SI CANTIK BERKEPALA KARDUS

SI CANTIK BERKEPALA KARDUS
6


__ADS_3

" Sebelum kita mulai ke materi pembelajaran kalian lakukan pemanasan terlebih dahulu, Jovan kamu yang jadi pemimpin pemanasan hari ini," ucap Tomi guru olahraga.


" Asshiiaap pak Tomi," ucapnya menirukan gaya salah satu youtuber terkenal itu.


" Oke kawan-kawanku tersayang ikutin abang ya...." sambunya lagi yang kini telah berada di hadapan teman-temannya.


"Idihhh geli banget gue lihatnya," ucap Naira salah satu temannya.


" Kenapa beb, mau temanin abang didepan?" ucap Jovan yang di balas tatapan maut dari Naira. Ia hanya takut jika pak Tomi akan menanggapi ucapan Jovan sungguhan, memimpin pemanasan bersama Jovan akan sangat memalukan bagi dirinya. Jovan yang melihatnya pun hanya tersenyum meledek kearahnya, sungguh sangat menyebalkan sekali si jovan ini pikirnya.


"Oke kita mulai dari Hip movent terlebih dahulu," ucap Jovan mengintruksi teman-temannya.


" Ehh bego dimana-mana pemanasan dimulai dari peregangan tangan dulu kali, ini lo malah langsung main ke pinggang aja," protes mereka kepada Jovan.


" Suka-suka gue lah, kan gue yang memimpin " ucap nya sewot " Udah buruan ikutin aja, Ntar keburu panas ni matahari, mau lo pada gosong disini." Sambungnya lagi. Mereka pun hanya pasrah mengikutinya.


" Ayo dong gerakin pinggulnya kedepan kayak gue ni.... Letoy banget lo semua," lihatlah Jovan benar-benar sangat menjekelkan. " Oke sekarang bales putarannya lagi yok.." ucap Jovan terlihat seperti sedang meledek kali ini.


" Jovan!" tegur pak Tomi


"Hehehe iya pak"


Setelah 30 menit lamanya akhirnya mereka selesai melakukan pemanasan, ya walaupun bisa di bilang mereka hanya melakukan pemanasan abal-abalan karena ulah Jovan.


Selanjutnya pak Tomi menjelaskan materi selama 15 menit karena pada mata pelajaran olahraga lebih banyak dibutuhkan praktek dari pada teori, dan materi yang diberikan berupa permainan bola besar yang terdiri dari voli, basket,dan lainnya. Namun hari ini mereka akan praktek bola basket sebagai pelajarannya.


Setelah pak Tomi mencontohkan beberapa teknik dalam permainan bola basket ia langsung menyuruh para muridnya untuk melakukan gerakan yang sama seperti yang telah ia contohkan sebelumnya dan ia akan memberi kesempatan kepada muridnya mempraktekan dan akan diberikan penilaian praktek individu untuk setiap muridnya.


"Kenapa?" sebuah pertanyaan yang langsung menarik perhatiannya. Aditya sepertinya paham akan kegelisahan Anya saat ini.


" Ngakpapa," jawabnya


" Jangan takut, Lo percaya diri aja, lo pasti bisa," ucapnya kali ini menyemangati Anya.


" Absen selanjutnya Levannya Jenitra Amora, silahkan maju kedepan," ucap pak Tomi memanggil muridnya untuk di berikan penilaian praktek yang telah di ajarkan sebelumnya.


Kini Anya telah berada di hadapan teman-temannya bersiap untuk mempraktekan apa yang telah pak Tomi contohkan sebelumnya.


" Anya lebih baik kotak itu kamu lepas terlebih dahulu sebelum mulai praktek" ucap pak Tomi kepada Anya.


"Maaf pak Anya ngak bisa" jawab Anya.


" Yaudah terserah kamu, jika kotak itu ngak mempersulit kamu," ucap pak Tomi yang dibalas dengan anggukan kecil dari Anya.


Kini bola basket berada di tangannya ia sangat gugup. Bagaimana jika ia melakukan kesalahan, apa ia akan di tertawakan seperti dulu? Namun di tengah kegelisahannya itu ia melihat sosok Aditya di tengah kerumunan teman-temannya itu, dengan mengepalkan tanganya keatas sambil berkata dengan gerakan bibirnya seolah mengatakan.


ANYA KAMU PASTI BISA, SEMANGAT!!

__ADS_1


Suara peluit yang di tiup pak Tomi seolah menjadi intruksi bahwa permainan bisa dimulai sekarang. Lansung saja Anya mulai memfokuskan diri kepada ring basket yang di gunakan sebagai targetnya itu, memantulkan bola terlebih dahulu sebelum memasukkan bola kedalam ring tersebut. Dan... ya! Anya berhasil memasukkan bola tersebut hanya dalam sekali percobaannya dan sukses mendapatkan tepuk tangan sebagai apresiasi dari teman-temannya.


" Widihh keren cuy sekali tembak langsung masuk," ucap Jovan penuh semangat.


"Bagus Anya, kamu saya kasih point sempurna," ucap pak Tomi bangga. " Makasih pak" balasnya. Dan lansung kembali ketempat duduknya.


" Baik anak-anak karena jam pelajaran sudah habis, kita lanjutkan minggu depan saja. Bagi nama-nama yang belum di panggil kalian melakukan prakteknya minggu depan," ucap pak Tomi mengakhiri pembelajaran olahraga hari ini.


" Baik pak," ucap para mereka serentak.


" Benerkan apa yang gue bilang kalau lo itu pasti bisa, lo nya aja yang udah pesimis duluan padahal coba aja belum udah bilang ngak bisa, tuh buktinya nilai lo dapet sempurna dari pak Tomi," ucap Aditya dengan bawelnya.


Kenapa Aditya bawel sekali pikirnya. Membuat Anya tak tahan untuk tertawa.


" Kok lo ketawa sihh? Tanya nya keheranan. Apa ada yang lucu dari perkataanya.


" Ngakpapa kamu bawel banget," ucap Anya di sela-sela tertawanya.


"Yeahh lo di bilangin ngak percaya"


"Iya-iya aku percaya," ucap Anya pasrah.


"Gue mau ke kantin dulu, lo mau ikut ngak?" tanya nya kepada Anya.


"Ngak kamu aja, aku mau langsung ganti baju aja, takut ngantri kamar mandinya," Saat ini mereka sudah sampai di dedapan pintu kelas. Anya memutuskan untuk masuk dan mengambil baju gantinya, sedangkan Aditya ia melanjutkan perjalanannya menuju kantin.


Tak butuh waktu lama Anya mengganti pakaian, keadaan kamar mandi yang sepi membuat Anya tak terlalu banyak membuang waktunya untuk mengantri. Jam pelajaran kini telah berganti dengan waktu istirahat, sudah di pastikan keadaan kantin seperti apa saat ini. Anya memutuskan untuk segera kembali ke kelasnya untungnya sebelum berangkat sekolah ia telah lebih dulu menyiapkan bekalnya untuk dimakan di kelas saat jam istirahat tiba.


Hari ini ia menyiapkan sepotong roti bakar dengan isian selai coklat serta sekotak susu coklat yang ia bawa dari rumah. Anya sangat menyukai coklat apapun jenis olahan makanan yang terbuat dari coklat ia pasti akan memakannya hingga habis.


Sambil membaca buku dan mendengarkan musik favoritnya menggunakan earphone ia menikmati sarapannya menunggu jam pelajaran selanjutnya.


Saat sedang asik menikmati lagu yang di putar melalui handphonenya, satu notifikasi masuk berasal dari salah satu grup chatnya itu. Langsung saja ia membuka grup chat itu untuk melihat isi dari pesan tersebut.


          SOCIAL 3 BARBARLY 🤟💀


Jovan Alexander


Guyss hari ini mata pelajaran Bahasa Inggris kita jam kos, miss Aulia izin ada keperluan memdadak yang ngak bisa di tunda. Sebagai gantinya miss Aulia akan kirim tugas, dan yang nantinya akan dibahas di waktu pertemuan berikutnya minggu depan.


Sebuah pesan teks yang berasal dari jovan, sang ketua kelas. Setelah membaca pesan tersebut, Anya memutuskan pergi ke perpustakaan. Ia ingin mencari suasana baru dari pada ia berada di kelas, sangat-sangat membosankan.


Setibanya di perpustakaan, Anya segera mencari buku yang ingin ia baca. Namun ia sedikit kesulitan saat mengambilnya karena letak buku itu yang sangat tinggi sehingga ia tidak bisa mencapainya.


Di saat ia sedang kesulitan mengambil buku, tiba-tiba seseorang membantunya mengambil buku tersebut. Sontak saja membuat Anya membalikkan badan, dari jarak yang begiu dekat saat ini Anya bisa melihat wajah orang itu dari balik kardusnya, membuatnya takjub akan paras wajahnya yang tampan. Hidung macung dengan rahang tegas serta sorot mata yang tajam di balik kacamata kotaknya itu, dan jangan lupakan bibir merah alaminya yang seperti tak pernah tersentuh oleh rokok. Membuat nya terbuai akan pesona cowok dihadapannya saat ini.


" Ini," ucapnya sambil memberikan buku yang barusan ia ambil.

__ADS_1


Tubuh Anya masih terasa kaku ia masih belum bisa mencerna apa yang barusan terjadi dengan baik. Namun lamunan Anya seketika buyar saat mendengar suara pria itu. " M-makasih kak," ucapnya tergagap. Setelah mengatakan itu Anya langsung berlari kabur menjauhinya.


"Cewek aneh," pikirnya.


Rajendra yang melihat tingkah Anya merasa heran, kenapa gadis itu melihatnya seperti orang ketakutan. Apa ia hantu, hingga harus ditakuti. Tak mau mengambil pusing ia lalu mengambil buku yang tak jauh dari situ, kemudian mencari tempat duduk untuk ia mulai membaca.


Di lain sisi Anya kini sedang berada di taman. Dengan napas yang masih tersengal-sengal ia menduduki salah satu bangku yang ada di taman, ia memutuskan untuk membaca buku di taman saja. Ia benar-benar gugup terutama ketika ia berhadapan dengan jarak yang begitu dekat dengan pria itu, hingga ia memutuskan untuk meminjam buku itu dan membawanya ke taman.


Angin berhembus begitu halus membawa kesejukan, suara kicauan burung begitu merdu membawa ketenangan di dalamnya. Perempuan berkepala kardus itu begitu menikmatinya, ia memejamkan mata menikmati setiap hembusan angin sejuk bersama musik yang kini ia dengar melalui earphonenya. Sangat nyaman rasanya ia berlama-lama disini.


DOR!


Di saat ia mulai menikmati ketenangan tiba-tiba saja seseorang mengagetkannya, membuat Anya terlonjak kaget. Siapa lagi jika bukan ulah Aditya yang suka menjahilinya.


"Gue cariin lo dari tadi, ternyata lo ada disini," ucapnya kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Anya.


" Kamu kebiasaan suka ngagetin orang," kesal Anya.


" Gue udah manggil lo dari tadi, tapi lo ngak dengar".


" Masa sih, aku ngak dengar apa-apa,"


Aditya membuang nafasnya secara kasar seraya menunjuk ke arah earphone yang saat ini sedang ia pakai " Ya pantes lo ngak dengar gue panggilin dari tadi, itu earphone lo copot dulu kali"


" Ehhh iya lupa, maaf," ucap Anya sambil melepas earphone yang ia kenakan.


Aditya menolehkan badannya seraya menatap perempuan disampingnya ini " Lagi dengerin apa ? Asik bener, gue juga mau dengarin," ucapnya.


"Malah ngelamun. Sini earphone lo satu," ucap Aditya. " Ini gue pakai yang sebelah kiri, lo pakai yang sebelah kanan," ucapnya lagi kali ini dengan memberi arahan kepada Anya.


" Lo suka musik klasik," tanya nya.


" Iya,"


Hening. Mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati setiap lantunan nada dari musik yang saat ini mereka dengar, dengan mentap langit biru yang tampak indah dengan burung-burung yang menari di atas awan.


" Anya apa gue boleh tanya satu hal,"


" Tentu, mau nanya apa?"


" Kenapa lo selalu nutup diri, bahkan lo ngak pernah nunjukkin wajah lo ke semua orang?"


Anya terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan darinya, tidak ada sepatah katapun yang terucap darinya, hingga ia mendengar suara isak tangis dari perempuan itu.


"Kenapa nangis? Tanya nya.


 Anya tak menjawab ia masih saja terisak dalam tangisnya. " Maaf kalau pertanyaan gue sensitif buat lo, gue ngak bermaksud apapun, Kalau lo ngak mau cerita juga ngakpapa, gue ngak akan maksa. Tapi jika suatu saat lo udah ngak bisa nahan semuanya, bahu gue akan selalu siap jadi tempat sandaran lo," ucap Aditya menenangkan Anya yang masih terisak dalam tangisnya, tangannya pun terulur mengusap punggung Anya yang terlihat bergetar akibat tangisnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2