SI CANTIK BERKEPALA KARDUS

SI CANTIK BERKEPALA KARDUS
7


__ADS_3

" Anya! Lo pulang bareng gue ya hari ini," ucap Aditya yang kini sedang mengajaknya atau lebih tepatnya ini adalah pemaksaan darinya.


" Ngak usah Aditya, aku bisa pulang sendiri," jawab Anya yang kini tengah merapikan barang bawaannya.


"Ngak kali ini lo ngak boleh nolak, anggap aja ini sebagai bentuk permintaan maaf gue sama lo," ucapnya lagi.


" Kenapa harus minta maaf, kamu juga kan cuman nanya."


" Ya... Pokoknya lo harus pulang bareng gue hari ini, ngak boleh nolak," ucapnya tak ingin dibantah. Hingga akhirnya Anya pasrah mengikuti kemauannya.


Saat ini Anya sedang menunggu Aditya di depan gerbang sekolah, keadaan sekolah begitu padat maklum saja karena saat ini jam pulang sekolah. Para murid berhamburan keluar sekolah ada yang dijemput dan tak banyak juga para murid membawa kendaraan pribadi ke sekolah dan terjadilah kemacetan yang disebabkan para murid yang tak sabaran keluar dari sekolah.


Lalu lalang orang berlalu, hingga sebuah motor ninja berwarna biru tiba di depannya. "Ayo naik!" ucapnya mengintruksi Anya.


Anya langsung saja naik dan mendudukkan dirinya di atas jok motor itu, kemudian motor tersebut berlalu meninggalkan perkarangan sekolah.


"Anya! Lo kalau berangkat sekolah biasa diantar siapa?" tanya Aditya.


" Aku biasa jalan kaki sendiri karena jarak rumah sama sekolah ngak terlalu jauh," jawab Anya.


"Ngak capek ? Atau lo bareng gue aja kalau gitu,"


"Ngak. Justru aku lebih senang jalan kaki, lebih sehat."


"Yahhh lo mah ditawarin tumpangan gratis malah ditolak," ucap Aditya.


Setelah beberapa menit berlalu menempuh perjalanan tibalah mereka disebuah rumah bernuansa modern namun sederhana dengan cat putih yang mendominasi menambah kesan elegant dari rumah tersebut.


" Ini rumah lo?" tanya Aditya sesaat setelah mereka tiba di depan rumah tersebut.


" Iya"


" Kalau gitu gue langsung pulang ya, gue masih ada urusan soalnya."

__ADS_1


" Iya, Makasih ya udah mau ngaterin aku pulang,"


" Santai aja kali kayak sama siapa aja lo, tawaran gue tadi beneran ngak mau nihh?"


" Ngak dehh, aku takut ngerepotin kamu."


" Yaudah deh terserah lo aja, gue langsung cabut yakk," ucapnya sambil menghidupkan motor ninja kesayangannya itu.


" Iya, hati-hati."


"Bye Anya," setelah berpamitan dengan Anya, ia langsung melaju meninggalkan Anya. Anya yang melihat Aditya yang telah melesat jauh dari pandangannya, memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya.


" Diantar pulang sama siapa tadi?" ucap Bagas melihat Anya yang baru saja masuk.


"Ehhh Ayah ngagetin aja," ucapnya terlonjak kaget ketika melihat Bagas yang tiba-tiba saja berdiri tak jauh dari pintu. " Itu tadi teman Anya yah, namanya Aditya. Dia nganterin Anya pulang karena katanya sebagai permintaan maafnya sama Anya," sambungnya lagi. Kemudian berjalan kearah Bagas untuk menyalimi nya.


" Kamu di jahatin apa sama dia? Sini biar ayah bikin perhitungan sama dia," ucap Bagas yang terbakar emosi karena mendengar sang putri kesayangannya disakiti kembali.


" Beneran cuman itu?" tanya Bagas kembali.


"Iya yah, cuman itu,"


"Syukur lah kalau gitu, ayah cuman khawatir kamu dibuli seperti waktu kamu SMP dulu,"


" Ngak usah khawatir yah, Anya sekarang udah punya teman dan Anya yakin Aditya adalah teman yang baik untuk Anya," ucap Anya meyakinkan Bagas. Anya paham akan ke khawatiran Bagas terhadap dirinya, Namun itu hanyalah masa lalu baginya saat ini ia hanya ingin meyakinkan Bagas jika kejadian dulu tidak akan terulang kembali padanya.


Memdengar penuturan sang putri yang begitu meyakinkan membuat Bagas tersenyum bahagia, pasalnya setelah kejadian itu membuat keadaan Anya sangat terpuruk bahkan hingga menimbulkan trauma dan membuat pribadinya menjadi sangat tertutup seperti saat ini. Ia hanya ingin Anya menjadi sosok ceria, kembali seperti dulu.


" Iya, ayah percaya sama kamu," ucap Bagas tersenyum hangat. "Sekarang kamu ganti baju terus makan, ayah udah siapin makanan di meja makan," sambungnya lagi sambil mengusap pucuk kepala Anya dengan lembut.


" Oke yah, kalau gitu Anya ke kamar dulu mau ganti baju," ucap Anya. Kemudian berlalu ke kamarnya untuk segera mengganti seragam sekolahnya dengan baju harian, tak lama setelah berganti baju Anya langsung turun ke bawah menuju meja makan untuk segera mengisi perutnya yang tengah keroncongan saat ini.


                 *******

__ADS_1


Setelah menyelesaikan makannya. Anya segera kembali kekamarnya, Namun ketika ia tengah menapaki anak tangganya satu persatu suara bariton sang ayah memanggil membuat Anya mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar dan memilih turun kembali untuk menghampiri suara tersebut.


" Ada apa yah?" sahutnya.


" Ayah besok pagi mau berangkat ke Bandung untuk melihat sejauh mana perkembangan cabang toko kita yang ada di Bandung. Ayah kemungkinan berada disana sekitar satu minggu. Apa kamu mau ikut aja nak?"ucap Bagas kepada Anya. Sebenarnya tidak masalah jika Bagas meninggalkan Anya untuk urusan pekerjaannya karena sedari kecil Anya juga sudah sering ia tinggal keluar kota untuk pekerjaannya. Namun kali ini berbeda karena biasanya disaat Bagas pergi keluar kota ada bi Susan yang menjaga Anya selama ia tidak dirumah, tapi sekarang saat san bibi sedang pulang kekampung halamannya, sehingga tidak ada yang menjaganya. Ia hanya khawatir jika meninggalkan Anya sendirian dirumah.


" Ngak usah yah, kalau Anya ikut nanti sekolah Anya gimana?".


" Kamu izin aja aja, biar surat izinnya ayah yang ngatur. Ayah khawatir ninggalin kamu sendirian dirumah."


" Ngak apa-apa yah. Lagian Anya juga udah gede bisa jaga diri Anya sendiri, ayah ngak perlu khawatir."


" Yaudah jika itu keputusan kamu," ucap Bagas menyetujui keputusan Anya.


\*\*\*\*\*\*\*


" Kamu yakin ngak mau ikut ayah ke Bandung ?" tanya Bagas.


Pagi ini Bagas akan berangkat ke Bandung, saat ini ia tengah mengemasi barang-barang keperluannya dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.


"Iya yah, ini udah tawaran ayah yang ke 30 kalinya sejak semalam dan jawaban Anya akan tetap sama yah," ucap Anya.


" Kamu jaga diri baik-baik ya nak. Kunci semua pintu kalau lagi dirumah, jangan dibukain kalau orang ngak dikenal, kalau ada apa-apa langsung kabarin ayah," ucap Bagas menasehati Anya.


"Iya yah," jawab Anya sambil terseyum manis kepada sang ayah. Kemudian tangannya terulur untuk menyalimi sang ayah.


" Yaudah kalau gitu ayah langsung berangkat ya, takut macet di jalan kalau kesiangan," ucap Bagas menerima uluran tangan Anya untuk disalimi nya. Tak lupa pula ia mengecup kening sang putri dan memeluknya sekilas.


Setelah berpamitan dengan putri kecilnya, Bagas kemudian memasuki mobil dan mulai menghidupkannya. " Daaa ayahh..." lambaian tangan kecil Anya melambai dengan lembut mengantarkan kepergian sang ayah. Bagas yang melihat dari kaca spion mobilnya itu hanya dapat tersenyum, Ahhh rasanya ia terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan putri kecilnya tersebut.


Anya yang melihat mobil yang dikendarai Bagas telah melesat jauh meninggalkan pekarangan rumahnya, ia memutuskan untuk segera berangkat menuju sekolah karena saat ini jam telah menunjukkan angka 06.30. Ia pun masuk kedalam rumah untuk mengambil kardus yang akan menutupi wajahnya nanti, dan kardus itu berada diruang tamu, lalu kemudian mengunci pintu rumah lalu bergegas menuju sekolah.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2