Sihir Elemen

Sihir Elemen
Chapter 9 : Latihan


__ADS_3

Chapter 9 : Latihan


Keesokan harinya, enam hari sebelum turnamen antar kelas dimulai. Tepatnya di akademi, Aku berdiam diri sambil memperhatikan pak guru yang tengah menjelaskan mengenai teori sihir non-elemen yang bersifat berbahaya. Memang benar terdapat sihir non-elemen yang berbahaya jika digunakan, tapi juga bermanfaat jika ditangan yang benar.


Misalnya saja [Regeneration], meski bisa mengembalikan bagian tubuh yang hilang, tetapi efek sampingnya pengguna bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa karena kekurangan darah. Meski bisa meregenerasi bagian tubuh, tapi tidak dengan darah, sehingga cara terbaik adalah mengunakan [Recovery] disaat yang bersamaan untuk memulihkan bagian tubuh seperti darah.


Tapi pada akhirnya hal tersebut dilupakan oleh semua orang di zaman ini sehingga tingkat kematian meningkat drastis. Tapi ya, lupakan saja hal itu, dan Aku yang sekarang tidak terlalu memikirkan masalah dunia di zaman ini.


Disaat Jam istirahat, Molda dan Shasa mengajakku untuk makan di kantin, karena kebetulan uang yang kami hasilkan dari membawa para buronan itu sangat banyak sehingga Kami bisa menikmati makanan yang ada di kantin.


"Jadi Loid, Apa kamu akan ikut dengan turnamennya?" Tanya Molda kepadaku.


"Aku tidak tahu secara persis bagaimana aturan dari turnamen tersebut. Tapi Aku tidak akan ikut, kurasa." Jawabku sambil memakan sepotong daging yang ada di piringku.


"Kamu akan ikut turnamen, kudengar terdapat empat peserta tiap kelasnya yang dapat ikut turnamen. Jika di hitung totalnya ada dua puluh siswa. Dan lagi, yang mengikuti turnamen hanyalah orang yang dipilih langsung oleh wali kelas." Jelas Shasa.


"Jika kulihat Guru Larn belakangan ini, kurasa Dia cukup tertarik dengan kemampuanmu, Jadi seharusnya Kamu akan dipilih untuk mengikuti turnamen" Sambung Molda.


"Kalau begitu, Kalian berdua juga akan ikut turnamen." Balasku.


"Kenapa Kamu bisa berpikir begitu?" Tanya Shasa.


"Tentu saja, jika dilihat dari kelas selama sebulan, siswa yang paling banyak mendapat nilai adalah kita. Yang lainnya juga memang mendapat nilai tinggi, hmm..."


"Daripada pusing memikirkannya, lebih baik Kita lihat saja nanti, karena seharusnya setelah jam istirahat, Pak Guru akan memilih empat siswa kan. Jadi sekarang, lebih baik makan terlebih dahulu." Jawab Molda.


Atas saran dari Molda, kami memutuskan untuk segera menghabiskan makanan yang dibeli di kantin dan menunggu jam istirahat berakhir. Setibanya di kelas, seperti biasa semuanya nampak sedikit murung, dan selang beberapa menit, Pak Guru juga tiba di kelas.


"Untuk pelajaran jam ini ditunda sebentar karena Aku akan menjelaskan mengenai Turnamen yang diadakan minggu depan." Kata Guru Larn sambil meletakkan sebuah buku di atas mejanya.


"Turnamen antar kelas diadakan setiap sebulan sekali untuk mengukur seberapa berkembangnya siswa tersebut. Dan orang yang berhasil memenangkan turnamen tersebut, kelasnya akan diberikan satu bintang." Sambungnya.


"Dan lagi, bintang kelas dan bintang siswa itu berbeda. Semakin tinggi bintang kelas kalian maka makin banyak fasilitas yang bisa kalian dapatkan. Namun tidak hanya itu saja, jika memenangkan turnamen ini, keempat peserta akan mendapatkan bintang."


"Karena itu, Aku akan memilih empat peserta itu. Yang akan mengikuti turnamen adalah, Loid Astra, Molda Nearia, Shasa Dafire, dan terakhir, Arez Levitear. Kalian berempat akan mengikuti turnamen tersebut, kuharap kalian bisa memenangkannya."


"Ap-Apa?! Aku tidak bisa mengikutinya pak! Lagipula bagaimana bisa kelas Non-elemen bisa memenangkan turnamen ini. Ini sangat tidak masuk akal. Dan lagi dalam turnamen, kita tidak diperbolehkan memakai senjata dan Grimoire kecuali tongkat sihir, dan diharuskan memakai sihir dengan rapalan." Protes Arez kepada Pak guru.


"Kalau begitu, Kamu bisa menanyakannya ke Loid mengenai masalah itu."


Mendengar perkataan pak guru barusan membuatku sedikit terkejut. Kenapa tidak, Dia seakan akan memintaku untuk membantunya menyelesaikan masalah. Tapi, Aku tidak punya pilihan lain. Lagipula dari awal Aku memang berniat untuk melatihnya.


Sepulang sekolah, Aku, Molda, dan Shasa berniat untuk pergi ke lapangan tempat dimana kami biasa berlatih. Namun di gerbang sekolah yang selalu penuh dengan siswa itu, Arez muncul dan berkata ingin ikut berlatih bersama. Dan ya, Aku mengajaknya juga karena ini untuk memenangkan turnamen tersebut.


Dan setibanya di lapangan, Aku mengajarinya sedikit mengenai sihir seperti yang sudah kuajari kepada Molda dan Shasa. Dan juga Aku sudah mengecek elemennya yang menunjukkan bahwa Arez mempunyai bakat elemen tanah. Bisa kusimpulkan elemennya sangat cocok dengan sihir non-elemennya yaitu [Strength].


Dalam sehari tersebut, Aku memperkuat Arez hingga sihir tanahnya mencapai Rank C. Tapi yang terpenting adalah Molda telah mencapai sihir air Rank B, dan Shasa telah mencapai sihir api Rank B juga. Meski begitu, Aku merasa mereka sebentar lagi mencapai Rank A.


"Lalu apa yang bisa kulakukan dengan sihir tanahku dan [Strength]?" Tanya Arez kepadaku disaat tengah-tengah latihan.


"Karena menggunakan senjata dilarang, tapi tidak akan ada yang menyangkal jika senjata yang digunakan terbuat dari sihir kan. Jadi gunakan sihir tanahmu, Kamu bisa membentuknya menjadi senjata atau tidak itu terserah kamu. Tapi kusarankan untuk memakai sihir [Create] untuk menciptakan senjata kalau Kamu bisa melakukannya." Jelasku.


"Menggunakan sihir tanahku sebagai senjata? Apa seperti menciptakan sebuah tanah dengan ujung yang tajam? Meski tanpa [Strength] sihir tanah akan tetap bekerja." Jawab Arez dengan bingung.


"Bukan seperti itu, Maksudku, tanah itu berat kan. Meski mengandalkan sihir tanah saja, bukan menutup kemungkinan bahwa sihirnya akan bergerak lebih lambat dan musuh bisa menghindar. Coba Kamu bayangkan jika [Earth Spike] yang kamu ciptakan lalu ditambah dengan [Strength] dan memukulnya sekeras mungkin."


"[Earth Spike] nya akan langsung terjun dengan cepat dan menciptakan dampak yang besar..... Benar Sekali!" Nampak Arez mulai mengerti apa yang kujelaskan.


Dan tanpa kusadari, hari mulai gelap yang membuat kami memutuskan untuk pulang.  Aku berjalan sendirian menuju kerumah yang baru karena Aku dan keluargaku memutuskan untuk pindah ke kalangan menengah hasil dari menjadi petualang selama sebulan.


Rumah yang baru, ukurannya empat kali lebih besar dibandingkan rumah sebelumnya yang hanya terdiri dari dapur, kamar kecil, kamar mandi, dan loteng tempat tidurku. Sekarang di rumah baruku, terdapat banyak ruangan seperti tiga kamar, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga, loteng, dan bahkan ada gudang.


Dan sekarang, Ayahku tidak lagi bekerja sebagai pengantar barang, melainkan bekerja di sebuah toko roti dan mendapatkan banyak penghasilan dibandingkan sebelumnya. Namun yang terpenting adalah, Kami sekarang tidak perlu khawatir mengenai keuangan karena Aku menghasilkan banyak uang dari Guild.

__ADS_1


Jika dihitung rata-rata upah dari misi Rank D sekitar satu perak hingga lima puluh perak. Dan itu terpisah dari hasil yang didapatkan dari menjual bagian monster. Jika semuanya di hitung, maka rata-rata penghasilanku sekitar seratus perak per misi.


Meskipun tidak banyak, tapi itu seharusnya sudah menutupi semua biaya hidup kami sekeluarga. Dan laginya Aku masih bisa naik Rank dan mendapatkan lebih banyak uang.


Setibanya di rumah, seperti biasa, Ibuku memasak begitu banyak makanan hingga membuat meja penuh dengan makanan. Dan Ayah yang sedang menikmati secangkir kopi di dekat perapian. Aku merasa senang karena rumah yang kubeli untuk mereka itu sangat berguna.


"Selamat datang Loid, bagaimana dengan sekolahmu?" Tanya Ibuku.


"Kurasa lumayan lancar." Balasku


"Senang mendengarnya. Aku sudah menyiapkan banyak makanan untukmu, jadi makanlah dengan banyak." Ucap Ibuku.


"Ngomong-ngomong, Loid tadi kudengar dari akademi bahwa Kamu terpilih menjadi peserta di turnamen antar kelas." Tiba-tiba saja Ayahku membahas mengenai turnamen tersebut.


"Darimana Ayah mendengarnya?" Tanyaku.


"Dari temanku semasa kecil, Kurasa dia adalah salah satu guru yang ada di akademi air. Aku jarang bertemu dengannya karena Dia selalu sibuk dengan penelitiannya. Tapi tadi Aku tidak sengaja bertemu dengannya." Jawab Ayahku dengan sedikit senang.


"Kurasa Dia teman yang baik." Balasku.


Dan pembicaraan kami terus berlanjut hingga keesokan harinya. Seperti biasa, kami berkumpul di lapangan setelah sepulang sekolah. Mereka bertiga berlatih terus menerus dengan mengendalikan sihirnya hingga dapat menggerakkan sihir dengan bebas. Namun itu masih belum bisa dianggap sebagai sihir kuat.


Kemudian sebuah ide cemerlang, yaitu melatih mereka sebuah sihir elemen lanjutan. Aku bisa mengajari Molda cara menggunakan elemen es, lalu Shasa elemen petir, dan Arez sebuah elemen besi, tapi untuk jaga-jaga, Aku rasa mengajari elemen lain seperti elemen tumbuhan, elemen lahar, dan elemen gravitasi.


"Molda, ada hal yang perlu kuberitahu kepadamu." Panggilku ketika Molda sedang mengendalikan sihir airnya.


"Ada Apa?" Tanya Molda.


"Apa Kau ingin berlatih elemen lain selain air?" Tanyaku untuk memastikannya.


"Elemen lain selain air? Apa maksudmu Aku harus berlatih sihir api, angin, dan tanah?" Ucap Molda dengan kebingungan.


"Maksudku, Apa Kau ingin berlatih elemen lanjutan setelah elemen air?" Tanyaku lagi.


"Kalau begitu, Aku akan bertanya seberapa pengetahuanmu mengenai elemen lanjutan. Jadi apa saja elemen lanjutan dari elemen air?" Tanyaku untuk memastikan pengetahuannya.


"Hanya...Elemen Es? Kurasa" Balas Molda dengan sedikit kurang yakin.


"Ada banyak elemen lanjutan setelah elemen air, misalnya saja Elemen Es, Tumbuhan, Uap, Darah, dan sebagainya. Sebagai contoh, Aku akan mempraktekkan elemen es terlebih dahulu." Jelasku


"Wahai Es, Bekukan Segalanya, Dengan Es Yang Dingin, [Ice Area]" Rapalku.


Tepat setelahnya, di sekitarku langsung membeku dan membentuk sebuah es yang tajam di sekelilingku. Namun sihir itu hanyalah sihir es Rank E, sehingga efeknya tidak terlalu kuat untuk digunakan menyerang. Tetapi ini sudah cukup untuk membuktikan kemampuanku kepada Molda.


"A-apa Aku bisa melakukannya juga!?" Tanya Molda yang langsung bersemangat.


"Tentu saja, Aku bisa mengajarimu dengan yang lainnya." Balasku.


Dan setelahnya, Aku menjelaskan cara menggunakan elemen es ke Molda dengan panjang dan lebar. Meski pada akhirnya memakan banyak waktu hingga Dia sepenuhnya paham dan berhasil menggunakan elemen es tersebut. Sehingga Aku memutuskan untuk mengajarinya beberapa mantra sihir es yang kuketahui.


Kemudian Aku mengajari yang lainnya juga tentang elemen lanjutan. Yang dimulai dari Shasa, Aku mengajarinya sihir petir terlebih dahulu sebelum mengajarinya sihir lain. Dan betapa mengejutkannya saat mengetahui bahwa Shasa dengan cepat memahami konsep dari elemen petir. Sehingga itu membuatnya sangat cocok dengan sihir elemen petir.


Namun berbeda dengan Arez yang baru-baru saja memulai latihan. Dia masih perlu mempelajari sihir tanahnya dengan efisien, tetapi Aku tetap mengajarinya sihir besi juga untuk menghemat waktu latihan. Dan dalam beberapa hari, tepatnya dua hari sebelum turnamen.


"Aku ucapkan selamat kepada kalian semua karena telah menguasai sihir elemen lanjutan. Meski tidak setingkat dengan sihir elemen dasar, tapi paling tidak ini sudah cukup untuk pertandingan lusa." Kataku.


"Karena kalian sudah berlatih dengan keras, hari ini dan esok beristirahatlah." Sambungku.


"Kenapa harus beristirahat? Kita bisa melanjutkan latihan agar semakin kuat." Jawab Molda.


"Beristirahat sebelum pertandingan adalah hal yang paling bagus, bukan? Simpan tenaga kalian, lalu tunjukkan hasil latihan kalian dengan maksimal di hari pertandingan." Balasku.


Dan kemudian semuanya setuju dengan perkataanku dan memutuskan untuk bersenang-senang selama seharian penuh. Namun Aku memutuskan untuk mengunjungi Yuna untuk membantu penelitiannya mengenai elemen. Dia mengajakku untuk bekerja sama sebulan yang lalu, dan Aku hanya diminta datang tiap minggunya saja.

__ADS_1


"Jadi kamu sudah tiba ya. Aku sudah menyiapkan banyak sekali teori yang akan di uji coba. Apa kamu siap?" Ucap Yuna.


Ruangannya begitu berantakan dan dipenuhi dengan tumpukan kertas yang berisikan berbagai teori yang Dia tulis. Aku diminta untuk menguji teori mantra yang dibuatnya dengan menggunakan berbagai jenis elemen yang dipadukan untuk membentuk sebuah sihir yang luar biasa. Meskipun begitu, semua teori yang dibuatnya selalu berakhir dengan kegagalan.


Tapi tetap saja, Yuna tidak pernah menyerah untuk menemukan teori yang tepat meski Aku tidak tahu apa yang sebenarnya Dia inginkan sampai tidak pernah menyerah pada teorinya tersebut. Tapi satu hal yang pasti adalah, teorinya ini sangat berhubungan dengan teori yang kubuat di masa lalu. Yaitu, cara berbicara dengan roh atau spirits.


Roh atau Spirits merupakan makhluk yang pertama kali menggunakan elemen sebagai kekuatannya. Dalam dunia ini terdapat empat elemen, yaitu Undine sebagai roh air, Sylph sebagai roh angin, Salamander sebagai roh api, dan Gnome sebagai roh tanah. Keempat roh tersebut merupakan roh yang paling terkenal di kalangan manusia dan merupakan roh kontrak dari empat pahlawan di masa lalu.


Tetapi mereka hanyalah sebatas roh saja, masih ada Queen Spirits yang masih belum mereka ketahui, dan cuma Aku yang mengetahuinya. Dalam dunia roh, diperkirakan ada lima Queen Spirits. Kemudian dibawahnya Spirits terbagi menjadi tiga tingkatan, Upper Spirits, Middle Spirits, dan Lower Spirits.


Akan tetapi, saat ini yang berhasil membuat kontrak dengan Upper Spirits hanyalah keempat pahlawan di masa lalu. Dan meskipun Aku yang membuat teori tersebut meski Aku hanya menyempurnakannya saja. Aku tidak pernah membuat kontrak dengan roh apapun.


Alasannya sangat simpel, yaitu agar Aku bisa meminjam kekuatan dari roh dari elemen yang berbeda. Karena penyihir hanya boleh meminjam kekuatan roh dari roh kontraknya saja. Tapi bagi penyihir yang tidak punya kontrak apapun maka penyihir tersebut bisa meminjam kekuatan roh lain. Tapi Aku sedikit penasaran mengapa Yuna ingin mencoba teori tersebut.


"Aku sedikit penasaran, kenapa Kau melakukan penelitian seperti ini?" Tanyaku.


"Apa Kau tahu? Tiap keturunan pahlawan diwajibkan melakukan kontrak terhadap rohnya masing-masing. Tapi kontrak roh berakhir di era kakek buyutku. Alasannya adalah mantra pemanggilan roh saat ini telah lenyap sepenuhnya. Kami tidak bisa melakukan duplikat dari gulungan mantra karena mantra yang ditulis sangat rumit sehingga Kami tidak memahaminya. Saat ini Aku hanya memiliki beberapa serpihan dari mantranya saja. Tapi dari teori yang kudengar, mantra pemanggilan roh memerlukan empat elemen untuk bisa memanggil roh tertentu." Jelas Yuna.


Aku tidak menyangka bahwa Dunia sudah melupakan mantra pemanggilan sihir roh. Dan terlebihnya lagi, teori tentang roh juga sudah sangat kacau. Mantra pemanggilan roh merupakan bagian dari Non-Elemen. Dan kemungkinan Yuna berpikir bahwa memerlukan empat elemen untuk memanggil roh adalah kesalahpahaman.


Tapi Aku merasa dunia yang sekarang tidak perlu lagi terlibat dengan roh karena sekarang dunia sudah sangat damai. Bagi para roh, mereka tidak lagi perlu ikut campur dalam urusan dunia kecuali jika hal itu merugikan para roh, misalnya ancaman dari raja iblis. Raja iblis telah kukalahkan di masa lalu sehingga sekarang tidak mungkin ada lagi yang namanya raja iblis.


Setelahnya, Yuna memintaku untuk menggunakan sihirku di sebuah kertas besar yang memenuhi satu ruangan dengan mantra yang sedikit panjang di atasnya. Tinta yang digunakannya juga berasal dari sebuah monster cumi sihir yang mengandung banyak energi sihir dan bisa digunakan dengan mudah.


Aku mengaktifkan sihirku dengan meletakkan kedua telapak tanganku di atas kertas tersebut dan kualiri dengan energi sihir. Kemudian energi sihir terkumpul di bagian tengah kertas dengan empat warna yang berbeda dan mencerminkan warna dari elemen tersebut.


Di bagian tengah kemudian terbentuk sebuah cahaya putih yang semakin lama semakin membesar hingga ukurannya hampir memenuhi satu ruangan. Dan dalam berapa sepersekian detik cahaya putih itu langsung menyusut seperti ukuran kelereng.


"DUAR!!" dan seketika, sihirnya mengalami ketidakstabilan yang membuatnya meledak dengan kekuatan yang dahsyat hingga membuat satu ruangan menjadi debu.


Dan untungnya, Aku sudah mengantisipasi kejadian ini dengan menyiapkan pelindung di sekujur tubuhku dan Yuna. Karena hal itu semua teori yang Ia ciptakan kini telah menghilang beserta seisi ruangan. Namun itu tidak membuat Yuna terlihat kecewa, malahan Dia terlihat seperti sangat senang.


"Sepertinya tidak ada hal lain yang bisa kulakukan sekarang." Ucapku.


"Terima kasih karena sudah membantu hari ini. Aku akan menantikan turnamen di hari lusa. Kuharap Kau bisa memenangkannya." Balas Yuna.


"Tentu, Kami sudah berlatih banyak hal untuk menjadi juara. Tapi Aku juga kurang mengerti, mengapa semuanya mengincar bintang di akademi."


"Oh ya? Kupikir Kau sudah mengetahuinya. Aku akan menjelaskan secara singkat mengenai bintang akademi. Bintang disini bertujuan untuk mengukur seberapa berprestasinya siswa tersebut.. Namun belakangan ini banyak orang yang berpikir bahwa bintang bisa mendapatkan ketenaran, walaupun itu memang benar." Jelasnya


"Tidak hanya itu saja, jika mencapai jumlah bintang tertentu, siswa akan mendapatkan sebuah gelar khusus. Terdapat lima macam gelar yang ada di akademi, yaitu Bronze, Silver, Gold, Platinum,dan Diamond. Tetapi siswa yang mencapai gelar Diamond hanyalah satu orang saja dalam sejarah. Tepatnya Dua puluh tahun yang lalu, Dia merupakan pengguna sihir empat elemen yang terkuat pada masanya. Ya, kurasa Aku tidak perlu menceritakannya padamu karena pada akhirnya Kau akan mengetahuinya juga." Sambungnya.


"Kemudian, terdapat juga bintang kelas yang berguna untuk menentukan seberapa bagusnya kelas tersebut. Tapi yang terpenting adalah terdapat banyak fasilitas di akademi yang tidak boleh dimasuki sembarang orang kecuali mendapatkan bintang kelas. Misalnya saja perpustakaan akademi. Namun tidak hanya itu saja, tiap tahun akan diselengarakan sebuah festival dan pada saat itu juga pengukuran bintang kelas akan diadakan."


"Apa yang akan terjadi jika mendapatkan bintang kelas tertinggi?" Tanyaku.


"Kelas yang mendapat bintang tertinggi akan menjadi kelas terbaik dan akan masuk kedalam sejarah sebagai kelas terbaik. Tahun lalu yang berhasil memenangkan bintang terbanyak adalah kelas api tahun ajaran ke enam. Dan Aku lupa menjelaskan bahwa tiap tahunnya bintang kelas akan diatur ulang menjadi nol. Tapi hak untuk memasuki ruangan atau fasilitas tertentu tidak di hilangkan jika sudah mendapatkan hak tersebut. Ya kurasa cuma itu saja yang perlu kejelaskan kepadamu. Aku juga baru ingat mempunyai pekerjaan yang harus kukerjakan."


Setelahnya Yuna pergi meninggalkan ruang penelitiannya yang telah menjadi debu. Aku membersihkan debu yang ada di ruangan tersebut dengan sihir [Clean] dan langsung meninggalkan ruangan tersebut.


{Hari Pertandingan Antar Kelas}


Aku berdiri di hadapan mereka bertiga, Molda, Shasa, dan Arez. Kemudian suasana semakin hening hingga Aku memulai pembicaraan.


"Apa kalian masih mengingat tentang pelatihan minggu kemarin?" Tanyaku


"Tentu saja, Kami sudah sangat siap untuk hari ini" Jawab Molda


"Baiklah, Ayo menangkan turnamen ini dan dapatkan bintang kelasnya!" Ucapku.


"YA!" Jawab mereka dengan spontan.


Dan kemudian, Kami semua langsung bergegas masuk ke dalam arena yang dikelilingi oleh ribuan penonton akademi. Turnamen ini hanya pertarungan antar kelas, tetapi semuanya terlihat begitu bersemangat.

__ADS_1


Arc 1 : End


__ADS_2