
Chapter 4 : Akademi
Dua Bulan telah berlalu semenjak Aku mengikuti ujian masuk yang ternyata adalah kesalahanku karena tidak mengikuti apa yang dikatakan Erika kepadaku tentang cara masuk ke akademi. Seharusnya Aku masuk melalui jalur undangan, dan bukan jalur ujian. Tapi karena sudah terlanjur begitu, Aku tidak bisa berbuat apapun selain menerimanya dan mulai masuk ke akademi.
Di akademi, siswa akan diberikan dua pilihan, yaitu tinggal di asrama atau tetap di rumah. Dan Aku lebih memilih untuk tetap di rumah dikarenakan untuk tinggal di asrama diberikan biaya yang tinggi sesuai dengan kualitas yang didapatkan. Karena itulah Aku lebih memilih tinggal di rumah, karena selain rumahku jaraknya lumayan dekat, Aku juga bisa menghabiskan waktuku bersama orang tuaku.
Dan hari yang kutunggu sudah tiba, hari dimana seluruh peserta ujian yang lolos akan berkumpul dan menjadi seorang siswa tetap hingga lulus atau dikeluarkan dari akademi. Dan juga Kami disuruh untuk tetap berada di aula akademi. Dan di atas panggung, Erika si kepala sekolah berdiri dengan tegak sambil menatap kami semua dengan aura yang sedikit menakutkan.
"Selamat Datang Di Akademi Undine Yang Berada Di Kota Talnear. Kerajaan Lucytra dan merupakan Kota Terbesar Kedua Setelah Ibukota! Akademi Ini Dibangun Oleh Leluhurku, Erika Undine, Pahlawan Air Yang Berhasil Mengalahkan Raja Iblis Di Masa Lampau. Perkenalkan Namaku Adalah Yuna Undine, Kepala Sekolah Yang Sekarang." Kata Yuna di atas panggung yang megah.
Kemudian, Yuna menjelaskan mengenai peraturan-peraturan yang ada di akademi ini, dan menjelaskan banyak hal yang berguna di kemudian hari. Tepat setelahnya semua guru bergilir untuk menyampaikan pesannya terhadap kami, para siswa yang berhasil menyelesaikan ujian masuk dan juga bangsawan yang masuk melalui jalur gelar.
Dan terakhir, Ucapan pembukaan dari siswa dengan nilai terbaik dalam ujian. Ketika bagian terakhir tersebut hendak di mulai, secara sontak cahaya mengarah ke tempat dudukku. Lalu terdengar suara yang menyebutkan namaku. Dengan kata lain, Akulah yang akan menyampaikan ucapan pembukaan kepada seluruh siswa yang ada di aula tersebut.
Aku berjalan secara perlahan, namun dari kejauhan terasa aura yang sangat menyengat dari arah seluruh siswa. Aku bisa pastikan kalau mereka iri kepadaku karena telah terpilih, tapi Aku merasa ini sangat sedikit berakibat buruk bagiku. Dan juga Aku merasakan aura yang lebih kuat dibandingkan di antara siswa, tapi Aku tidak mengetahuinya secara pasti letak dari aura tersebut.
Selanjutnya, Aku tiba di atas panggung dan di meja terdapat selembar kertas dan tertulis kata-kata pembuka yang hendak di sampaikan ke seluruh siswa. Aku dengan sepontan membaca tulisan tersebut, dan menggunakan sihir non-elemen [Sound] yang berhasil kukembangkan dan Aku membuat suaraku terdengar dalam satu aula besar.
"Terima kasih banyak karena dipanggil untuk naik ke atas panggung untuk mengucapkan ucapan pembukaan sebelum memulai kehidupan baru di akademi, Saya selaku orang yang mendapatkan nilai tertinggi merasa bangga atas prestasi yang kudapatkan. Oleh karena itu, Saya meminta kepada seluruh siswa, seluruh teman-teman untuk berusaha lebih baik lagi dan jangan mudah menyerah. Sekian dari Saya." Bacaku.
Setelah membaca tulisan tersebut, seluruh aula awalnya terasa hening, lalu selang beberapa semuanya langsung terkejut dengan kemunculan suaraku dimana-mana. Tetapi itu hanya berlangsung sebentar dan Kepala Sekolah kembali mengambil perhatian semuanya dengan menggunakan sihir airnya yang diarahkan ke seluruh aula.
Dengan begitu, acara telah selesai. Kami diminta untuk masuk ke kelas masing-masing sesuai dengan apa yang di dapatkan di waktu ujian. Aku masuk ke kelas Non-Elemen bersama dengan Molda, dan kami memutuskan untuk berjalan bersama menuju ke kelas.
Aku berjalan melewati kelas air, lalu kelas api, kelas angin, dan kemudian kelas tanah. Lalu di paling ujung, Aku akhirnya menemukan kelas non-elemen. Dari luar saja terlihat dinding yang penuh coretan, lalu di pintunya terlihat penuh lubang dan bahkan sangat rapuh dan mudah hancur. Aku menoleh ke dalam dan terlihat semuanya telah tiba sebelum kami.
Dari yang kulihat, terdapat 32 siswa termasuk Aku dan Molda, tetapi dari yang kulihat, terdapat 18 siswa bangsawan dan sisanya adalah rakyat biasa. Meskipun begitu, Aku melihat wajah seluruh siswa menjadi sangat murung, Aku tidak tahu alasannya dengan tepat, tapi dari yang kulihat sepertinya mereka kecewa karena telah masuk di kelas buangan seperti ini.
"Loid! disana ada kursi kosong. Ayo cepat sebelum diambil ama orang lain" Kata Molda sambil menunjukkan sebuah kursi di bagian paling belakang dan berada langsung di samping jendela rusak.
Aku dan Molda berjalan menuju ke sana dan melewati anak-anak bangsawan lainnya. Tapi sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kupikirkan terjadi. Para bangsawan itu terlihat tidak peduli dengan kami, dan malah terlihat sangat pucat. Aku tidak tahu apakah bangsawan di masa lalu dan di masa sekarang sudah berbeda apa tidak, tetapi seharusnya mereka akan sedikit sombong dengan gelarnya ataupun merasa dirinya paling berkuasa. Tapi Aku tidak terlalu mempedulikannya.
Aku duduk di dekat jendela sambil meletakkan semua peralatanku di laci yang padahal Aku bisa menggunakan penyimpanan dimensiku, tetapi itu akan sangat mencolok sehingga Aku akan dijadikan pengangkut barang oleh kelas lain dan para bangsawan.
Kemudian seorang guru masuk, Dia terlihat tinggi dengan rambut hitam panjang dan juga mata abu-abu gelap. Guru itu membawa tumpukan buku di tangannya dan juga memakai tongkat sihir yang panjang. Lalu dia meletakkan bukunya di meja miliknya dan kemudian menghela napas panjang dan langsung menghadap ke kami.
"Baiklah, Semuanya Perkenalkan Aku adalah wali kelas kalian, Larn Sebart. Awalnya Aku adalah seorang peneliti yang meneliti sihir kuno, dan hasilnya menyimpulkan bahwa banyak sekali sihir kuno yang menggunakan sihir non-elemen atau yang sekarang biasa di sebut dengan Null. Null tidak hanya satu jenis, melainkan banyak sekali jenisnya, ada yang bisa mengendalikan ruang, menciptakan, dan sebagainya. Akan tetapi yang menjadi permasalahan dari sihir ini adalah kebanyakan Null itu merupakan sihir pribadi, sehingga hal ini menyebabkan banyaknya Sihir Null menghilang dari duniia." Jelas Guru Larn.
"Akan tetapi, Sihir Null bisa di pelajari oleh siapapun asalkan memiliki mantra. Dan saat ini Sihir Null yang tersisa adalah sihir ruang, untuk menyimpan sebuah senjata dengan mudah. Sihir penyembuhan, sihir pembersihan, dan lain lain. Dan terlebih lagi, disaat upacara tadi sangat mengejutkan, sebuah Sihir Null yang baru saja Aku lihat untuk pertama kalinya, Sihir Pribadi Loid Astra." Sambungnya yang membuat semua orang menoleh ke arahku.
Aku awalnya kebingungan tetapi disaat bersamaan, Aku langsung memahaminya. Aku berdiri dan menghadap ke guru tersebut dan berkata,
"Akan kujelaskan sihir yang barusan kugunakan. Nama Sihir tersebut adalah [Sound], Sihir tersebut dapat mengendalikan suara apapun, termasuk suaraku yang bisa di perkecil dan di perbesar. Lalu Aku juga bisa meniadakan suara sehingga membuat penyihir tidak dapat merapalkan mantra." Jelasku.
"Sangat Menarik!, Sihir Null itu akan menjadi sihir yang sangat kuat, dan sangat cocok untuk melawan penyihir. Akan tetapi kekurangannya adalah, penyihir yang memakai grimoire masih bisa melancarkan serangan. Jadi bisa kukatakan itu masih kurang untuk dipakai dalam pertempuran. Namun sangat cocok untuk digunakan di acara besar dan sebagainya. Aku ingin bertanya mantranya, apakah boleh atau tidak?" Kata guru itu.
"Tentu saja, tidak masalah. Mantra utamanya adalah, 'Wahai Suara', lalu kemudian mantra perintahnya, 'Besarkan Suaraku', kemudian mantra pelengkap, 'Dengan Kendalimu'. Dengan begitu, mantranya telah lengkap." Ucapku.
__ADS_1
"Tunggu, tunggu sebentar. Apa Kamu tidak salah? Mantra dengan tiga baris dengan dua kata perbaris seperti itu seharusnya tidak mungkin. Apa Kamu menipu kami?" Jawab Larn dengan sedikit curiga kepadaku.
"Wahai Suara, Besarkan Suaraku, Dengan Kendalimu, [Big Voice]" Rapalku
"APA ANDA SUDAH MENGERTI?!" sambungku dengan pelan akan tetapi suaraku langsung memenuhi satu ruangan.
"Cukup, cukup. Aku sudah paham itu, mantramu sangat luar biasa" Kata Guru Larn sambil menutup telinganya.
Aku menoleh ke sekeliling, terlihat semuanya menutup telinga, dan bahkan ada yang sampai pingsan akibat suaraku yang begitu keras. Untungnya jendela tidak pecah karena getaran yang dihasilkan. Kemudian Aku langsung duduk lagi di tempatku dan menunggu arahan selanjutnya.
"Baiklah, kembali ke awal. Aku disini akan mengajari kalian secara langsung mengenai sihir Null. Sebelum itu, Aku akan memberikan kalian buku paketnya. Wahai Sang Pengendali Ruang Hampa!, Atas Berkat Yang Anda Miliki, Pindahkanlah Sesuatu Berwujud Ini, Berdasarkan Dengan Kemauanku, [Transfer]" Tepat setelah rapalannya selesai, tiba-tiba muncul buku di atas meja seluruh siswa.
Semuanya terlihat terkejut, tetapi Aku tidak. Karena ini adalah mantra yang paling mendasar Sihir Non-Elemen Ruang, dengan mengendalikan ruang dan menghilangkan jarak antara target dan benda, maka benda dapat dikirmkan mendekati target.
"Sekarang Buka Halaman Pertama, Dan Pelajari...."
Beberapa jam berlalu, tiba-tiba saja bel berbunyi dari luar yang menandakan waktu istirahat telah tiba. Guru Larn langsung menghentikan pembelajarannya dan meminta kami semua untuk segera berisitirahat sebelum jam pelajaran selanjutnya dimulai.
Aku menoleh ke sekeliling, dan terlihat yang lainnya telah pergi lebih dulu dariku, sehingga Aku memutuskan untuk langsung pergi ke kantin untuk membeli makanan yang akan kumakan di kelas. Akan tetapi, sesampainya di kantin, Aku sangat terkejut karena melihat kantin sangat ramai dikarenakan di kantin tersebut terdapat siswa tahun ajaran pertama hingga tahun ajaran ke enam. Dan untungnya Molda membeli dua roti dan membaginya kepadaku. Dia benar-benar pria yang baik.
"Ngomong-ngomong Molda, Apa kau tertarik untuk mempelajari sihir Non-Elemen?" Tanyaku.
"Yah, karena pada awalnya Aku tidak ingin masuk ke kelas Non-elemen, Karena takdir, Aku tidak dapat mengubahnya. Tapi untungnya Aku bisa menggunakan sihir air meski sangat lemah. Kalau berkata tertarik atau tidak, kurasa Aku lebih tertarik mempelajari sihir air." Jelas Molda.
Dari yang kulihat dari sihir penilaiku, terlihat dalam tubuh Molda terpendam sebuah bakat tersembunyi, yaitu Sihir Air Rank A dan Sihir Es Rank B. Akan tetapi, sulit baginya untuk berlatih seorang diri. Oleh karena itu, Aku memutuskan untuk membantunya dalam mempelajari sihir air hingga ke tahap tersebut.
Dengan begitu, Aku merasa bahwa cara ini akan berhasil. Dan lagi, dengan memberikannya batu sihir elemen air dan menyuruhnya untuk menyerap batu sihir tersebut dapat membuat elemennya menjadi kuat, tetapi hanya meningkatkannya selama sehari saja.
Namun trikku, Aku akan membuatnya merasa terbiasa dengan sihir kuat sehingga ketika tubuhnya telah terbiasa mengeluarkan energi sihir sebanyak itu dan seefektik tersebut hingga di percobaan berikutnya tubuhnya bisa mengikuti pergerakan energi sihirnya dengan baik. Sehingga perkembangan energi sihir akan meningkat secara pesat dan kemungkinan Molda mencapai Rank A dapat dengan mudah tercapai.
"Aku bisa mengajarimu sihir air yang kuat. Apa kau mau?" Tanyaku
"Hahaha, terima kasih karena sudah menghiburku. Lagipula Kamu tidak mempunyai bakat elemen air." Balasnya dengan tertawa kecil karena tidak mempercayaiku.
"[Water]" Ucapku untuk mengaktifkan mantra
Tepat setelahnya muncul air di telapak tanganku yang terus mengalir tanpa henti hingga Aku menghentikannya sendiri. Untuk ukuran sihir seperti ini, Aku tidak memerlukan mantra apapun dan hanya perlu mengalirkan sihir dan membayangkannya saja. Akan tetapi ketika Aku menoleh ke samping, Molda terlihat sangat terkejut.
"Itu sihir elemen air? Hebat! Bahkan tidak ada mantra sama sekali." Kata Molda yang raut wajahnya seketika berubah menjadi kagum.
"Asal Kau tahu, Aku bisa menggunakan keempat elemen. Hanya saja, tolong rahasiakan ini dari yang lainnya. Sebagai hadiah, akan kuajari Kau bagaimana cara menggunakan elemen air secara tepat." Balasku.
"Sungguh? Itu sangat bagus. Apakah mungkin bagiku untuk bisa berkembang?" Terlihat raut wajah Molda yang sedikit gelisah.
"Tenang saja, Selama kau berusaha, Aku yakin Kau akan bisa. Baiklah, yang pertama Aku akan mengajarimu mantra yang pendek dan kuat." Balasku
"Oh iya, ngomong-ngomong, apa bedanya dengan mantra yang biasa digunakan? Bukannya ada teori mengatakan bahwa semakin panjang mantra seseorang maka semakin kuat dan semakin bagus pengendalian sihirnya." Jelas Molda.
__ADS_1
Dari yang Aku dengar, seharusnya teori tersebutlah yang membuat sihir di zaman sekarang melemah. Seharusnya semakin pendek mantranya maka semakin kuat pula sihir yang di hasilkan dikarenakan tiap huruf yang ada pada mantra akan menguras energi sihir yang dikeluarkan sebagai bayaran untuk mengaktifkan mantra, hal ini juga berlaku pada grimoire.
"Sini akan kujelaskan mengenai hal tersebut. Mantra pada dasarnya hanyalah sebuah kata kunci untuk mengaktikan sebuah sihir. Semakin jelas kata kuncinya maka semakin kuat pula sihir yang di hasilkan. Akan tetapi, jika memanjangkan mantra, yang ada malah menambah kata kuncinya hingga menguras lebih banyak energi sihir, dan hasilnya adalah sihir yang di hasilkan lebih kecil dibandingkan sihir normal." Jelasku.
"Dengan kata lain, maksudmu adalah dengan memendekkan mantra maka akan semakin kuat. Lalu bagaimana cara menentukan kata kunci yang tepat?" Tanya balik Molda kepadaku.
"Kalau seperti itu, apa yang Kau bayangkan dari kata Hutan?" Tanyaku
"Pepohonan, kayu, dedaunan, ranting, mungkin.." Balas molda sambil berpikir keras.
"Nah, jika dibayangkan kata hutan, yang muncul adalah pepohonan, dedaunan hijau, dan sebagainya kan. Bagaimana kalau membayangkan kata Pohon saja?" Tanyaku lagi.
"Kalau pohon.... ya pohon" kata molda dengan kebingungan.
"Dengan kata lain, satu kata yang memiliki banyak arti lebih baik dibandingkan satu arti saja. Hal tersebut dapat di terapkan di mantra, misalnya saja 'Wahai Air!', maka yang muncul di pikiran adalah seperti memohon kepada air, lalu bagaimana dengan 'Wahai Air yang tenang'?" Tanyaku balik
"Hmm... Jika disuruh membayangkan, maka yang kubayangkan adalah memohon kepada air yang tenang" Balasnya
"Benar sekali, lalu apa yang kau bayangkan dengan air?, sesuatu yang mengalir, dan Tenang" Kataku dengan spontan membuat Molda terkejut.
"Ah!! Benar Sekali!! Dengan Begitu, seharusnya mantra akan bekerja dengan baik. Daripada membuatnya panjang, lebih baik membuatnya menjadi pendek dengan arti yang sama." Terlihat Molda sudah mengerti apa yang kukatakan.
"Ya, Syukurlah Kau sudah memahaminya. Besok sepulang sekolah, Aku akan mengajarimu mantra-mantranya. Lagipula karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, pasti Kau mempunyai banyak kegiatan setelah sepulang sekolah nanti. Kalah Aku, yah akan makan bersama dengan orang tuaku untuk merayakan hari pertamaku bersekolah." Ucapku dengan semangat.
"Aku.... tentu saja... Aku juga punya banyak hal yang perlu kukerjakan sepulang nanti" Katanya dengan sedikit murung.
"Kalau begitu, Aku akan menunggumu besok" balasku.
Dan selang beberapa saat, tiba-tiba saja bel berbunyi lagi tanpa Aku sadari sama sekali. Dan Beberapa jam berlalu, hingga waktu pulang tiba. Aku dengan bergegas berlari ke arah rumahku. Hari ini sangat berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Dan juga satu kesalahan di masa lalu, telah kuselesaikan. Dan Aku akan segera menyelesaikan kesalahanku yang berikutnya. Akan tetapi, masih ada banyak sekali waktu sebelum menyelesaikannya, bukankah lebih baik bagiku untuk menikmati masa-masa sekolah yang baru ini.
Beberapa saat kemudian, Aku tiba di rumah. Aku memegang erat jubahku dan masuk kedalam. Disaat kakiku melangkah, dan tepat setelah mendaratkan kakiku di rumah, seketika terdengar suara meriah dari dalam. Ayah dan ibuku menyambuttku dengan begitu terbuka.
"Selamat datang Loid, Bagaimana sekolahnya? Apa Kau Sudah mendapatkan teman?" Muncul banyak pertanyaan dari ibuku.
"Apa mungkin kau sudah punya pacar?" Dengan spontan Ayahku bertanya hal-hal yang tidak masuk akal.
"Mana ada, Lagipula Aku baru saja mendapatkan satu teman saja." Balasku dengan sedikit jengkel.
"Temanmu itu pasti anak yang baik ya, bagaimana kalau mengundangnya besok" Pinta Ibuku.
"Tentu saja, itu adalah rencanaku dari awal. Aku akan mengajaknya berlatih sihir besok. Jadi siapkan acara yang meriah ya bu" Kataku dengan tersenyum kepada Ibuku.
Setelahnya acara makan-makan bersama orang tuaku dimulai. Aku menghabiskan banyak sekali makanan, dikarenakan makanan adalah salah satu cara untuk memulihkan energi sihir selain tidur. Dan tentu saja, setelah Aku masuk sekolah, Keluargaku menerima uang saku yang diberikan oleh kepala sekolah agar Aku tetap bersekolah di akademinya.
Dengan begitu, hari pertamaku di Akademi telah selesai.
__ADS_1