Simpanan Selebriti

Simpanan Selebriti
Bab 5


__ADS_3

Helena terkekeh, "Dengar ya..., aku tak mau asal pilih, aku ingin proses agar aku lebih yakin. Aku ingin kita berkencan lebih dulu untuk menentukan siapa di antara kalian yang paling pantas menjadi kekasihku. Sudah paham belum, apa masih perlu ku jelaskan lagi..?" ucap Helena.


"Ah, kurasa tidak perlu.. " ucap Elang sambil mengusap tengkuknya. Helena tersenyum, lalu melihat Kenzo. "Bagaimana denganmu, kau setuju kan..?" ucap Helena, Kenzo mengangguk. "Ya, aku ikut kata kalian saja.." ucap Kenzo datar.


"Baguslah kalau begitu, okay. Mari kita atur jadwal kencannya, besuk jadwalku kosong di sore dan malam hari saja. Bagaimana dengan kalian..?" ucap Helena antusias.


"Maaf Nona, besuk sore aku tak bisa, aku masih bekerja saat itu. Mungkin, kita bisa berkencan saat malam hari saja.. " ucap Kenzo, Helena tersenyum. "It's, Okay. Itu tak menjadi masalah buatku.. " ucap Helena. Kenzo tersenyum puas.


"Kalau kau, kau mau berkencan denganku di waktu sore atau malam..?" ucap Helena pada Elang, Elang terdiam sesesat mungkin ia tengah berfikir. Elang menghela nafas, "Sore, kita akan berkencan di sore hari.. " ucap Elang.


"Oh, okay. Nah, karena kita sudah selesai mengatur jadwalnya jadi aku mau pamit balik ke lokasi syuting ya. Kita akan bertemu di acara kencan besuk.. " ucap Helena yang mulai mengenakan maskernya kembali.


Kenzo dan Elang terkejut, "Hah, secepat ini kau ingin pergi...?" ucap Elang dan Kenzo bersamaan. Helena bangkit dari tempatnya, sejenak tersenyum manis pada dua orang pria yang duduk di hadapannya. "Kenapa? Kalian masih ingin bicara denganku ya. Maaf ya, aku harus pergi sekarang.." ucap Helena.


"Nona Helen, apa kau tak ingin makan siang dulu bersama kami...?" ucap Kenzo yang mulai berusaha perhatian pada aktris cantik itu. "Ya.., dia benar. Kau baru saja beberapa menit di sini, ayolah Nona. Mari, makan siang sebentar dengan kami..?" ucap Elang membujuk Helena agar tinggal lebih lama.


Helena tersenyum tipis, "I'am sory, lain kali saja ya. Aku harus kembali bekerja sekarang, time is money, Baby.. " ucap Helena sesaat kemudian berlalu meninggalkan Kenzo dan Elang yang menatapnya dengan heran.


Elang dan Kenzo terperangah menatap kepergian Helena, "Time is money..." ucap Elang sambil tersenyum kikuk. Kenzo terkekeh mengingat ucapan Helena yang terkesan cuek namun berakhir sexy, "Yeah, gadis itu menang benar. Ah..., aku juga mau balik kerja sekarang. Aku pergi dulu ya.." ucap Kenzo yang mulai berdiri.


Elang melihat Kenzo, "Kau juga? Eh, kenapa kau main cabut aja sih. Kau di sini saja ya, temani aku makan siang..!" ucap Elang membujuk Kenzo. Kenzo menggeleng, "Time is money.. " ucap Kenzo sedikit berbisik sambil mengurai senyum lebar.

__ADS_1


"Hah..?" ucap Elang tersentak, Kenzo menahan tawa melihat reaksi Elang. Setelah itu, Kenzo beranjak pergi dari cafe meninggalkan Elang seorang diri. Elang menatap punggung Kenzo, "Hais.., cecunguk itu! Aku jadi kesal kan sekarang, mereka sungguh tega padaku.." gumam Elang yang merasa kesal akan kesendiriannya.


____________________________________________


...Rumah Sakit Doldam, 18.45 a.m....



Kenzo


Kini Kenzo tengah berjalan di koridor rumah sakit, setelah berjalan cukup lama akhirnya ia sampai di depan pintu ruang inap no. 11. Ruang inap no.11, tempat di mana seorang gadis kecil bernama Kanaya sedang di rawat di sana. Kenzo menghela nafas sejenak, mengatur hati dan fikirannya agar tak over thingking.


Kenzo meraih knop pintu, "Jangan khawatir, Kenzo. Kanaya akan baik-baik saja, jangan khawatir.. " batin Kenzo menahan gugup.


Kenzo mulai masuk ke dalam, seketika ia merasa sedih melihat wajah Kanaya yang nampak begitu pucat. "Uhuk, uhuk.. " tiba-tiba kanaya terbatuk-batuk, wanita paruh bayah yang ada di sampingnya dengan sigap meraih tisu kemudian mengelapi tangan Kanaya yang kotor terkena dahak.


Wanita parah baya itu adalah ibu panti, sosok ibu yang selalu menemani dan merawat Kanaya sejak kecil termasuk sosok ibu angkat bagi Kenzo. Kenzo sangat menghormatinya lebih dari yang orang lain lihat selama ini.


Kenzo memberanikan diri menghampiri mereka sambil memasang wajah bahagia. Mungkin terkesan berpura-pura, tapi itu yang bisa di lakukan oleh Kenzo saat ini.


"Selamat malam, Kanaya..!" ucap Kenzo sambil tersenyum manis saat sampai di dekat ranjang Kanaya. Kanaya dan ibu panti menoleh padanya, mereka tersenyum lebar mendapati sosok Kenzo. "Kakak.. " ucap Kanaya sedikit serak, Kenzo menahan diri agar tak menangis saat mendengarnya.

__ADS_1


Kenzo dan Kanaya berpelukan, "Aku rindu sekali dengan kakak, akhirnya kakak datang menjengukku.. " ucap Kanaya lirih, Kenzo mencium rambut Kanaya. "Kakak juga rindu padamu, maaffin kakak ya. Kakak baru bisa datang lagi.." ucap Kenzo.


Ibu panti begitu senang atas kedatangan Kenzo, kerinduan yang di rasakan Kanaya juga tengah ia rasakan. Semenjak Kenzo bekerja di kantor Damkar, ibu panti sudah jarang sekali bertemu dengannya. Mereka hanya bisa bertemu di saat Kenzo mengambil cuti, itu pun hanya sebentar karena pekerjaan Kenzo sangat menyita waktu.


"Nak, Kenzo. Ibu senang sekali karena kamu mau menyampatkan waktu untuk menjenguk Kanaya.." ucap Ibu panti. Kenzo melepaskan pelukannya pada kanaya, setelah itu melihat ibu panti. "Tentu saja sempat, Bu. Mana mungkin pekerjaan bisa membuatku lupa untuk menengoki kalian.." ucap Kenzo.


Ibu panti merasa senang mendengar penuturan Kenzo. Wanita paruh bayah itu langsung berhampur ke arah Kenzo, Kenzo langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang. Kanaya tersenyum haru melihat ibu panti yang berpelukan dengan Kenzo, di matanya saat ini mereka nampak seperti sepasang ibu dan anak yang sedang berbagi rindu.


Selang beberapa saat..


"Ibu, bagaimana kondisi Kanaya?" ucap Kenzo penasaran, Ibu berusaha tersenyum. "Kata dokter, Kanaya hanya bisa sembuh jika dia di operasi.." ucap Ibu lirih. Kenzo terdiam memandangi wajah ibu panti yang nampak gundah, entah apa yang ia alami selama ini.


"Lalu, rencana ibu selanjutnya apa? Apa ibu setuju dengan operasinya..?" ucap Kenzo sambil menyentuh lengan ibu panti. Ibu panti terdiam sambil menatap Kenzo dengan mata yang berkaca - kaca. "Ibu.. ", "Ibu, jangan khawatir ya. Soal biaya operasi Kanaya, biar aku saja yang mengurusnya nanti.. " ucap Kenzo.


Ibu panti terkejut, "Tidak, Kenzo! Ini adalah tanggung jawab ibu karena ibu adalah ibunya Kanaya. Kamu.., kamu tak usah ikut berfikir soal biaya. Biarkan saja, biar semuanya jadi urusan ibu..." ucap Ibu panti sambil menyeka kelopak matanya yang berair.


Kenzo menghela nafas, ia sudah menduga jika ibu panti akan bersikap seperti ini. Ibu panti selalu berfikir untuk berjuang sendiri, padahal kondisinya sekarang tak memungkinkan. Kenzo sebagai anak asuh yang tertua, mana mungkin sanggup memalingkan wajah saat tau kesulitan yang tengah di hadapi oleh ibu panti.


Kenzo kembali menyentuh lengan ibu panti , "Bu, aku kan juga anak ibu. Kanaya juga adikku, aku akan mencoba membantumu, Bu. Mintalah pada dokter untuk segera mengoperasi Kanaya, aku akan mengurus sisanya nanti.. " ucap Kenzo sepenuh hati.


Ibu memandangi wajah Kenzo, air matanya langsung menetes mendengar ketulusan pria itu. "Kau yakin, Kenzo? Biayanya cukup mahal, ibu tak mau melihatmu sampai kesulitan nantinya.. " ucap Ibu panti yang begitu mencemaskan Kenzo.

__ADS_1


Kenzo menggeleng, "Tidak! Aku tak akan merasa kesulitan, ibu do'a kan saja ya agar Tuhan mau melancarkannya .." ucap Kenzo mencoba menenangkan ibu panti.


Ibu panti mengangguk meski sedikit berat untuk mengiyakan.


__ADS_2