
"Tumben lo jam segini baru datang Ndra."
" Pecah ban motor gue tadi dijalan," balasnya. Kemudian menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan yang bertumpu diatas mejanya.
Eric kemudian menarik bangkunya agar lebih dekat dengan Endra. " Gretha kemarin ngirimin gue pesan, nanyain lo kemana. Katanya lo kemaren ngak pulang kerumah. Lo nginep lagi di rumah sakit?" tanya nya lagi.
" Biarin aja ngak usah dijawab. Gue ngantuk, bangunin kalau ada guru dateng."
Eric mendengus sebal, selalu saja kebiasaan seperti saat ini." Kebiasaan ini anak, masih pagi udah molor aja." ucapnya lalu melanjutkan kembali permainan game online yang sempat tertunda.
" Nice tepat sasaran...."
" Yess... Hahah akhirnya gue ngekill 5, maju lo sini gue bantai lo semua " ucap Eric menyombongkan dirinya sendiri.
" Nyet, maju g*bl*k! nyawa gue tinggal dikit"
Eric yang saat ini tengah fokus dengan game online nya tak menyadari jika Endra saat ini tengah meringis menahan rasa sakit pada perutnya akibat penyakit Magg nya yang kambuh kembali.
" Eric!"
"Eric!"
"Eric!" Endra berusaha memanggil sahabatnya itu, namun sayang panggilan tersebut tak di gubris sama sekali karena Eric tengah menyumpal telinganya dengan airpods. Rasa sakit yang menjalar di perutnya kian terasa semakin perih, tak kuasa menahannya ia pun memutuskan untuk pergi ke UKS guna meminta obat untuk meredakan nyeri diperutnya.
Dengan bertopang pada tembok, Endra berjalan menyusuri koridor sekolah. Wajahnya yang kian pucat serta pandangan mata yang mulai buram Endra berusaha memaksakan diri untuk tetap berjalan menuju UKS. " Sedikit lagi. Gue pasti bisa hanya tinggal beberapa langkah lagi," batinnya sambil berusaha menyemangati diri sendiri. Namun, apalah daya ia tak dapat menahannya lagi hingga....
"Ehh kamu ngakpapa?" tanya gadis tersebut berusaha menopang badan Endra yang hampir saja terjatuh ke lantai.
" UKS. Tolong anterin gue ke UKS," pintanya dengan suara parau kepada gadis di hadapannya. Melihat keadaan pria di hadapannya yang kian melemah, tanpa berpikir panjang Anya langsung saja membantu memapah pria itu menuju UKS, tempat pria itu minta.
Kini Endra tengah terbaring diatas ranjang uks, keadaannya cukup memprihatinkan. Bibirnya yang nampak pucat serta sebuah luka lebam di area pipi membuat sebuah pertanyaan muncul dalam benak Anya. Ada apa sebenarnya dengan pria ini. Tak mau ambil pusing Anya memutuskan untuk segera kembali ke kelas mengingat sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai.
Namun baru saja hendak melangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS tiba-tiba saja pria itu mencekal tangannya. " Makasih.." ucap Endra bergumam pelan. " A-aku harus kembali ke kelas sekarang," ucap Anya melepaskan cekalan tanga Endra pada lengannya dan berlalu pergi meninggalkan Endra yang terbaring di ranjang UKS.
\*\*\*\*\*\*\*
" Anya, lama banget sih lo, ngembaliin bukunya." ucap Aditya kepada Anya yang baru saja tiba.
" Aku sekalian mampir ketoilet dulu, udah kebelet banget tadi," bohongnya.
__ADS_1
" Pak Bayu belum datang?" tanya nya.
" Ngak bakalan datang orangnya, Ini kita udah dikasih tugas. Harus dikumpulkan hari ini sebelum waktu istirahat udah harus selesai." ucap Aditya sambil menyerahkan sebuah kertas yang berisikan soal-soal kimia kepada Anya.
Baru saja Anya membaca lembar pertama dari soal-soal tersebut, Aditya menarik kursinya agar lebih dekat dengan Anya. Kemudian berbisik pelan kepadanya. " Anya, gue nyontek yang lo aja ya. Gue pusing ngerjainnya." ucap nya kemudian tertidur dengan menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Anya yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Aditya, kemudian lanjut mengerjakan tugas yang di berikan pak Bayu tersebut.
\*\*\*\*\*\*\*
Bunyi getaran handphone didalam saku celana Endra membuat tidurnya terusik, ia segera merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih tersebut.
Eric is calling...
Langsung saja ia menggeser tombol hijau setelah melihat siapa yang baru saja menelponnya itu.
" Lo dimana sih Ndra? Main hilang- hilang aja kayak kuntilanak lo." ucap Eric di sebrang sana.
" Gue di UKS," balas Endra.
" Ehhh kenapa lo? Gue kesitu sekarang."
"Endra! Lo ngakpapa?" tanya Eric khawatir. Setelah mendengar sahabatnya berada di uks Eric langsung saja panik, ia langsung berlari menuju UKS tempat Endra berada untuk mengetahui keadaan sahabatnya tersebut.
" Berisik!"
" Lo ngakpapa?" tanya nya lagi. Namun kali ini dengan suara berbisik.
"Hmmmm" jawab Endra dengan mata yang terpejam.
"Kenapa ngak bilang kalau lo sakit, kan bisa gue anterin kesini,"
"Ck. Gue manggil lo aja susah, keburu mati gue di tempat."
" Hehehe....sorry gue ngak denger waktu lo manggil."
Endra memutar matanya jengah melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini.
" Hmmm Ndra. gue temanin lo disini ya, bu tompel lagi pms dia. Baru masuk kelas aja udah disemprot omelan sama dia." ucap Eric merayu Endra. Bu tompel adalah sebutan guru matematika killer di SMA Garuda, ia tak segan-segan jika menghukum para muridnya. Ia bahkan selalu membawa gagang kayu untuk memukuli para murid yang kedapatan bolos saat jam pelajaran berlangsung. Bu tompel sendiri adalah sebuah julukan yang diberikan Eric untuk bu ria, guru matematikanya itu karena ia memiliki sebuah tompel besar yang berada di pipi kirinya.
__ADS_1
" Ngak! Balik sana lo ke kelas," ucap Endra menyentak kasar tangan Eric yang berada di Lengannya.
" Ayolah Ndra, tolongin gue kali ini aja. Pleaseee...." ucap Eric sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada berusaha memohan kepada Endra.
" Mau gue seret lo ke kelas?"
" Iya, iya, Gue ke kelas sekarang. Jahat banget lo jadi teman." ucapnya kesal lantaran Endra yang tak mau membantunya dalam hal membolos pelajaran.
" Entah nasib baik atau sial gue punya temen kayak lo ric," batin Endra yang menatap kepergian Eric sahabatnya.
\*\*\*\*\*\*\*
" Eric, tunggu!"
Eric yang baru saja keluar kelas dikejutkan dengan seseorang yang memanggil namanya. Ia sangat kenal akan suara itu, buru-buru ia mempercepat langkahnya menuju kantin.
"Eric!" panggil nya lagi dengan sedikit berlari untuk menghindari perempuan tersebut.Dan benar saja, Eric kalah cepat, sekarang perempuan itu telah berada dihadapannya untuk menghadang jalannya.
" Ehhh Gretha, kenapa?" tanya nya.
" Lo ngehindarin gue? Gue panggilin, lo malah kabur." ucap Gretha.
" Ngak lah, ngapain gue ngehindarin lo," ucap Eric.
" Endra mana?" tanya Gretha to the point.
" Endra..." ucapnya menggantung.
Melihat Eric yang tampak kebingungan membuat Gretha curiga dengan apa yang sedang di sembunyikan darinya.
" Ngapain lo cari gue?" Panjang umur, akhirnya yang di cari datang sendiri, Eric tak harus berbohong kepada Gretha mengenai keberadaan Endra yang selalu Gretha tanyakan padanya. Eric bernapas lega melihat ke hadiran Endra, ia jadi terlepas dari pertanyaan - pertanyaan Gretha yang tiada habisnya itu.
" Kamu dari mana Ndra? Aku nyariin kamu dari tadi." ucapnya dengan gaya manja kepada Endra.
" To the point ! Gue ngak suka basa basi," Endra berucap dengan pandangan mata yang tak bersahabat kepada Gretha.
Gretha mengenggam tangan Endra menatap kedua matanya dengan lembut. " Gue khawatir sama lo Ndra, ini gue bawain obat buat ngobatin luka di wajah lo." ucap nya sambil menyerahkan sebuah obat salep yang baru saja ia beli di apotek sebelum berangkat sekolah tadi.
" Thanks. Sekarang lo bisa pergi dari hadapan gue," ucap nya setelah mengambil obat salep pemberian Gretha. Gretha tersenyum puas melihat Endra yang tak menolak pemberiannya itu, tak salah jika ia memberikan salep tersebut kepada Endra saat disekolah. Ia tahu jika Endra tak akan bisa menolak pemberiannya, karena Endra yang sangat menjaga nama baiknya sebagai ketua osis SMA Garuda.
__ADS_1
" Sama-sama, gue balik ke kelas dulu." ucapnya tersenyum sangat manis kepada Endra, kemudian berlalu pergi dengan senyum merekah yang menghiasi wajahnya.