
Helena melihat kenzo, "Kamu, duduklah. Tak usah dengarkan ucapan mereka, kamu juga tamuku di sini. Selamat datang, ya.. !" ucap Helena. Kenzo tersenyum lebar, "Terimakasih, atas keramahnya.." ucap Kenzo.
Kenzo pun duduk di samping Refan, Refan tersenyum sesaat padanya. Tak berselang lama, lima orang pelayan masuk membawa nampan berisi makanan. Mereka mulai menyajikan hidangannya ke atas meja, berpamitan lalu beranjak pergi.
"Mari, kita makan ..!" titah Helena, ke-empat pria itu mengangguk. Ke-empat pria itu mulai menyantap makanan masing - masing, Helena dengan begitu tenang memotong steack yang ada di piring.
Kenzo memperhatikan Helena, ada begitu banyak pertanyaan yang melintas di benak nya. Bagaimana bisa seorang aktris populer seperti Helena, ada di tempat seperti ini ? Lalu alasan apa yang membuat Helena mencari sosok kekasih sewaaan. Apa yang Helena butuhkan jika kemewahan dan kecantikan sudah melekat pada diri-nya selama ini ?.
Kenzo melahap potongan steack yang ada di piringnya, "Astaga..., rasanya begitu enak.." batin Kenzo tak percaya. Dagingnya begitu lembut dan terasa lezat saat di makan, bumbunya juga terasa enak saat di kecap. Kenzo mulai terbuai hingga ia tak sadar jika daging steacknya tinggal sepotong.
Refan melirik Kenzo, "Enak ya, udah habis aja nih..?" bisik Refan. Kenzo melirik Refan, "Iya, enak sekali.. " bisik Kenzo senang. Refan terkekeh, "Iya, lah makanan artis.Misal nih salah satu dari kita bisa dapetin Nona Helen. Pasti ngak bakalan pusing lagi deh mikirin jatah uang makan hehe.. " bisik Refan bercanda.
Kenzo pun tertawa, "Bisa aja, kamu..!" ucap nya. Refan tersenyum dan kembali menyantap steaknya. Kenzo pun menyantap hidangan yang lain, ia merasakan hal yang sama. Semua hidangan yang ada di meja, begitu mengugah selera dan tentunya juga lezat.
30 menit kemudian ...
"Gimana makanannya, kalian suka kan..?" ucap Helana. "Suka, Nona.." ucap mereka berempat.
"Bagus jika kalian suka, semoga kalian menikmati pertemuan kali ini ya..!" ucap Helana sembari tersenyum manis. Mereka berempat tertegun sesaat memandangi senyuman Helena, "Iya, Nona.." ucap mereka serentak.
"Oh, ya. Kamu ! Siapa namamu? Kita belum berkenal sama sekali. Aku Helena.. " ucap Helana pada Kenzo. Kenzo tertegun, lalu memberanikan diri mengulurkan tangannya ke arah Helena, "Saya Kenzo, senang bisa berkenalan denganmu.." ucap Kenzo.
Helena tersenyum tipis, ia tak berminat membalas uluran tangan Kenzo. "Maaf ya Kenzo, tanganku kotor. Kita saling bertukar nama saja.. !" ucap Helena sambil mengelap tanganya dengan tisu.
__ADS_1
Kenzo tersenyum kikuk, ke-tiga pria yang ada di dekatnya menertawainya. Kenzo menyimpan tangannya kembali, "Ya.., tak masalah Nona.. " ucap Kenzo lirih.
"Oh iya, nona. Saya sampai lupa, saya mau menyerahkan ini. Ini document saya..!" ucap Kenzo menyerahkan sebuah map pada Helena. Helena meraih map itu, ia melihatnya sesaat lalu menutupnya kembali. "Saya sudah melengkapi semuanya, persyaratan Nona juga sudah saya penuhi.. " ucap Kenzo.
Helana tersenyum puas, "Bagus, bagus. Sepertinya kamu cukup antusias ya, sampai tau kalau aku akan mengadakan pertemuan di sini..?" ucap Helana sedikit curiga. Entah kenapa, Helana tiba-tiba punya fikiran bahwa pria yang ada di hadapannya kini adalah seorang reporter yang tengah menyamar.
"Oh, soal itu. Saya mendapat informasi dari salah satu kolegaku, maaf jika terkesan lancang. Saya benar - benar minta maaf.. " ucap Kenzo merasa tak enak. Helena terdiam sesaat, "Hm, begitu ya. Baiklah, aku akan mencoba percaya padamu. Tapi jika di sini ada yang bermuka dua. Kalian pasti tau akibatnya, bukan..?" ucap Helena tersenyum penuh arti.
Kenzo menelan salivanya kembali, ke-tiga pria di sampingnya saling pandang. Mungkin mereka merasa takut mendengar ancaman Helena, mereka terdiam membisu di dalam fikiran masing-masing. Kenzo sendiri tak merasa takut sedikitpun, ia hanya takut membayangkan penolakan Helana.
Apalagi di sini Kenzo harus bersaing dengan ke-tiga orang pria yang ada di sampingnya. Mereka nampak tangguh dengan karismanya masing-masing. "Kenzo, yakin. Kamu pasti bisa, ini semua demi kanaya.. " batin Kenzo menyemangati diri sendiri.
"Hahaha, mana ada yang bermuka dua di sini. Nona tak usah khawatir, kita semua orang baik kog.." ucap Alex tersenyum kikuk. "Iya, Nona. Tolong jangan curiga pada kami, kami hanya para pria lugu.. " ucap Elang. "Nona Helen, benar apa kata mereka. Tolong percaya pada kami, kami semua tulus pada Nona. Kami tak mungkin berani berkhianat.. " ucap Refan.
"Sepertinya malam sudah mulai larut, aku harus pulang sekarang. Pertemuan kali ini, kita sudah saja ya.. " ucap Helana. "Baik, nona.. " ucap mereka serentak.
Helena berdiri dari tempatnya, "Makannya sudah ku bayar, kalian tinggal pulang saja. Aku pamit keluar lebih dulu..!" ucap Helena. "Iya, Nona. Silahkan.. " ucap mereka ber-empat yang baru saja berdiri. .
___________________________________________
...Asrama Damkar, 22.58 a.m....
__ADS_1
Kenzo
Klek..
"Aku pulang..!" ucap Kenzo yang baru saja datang, Raga yang sejak tadi rebahan langsung menengok ke arah pintu. "Ah, Kenzo. Kamu sudah pulang ternyata..." ucap Raga tersenyum sambil rebahan di ranjang.
Klap, Kenzo menutup pintunya kembali lalu menghampiri Raga yang masih berada di tempat tidur. Kenzo memilih duduk di sofa yang ada di samping tempat tidur Raga. Raga pun berguling ke samping, kepala nya di angkat ke atas laludi topang oleh tangan kirinya.
"Ah, bagaimanatadi di Bar. Pasti seru ya, kan..?" ucap Raga menggoda kenzo. Ya, di sini memang Raga yang sudah memaksa Kenzo untuk menemui Helena di Bar Andalas.
Pria itu juga yang sudah memberikan alamat Bar itu pada Kenzo, Raga pun turut andil dalam menyiapkan document Kenzo agar temannya bisa lolos menjadi kandidat kekasih sewaan Helena.
Kenzo melirik Raga, "Ya, lumayanlah.. " ucap nya asal. Raga mengernyit, "Lumayan apa? Ayo cerita, aku penasaran sekali nih.." ucap Raga mendesak. "Ya, begitu..., kami semua makan bersama, ada si Helena dan tiga cowok lain.. " ucap Kenzo.
"Tiga cowok.., siapa, siapa..?" ucap Raga penasaran. "Iya, mereka itu ke-tiga cowok yang lulus tahap seleksi. Bisa di bilang ya, mereka semua sainganku.. " ucap Kenzo. Raga terkejut, "Aduh, gawat. Bahaya, bahaya..!!" ucapnya begigu panik hingga langsung bangkit dari tidurnya.
"Bahaya? Apa-nya yang bahaya..?" ucap Kenzo tak mengerti. "Ih, ini benar-benar bahaya. Kita dalam keadatan darurat, kamu ngak bisa tenang - tenang seperti ini. Kamu harus bergerak cepat, Ken.. " ucap Raga panik.
Kenzo manatap Raga bingung, "Gimana sih, aku ngak ngerti. Maksud kamu apa...?" ucap Kenzo sambil mengaruk tengkuknya. Raga berdecak kesal, "Hais, susah juga ya jelasinnya. Gini, gini... kamu tau kan sirine yang ada di mobil damkar. Nah, semacam itu tapi situasinya saja yang beda.. " ucap Raga.
"Sirene damkarkan pertanda bahaya, tapi yang lagi kamu hadapin sekarang. Bahaya cinta, Ken.. " ucap Raga. Kenzo tertawa, "Ada-ada aja, sih kamu Ga, Ga. Bahaya cinta apanya, ngaco ih.. " ucap Kenzo tergelak.
"Malah di becandain, eh.. aku serius. Mending kamu langsung pepet aja si Helen, kalau perlu kamu bilang suka sama dia sambil memasang wajah tampan yang menggoda. Udah pasti, tuh cewek bakal tergoda sama kamu haha... " ucap Raga. Kenzo tertegun, "Itu saran macam apa? Kamu coba saja sendiri sana, aku ngak mau..!" ucap Kenzo menolak dengan keras.
__ADS_1