Sihir Elemen

Sihir Elemen
Chapter 6 : Penyihir Api, Dafire


__ADS_3

Chapter 6 : Penyihir Api, Dafire


Disaat sepulang sekolah, Aku sendirian tanpa ditemani oleh Molda dikarenakan kesibukannya sendiri. Tapi Aku merasakan sebuah aura dengan niat membunuh di sekelilingku. Dari awal Aku sudah curiga karena di sekitarku tidak ada penduduk biasa sama sekali, dengan kata lain sunyi.


Aku mulai mengaktifkan sihir pendeteksiku dan menemukan ada banyak sekali penyihir api yang berada di tingkat C. Aku kemudian berpura-pura tidak menyadarinya dan tetap berjalan seperti biasa sambil memeriksa lokasi mereka satu persatu.


Dengan perlahan, Aku berjalan mengiring mereka ke tempat yang luas, yaitu lapangan umum. Aku juga memperkirakan bahwa lapangan akan kosong hari ini, dan benar saja. Aku berhenti di tengah lapangan yang luas dan kosong.


Bagi mereka yang sedang bersembunyi, kali ini mereka tidak akan menemukan tempat persembunyian, karena lapangan itu adalah tempat terbuka. Namun sekarang, mereka menampakkan dirinya dan mulai mengepungku. Kuperkirakan ada dua puluh penyihir yang tengah mengepungku.


"Siapa kalian?" Tanyaku dengan santai.


"Oh, maafkan Aku, tapi kami tidak akan membocorkan nama kami kepada target" Ucap seorang penyihir yang memakai jubah yang menutupi wajahnya.


Yang menjawab perkataanku barusan, kurasa itu adalah ketuanya. Karena hanya dialah yang sedikit berbeda dari penyihir lainnya.


"Keluarga Dafire, itu yang menyuruh kalian untuk menyerangku, bukan?" Ucapku yang membuat mereka terkejut.


"Kurasa benar, Setelah mengalahkan kalian, Aku akan bergegas menuju ke kediaman Dafire untuk mengalahkan Penyihir yang dikatakan terkuat itu." Sambungku.


"Dasar bocah tengik, Memangnya bocah seperti Kau bisa mengalahkan kami? Dasar Bodoh." Ucap Ketua penyihir itu.


"Satu hal lagi, Api tidak bisa mengalahkan air, apakah kau tau itu?" Balasku


"Semuanya, Serang bocah itu secara bersamaan!" Teriaknya dengan keras.


Seluruh penyihir sedang merapalkan mantra, dari yang kulihat mantra yang mereka rapalkan itu adalah, [Flamethrower] sihir rank C, itu adalah sihir untuk menyemburkan api ke lawan yang begitu besar. Namun masih mudah bagiku untuk mengalahkannya.


"Wahai Air! Amarah Dalam Ketenangan, Air Melanda Peradaban, [Tsunami]" Rank B.


Aku membentuk tsunami dari empat sisi dan menyapu habis para penyihir itu tepat sebelum mereka selesai merapal mantra panjang mereka. Dan sekarang, Aku sudah tahu siapa yang mengirimkan penyihir pembunuh kepadaku.


Penyihir dari keluarga Defire yang Aku tidak tahu siapa namanya itu. Tapi sebelum pergi menyerangnya, Aku harus menyempurnakan sihir ingatanku dengan menggunakan grimoire yang dibuat oleh muridku di masa lalu. Masih ada beberapa mantra lagi yang perlu kutulis di ingatanku.


Maka dari itu, Aku memutuskan untuk pulang dan menyempurnakan sihirku disana. Setibanya di rumah, tidak banyak hal yang berbeda, selain wajah ayahku yang terlihat lebih memburuk dari biasanya.


"Apa yang terjadi padamu Ayah?" Tanyaku untuk memastkan keadaannya.


"Tidak ada masalah apapun, Aku hanya merasa agak lelah" Balas Ayahku.


Aku tahu, bahwa Ayah sedang mengalami masalah. Mungkin juga ini ada hubungannya dengan Aku. Secara kebetulan, Aku awalnya bekerja bersama dengan Ayah dan waktu diterima di akademi, Aku sudah tidak bekerja lagi dan mengandalkan beasiswa yang kudapatkan. Tapi satu hal yang kulupakan adalah, Ayahku sekarang menanggung seluruh biaya keluarga.


"[Cured]" Sihir Penyembuh Rank C.


Dengan mengaktifkan mantra itu, aura hijau menyelimuti diriku dan kuarahkan aura itu ke Ayahku untuk menyembuhkannya. Ini adalah sihir penyembuh yang begitu berguna sehingga kebanyakan penyihir mempelajari sihir tersebut. Akan tetapi, [Cured] hanya bisa menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan mental, racun, dan apapun yang berhubungan dengan hal negatif dalam tubuh.


Ayahku yang sebelumnya sedikit pucat kini mulai membaik. Dan bahkan Dirinya terkejut melihat bahwa tubuhnya menjadi bugar kembali. Kupikir dengan ini Aku bisa meringankan bebannya meskipun hanya sangat sedikit.


"Apa Ayah Sudah Merasa Baik?" Tanyaku untuk memastikan keadaannya.


"Apa ini perbuatanmu? Yah, sekarang Aku merasa sangat baik. Terima kasih, Loid" Ucap Ayahku dengan tersenyum.


Sungguh pemandangan yang aneh bagiku. Ayahku yang terlihat bermuka sangar itu tersenyum kepadaku. Aku merasa sangat senang dengan itu.

__ADS_1


Kembali ke kamar. Aku kemudian melanjutkan penyempurnaan sihir ingatanku dengan menambahkan beberapa mantra yang belum sempat kutambahkan. Paling tidak yang sekarang Aku hanya perlu menambahkan mantra mantra dasar di tiap elemen.


Proses ini berjalan hingga larut malam. Dan juga disaat yang bersamaan Aku juga merencanakan untuk melakukan serangan balas dendam kepada penyihir api itu, atau lebih tepatnya ke anaknya, Shasa Dafire. Dan kuputuskan bahwa sepulang sekolah, Aku akan diam diam mengikuti Shasa karena Aku tidak tahu alamatnya ada dimana.


Dan beberapa saat kemudian, Aku akhirnya menyelesaikan sihir ingatanku dan menyimpan banyak mantra dari rank S hingga rank D. Keesokan harinya, dikelas Aku hanya mempelajari cara melakukan sihir perpindahan meskipun Aku sudah sangat memahaminya. Tapi yang terpenting, Aku harus bersikap layaknya seperti biasa agar bisa menjalankan rencanaku.


Sepulang sekolah, sama seperti kemarin, Molda mempunyai sebuah urusan yang harus ia kerjakan. Dan Aku memanfaatkan hal itu dengan mengikuti Shasa ke rumahnya dengan menggunakan sihir penyamaran, [Invisible] yang dapat membuatku terlihat menghilang.


Aku mengikuti secara perlahan, dan terlihat dirinya memasuki wilayah kalangan atas, tempat yang bahkan Aku sama sekali belum pernah datangi. Di atas langit terdapat banyak sekali penyihir yang berterbangan dengan menggunakan sapu terbang karena di bagian kalangan atas banyak sekali siswa yang lulus sebagai penyihir.


Jalanan yang terbuat dari bebatuan yang tersusun rapi, kereta kuda ada dimana-mana, toko toko berjejeran satu sama lain membuat pemandangan yang begitu menakjubkan dimataku. Untuk pertama kalinya, Aku melihat tempat semewah itu dalam hidup keduaku.


Shasa kemudian berjalan memasuki area perumahan, begitu juga denganku yang tengah mengikutinya dari belakang. Hingga beberapa saat Aku akhirnya menemukan rumah keluarga Dafire yang terlihat megah itu. Bangunannya begitu besar dan luas bahkan memiliki taman yang sangat luas.


Jika dibandingkan dengan rumahku, ukuran rumahnya itu sepuluh kali lebih besar dibanding rumahku yang sekarang. Tapi yang terpenting, Aku berhasil menyelinap masuk tanpa ketahuan sedikitpun dan masih tetap mengikuti Shasa dari belakang.


Meski begitu, tidak ada pembantu satupun yang terlihat menyapa Sasha yang notabene merupakan anak dari majikan mereka. Dan Aku mencoba untuk terus mengikutinya hingga Ia tiba di sebuah ruangan yang menuliskan dilarang masuk.


Shasa membuka pintu itu secara perlahan dan terlihat dibaliknya terdapat pria tua dengan rambut putih dan berjenggot panjang. Pakaian yang pria itu kenakan dipenuhi dengan warna merah yang menandakan bahwa dirinya merupakan pengguna sihir api. Tapi yang terpenting, Aku melihat Shasa menundukkan kepalanya ke orang itu.


"Ayah, kenapa siswa curang itu masih selamat? Bukankah Ayah telah mengerahkan penyihir khusus untuk mengalahkannya" Ucap Shasa.


"Diam! Semua Penyihir Yang Kukirimkan, Mereka Kalah! Kau Sama Sekali Tidak Mengatakan Bahwa Orang Yang Kau Incar Bisa Menggunakan Sihir Air Rank B!" Balas Pria itu dengan nada marah.


"Apa? Seharusnya Dia hanya bisa menggunakan sihir air tingkat rendah saja. Dan lagi, Bola Elemen itu mengatakan bahwa Dia hanya memiliki sihir non-elemen saja" Jelasnya dengan panik.


"Sudah cukup, Pertama Kau mengatakkan bahwa akan menjadi peringkat pertama, tapi malah menjadi kedua. Lalu masuk ke kelas Non-Elemen yang padahal Kau seharusnya masuk ke kelas Api. Serta berbohong bahwa orang yang berada di peringkat pertama itu melakukan kecurangan."


"Orang Itu Melakukan Kecurangan!! Bagaimana Mungkin Mendapatkan Nilai Melebihi Satu Juta Poin, Sudah Jelas Jelas Bahwa Orang Itu Melakukan Kecurangan!"


Aku setuju dengan Ayahnya, tapi juga tidak setuju dengan bagaimana sikapnya dalam memperlakukan anaknya. Tapi, Aku seharusnya tidak mencampuri urusan pribadi mereka, dan tujuanku sudah tercapai. Kalau seandainya Ayahnya itu benar-benar orang jahat, sudah pasti akan kukalahkan.


"Kalau hanya itu saja, lebih baik Kau segera keluar dari ruangan ini, Aku cukup sibuk hari ini, jangan ganggu Aku"


Shasa kemudian meninggalkan ruangan tersebut, begitu pula denganku..Tapi saat Aku hendak keluar, tiba-tiba pintunya langsung tertutup tanpa sebab. Dan Aku mencoba untuk menoleh kebelakang untuk memastikan sesuatu.


"Jadi, Apakah Kau sudah mendapatkan tujuanmu, Wahai Penyihir tak terlihat, atau Loid Astra" Ucap Pria yang membuatku sedikit merinding.


Karena sudah terlanjur ketahuan, Aku sudah tidak punya pilihan lain sehingga Aku membongkar penyamaranku dan menampakkan diriku di hadapannya. Kalaupun Dia menyerangku, Aku bisa mengaktifkan sihir airku untuk melindungiku serta menyerangnya.


"Tidak kusangka Kau dapat mengetahui bahwa Aku menggunakan sihir tidak terlihat." Pujiku


"Itu adalah hal mudah, di setiap tubuh manusia terdapat sebuah energi sihir. Kekuatan tiap energi itu berbeda-beda tergantung dari penggunanya yang melatihnya. Tapi energi sihir yang ada di dalam tubuhmu itu benar-benar tidak biasa. Bisa kukatakan tubuhmu itu seperti semut dan energi sihirmu itu sebesar lautan." Jelasnya


"Yah, semenjak Kau tiba di kediaman ini, dari tadi tubuhku menjadi merinding karena energi sihirmu yang begitu besar. Sebagai pengguna sihir non-elemen, itu pasti tidaklah mungkin, jadi bisa kusimpulkan bahwa sebenarnya Kau bisa menggunakan sihir selain non-elemen" Sambungnya yang membuatku terkejut.


"Matamu sangat jeli ya, Bahkan orang lain sama sekali tidak menyadarinya." Pujiku lagi


"Tentu saja, tetapi diam diam mengikuti putriku itu adalah perbuatan yang jahat, Aku Adalah Rax Dafire, dikenal sebagai penyihir api terkuat, menantangmu berduel, Loid Astra" Katanya untuk mengajakku berduel.


"Baiklah, akan kuterima duelmu itu, dengan syarat berikan kompensasi jika Kau kalah"


"Kalau begitu, syarat dariku adalah Jangan mendekati putriku jika kau kalah"

__ADS_1


Penyihir itu, Rax mengajakku ke sebuah lapangan yang berada di halaman belakang. Tapi dari kejauhan Aku melihat sebuah aliran sihir di sekitar arena dan terhubung ke sebuah artefak yang berada di dekat arena. Aku bisa mengetahui artefak itu bisa menghasilkan pelindung tidak terlihat di sekitar arena dengan kekuatan yang dahsyat.


"Peraturannya simpel, yang menyerah, tidak sadarkan diri, dan tidak dapat menyerang lagi akan kalah." Jelas Rax.


Dan dalam hitungan detik, duel dimulai. Aku melompat ke belakang untuk membuat jarak dengannya dan mulai mengaktifkan sihir ingatanku. Aku melihat Pak tua itu tengah merapalkan sihir api yang begitu panjang, dan ketika Aku urai hasilnya adalah, Dia ingin menggunakan sihir [Fire Tornado] Rank B. Dengan begitu, Aku membalas serangannya dengan [Water Shark].


Sebuah air yang dibentuk seperti ikan hiu, dengan taringnya yang terbuat dari air namun diperkuat untuk bisa mengigit musuh. Hiu itu bergerak di daratan layaknya berada di dalam lautan dalam. Disetiap pergerakannya, tercipta ombak air yang tinggi sehingga bisa dengan mudah mengalahkan banyak lawan.


Hiu yang kuciptakan dengan air itu bertabrakan langsung kearah Pria Tua itu selagi dirinya masih belum sempat menyelesaikan mantranya, tapi tanpa kusadari ternyata Dirinya mengaktifkan grimoire secara diam-diam dibalik jubahnya yang panjang.


[Fire Shield] Rank C, itu yang sedang diaktifkan oleh Pak tua itu, namun itu masih belum cukup untuk bisa mengalahkan hiu airku. Dan dalam sekali serangan, pelindung api itu langsung hancur bersamaan dengan menguapnya sihir airku.


Mengaktifkan grimoire sebenarnya menggunakan energi sihir lebih banyak dibandingkan merapalkan mantranya, dan karena itu Aku yakin Pak tua itu tidak mungkin terus menerus mengaktifkan sihir pelindung apinya tersebut.


Aku kemudian mengaktifkan sihir air lagi, [Rain]. Dengan menciptakan sihir hujan yang deras, sudah pasti mustahil untuk mengaktifkan sihir api. Tiap sihir akan berguna jika berada di tempat yang tepat, begitupula dengan sebaliknya. Sihir api itu tidak bisa diaktifkan di dalam air.


"Wahai Sang Api Amarah! Dengan Menunjukkan Kemarahan, Atas Kekuatan Yang Anda Miliki, Musnahkan Segalanya Dengan Amarah, [Fire Spiral]" Rank A.


Pak tua itu mengaktifkan sihir yang begitu besar. Spiral api tersebut melahap air yang berjatuhan di atas langit dengan begitu mudahnya. Tapi itu masih belum bisa menghentikan seranganku. Alasanku menciptakan hujan bukan hanya untuk membuatnya tidak dapat menciptakan sihir api, tapi seperti yang kukatakan tadi.


Bahwa tiap sihir akan sangat berguna jika digunakan di tempat yang tepat, dengan kata lain, arena yang telah basah merupakan tempat yang sangat tepat. [Water Prison], Aku membentuk sebuah penjara air tepat di bawahnya tanpa Ia sadari sama sekali. Dengan begitu, Pak tua itu telah masuk ke penjara yang kuciptakan itu.


Itu bukan hanya penjara biasa, penjara itu tidak akan bisa hancur kecuali dengan sihir tanah, oleh karena itu, inilah kemenanganku.


"Sungguh sihir air yang merepotkan. Jika Aku memaksa untuk keluar, Api yang kuciptakan akan meledak dan itu akan melukaiku. Karena itu, Aku menyerah" Ucapnya dengan santai.


Aku kemudian melepaskan sihirku dan Kami pergi meninggalkan arena yang telah hancur itu, meski Aku tahu bahwa Pak tua itu masih belum menggunakan kekuatan penuhnya, tapi Aku yakin pasti ada alasan lain yang tidak bisa Ia jelaskan.


"Seperti perjanjian awal, Aku akan memberikanmu sebuah kompensasi senilai sepuluh emas" Ucapnya


Sepuluh emas, atau setara dengan seribu perak, ataupun seratus ribu perunggu. Dengan uang sebanyak itu, Aku bisa membeli makanan hingga beberapa bulan lamanya. Tapi yang terpenting, uang sebanyak itu bahkan mampu dipakai untuk membeli rumah.


Aku tahu jika membeli rumah itu akan sangat boros, terutama jika melihat kondisi keluargaku yang sekarang. Tapi yang kuketahui bahwa membeli rumah di kalangan menengah itu bisa membuat drajat keluargaku naik.


"Baiklah akan kuterima kompensasi itu, dan kurasa lebih baik Aku pulang dulu." Kataku sambil mengambil sebuah kantung yang berisikan emas.


"Tunggu sebentar, ada hal yang perlu kubicarakan denganmu."


Aku yang mendengarnya langsung berbalik arah dan menatapnya sambil menunggu apa yang hendak Ia katakan kepadaku. Dari yang kulihat, raut wajahnya seakan akan dirinya sangat serius akan hal ini. Sehingga Aku memutuskan untuk mendengarnya dengan serius.


"Alasan Aku mengajakmu berduel, itu untuk menguji kemampuanmu sebelum Kau kuizinkan untuk menjaga putriku, Shasa" Kata Rax yang seketika membuatku terkejut.


"Aku selama ini terlalu melindunginya sehingga Dia tidak pernah bebas melakukan apapun. Tapi semenjak Dia berkata ingin menjadi penyihir, disitu hatiku mulai merasa gelisah. Aku takut jika Putriku, Shasa mengalami hal buruk ketika menjadi penyihir dengan kemampuan yang kurang. Maka dari itu, Aku membawanya masuk ke Akademi, dan mencari seorang murid yang bisa ku pekerjakan menjadi pengawalnya. Tapi memilih murid yang lebih lemah dibandingkan putriku akan sangat buruk, jadi Aku ingin mengajakmu untuk menjadi pengawal pribadi Putriku" Sambungnya.


"Kalau begitu, akan kutolak tawaranmu itu" Jawabku dengan santai tanpa berpikir panjang.


"Kenapa? Aku akan mengajimu cukup tinggi untuk hal itu" Tawarnya untuk merekrutku.


"Bukannya Aku tidak menginginkan uang, tapi coba Kau pikirkan perasaan putrimu itu. Dia berusaha untuk mendapatkan peringkat pertama, untuk apa? Itu untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak perlu dikhawatirkan. Untuk sekarang, bukankah lebih baik membuatnya sedikit bebas untuk berpetualang di dunia yang luas. Dan juga, Aku akan berteman dengan putrimu sebagai ganti dari pekerjaan mengawalnya." Jelasku


"Hmm... Kau ada benarnya, Aku tidak perlu mengkhawatirkannya karena Dia sudah dewasa. Aku seharusnya mendidiknya menjadi penyihir yang hebat sebagai penerusku. Terimakasih banyak, Loid Astra." Katanya sambil menundukkan kepalanya kepadaku.


Setelahnya, semua masalah telah selesai. Aku pulang dengan berjalan kaki sendirian dengan rasa senang karena telah mendapatkan uang yang sangat banyak. Tapi diperjalanan, Aku melihat sesosok pria yang mirip dengan orang yang kukenal sedang dihadang oleh preman di sebuah gang.

__ADS_1


Orang itu adalah.....


__ADS_2