Sihir Elemen

Sihir Elemen
Chapter 1 : Reinkarnasi


__ADS_3

Arc 1 - Chapter 1 : Reinkarnasi


Dunia lain, sebuah dunia yang memiliki sihir. Semua orang di dunia tersebut memakai sihir sebagai hal yang biasa. Sihir juga dipakai dalam kehidupan sehari-hari dan sebagainya. Karena itu semua orang menganggap bahwa sihir adalah segalanya.


Orang-orang beranggapan bahwa orang yang memiliki banyak sihir adalah pahlawan, sedangkan yang memiliki sedikit sihir akan dianggap layaknya sampah. Tidak hanya itu, diskriminasi antara kalangan juga terjadi dikarenakan bangsawan dikatakan memiliki kapasitas sihir yang besar dibanding kalangan menengah dan bawah.


Namun yang sebenarnya terjadi bukan karena hal itu. Kapasitas sihir bisa meningkat jika dilatih semenjak masih kecil, dan karena rakyat di kalangan menengah dan kebawah tidak mempunyai cara untuk mempelajarinya selain di akademi.


Tetapi, sihir awalnya tidak sepopuler tersebut, dikarenakan sihir merupakan hal yang tidak berguna bagi manusia di masa lalu. Itu terjadi karena manusia di masa lalu tidak paham dengan mantra dan rapalan, hingga ketika seorang sage muncul dan mengubah semua sihir yang ada menjadi hal yang berguna.


Dan sage tersebut adalah Aku. Aku bereinkarnasi dikarenakan eksperimenku yang membuat sebuah mantra reinkarnasi di masa lalu, dan itu berhasil. Aku terlahir kembali dengan nama Loid Astra yang masih berumur 5 tahun.


Aku sekarang tinggal bersama orang tua baruku di sebuah rumah kecil dan kumuh, dengan perabotan yang rusak namun masih dipakai. Bisa kusimpulkan bahwa Aku terlahir di kalangan terendah, dan sedang terlilit hutang. Orang tuaku juga terlihat kekurangan gizi, namun mereka tetap tersenyum kepadaku dan berkata bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Tentu saja, Aku mengkhawatirkan mereka dikarenakan di kehidupanku sebelumnya Aku sama sekali tidak memiliki orang tua, dan bahkan Aku tidak mengetahui apa itu kasih sayang orang tua. Melihat orang lain yang bersenang-senang bersama keluarganya, sementara Aku hanya memikirkan sihir.


Kali ini Aku berpikir untuk menghentikan eksperimenku dan memutuskan untuk menikmati kehidupan keduaku sebagai manusia biasa.


Aku terbangun dari mimpiku dan menatap atap yang kumuh namun Aku menyukainya. Telah delapan tahun semenjak Aku bereinkarnasi, dan semenjak itu pula Aku meningkatkan kapasitas sihirku dengan teori yang kubuat, sehingga peningkatan kapasitas sihirku terhenti ketika berumur 13 tahun.


Kemudian Aku berjalan ke arah cermin yang penuh retakan, namun masih kupakai. Aku melihat diriku yang berambut hitam dengan mata hitam yang gelap. Tubuhku juga telah kulatih sehingga saat ini tubuhku menjadi bagus.


"Loid, saatnya sarapan" Tiba-tiba saja terdengar suara dari bawah.


Aku langsung turun kebawah dan melihat seorang wanita berambut hitam pekat dengan mata biru terang tengah mempersiapkan makanan. Dia adalah Ibuku, namanya Stella Astra, Atribut sihirnya adalah air.


Berbeda dengan ingatanku sebelumnya, sekarang seseorang hanya mampu menguasai satu elemen saja. Berbeda denganku yang bisa menggunakan keempat elemen sekaligus dan juga beberapa sihir elemen dan non-elemen lainnya.


"Ngomong-ngomong ayah kemana?" Tanyaku kepada Ibuku.


"Diluar, dia sekarang lagi mengantarkan barang ke toko-toko" Balas Ibuku sambil mengaduk makanan yang dimasaknya.


Karena keluargaku yang berada di kalangan terendah yang membuat kami kekurangan uang, dengan terpaksa Ayahku bekerja lebih keras bersama ibuku. Aku awalnya ingin menikmati hidup keduaku dengan menjadi orang biasa, tetapi melihat kondisiku yang sekarang membuatku berpikir untuk menjadi penyihir lagi karena dengan cara itu Aku bisa menghasilkan uang yang banyak.


Menjadi penyihir tidaklah mudah, diperlukan mendapatkan sertifikat dari akademi sihir untuk menjadi penyihir resmi, dan bisa bekerja di berbagai tempat seperti menjadi penyihir kerajaan, ataupun menjadi petualang. Namun yang menjadi masalah ialah, seorang dari kalangan bawah dikatakan mustahil untuk masuk ke akademi.


Akademi awalnya dibuat untuk kalangan bangsawan yang kemudian kalangan menengah pun bisa masuk ke akademi tersebut dengan syarat memiliki uang yang banyak, serta bakat sihir. Berbeda dengan bangsawan yang bisa masuk meski tidak memiliki bakat sama sekali. Dari hal tersebut bisa kusimpulkan bahwa Aku mustahil masuk ke akademi dengan cara yang biasa.


Karena itu, selama beberapa tahun ini Aku mencoba mengumpulkan uang untuk masuk ke akademi dengan bekerja sampingan sebagai pengantar barang bersama ayahku meski tidak seberapa, namun itu mungkin cukup untuk membuatku masuk ke akademi.


Kalau bakat, Aku sudah jelas sangat berbakat dikarenakan Akulah yang menemukan cara efektif menggunakan sihir, meski sekarang sihir menjadi lemah kembali, tetapi pengetahuanku masih tetap sama seperti di masa lalu.


Kemudian, selang beberapa menit, Ibuku telah selesai menyiapkan makanan, dan Aku langsung duduk di meja makan yang terlihat rapuh dan hampir hancur, namun masih dipaku agar tidak hancur. Sarapan kali ini adalah Sup bening dengan roti keras.


Itu adalah makanan sehari-hariku, Sup bening yang terbuat dari air dengan campuran garam sedikit, dan Roti keras yang dibeli dari toko roti dengan harga yang murah. Aku awalnya berpikir untuk menggunakan sihirku dan menghasilkan makanan dari berburu, tetapi Aku tidak di izinkan keluar oleh penjaga kota kecuali Aku berumur 15 tahun atau memiliki pengawas.


Sebenarnya itu adalah hal yang bagus dikarenakan di masa lalu banyak anak-anak yang kehilangan nyawanya dikarenakan monster yang mereka temui di luar kota. Tapi Aku sangat kesal karena tidak di izinkan keluar, bahkan dindingnya mempunyai sensor sihir yang akan aktif jika di lewati.


Aku bisa melihatnya dengan mata penilaiku yang kubuat dengan beberapa lapisan mantra dan dengan mata itu Aku bisa melihat atribut sihir orang lain beserta levelnya. Tidak hanya itu, mata itu bisa melihat aliran sihir yang ada di benda, seperti sensor sihir yang ada di kota.


Benda seperti itu disebut dengan artefak sihir yang bisa didapatkan dengan membuatnya, tetapi sekarang Aku melihat orang-orang memakai artefak yang sama dengan artefak yang kukenal di masa lalu, yang membuktikan bahwa perkembangan artefak terhenti. Tidak hanya itu, Aku mendengar dari seorang petualang bahwa artefak hanya ditemukan di reruntuhan kuno.

__ADS_1


Sekarang, Aku langsung menghabiskan makanan tersebut dan bergegas untuk bekerja. Pekerjaanku adalah pengantar barang, aku mengantar berbagai barang ke toko-toko dan mendapatkan bayaran sebesar 5 perunggu. Itu adalah jumlah yang sedikit, namun berharga bagiku.


Setibanya di tempat kerja, Aku langsung dipanggil oleh seorang manager perusahaan pengantar barang tersebut, sebut saja namanya Bos.


"Oh Loid! Syukurlah kau sudah tiba, ada banyak pekerjaan yang harus kau lakukan. Kau harus mengantar barang ini ke akademi sihir" Kata Bos sambil memperlihatkanku sebuah gundukan batu sihir di ruangannya.


"Bukankah ini terlalu banyak?" Tanyaku untuk memastikan hal tersebut.


"Bagimu ini hanyalah sedikit, lagian cuma satu tempat saja, dan kupastikan Kau mendapatkan lebih banyak uang jika mengantarnya." Bujuk bos dengan mengiming-iming imbalan yang besar.


"Baiklah, akan kuterima tawaran tersebut" Balasku.


Setelahnya Aku berjalan menuju ke gundukan batu sihir tersebut dan mengangkat tangan kananku ke depan dan mulai merapalkan mantra.


"Wahai Ruang!, Bukalah Celah, Dimensi Lain, [Space Storage]" Ucapku untuk mengaktifkan mantra.


Kemudian semua batu sihir tersebut langsung menghilang dalam sekejab, dan masuk ke dimensi lain milikku. Meski memakan banyak energi sihir, tetapi sangat efektif jika membawa banyak barang. Setelahnya Aku langsung bergegas menuju ke akademi sihir untuk mengantarkan batu sihir tersebut.


Selang beberapa menit, Aku tiba di depan pintu gerbang masuk akademi tersebut. Gerbang yang besar dan dipenuhi dengan aliran sihir, tetapi hanya sebatas membuka dan menutup gerbang saja. Setelahnya Aku masuk dan menyaksikan bagian terdepan akademi tersebut.


Bangunan yang kokoh dan megah. Ukurannya yang besar sehingga mampu menampung banyak orang. Sebuah sekolah sihir yang menjadi salah satu incaranku untuk menjadi kaya. Meski Aku tidak tahu apakah Aku akan diterima atau tiidak.


Tapi terlebih dari itu, Aku harus segera mengantarkan barang tersebut untuk mendapatkan uang. Kemudian, selang beberapa menit, Aku tiba di gudang akademi yang ditunjukkan oleh seorang guru yang tengah mengawasiku dan juga memberiku upah.


Aku mengeluarkan semua batu sihir tersebut di gudang tersebut tanpa tersisa sedikitpun. Setelahnya Aku langsung mengambil upahku sebanyak 1 perak. Bagiku itu adalah jumlah yang besar, karena Aku bisa membeli makanan yang enak untuk keluargaku.


Setelah mengambil upah tersebut, tanpa berpikir panjang Aku keluar dari akademi dan bergegas untuk pulang. Namun di perjalanan keluar, secara tiba-tiba Aku merasakan aliran sihir menuju ke arahku dengan kecepatan yang tinggi.


Aku penasaran mengapa dia menyerangku begitu saja, yang kemudian membuatku mencoba untuk mendekatinya tanpa berpikir panjang untuk menanyakan hal tersebut kepadanya. Namun saat Aku melangkah, Dia merapalkan mantranya dan menyerangku lagi.


Karena ini sudah keterlaluan, Aku memutuskan untuk memberikannya pelajaran dan memulai merapalkan mantraku untuk melindungi diriku dari serangannya. Tetapi sebelum itu, Aku menyaksikan dirinya merapalkan mantra api, yang secara otomatis membuatku merapalkan mantra air untuk dijadikan pelindung.


"Wahai Air!, Lindungilah Aku, Dengan Airmu. [Water Shield]" Rapalku dengan cepat.


Siswa itu melancarkan serangan api yang berbentuk layaknya tombak, namun memiliki ukuran yang lebih kecil dari yang kuingat. serangannya itu langsung terbang ke arahku, tapi itu tidak memberikan efek apapun dikarenakan pelindung airku.


Dari kejauhan nampak wajah siswa itu yang kesal, Aku mencoba untuk mendekatinya lagi, namun dirinya semakin marah dan membuat sihir api yang aku ketahui, yaitu [Ring Of Fire], sebuah sihir api yang membentuk seperti cincin dan menangkap target dengan mengekangkannya cincin di leher.


Tetapi sihir yang digunakan olehnya terlalu lemah sehingga ukurannya hanya seperti cincin biasa. Karena itu Aku langsung berlari ke arahnya untuk menyerangnya karena telah menyerangku terlebih dahulu tanpa alasan yang jelas.


Aku perlahan semakin mendekat, dan juga dia semakin menyerangku dengan wajahnya yang panik. Hingga selang beberapa sekian detiknya Aku langsung bergerak dengan membelakanginya dan menyerang bagian belakang lehernya sehingga membuatnya pingsan.


"Dasar aneh, menyerangku tiba-tiba seperti itu. Memangnya Aku salah apa?" Keluhku.


Setelahnya muncul sesosok gadis mungil di hadapanku dan memeriksa siswa tersebut. Karena terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba membuatku melompat ke belakang sebagai bentuk pertahanan diri. Kemudian gadis itu menghampiriku.


"Mengalahkan pengguna sihir api rank D semudah itu dengan menggunakan sihir air rank E, itu adalah hal yang patut di banggakan. Dan sepertinya kau bukan siswa di sini. Jadi kau, apa kau ingin bergabung di akademi ini?" ucap gadis itu.


"Tunggu sebentar, siapa kau?" Tanyaku sambil memeriksa sihirnya


Aku memeriksa sihirnya menggunakan mata penilaiku, dari yang terlihat Dia mampu menggunakan sihir air hingga ke Rank B. Tidak hanya itu, dia juga mempunyai sihir penyembuh Rank E, dan sihir Ruang Rank F. Meski Aku lebih unggul darinya

__ADS_1


Jika dibandingkan denganku yang mampu menggunakan empat elemen seperti air, angin, tanah, dan api hingga ke Rank S, kemudian elemen lainnya seperti es sudah di tingkat A. Non-elemen seperti Blacksmith sudah mencapai tingkat B. Bisa dikatakan Aku mempunyai segala elemen dan Non-elemen yang ada karena pengetahuanku di masa lalu masih tetap sama.


"Aku lupa memperkenalkan diri, namaku Yuna Undine, Aku adalah keturunan langsung dari pahlawan air, Erika Undine! Dan juga Aku adalah kepala sekolah di akademi ini." Ungkapnya dengan percaya diri


Erika Undine, dia adalah salah satu pahlawan yang ada di masa lalu, mereka juga adalah salah satu musuhku dikarenakan semua penemuan sihirku dirampas oleh pahlawan dan diakui sebagai miliknya, namun pada akhirnya Aku tetap mendapatkan gelar sage. Aku memang membencinya, tetapi membalaskan dendamku ke keturunannya itu sedikit buruk.


"Kalau aku, Loid Astra. Aku hanya seorang pengantar barang saja, lagipula mustahil untuk seorang dari kalangan bawah masuk ke akademi"  Tolakku


"Kalau seperti itu, tidaklah masalah. Melihat seseorang yang berbakat bukankah Aku harus menerimanya? Lagipula jika kau tidak mempunyai biaya atau apapun itu, Aku yang akan memberikanmu beasiswa. Namun kemungkinan besar akan memicu perdebatan antara bangsawan. Tapi tenang saja, Aku adalah kepala sekolah di akademi ini, dan juga leluhurku yang membangunnya, bahkan jika bangsawan tersebut menentang, akan kuusir dari akademi ini." Jelasnya.


'Jackpot! dengan begini Aku tidak perlu memikirkan biaya sekolah sama sekali,' pikirku dalam hati.


Dari awal Aku memang mustahil untuk masuk ke akademi karena keterbatasan biaya. Tapi sekarang, sebuah kesempatan emas muncul di hadapanku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Baiklah, Aku akan menerima tawaranmu itu. Lagipula Aku juga ingin bersekolah di sini" Jawabku.


"Syukurlah kalau begitu, sebelum itu Aku ingin bertanya kepadamu, Apa kau tau apa yang harus di persiapkan sebelum masuk ke akademi?" Tanya Yuna kepadaku.


"Tentu saja, yang pertama sudah pasti tongkat sihir, kemudian buku pelajaran sihir, terus Grimoire." Jelasku


"Tidak hanya itu saja, Kau memerlukan juga memerlukan jubah sihir dan sapu terbang. Lalu Aku akan memberikanmu sebuah surat rekomendasi serta beberapa uang untuk membeli perlengkapan tersebut." Jelasnya.


Setelahnya Aku dibawa ke kantornya dan Dia memberikanku sebuah surat rekomendasi beserta sekantung uang yang berisi 1 koin emas. Tidak hanya itu saja, Dia menjelaskanku apa yang harus kulakukan ketika hari pemilihan siswa berlangsung.


Selang beberapa jam, Aku pergi meninggalkan akademi untuk pulang kerumah. Namun diperjalanan Aku melihat sebuah toko yang menjual sate bakar. Karena sudah lama tidak memakan daging membuatku langsung membelinya dengan uang hasil dari pekerjaanku.


Satu perak, yang setara dengan seratus perunggu, sementara itu satu emas juga setara dengan seratus perak. Aku membeli sate itu dengan harga 2 perunggu pertusuk, dan Aku membelikan orang tuaku juga sehingga Aku memesan 10 tusuk untuk dibawa pulang.


Siang hari terasa panas, banyak orang yang berlalu lalang kesana dan kemari. Berbagai kendaraan kuda mewah muncul di sekitar jalan. Padahal Aku tinggal di kota tersebut, namun Aku masih belum melihat kota secara keseluruhan.


Kota Talnear, kota kelahiranku. Kota yang berada di kerajaan Lucytra dan termasuk dalam kota terbesar kedua setelah ibukota. Kota ini terkenal karena akademinya yang merupakan akademi sihir terbesar kedua setelah yang ada di ibukota, namun masih tidak kalah bagusnya daripada yang di ibukota.


Meski begitu, kota ini juga merupakan pusat perdagangan dikarenakan banyaknya monster yang muncul di dekat kota, lebih tepatnya di hutan iblis dekat kota. Namun tidak ada yang perlu di khawatirkan, kebanyakan siswa di akademi akan ditugaskan untuk berburu di hutan iblis. Tidak hanya itu, kebanyakan guru dari akademi juga merupakan penyihir terkuat. Itu yang aku dengar dari rumor yang beredar di perkotaan.


Namun kota ini terbagi menjadi 4 wilayah, yang pertama wilayah bangsawan, lalu wilayah kalangan atas, kalangan menengah, dan terakhir kalangan bawah. Dam Aku termasuk dalam kalangan bawah. Semuanya di tentukan dari kekayaannya, jika terlalu kaya maka tergolong sebagai kalangan atas, begitupula dengan yang lainnya.


Tujuanku adalah untuk mengubah derajat orang tuaku dengan membuatnya menjadi bagian dari kalangan atas dengan cara menjadi penyihir. Orang yang menjadi penyihir biasanya mendapat pekerjaan yang lebih baik dibanding orang biasa.


Selang beberapa saat, Aku tiba di tempat yang kumuh, dan juga merupakan rumahku. Aku masuk ke dalam dan disambut oleh Ibuku dengan Ayahku. Ayahku berambut hitam dengan mata hitam sepertiku. Namun tubuhnya sangat berotot dan penuh sayatan pedang.


Awalnya Ayahku merupakan salah satu petualang namun pensiun dikarenakan dikhianati oleh rekan setimnya serta hartanya yang dicuri olehnya. Membuat ayahku menjadi frustasi dan lebih memilih untuk menjadi kalangan bawah hingga bertemu dengan ibuku.


"Jadi Loid, kau habis dari mana? Seharusnya kau sudah kembali dari tadi." Tanya Ayahku dengan khawatir.


"Aku baru saja dari akademi dan Aku mendapatkan surat rekomendasi untuk masuk ke akademi tersebut berserta beasiswanya!" Balasku dengan tersenyum.


Tepat setelah Aku berkata hal tersebut, suara kursi terjatuh dengan keras, Kedua orang tuaku langsung memperlihatkan wajah terkejutnya sambil berlari menghampiriku. Dan dengan senang hati Aku memeperlihatkan surat rekomendasiku.


Setelahnya mereka menangis terharu akan hal tersebut dan langsung memelukku dengan erat. Aku tidak tahu kenapa, tetapi Aku tiba-tiba merasakan sesuatu di hatiku. Aku tidak tahu maksudnya apa, tapi Aku merasa sangat senang dan bangga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2