SI CANTIK BERKEPALA KARDUS

SI CANTIK BERKEPALA KARDUS
9


__ADS_3

" Gila ya, untung lo munculnya cepat. Kalau ngak udah pusing gue ngeladenin Gretha yang nanyain lo terus." ucap Eric. kini Eric dan Endra berjalan memasuki kantin yang tampak ramai, kemudian mendudukkan diri disalah satu bangku kosong yang terdapat disana.


" Lo mau makan apa? Biar gue pesanin," tanya Eric kepada Endra.


" Bakso sama es jeruk gue," jawabnya.


" Jangan bakso deh, gue pesanin lo nasi soto aja ya. Lo tadi pagi aja masuk UKS pasti karena maggh lo kumat lagi kan?"


" Dih. Sok tau lo, yaudah terserah lo pesanin gue apa aja." ucap Endra. Ya, meskipun Eric sangat menyebalkan tapi ia sudah seperti seorang kakak bagi Endra.


" Lo berantem lagi sama bokap lo?" tanya Eric setelah memesan makanan mereka. Endra hanya mengangkat bahu nya acuh mendengar pertanyaan Eric tanpa mengalihkan perhatiannya pada handphone yang tengah ia gengam.


" Keadaan nyokap lo gimana? udah ada kemajuan."


Endra meletakkan handphonenya, menarik nafasnyaa dalam kemudian menghembuskan secara perlahan membuang rasa sesak yang mulai menghampiri ketika mengingat ibunya.


" Tetap ngak ada perubahan," jawabnya.


" Lo yang kuat Ndra, gue yakin nyokap lo pasti sembuh." ucap Eric.


Endra tersenyum tipis menatap Eric.


" Ya, gue yakin itu pasti." batinnya.


*******


Setelah pulang sekolah Anya memutuskan untuk mampir ke toko buku terlebih dahulu, untuk membeli beberapa buku untuk ia belajar dan hanya untuk sekedar ia baca dirumah ketika sedang gabut.

__ADS_1


Banyak nya buku yang berjejer tersusun rapi. Mulai dari buku akademik hingga buku fiksi karangan para penulis berbakat juga tersusun rapi disana. Meskipun jarak yang di tempuh lumayan jauh, hal itu tak mengurungkan keinginannya untuk pergi kesana.


Anya berjalan menyusuri setiap rak nya, bahkan ia juga mengambil beberapa buku untuk ia beli. Hingga ketika tengah menyusuri setiap lorong dari rak buku tersebut. Tibalah ia di salah satu rak yang berisikan musik disana ada berbagai macam alat musik seperti, Biola, gitar, drum dan lainnya. Bahkan juga terdapat alat untuk memutar musik seperti Digital Versatile Disk atau biasa di kenal dengan sebutan DVD, serta buku - buku untuk mempelajari berbagai macam alat musik juga tersedia. Mata Anya berbinar ketika mulai memasuki lorong tersebut, ini adalah surga mata baginya. Suara alunan musik yang berasal dari sebuah alat musik jadul yang menggunakan piringan hitam sebagai sumber suara musiknya berasal , bernama Gramofon menemani Anya mengitari lorong tersebut.


Kini pandangan matanya tertuju pada salah satu rak yang berisikan album dari pemain biola terkenal pada masanya. Jari - jari lentiknya menyusuri setiap inci dari isi rak itu, hingga berhenti pada salah satu album sang idolanya. Ya, Bella Aswara.


" Sangat cantik" gumamnya.


Ia pun memutuskan untuk membeli beberapa koleksi dari Album tersebut. Setelah dirasanya sudah cukup ia memutuskan untuk segera pulang karena cuaca yang tampak gelap akibat mendung.


********


"Endra kamu udah pulang?"


Endra berdecih mendengar pertanyaan yang keluar dari mama tirinya itu, Bukannya menjawab Endra terus saja melangkahkan kakinya menuju kamar melewati sang mama tiri yang saat ini sedang menatapnya.


Baru saja ia akan menapakkan kakinya di anak tangga. Pertanyaan dari mama tiri nya mampu membuatnya berhenti seketika.


 " Khawatir?" gumam Endra.


" Endra..." panggilnya lagi, berusaha mendekati Endra yang kini terdiam.


" Lo ngadu apa sama bokap gue?" tanya Endra kepada sang ibu tiri.


Mendengar pertanyaan Endra membuat Nirwana terdiam, Ia lantas menurunkan tangannya yang baru saja ingin menggapai lengan sang anak tirinya itu.


" M-maksud kamu apa Ndra? Mama ngak ngerti." jawabnya gemetar. Nirwana tak berani berkata lebih sebab Endra kini tengah menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


" Jangan pura-pura bodoh, gue paling benci orang munafik kayak lo!" ucap Endra dengan nada dinginnya.


" Endra, mama cuman...." lirih Nirwana mama tirinya.


" BERHENTI SEBUT KATA ITU DI DEPAN GUE, LO BUKAN MAMA GUE B*NGS*T! LO ITU HANYA BENALU YANG NGERUSAK RUMAH TANGGA ORANG TUA GUE. KALAU LO NGAK MUNCUL KELUARGA GUE NGAK BAKALAN HANCUR SEPERTI SEKARANG!" teriak Endra yang tak dapat lagi menahan emosinya.


Endra berjalan mendekat kearah Nirwana " Kalau lo berani ikut campur lagi urusan gue. Gue pastiin hidup lo bakal menderita!" ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Nirwana yang kini mengeram kesal padanya.


Endra berjalan memasuki kamarnya yang tampak gelap. Meraba dinding kamar yang dingin untuk mencari saklar lampu, lalu menghidupkannya. Pandangan matanya menatap setiap sudut kamar yang tampak bersih itu, sepertinya sang bibi lah yang membersihkannya karena memang setiap paginya ada sang bibi yang bertugas untuk membersihkan rumahnya itu.


Endra lalu merebahkan diri diatas kasur untuk melepaskan semua rasa lelahnya hari ini. Merogoh saku celana, mengambil handphonenya. Hatinya berdenyut nyeri ketika melihat foto-foto sang mama dan dirinya beberapa tahun silam, terlihat senyum bahagia menghiasi wajah keduanya.


Endra sangat akrab dengan sang mama mereka sering kali menghabiskan waktu berdua, dan tak jarang mengabadikan setiap momen kebersamaannya dengan berfoto bersama. Ia tak menyangka jika kini ia hanya bisa memandangi foto-foto tersebut melalui handphonenya, sang mama kini tengah terbaring koma akibat kecelakaan mobil yang menimpanya 5 tahun lalu. Dan ia hanya bisa berharap sang mama akan bangun dari tidur panjangnya dan kembali bersamanya seperti dulu.


Kini hari tampak semakin sore, jam menunjukkan angka 17.30 Endra langsung saja beranjak dari kasurnya, bergegas ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan badannya dari debu dan kotoran akibat aktifitasnya selama di sekolah serta mendinginkan pikirannya yang sempat panas karena ulah sang mama tirinya.


*******


Anya baru saja menyelesaikan ritual mandinya, Sambil mengeringkan rambut yang masih setengah basah menggunakan handuk yang ia sampirkan dibahunya itu. Ia mulai mengeluarkan barang belanjaan yang ia beli ditoko buku sepulang sekolah tadi. Dan menatanya di lemari yang tersedia dikamarnya itu


Anya membeli beberapa buku bacaan serta sebuah album. Ia sudah tak sabar untuk membuka koleksi album terbarunya itu, mata Anya berbinar. Bagaimana tidak, hal pertama saat ia membuka albumnya itu ia di suguhkan dengan sebuah poster Bella Aswara yang terlihat sangat elegant sedang memainkan biolanya di sebuah taman yang di penuhi bunga-bunga cantik berwarna kuning disekitarnya itu.


Poster tersebut berukuran cukup besar sehingga ia bisa menempelkannya di dinding kamarnya. Namun, ia tak memiliki keberanian untuk melakukannya mengingat sang ayah yang tak menyukainya, ia takut jika Bagas akan merobek dan membuang posternya.


Beralih dari posternya, Anya kembali membuka lembar- lembar selanjutnya dari album tersebut. Potret cantik Bella Aswara menghiasi setiap lembarnya, dan ada juga beberapa photocard Bella Aswara yang tersenyum manis bersama biola kesayangannya. Serta sebuah kaset pemutar musik klasik indah yang berasal dari lantunan biolanya yang merdu tersebut.


Anya segera memasukkan kaset tersebut kedalam laptopnya, lalu memutar musiknya. Malam ini ia tidak akan ditemani oleh kesunyian karena lantunan musik yang berasal dari biola Bella Aswara yang akan menemani tidurnya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2