kalau kamu terjun kedunia musik itu ngak ada gunanya Anya, ngak bakalan kamu dapat untung apa-apa. Lebih baik kamu pikirin sekolah kamu belajar yang rajin biar kamu bisa sukses bukan malah main musik kayak gitu. Mau jadi apa kamu? Musik ngak bakal bisa ngasilin uang Anya"
"tapi Anya suka yah, dan itu hobi Anya. Ayah juga pernah bilang kalau apa yang kita tekuni bakalan menjadikan kita sukses"
"Tidak dengan musik!"
"Tapi yah..."
"Cukup Anya! Ayah ngak mau di bantah"
"Selesaikan makanmu. Ayah harus kembali ke toko sekarang" ucap Bagas kemudian berlalu pergi meninggalkan Anya seorang diri di meja makan dengan perasaan kecewanya. Lagi dan lagi Anya harus menelan kekecewaan terhadap sikap sang Ayah yang sama sekali tak mendukung impiannya itu, apa yang harus Anya lakukan? Ia sama sekali tak mau mengubur impiannya itu menjadi pemain biola terkenal seperti Bella Aswara. Seorang pemain biola yang membuat takjub semua orang dengan nyanyian indah dari biolanya yang memukau semua orang.
__ADS_1
Kini hanya ada Anya seorang diri diruang makan tersebut. Memakan nasi goreng yang telah berubah rasanya menjadi sangat asin karena tetesan air mata yang terus mengalir di pipinya itu, bahkan untuk mengahabiskan makanan tersebut Anya sudah tak berselara lagi, ia pun memutuskan untuk menyudahi makan nya kemudian mencuci piring kotornya. Kemudian kembali kekamarnya untuk menyelesaikan tugas sekolahnya.
Bersambung....