SI CANTIK BERKEPALA KARDUS

SI CANTIK BERKEPALA KARDUS
5


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan angka sebelas malam yang artinya malam telah begitu larut. Bagas baru saja kembali dari tokonya rasanya sangat melelahkan sekali keadaan toko sangat ramai seperti biasa walaupun ia memiliki beberapa karyawan yang melayani para pengunjungnya tapi tetap saja ia harus turun tangan untuk mengawasi tokonya itu.


Kejadian tadi siang sangat menganggu pikirannya ia sama sekali tak bermaksud untuk membentak putrinya, Namun setiap kali Anya membahas itu emosinya selalu saja tak terkendali ia hanya takut kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya. Hal pertama ketika ia memasuki rumahnya adalah keadaan rumah yang tampak sunyi dan gelap. Beberapa lampu telah di matikan sepertinya sang putri sudah terlelap dalam tidurnya, karena sudah menjadi kebiasaan Anya yang tidur sebelum jam 10 malam, ia pun memutuskan untuk segera menuju ke kamar putrinya.


Setelah berjalan menapaki anak tangga satu per satu, akhirnya ia telah tiba di depan pintu kamar Anya. Dengan perlahan Bagas memutar kenop pintu kamar Anya yang tak terkunci itu, ia pun dapat melihat Anya yang tengah tertidur lelap tersebut. Dengan langkah perlahan ia berjalan mendekati ranjang tempat putri kecilnya itu tertidur, Melihat putri kecilnya tertidur lelap dengan tangan yang memeluk boneka beruang kesayangannya itu membuat perasaan bersalah itu kini muncul kembali, tak seharusnya ia melakukan itu kepada putri tercintanya.


"Maafin ayah nak" hanya satu kalimat itu yang bisa Bagas ucapkan kepada Anya, bukan Bagas tak mendukung impian putrinya itu. Namun ia hanya takut kejadian malang itu terulang kembali pada putri tercintanya, ia hanya tak ingin Anya pergi meninggalkannya seperti sang istri meninggalkannya beberapa tahun silam.


Tak kuat berlama-lama di kamar sang anak. Bagas memutuskan untuk segera keluar dari kamar Anya, mengingat kenangan masa lalu hanya akan membuatnya terisak kembali. Tangan Bagas terulur membenarkan posisi selimut Anya yang hampir terjatuh itu, tak lupa pula ia mengecup kening sang anak dengan hangat sebelum berlalu pergi meninggalkan Anya yang tengah tertidur lelap itu.


*******


Pagi ini seperti biasa Anya berangkat sekolah dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan setapak demi setapak menuju sekolahnya tersebut. Namun cuaca saat ini seperti sedang tak bersahabat kali ini, matahari tak bersinar cerah seperti biasanya karena tertutupi awan. Langit yang harusnya cerah dengan warna kebiruannya kini terlihat gelap bagaikan malam, sepertinya pagi ini akan turun hujan deras. Anya mempercepat langkahnya menuju sekolah sebelum hujan turun membasahi dirinya.


Namun benar dugaannya tak berselang lama kemudian. Hujan mulai turun dengan derasnya membasahi bumi, mengharuskan Anya untuk menepi mencari tempat yang bisa melindungi dirinya dari hujan.


"Duhh hujannya deras banget, aku lupa bawa payung. Mana ini udah mau telat lagi" gumamnya sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang mungil.


"Apa aku terobos aja ya? Kalau nunggu kayak gini keburu telat. Kayaknya hujannya udah lumayan reda ngak sederas yang tadi" sambil mengulurkan tangannya untuk menikmati setiap tetesan airnya. Sambil mencari barang apa saja yang bisa menutupi kepalanya itu, di tengah kebimbangannya itu ia tak sengaja melihat sebuah spanduk yang tidak terpakai lagi. Anya memutuskan untuk menggunakan spanduk itu sebagai alat untuk melindungi kepalanya dari air hujan, kemudian ia segera berangkat menuju sekolah kembali sebelum hujan turun semakin deras nantinya.


Dengan tangan yang memegang spanduk di atas kepalanya. Anya berjalan mengitari jalanan kota yang mulai banyak tergenangi oleh air, dengan langkah panjang namun hati-hati ia berjalan menuju sekolahnya itu. Banyaknya genangan air membuat sedikit was-was sebab ia kini sedang mengenakan pakaian putihnya. Namun...


Sebuah mobil silver melaju kencang dari arah belakang, yang kemudian membuat cipartan dari genangan air itu mengenai Anya yang berada tak jauh dari genangan air itu.


" Rasain lo!" gumamnya. Kemudian ia kembali melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan Anya yang dalam keadaan basah kuyup akibat percikan dari genangan tersebut.

__ADS_1


Anya yang melihat mobil tersebut, melaju kencang meninggalkannya seperti itu hanya bisa pasrah. Mau marah pun juga tidak akan ada gunanya, lebih baik ia melanjutkan perjalanannya sebelum ia benar-benar terlambat.


"Huh! Akhirnya sampai juga" gumamnya. Setelah itu, ia pun memutuskan untuk segera menuju toilet terlebih dahulu untuk membersihkan lumpur yang ada di pakaiannya itu sebelum lumpur itu benar-benar menempel di bajunya dan pasti akan sangat sulit untuk di bersihkan nantinya.


Suasana sekolah tampak sepi, karena biasanya banyak murid yang memilih meliburkan dirinya dalam keadaan hujan seperti saat ini. Bersantai dirumah sambil menikmati indomie kuah dengan di temani flim kartun yang menyenangkan.


Anya berjalan memasuki toilet. Menyalakan keran air dan mulai membersihkan seragamnya itu. Disaat sedang asik membersihkan seragamnya Anya sampai tak menyadari jika ada seseorang yang baru saja memasuki toilet.


"Hai" sapanya dengan tersenyum manis. Namun berbeda dengan apa yang Anya rasakan, senyuman perempuan di hadapannya ini seperti memiliki makna lain di balik senyumnya.


"kita belum kenalan lebih jauh sepertinya, gue pengen tau siapa nama lo?" ucapnya perlahan mendekati Anya, yang seketika membuat Anya berjalan mundur untuk menghindarinya.


"Levannya Jenita Amora" ucapnya kembali melihat name tag yang tertera di seragam Anya tersebut.


"Gue penasaran sama apa yang lo sembunyiin di balik kardus ini" ucapnya berusaha melepaskan kardus yang menutupi kepala Anya tersebut.


" Jangan kak, aku mohon" ucap Anya memohon. Namun percuma saja ucapan Anya sama sekali tak di hiraukan, Gretha tetap saja memaksa Anya untuk melepaskan kardusnya tersebut.


Sekuat apapun Gretha berusaha untuk melepaskan kardus itu dari kepalanya, tak akan membuahkan hasil apapun karena Anya tetap kekeh pada pendiriannya itu. Hingga pada akhirnya Anya memutuskan untuk melakukan hal gila ia menendang perut Gretha dengan kakinya hingga membuat Gretha meringis kesakitan. Tanpa banyak membuang waktu lebih lama Anya segera melarikan diri dari Gretha yang kini tengah menahan sakit di bagian perutnya akibat tendangan Anya yang cukup keras.


" Sialan lo!" umpatnya seraya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya akibat dari tendangan Anya yang cukup kuat itu.


Sesampainya di kelas Anya segera mendudukkan diri seperti biasa di bangkunya. Hari ini sepertinya pak Bayu tidak masuk lagi, suasana kelas tampak ramai para murid menyibukkan diri dengan aktifitasnya sendiri mulai dari yang bermain handphone, hingga sekumpulan wanita yang tengah berbincang asik entah itu membicarakan orang lain atau hanya membahas kegiatan hariannya. Ya seperti itulah jika wanita sudah berkumpul.


Anya merasa bosan. Tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan, ia hanya duduk termenung sambil meratapi hujan melalui jendela kelasnya. Dengan menghela nafasnya Anya memutuskan untuk membaca buku setidaknya ini bisa menghilangkan sedikit rasa bosannya, disaat jam kosong seperti ini biasanya ada Aditya yang menemaninya. Namun hari ini ia tak masuk seperti biasa, membuat rasa bosan Anya meningkat.

__ADS_1


Anya tak memiliki banyak teman selama ia bersekolah disini, bahkan banyak di antara mereka yang menjahuinya. Kepala kardus itu yang mungkin menjadi alasannya, mereka pikir kalau Anya gila karena tidak pernah mau melepaskan kardus itu dari kepalanya bahkan banyak juga di antara mereka yang menganggap Anya gila. Namun berbeda dengan Aditya, ia bahkan tak peduli dengan pandangan orang lain terhadap Anya dan masih mau berteman dengan Anya hingga saat ini, bisa dibilang hanya Aditya satu-satunya teman yang ia miliiki.


*******


Bel pulang sekolah baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu. Para murid SMA Garuda bergegas berhamburan keluar kelas untuk segera kembali kerumah mereka, tak terkecuali Anya. Seperti biasa Anya pulang dengan berjalan kaki menyusuri jalanan, cuaca sudah tampak mulai cerah, matahari yang tadi bersembunyi di balik awan kini telah keluar dan menyinari seluruh permukaan bumi yang membuat bumi dilanda kehangantan.


Sebelum pulang kerumah Anya memutuskan untuk singgah ketempat favoritnya tak lupa pula ia memberi kabar kepada sang Ayah bahwa ia akan pulang terlambat hari ini. Sebuah tempat sederhana tapi membuatnya nyaman, tempat ini tak terlalu menarik hanya sebuah tempat yang kosong dengan di kelilingi banyak tembok serta terdapat banyak sekali kucing liar yang menempati tempat ini. Jika kesini Anya selalu membawa makanan kucing karena banyaknya kucing liar yang berkeliaran disini.


Anya sangat menyukai kucing. Hewan berbulu lebat dengan tingkah lucu dan menggemaskan itu mampu membuat Anya betah berada disini dan selalu membuatnya rindu untuk kembali mengunjungi tempat ini. Namun beberapa bulan ini ia disibukkan dengan kegiatan sekolahnya sehingga baru kali ini ia memilik waktu untuk mengunjungi hewan kesayangannya itu.


"Hai. maaf ya aku baru kesini lagi, pasti kalian sangat merindukanku bukan?" ucap Anya pada para kucingnya. Namun seakan tidak peduli mereka tetap melanjutkan makan tanpa terusik dengan Anya yang kini mengelus mereka.


"kalian lucu banget sihh, nihh makan yang banyak ya biar tambah gembul". Kemudian tangannya bergerak untuk menambahkan makanannya lagi.


Setelah puas bermain dengan kucing-kucing tersebut. Anya memutuskan untuk melihat-lihat sekeliling tempat yang biasa ia singgahi dulu. Tempat ini tak banyak berubah sepertinya. Disaat tengah asik berkeliling pandangan matanya melihat sebuah coretan kalimat di tembok tersebut.


Bagaimana kabarmu? Apa sekolah baru mu menyenangkan?


Coretan di tembok itu mampu membuatnya tersenyum kembali. Melihat kembali beberapa coretan sebelumnya membuatnya merasa seperti memiliki teman curhat, walaupun ia tidak tahu siapa orang yang menulisnya tapi ini membuat hatinya berbunga.


Baik. Entahlah aku tidak tau bagaimana cara menggambarkannya, tapi aku senang karna telah memiliki seorang teman.


Setelah menuliskan balasan untuk pesan tersebut, Anya memutuskan untuk segera kembali kerumah karena hari semakin sore dan ia takut Bagas akan mengkhawatirkannya. Kemudian membereskan beberapa barangnya dan bergegas pulang kembali kerumahnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2