
Chapter 5 : Pelatihan Sihir
Sehari kemudian, tepatnya disaat pulang dari sekolah. Sesuai dengan apa yang kujanjikan kepada Molda untuk melatihnya dan mengajarkannya beberapa mantra yang bisa kukatakan sempurna dibandingkan mantra sekarang. Aku berencana untuk menemuinya di depan gerbang akademi dan mengajaknya untuk mampir sebentar ke rumahku dan langsung menuju ke lapangan umum.
Aku berjalan menuju ke arah gerbang dengan perlahan. Dari yang kulihat di sekitarku, banyak sekali Siswa yang pulang secarar bersamaan sehingga membuat pintu gerbang menjadi sedikit sempit. Namun untungnya Aku sudah menduga akan hal itu sehingga Aku mengambil jalan pintas, yaitu dekat pagar. Dengan memanfaatkan sihirku, Aku menggunakan sihir ruang dan menghapus celah yang memisahkanku dari bagian luar pagar sehingga bisa dikatakan sebagai [Teleport].
"Wahai Ruang!, Hapuslah Celah, Dengan Ruang Hampamu, [Teleport]" Dengan begitu, Aku langsung berada di bagian luar sekolah tanpa harus repot-repot melewati gerbang.
Sebenarnya sihir ini bisa kugunakan untuk keluar kota. Meskipun begitu, Aku tidak bisa melewati gerbang kota karena Aku sama sekali belum pernah berada langsung di bagian luar kota tersebut. Syarat dari Sihir ini adalah pernah berada di tempat tersebut. Kalau tidak, nantinya akan terjadi kerusakan ruang sehingga membuatku bisa berpindah di tempat yang sangat jauh dan asing.
"Baiklah, sekarang waktunya untuk menemui Molda" Pikirku.
Aku segera berlari menuju ke arah gerbang dan mulai mencari Molda, tetapi Molda sama sekali tidak kutemukan. Dan pada akhirnya Aku menggunakan sihirku lagi, yaitu [Search]. Aku mencari ke sekitaran gerbang, dan akhirnya kutemukan sedang mencoba untuk keluar, namun terhalang oleh banyaknya siswa.
Lalu selang beberapa menit, Molda akhirnya telah tiba sepenuhnya dengan penuh keringat di wajahnya akibat sesak dan panasnya di siang hari.
"Aku terkadang merasa iri dengan siswa tahun ajaran keempat, mereka sudah di izinkan untuk naik sapu terbang secara bebas." Keluh Molda.
Naik sapu terbang di kota memerlukan sebuah surat izin terbang yang hanya bisa didapatkan dari akademi. Oleh karena itu, yang banyak menggunakan sapu terbang hanyalah bangsawan, dan beberapa di kalangan atas dan menengah. Aku membacanya dari perpustakaan kemarin.
"Mau bagaimana lagi, kita harus menunggu hingga tahun ke empat. Daripada terluka karena naik sapu terbang secara asal-asalan, lebih baik tetap bersabar." Jelasku.
"Baiklah Kalau Begitu, Lalu kapan latihannya akan dimulai?" Tanya Molda dengan bersemangat.
"Sebelum itu, mampirlah ke rumahku, Ibuku mengundangmu untuk makan siang sebagai ucapan terima kasih karena telah menjadi temanku." Ajakku.
"Sungguh?! Kalau begitu, maaf merepotkan" Dengan cepat ekspresi Molda menjadi sangat senang.
Ekspresi yang Molda tunjukkan tersebut sangat melebihi apa yang kuharapkan, tetapi Aku merasa ikut senang karena melihatnya. Dengan begitu, kami berdua langsung menuju ke rumahku tanpa ada masalah sedikitpun.
Setibanya di rumah, tentu saja Kami langsung disambut oleh kedua orang tuaku, apalagi cara menyambutnya sama dengan apa yang mereka lakukan kemarin. Untuk beberapa jam, Kami berniat untuk makan siang bersama, akan tetapi ekspresi yang Molda perlihatkan cukup berlebihan untuk makanan kelas bawah.
"Apa yang membuatmu begitu senang? Bukankah Kau berasal dari keluarga kelas atas?" Tanyaku yang kebingungan dengan tingkah lakunya.
"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Daripada makan makanan mewah tetapi sendirian, Aku lebih baik memakan makanan biasa bersama dengan orang lain." Ucap Molda yang membuatku sedikit tersentuh.
Aku sangat memahami apa yang dikatakan Molda, karena sama sepertiku di masa lalu. Kekayaan, Kekuatan, semuanya kumiliki. Akan tetapi Aku tidak mempunyai teman satupun. Yang kulakukan hanyalah meneliti dan meneliti sampai-sampai Aku melupakan emosiku. Kesepian, Amarah, Kesedihan, dan sebagainya, Aku sampai melupakan hal itu, hingga Aku menemukan sihir reinkarnasi.
"Begitu rupanya, Baiklah Kau boleh mampir kemari tiap hari, dan selama itu pula Aku akan melatihmu untuk menjadil lebih kuat."
Setelahnya suasana ruang makan semakin meriah dikarenakan kedatangan Molda. Dan pada akhirnrya Kami menghabiskan dua jam untuk makan siang saja. Dan waktu itu pula yang membuat Molda sedikit bersemangat. Begitu pula dengan diriku, Aku menemukan sebuah kesalahan yang kulakukan di masa lalu, dan kali ini Aku sudah mengetahui cara menyelesaikannya.
Sesampainya di Lapangan Umum, tempat dimana semua orang dapat berolahraga dan melatih sihir. Dari kejauhan juga nampak banyaknya orang yang menggunakan Sapu Terbang. Hanya di lapangan, semua orang dapat menggunakan sapu terbang, akan tetapi di setiap tempat terdapat pengawas agar tidak terjadi kecelakaan yang parah.
Aku kemudian mencari tempat yang kosong untuk melatih sihir Molda. Hingga Aku menoleh kekanan dan kekiri, dan pada akhirnya Aku memilih untuk berlatih di dekat danau yang terlihat sepi. Aku dan Molda berjalan secara perlahan, akan tetapi Aku tiba-tiba merasakan aura kebencian dari belakang, akan tetapi ketika menoleh, terdapat banyak sekali orang sehingga Aku tidak mengetahui siapa yang menebarkan kebenciannya pada kami.
"Okee, Seperti yang sudah kujelaskan, tentang mantra yang pendek. Aku akan memberikanmu mantra pendek dari yang paling dasarnya terlebih dahulu. yaitu memunculkan airnya saja. Cukup alirkan sihirmu ke tangan dan katakan [Water]" Jelasku
"[Water]" Ucap Molda yang sama sekali tidak terjadi apapun.
"Itu sudah benar, tapi Kau memerlukan untuk membayangkan seperti apa air itu. Dengan begitu, Kamu akan dengan mudah mengaktifkan sihir air." Jelasku lagi.
"Membayangkan air? Seperti apa? Sesuatu mengalir, sesuatu yang dingin, atau apa?" Tanya Molda yang bingung dengan maksud dari perkataanku.
"Bayangkan saja wujud air itu merupakan sesuatu yang tenang dan mempunyai pantulan cahaya, dan apapun itu, asalkan yang Kau bayangkan itu adalah ketenangan." Ucapku
Setelah Aku berkata hal tersebut, suasana menjadi hening, terlihat aliran sihir Molda yang mulai berubah. Aku melihat sebuah aura biru terang yang membuatku sedikit terkejut. Aku melihat dengan mata penilaiku, bahwa potensinya telah berubah menjadi Rank S.
"[Water]" Tepat setelahnya muncul air dari telapak tangan Molda dan air itu mengalir begitu cepat ke tanah.
Aku melihat bakatnya terhadap sihir air begitu tinggi dari apa yang kubayangkan. Apalagi pengendalian sihirnya yang begitu hebat namun kalah dengan kapasitas sihirnya sehingga itu yang membuatnya dulu terjebak di Rank D. Karena itulah Aku akan melatihnya mengembangkan kapasitas sihirnya hingga menjadi lebih baik.
"Liat! Aku berhasil melakukannya, Dan juga Ini Luar Biasa!" Molda terlihat begitu antusias.
"Kalau begitu, lanjut ke tahap berikutnya, yaitu sihir dasar. Untuk menciptakan [Water Ball] Mantra apa yang Kau perlukan?" Tanyaku sebelum memulai pelajaran.
"Wahai Air Yang Tenang!, Atas Apa Yang Diberikan Kepada Kami, Atas Kekuatan Yang Anda Miliki, Gunakanlah Untuk Melindungi Ketenangan" Ucap Molda
__ADS_1
"Dan kalau disingkat jadi, Wahai Air, [Water Ball]" Jelasku.
"Kenapa bisa begitu singkat?" Tanya Molda
"Alasannya sangat simpel, dari kalimat ke satu, kedua, ketiga, dan keempat, semuanya mempunyai arti seperti memohon kepada air yang tenang, dengan kekuatan air yang tenang, untuk ketenangan. Semuanya itu sama saja. Wahai Air, itu sudah menjelaskan air itu seperti apa, dan memohon kepada air itu, dan yang pasti, air melindungi ketenangannya itu sendiri." Jelasku dengan panjang.
"Baiklah Aku mulai memahaminya. Kalau begitu, ketika mengaktifkan mantranya, Aku perlu membayangkan wujud air lagi kan?" Tanya Molda lagi
"Ya, itu benar." Balasku
"Wahai Air!, [Water Ball]" Dalam sekali percobaan, Molda langsung bisa mengaktifkan sihir airnya.
Kemudian Bola Air yang Ia ciptakan itu diarahkan ke danau untuk mengurangi dampaknya. Namun ketika menyentuh permukaan danau, terjadi ledakan air yang lumayan kuat sehingga dengan refleks Aku menciptakan sebuah pelindung air dengan begitu cepat untuk menghindari pakaian basah.
Dan ketika Aku mengaktifkan sihir pelindung air, Molda langsung tercengang melihat pelindung air yang kuciptakan tersebut. Tapi Aku menjelaskan kepadanya bahwa dirinya dapat menggunakan sihir tersebut jika terusu berlatih. Dan pada akhirnya itu membangkitkan semangatnya dalam belajar.
Keesokan harinya, tepatnya di ruang kelas. Molda terlihat mengalami sedikit perubahan di bagian sihirnya, Aku mulai merasakan aura elemen airnya yang begitu terasa. Aku bisa membuktikan bahwa dia benar-benar cocok dengan elemen air.
"Apakah Aku bisa berlatih nanti?" tanya Molda dengan membisikku di saat jam pelajaran.
"Tentu saja" bisikku balik
"Loid, Aku mendengarmu berbicara, sebagai hukuman jelaskan teori sihir penciptaan." Kata Guru Larn.
"Sihir Penciptaan adalah sihir yang dapat menciptakan apapun dari ketiadaan, namun itu akan memakan sihir yang sangat banyak untuk menciptakan sesuatu. Oleh karena itu, sihir penciptaan hanya bisa menciptakan sesuatu yang berukuran kecil. Sihir Penciptaan mengumpulkan berbagai zat untuk menjadi satu dan menciptakan sesuatu yang diinginkan." Jelasku
"Itu benar sekali, jadi untuk pelajaran kali ini, kalian akan diajari cara menggunakan sihir penciptaan. Dan mantranya akan kutuliskan di papan tulis. Praktek akan diadakan besok, jadi kuharap kalian segera berlatih karena yang bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa akan mendapatkan satu bintang." Jelas Guru Larn sambil menuliskan mantra di papan tulis.
Aku pernah mendengar dari siswa lain bahwa di sekolah ini semuanya dinilai menggunakan bintang untuk mengukur seberapa berpestasinya dan seberapa hebatnya siswa tersebut, dan lagi jika mendapatkan bintang terbanyak dibandingkan siswa seangkatannya, kemungkinan besar diterima ke bagian organisasi sekolah.
Bukannya Aku begitu menginginkannya, tetapi dengan bintang tersebut masa depan seseorang sebagai penyihir akan semakin cerah. Jadi Aku seharusnya berusaha dengan baik untuk besok.
Sepulangnya dari sekolah, Aku mengajak Molda untuk berlatih lagi. Dan kali ini di perjalanan, Aku benar-benar merasakan bahwa seseorang sedang mengikuti belakangku. Kali ini bukan hanya perasaanku saja, tapi ini adalah kebenaran. Aku menoleh kebelakang, tapi tidak ada siapapun. Tapi Aku sudah menduganya dan segera mengaktifkan sihir pendeteksi dan menemukan seseorang bersembunyi dibalik peti kayu.
"Aku sudah menemukanmu, cepat keluar atau kuserang kau dengan sihirku" Ancamku kepada penguntit tersebut.
Tidak seperti kelas lainnya, warna jubahnya akan berubah ketika memasuki salah satu kelas elemen, oleh karena itu hal ini membuat banyaknya diskriminasi di sekolah. Tapi hal ini juga lumayan bagus untuk mengatur siswa tiap kelas.
"Siapa Kau?, dan apa tujuanmu?" Tanyaku.
"Padahal sekelas, tapi tidak tahu nama teman sekelasnya. Memang payah. Asal Kau Tahu, Aku yang seharusnya mendapatkan peringkat pertama di ujian masuk. Gara gara kecuranganmu, Aku malah mendapatkan peringkat ke dua. Dan gara gara kau juga Aku sampai masuk ke kelas non-elemen." Ucap gadis itu dengan emosi
"Tenanglah, Aku tidak curang kok, yang ada Aku sama sekali kaget melihat nilaiku yang begitu banyak" Jawabku
"Pembohong! Aku Dengar Kau Memaksa Kepala Sekolah Sehingga Membuatmu Mendapat Nilai Bagus! Ada Yang Melihatmu Loh! Kau Bertemu Dengan Kepala Sekolah Dan Saling Berbicara Disaat Ujian Masuk Selesai. Itu Membuktikan Bahwa Kau Melakukan Kecurangan Dengan Memaksa Kepala Sekolah." Tuduhnya.
"Karena itu, kurasa Aku perlu memberimu pelajaran. Wahai Api Yang Pemarah! Atas Kekuatan Yang Diberikan, Dan Kekuatan Yang Anda Miliki, Mengamuklah Dalam Kemarahan, Hancurkanlah segalanya dengan panah pemarah, [Fire Arrow]" Ucapnya untuk mengaktifkan mantra.
Beberapa panah api muncul di sekitarnya dan menghadap langsung ke arahku. Ketika dia mengayungkan tangannya, kesemua panah api itu terbang menuju ke arahku. Tapi Aku langsung melindungi diriku dengan sihir pelindung air.
"Cih, ternyata bisa sihir air juga. Wahai Para Penguasa Api Yang Terkuat! Atas Kekuatan Yang Engkau Miliki, Dengan Kekuatan Itu Pula, Kuasailah Dunia Dalam Panasnya Amarah, Dan Hapuslah Segala Penghianatan Dengan Amarah, Dan Berkat Kekuatan Itulah, Kedamaian Bisa Terwujudkan. [Judgment Fire]"
Aura kemerahan begitu cepat menguasai seluruh tubuhnya, berbagai kumpulan api terkumpul menjadi satu dan membentuk sesuatu seperti alat penimbangan yang mengartikan bahwa hukum itu adil. Aku mengetahui sihir tersebut, itu adalah sihir yang dapat menghukum siapapun dengan memasangkan segel api di dalam jiwa seseorang atas kejahatan yang telah ia lakukan.
Akan tetapi dari apa yang kuketahui, ukurannya seharusnya lebih besar dan jarak jangkauannya juga seharusnya sangat luas. Tapi yang ini sangatlah kecil, dan lagi Aku bisa dengan mudahnya untuk menghentikannya tapi Aku harus membuatnya berputus asa terlebih dahulu.
Kemudian, sebuah rantai api menjalar menuju ke arahku, dan itu langsung mengikatku hingga membuatku tidak bisa bergerak untuk sementara. Lalu rantai itu masuk ke dalam tubuhku dan setelahnya tidak terjadi apapun.
"Hahahaha! Sekarang Kau sudah tidak bisa berbuat apapun. Sihirmu telah kusegel sehingga tidak bisa dikeluarkan. Dan jika Kau berusaha untuk mengeluarkan sihirmu, maka segelnya akan aktif dan membakar tubuhmu dari dalam." Jelasnya dengan tersenyum licik
"Sungguh sihir yang bodoh. Wahai Ketiadaan! Hilangkan Sihirnya, Dengan Ketiadaanmu, [Dispell]" Rapalku
Dispell adalah mantra untuk menghilangkan mantra orang lain asalkan pengguna mengetahui mantra yang lawan gunakan. Dan ini sangat bagus untukku yang mengetahui berbagai mantra yang ada. Meskipun begitu, mantra ini memakan energi sihir yang banyak, sehingga hanya cocok digunakan ketika dalam keadaan darurat saja.
"Lumayan Hebat, Akan Tetapi Sangat Kurang. Akan tetapi menguntit dan melakukan penyerangan itu melanggar aturan." Nasehatku kepada gadis itu.
"Tunggu sebentar Loid, Dia adalah putri dari penyihir terhebat di kerajaan ini, Dia adalah Shasa Dafire" Kata Molda dari belakangku.
__ADS_1
"Itu Benar! Jika kalian menyerangku, maka Aku akan melapor ke ayahku dan memberikan kalian pelajaran. Hahahaha!"
"Apa dia benar-benar sinting? Kalau begitu, lapor saja, Aku tidak peduli meski melawan Ayahmu sekaligus" Balasku.
"Apa tidak masalah? Apa Kamu tahu dengan ayahnya? Ayahnya itu adalah penyihir yang bekerja di bawah Duke, sang penguasa kota ini. Jika menantangnya, itu sama saja cari mati." Jelas Molda untuk memperingatiku.
"Ya, Sangat Benar. Aku akan melaporkan perbuatanmu sehingga membuatmu tidak dapat berbuat curang lagi." Kata Shasa yang kemudian langsung berlari meninggalkan kami berdua.
Aku sama sekali tidak memperdulikannya meski harus melawan ayahnya yang dikatakan sebagai penyihir terkuat. Karena Aku juga merupakan penyihir terkuat, jadi seharusnya itu tidaklah masalah. Dan terlebih lagi jika Dia yang berasal dari kelas non-elemen, dan keluarganya merupakan keluarga terkenal, Aku yakin bahwa permintaannya benar-benar di kabulkan.
"Ayo Molda, kita pergi untuk berlatih sihir lagi" Kataku sambil berbalik arah.
Molda yang tertinggal dibelakangku mulai mengikutiku lagi dan berjalan sejajar denganku. Aku mengajaknya untuk mampir sebentar dan pergi ke lapangan umum. Dan seperti biasa, makan siang bersama dan langsung pergi. Setibanya di lapangan, Aku mulai mengajarinya sihir air Rank D.
Sihir terbagi menjadi beberapa bagian\, yang paling tinggi adalah S dan terendah adalah G. Untuk sihir rank G itu seperti [Water] [Fire] [Wind] [Earth]\, dan rank F itu adalah sihir dasar seperti [Water Ball] dan sebagainya. Dan kali ini Aku mengajarinya sihir rank D\, yaitu [Water Lance]\, [Water Arrow]\, dan sebagainya.
"Apa kau sudah mengerti?" Tanyaku.
"Tentu saja, Baiklah. Wahai Air! Panahlah, Dengan Airmu, [Water Arrow]" Rapal Molda
Sebuah panah air mulai terbentuk di hadapan Molda dan dengan cepat panah air itu bergerak dan langsung mengenai pohon yang dijadikan target tersebut berlubang dengan sangat dalam. Tidak hanya itu, dalam sekali serangan, pohon itu hampir tumbang,
"Selamat, Kau sudah menguasai sihir Rank D. Besok Kau akan mempelajari Sihir Rank C" Ucapku sambil bertepuk tangan.
"Oh iya, ngomong-ngomong bagaimana kalau berlatih sihir penciptaan yang dijelaskan oleh guru larn?" Kata Molda
Sihir penciptaan, itu adalah tugas praktek untuk besok, dan Aku bisa melakukannya. Tetapi bagi Molda itu sangat sulit, jadi Aku berpikir untuk mengajarinya sihir penciptaan tersebut.
"Aku perlu jelaskan bahwa sebenarnya sihir penciptaan itu mengubah energi sihir menajdi sesuatu yang diinginkan dengan cara mengubahnya menjadi material terlebih dahulu kemudian di bentuk. Dan mantra yang singkatnya itu adalah, Wahai Penciptaan! Wujudkanlah Keinginanku, Dengan Menciptakannya, [Create]" Jelasku yang dengan spontan menciptakan sebuah pedang sihir dari mantraku.
"Wah! Luar Biasa! Anda Bahkan Bisa Membuat Pedang Dengan SIhir Penciptaan Yang Dikatakan Sebagai Mantra Yang Menggunakan Energi Sihir Yang Sangat Banyak! Tolong Ajari Aku" Balas Molda dengan bersemangat.
"Tentu saja, Jadi begini..." Aku kemudian mengajari Molda dengan semampuku saja.
Dan keesokan harinya, Aku tiba lebih awal di kelas dan menunggu Molda untuk datang. Akan tetapi, Aku melihat gadis yang menyerangku kemarin berada di kursi paling depan sedang menatapku dengan mata sinis. Dan tidak lama setelah itu Molda tiba, sehingga Si Gadis Itu tidak lagi menoleh kebelakang.
Tidak lama kemudian, Guru Larn tiba. dan kali ini Dia menyuruh satu kelas untuk segera menuju ke lapangan sekolah untuk melakukan praktek, Aku sedikit bingung karena seharusnya prakteknya sangatlah aman, dan lebih bagus lagi jika berada di ruangan.
"Seperti yang kujelaskan kemarin, hari ini adalah hari praktek, yang dimana siapapun yang berhasil mendapatkan nilai sempurna maka orang tersebut berhak mendapatkan satu bintang. Jadi urutannya sesuai dengan absen." Jelas Guru Larn sambil membacakan sebuah papan yang berisikan kertas.
Murid yang pertama dipanggil dan mulai mencoba untuk memprakekkan sihir penciptaan. Aku melihatnya dengan jarak yang dekat, akan tetapi Aku melihat semuanya mundur dan menjauh sehingga Aku berpikir ada yang salah. Dan benar saja, terjadi ledakan akibat sihir tersebut.
Dengan refleks Aku menciptakan pelindung dari non-elemen. [Invisible Shield] yang dikatakan paling ampuh untuk pertahanan melawan sihir non-elemen. Rerumputan yang hangus diakibatkan ledakan, namun skalanya cukup kecil, akan tetapi murid tadi langsung gosong dan pingsan.
Tentu saja, tim medis sudah lebih dulu tiba dan melakukan perawatan darurat. dengan sihir penyembuh [Extra Heal] seharusnya murid itu selamat. Dan praktek murid berikutnya tiba. Hingga beberapa menit kemudian, tiba giliranku.
"Wahai Penciptaan! Wujudkan Keinginanku! Dengan Menciptakannya, [Create]" Aku menciptakan sebuah pedang besi.
"Pedang besi ya.... tunggu, Sebuah Pedang Besi?! Oh ya, sebagai pengguna sihir null rank A itu adalah hal yang mungkin, Jadi nilainya seratus poin dengan tambahan 50 poin bonus karena telah menciptakan sesuatu yang luar biasa." Jawab Guru.
dan kemudian, praktek berlanjut ke murid berikutnya hingga selesai. Molda pada juga termasuk berhasil meskipun hanya menciptakan sebongkahan kecil perak dan mendapatkan nilai seratus, dan yang lainnya ada di bawah Molda.
"Baiklah, akan kujelaskan mengenai praktek tadi. Memang benar bahwa dengan menambah sihir maka hasilnya akan lebih baik, tapi jika tidak dapat dikendalikan maka akan terjadi ledakan. Dan kalau kekurangan sihir maka jadinya sihirnya akan menjadi debu. Dan satu hal lagi, memaksakan dirimu untuk menggunakan sihir ini berkali-kali akan sangat berakibat buruk, sekian itu saja. Kuharap kedepannya kalian sudah menguasainya" Kata Pak Guru Larn.
"Dan praktek kali ini, Loid Astra mendapatkan satu bintang. [Storage]" Sambungnya sambil membuka grimoire untuk mengaktifkan mantra Storage.
Pak Guru Larn mengeluarkan sesuatu dari sihir penyimpanannya dan itu adalah sebuah batu bercahaya layaknya sebuah bintang yang bersinar di malam hari. Aku mengambil batu tersebut, dan langsung menyimpannya di penyimpanan dimensiku.
"Batu Bintang itu jangan di hilangkan, karena batu itu adalah penunjuk prestasimu di akademi. Dan jangan memberikannya kepada orang lain, meskipun dipaksa dan sebagainya. Dan tetaplah berhati-hati." Kata Guru Larn sambil menepuk pundakku.
Setelahnya Guru Larn meninggalkan kami di lapangan, dan menyuruh kami untuk masuk ke kelas dan menunggu jam istirahat. Tapi disaat itu, semuanya mengepungku dan berkata ingin melihat bintangnya, tapi Aku menolaknya. Ada juga murid yang bertanya mengenai rahasia dari sihir tersebut, dan ada juga yang berkata bahwa itu hanyalah kebetulan. Terlebih lagi ada yang mengatakan Aku Curang, tapi Aku langsung tahu siapa orang itu.
Shasa berjalan mendekatiku, dan mulai melihatku dengan tersenyum licik seakan-akan merencanakan sesuatu yang tidak Aku duga. Aku bisa yakin kalau dirinya sudah melapor kepada Ayahnya sehingga Aku harus berhati-hati untuk nanti.
Dan selanjutnya Molda yang terlihat sedikit senang, dan ketika kutanya jawabannya adalah karena berhasil menciptakan perak. Aku tidak tahu mengenai harga perak sampai-sampai membuat Molda senang. Dan setelah beberapa jam kemudian, di saat pulang. Molda mengatakan bahwa dirinya mempunyai urusan penting yang harus di kerjakan.
Sehingga Aku memutuskan untuk pulang sendirian, tapi disaat perjalanan Aku merasakan sesuatu yang aneh. Disekitarku tidak ada pejalan kaki yang berkeliaran. Dan dari tadi Aku merasakan niat membunuh dari kejauhan. Dan Aku berhenti sejenak dan berbalik dan mulai mengaktifkan sihir pencari. Hasilnya adalah, Aku menemukan banyak sekali orang dengan niat membunuh di sekitarku. Dan kelompok itu adalah...
__ADS_1