
"Malah di becandain, eh.. aku serius. Mending kamu langsung pepet aja si Helen, kalau perlu kamu bilang suka sama dia sambil memasang wajah tampan yang menggoda. Udah pasti, tuh cewek bakal tergoda sama kamu haha... " ucap Raga. Kenzo tertegun, "Itu saran macam apa? Kamu coba saja sendiri sana, aku ngak mau..!" ucap Kenzo menolak dengan keras.
Kenzo memalingkan wajah nya, Raga pun merasa kesal dan mulai membujuk Kenzo agar mau mendengarkan saran darinya. "Hey, ini bukan saran yang buruk! Kau harus mencobanya, siapa tau bisa berhasil.. " ucap Raga.
"Hais..., saranmu itu buruk. Aku saja tak menyukainya dan kau malah ingin aku bilang suka pada gadis itu! Aku tidak mau.." ucap Kenzo sambil melambaikan tangan tiga kali tanda menolak. "Ta.. tapi Kenzo, aku tak yakin kau bisa menang. Cobalah, saran dari ku. Tidak ada salahnya, bukan..?" ucap Raga.
Kenzo menghela nafasnya, berdiri dari tempatnya lalu berjalan menaiki tangga sambil bergumam. "Mudahnya dia menyuruhku melakukan hal itu ? Memangnya dia fikir mudah untuk melakukannya. Ini kan soal perasaan, mana bisa mendadak seperti itu.. ".
"Jika kau tak mau mendengarkan saranku, Kau memang ingin kalah. Tak apa, biarkan saja uang 100 juta itu melayang dan kau hanya bisa menangisi Kanaya di rumah sakit..!!" teriak Raga dari tempat tidur. Kenzo yang hendak naik ke atas seketika menghentikan langkahnya, pria itu merasa kesal mendengar ucapan Raga.
Kenzo menoleh ke arah Raga, "Kau! Diamlah. Siapa bilang aku akan kalah? Seenaknya saja kau meremehkanku. Lihat saja, dengan berkat dari tuhan Helena akan memilih ku.." ucap Kenzo dengan lantang.
Raga terbengong melihat Kenzo yang sedang berapi-api. "Ho, ho, ho. Okay, aku akan mengawasimu dan aku yang akan pertama kali melihat tangisanmu jika kau kalah. Cepat, enyahlah dari hadapanku..!" ucap Raga .
Kenzo mengertakkan giginya menahan kesal, lalu memalingkan wajahnya dan kembali menaiki tangga. Di sisi lain, Raga tengah mengeluh di tempatnya. "Untuk saja dia temanku jika bukan. Sudah ku habisi dia..!" umpat Raga menahan kesal.
______________________________________________
...Kamar Helena, 22.21 a.m....
Helena
Helena sedang bersandar di ranjang sambil membaca map milik Kenzo. Di dalam map itu terdapat biodata, foto-foto, surat kesehatan dari rumah sakit, riwayat masalalu dan masa sekarang. Semua itu berhubungan dengan Kenzo, Helen pun cukup puas melihat persiapan Kenzo.
Helena merasa pensaran dan mulai membaca biodata Kenzo, ternyata pria itu salah satu dari anggota Damkar. Ia bekerja di kantor Damkar yang terletak di jln. Melankolia no. 10.
__ADS_1
Helena langsung mengingat kantor itu, tentu saja ia mengingatnya dengan jelas. Tempat itu mengingatkannya akan masa lalu di mana para pekerja damkar dengan sukarela menyelamatkan dirinya dari kepungan api 5 tahun yang silam.
"Hah, aku tak sangka ternyata seorang anggota Damkar ingin berada di sisiku.. " batin Helena.
Helena tersenyum, ia merasa lucu sekaligus senang mengetahui fakta ini. Helena kembali membaca biodata Kenzo, ternyata pria itu dua tahun lebih muda darinya. Helena tersenyum kikuk, "Astaga..., kenapa dia lebih muda dariku? Aku merasa seperti tante-tante sekarang.. " gumam Helena masih tak percaya.
"Bagaimana bisa? Apa iya aku harus memberinya kesempatan. Jika ku beri dia kesempatan, aku akan terlihat seperti tante - tante yang masih suka makan gulali.. " batin Helen tersenyum kikuk sambil mengusap pelipisnya.
Helena menghela nafas sejenak, lalu kembali membaca biodata Kenzo. Helena terdiam begitu membaca riwayat kehidupan Kenzo, ternyata pria itu tumbuh besar di Pantai Asuhan Pyungyong. Pantai asuhan yang sudah berdiri sejak era tahun 98 dan terletak di pusat kota Seoul. Tertulis juga di riwayat bahwa Kenzo saat masih belia di temukan oleh pemilik panti, saat beliau dan keluarga tengah berkunjung ke sungai Han.
"Dasar, berdebah! Orang tua macam apa itu? Teganya mereka menelantarkan bayi Kenzo begitu saja. Hih, aku menjadi kesal sekarang..!" gumam Helena yang begitu emosional saat membaca riwayat hidup Kenzo.
Helena merasa sesak, ia turut merasakan kehidupan berat yang di alami Kenzo sejak kecil. Riwayat hidup Kenzo membuat Helena meneteskan air mata.
Hiks..
Hiks..
Hiks..
Hiks..
Helena telah selesai membaca riwayat hidup Kenzo. Namun cerita kehidupan Kenzo membuatnya teringat pada mendiang orang tuanya, ia begitu bersyukur mengingat pernah di beri kesempatan oleh Tuhan untuk mengetahui sosok orang tua kandungnya. Jauh berbeda dengan Kenzo yang tak mengetahui sosok orang tuanya dari belia.
"Ayah, ibu, aku.., aku sangat bahagia bisa mengenal kalian. Terimakasih atas semuanya ya, semoga kalian memilik kehidupan yang tenang di surga sana.." gumam Helana sambil menyeka air matanya.
____________________________________________
__ADS_1
...Asrama Damkar, 23.58 a.m....
Kenzo
"Kanaya.. " gumam Kenzo dalam tidurnya. Saat ini Kenzo tengah bermimpi berada di ruang inap di Rumah Sakit Doldam. Kenzo melihat sosok Kanaya, gadis itu tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya terlihat menangis sambil mengengam tangan kecil Kanaya. "Kanaya, sadarlah. Jangan diam saja, ibu tak kuasa melihatmu seperti ini.. " ucap wanita itu dengan tangisan terisak.
Kenzo membungkap mulutnya, ia mulai memberanikan diri menghampiri wanita itu. Namun saat Kenzo baru beberapa langkah, wanita itu menyadari kehadirannya, kemudian memberi Kenzo tatapan penuh amarah.
"Kau! Kau mengatakan padaku bahwa kau akan menyelamatkannya. Tapi kenapa Kanaya masih terbaring seperti ini? Kau memang pembual. Aku tak akan percaya lagi padamu..!!" maki wanita itu sambil menunjuk-nunjuk Kenzo, setelah puas memarahi Kenzo wanita itu kembali terisak.
Kenzo masih terdiam, ia tak mengerti maksud dari wanita itu. Tapi Kenzo merasa sakit hati saat di salahkan seperti itu, Kenzo sudah berusaha menyelamatkan Kanaya. Namun, saat itu kejadiannya begitu cepat terjadi hingga terlambat untuk menyelamatkan Kanaya detik itu juga.
5 menit kemudian...
"Kanaya, maafkan paman.." gumam Kenzo, kenzo mulai berkeringat sambil mengigau menyebut nama Kanaya berulang kali. Kenzo mulai panas dingin merasakan buruknya mimpi yang tengah ia alami.
"Kanaya, kanaya. Jangan tinggalkan paman, paman janji akan menyelamatkanmu.." gumam Kenzo.
"Tidak, Kanaya. Paman tidak berbohong, tolong percaya padaku.." gumam Kenzo sambil berguling ke kiri dan ke kanan.
"Eh, Kanaya..!!" teriak Kenzo yang langsung membuka matanya. Kenzo memperhatikan sekeliling, ia mulai sadar bahwa dirinya tengah berada di asrama bukan di ruang inap tempat Kanaya di rawat.
Nafas Kenzo memburu, ia mulai mengatur pernafasannya sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Kenzo meraih sapu tangan, lalu menggunakannya untuk mengusap wajahnya yang berkeringat, "Ternyata..., yang tadi itu cuma mimpi. Ah, syukurlah.. " gumam Kenzo.
__ADS_1
Kenzo termenung, "Kanaya, gadis kecil paman. Jangan khawatir, paman akan berusaha menyelamatkanmu.. " batin Kenzo.