Singel Mom (Reinkarnasi)

Singel Mom (Reinkarnasi)
Bab 1 Menikahi Mu Kesalahan Ku


__ADS_3

Plak


Pipinya terasa panas dan perih, kesakitan itu menjalar sampai ke ulu hatinya. Bukan hanya saat ini, tapi setiap saat ia harus mengorbankan hatinya. Kedua netranya menatap telapak tangan yang mengepal itu. Hubungan yang awalnya bagaikan cinta musim semi, hidup semati, kini sirna dalam sekejap. Rasa sakitnya lebih mendominasi dari pada rasa cintanya.


Pria yang tidak pernah main tangan, memanjakannya kini malah menorehkan luka.


"Kau membawa wanita ****** itu, apa aku salah?" tanya Xin Qian. Wanita itu menatap nyalang pria di depannya. Di rumah ini hanya dirinya pertama kali masuk dan hanya dia yang boleh menjadi nyonya rumahnya. "Zi Rui, apa di hati mu tidak ada cinta lagi untuk ku, yang bersalah adalah orang tua kita. Orang tua kita yang bermusuhan kenapa kita harus menangung. Ayah ku dan ayah mu telah meninggal. Apa kita perlu seperti ini, ingatlah Zi Han. Dia butuh sosok orang tua seperti kita."


"Ayah mu yang membunuh ayah ku tidak akan pernah hilang." Masih membekas di hatinya bagaimana ayahnya mati saat sebuah tembakan menembus dadanya. Pada saat itu hari ulang tahunnya umurnya yang ke 5. Taman yang di hiasi dengan lampion, bunga dan kue ulang tahun hancur dalam sekejap. Selama ini ia tidak tahu identitas istrinya dan menganggap wanita di depannya hanyalah anak orang biasa. Siapa sangka ternyata dia tinggal di bersama pelayan rumahnya di sebuah tempat dan menjadi awal pertemuannya.


"Menikahi mu adalah kesalahan."


Air matanya mengalir deras, kenapa takdir begitu kejam padanya? Jika mau, ia ingin hidup seperti orang biasa saja. Tanpa tau kalau ayahnya seorang mafia.


"Kekejaman ayah mu, tidak akan pernah aku maafkan termasuk dirimu dan Zi Han adalah kesalahan terbesar ku."


Xin Qian menatap salah satu wanita di belakang Zi Rui. Wanita yang bernama itu, dulu ibu mertuanya begitu menyayanginya tapi sekarang hanyalah sebuah kebencian di matanya. "Mama,"


Nyonya Yan memalingkan wajahnya dan Xin Qian sudah mendapatkan jawabannya. "Kalau kau tidak bisa menerima Xin Yi, lebih baik kalian bercerai."


Xin Qian memegang dadanya yang terasa sesak. Bahkan ibu mertuanya tidak lagi mendukungnya. Tanpa mengatakan apapun, ia melangkah gontai ke arah luar. Samar-samar ia mendengarkan ibu mertua dan suaminya menyiapkan sebuah kamar untuk Xin Yi.


Beberapa hari telah berlalu, Xin Qian selalu berusaha melayani suaminya, Zi Rui dengan baik. Namun sama sekali pria itu mengabaikannya dan malah menaruh perhatian hanya pada Xin Yi.


"Apa kau tidak bisa meninggalkan Zi Rui?" Xin Qian memohon sambil menggenggam tangan Xin Yi.


Wanita itu melepaskan genggaman tangan Xin Qian. "Aku tidak bisa karena aku mencintai Zi Rui, kau lihat Anak ku? Dia begitu dekat dengan Zi Rui. Kau juga harus sadar, bersama mu Zi Rui sangat menderita. Tidak akan ada yang namanya hidup bahagia jika bersama dengan orang pembunuh ayahnya."


Xin Yi melenggang pergi memberikan torehan luka di hati Xin Qian. Wanita itu menoleh ke arah luar jendela. Ia melihat putranya Zi Han yang seperti kebingungan melihat ayahnya lebih perhatian pada anak orang lain.


....

__ADS_1


"Zi ... Ayah ku tidak mungkin membunuh ayah mu. Semuanya pasti salah paham. Foto itu tidak benar, bukti bisa saja di palsukan." Xin Qian menangis dan menahan suamianya, Zi Rui agar tidak pergi meninggalkannya. Pria itu mengemasi kopernya dengan wajah merah padam.


Beberapa hari yang lalu ibu Zi Rui memberikan sebuah foto kalau ayahnya membunuh ayah Zi Rui. Bahkan bukti pun mengarah pada ayahnya.


"Kau masih mengelak? Bukti itu sudah jelas kalau ayah mu membunuh ayah ku," ucap Zi Rui dengan nada dingin dan kedua mata yang menajam bagaikan jarum.


"Tidak, aku percaya pada ayah ku."


"Dan aku juga percaya pada ayah ku, bukti itu sudah cukup."


Xin Qian menangis sambil memejamkan kedua matanya. "Aku mohon jangan tinggalkan aku Zi Rui."


"Aku muak pada mu Xin Qian."


"Bagaimana dengan janji kita? Bagaimana dengan cinta kita? Kita sudah memiliki Zi Han."


"Aku akan mempertimbangkannya." Zi Rui melepaskan tangan Xin Qian yang memegang lengannya dan menyeret kopernya.


19.20 Tiangkok.


Hujan deras membasahi wajahnya, kedua matanya berkedip saat hujan itu turun mengenai kedua matanya, rasa sakit menjalar di kepalanya tidak lebih sakit hatinya. Ia berniat ingin menemui suaminya, tapi siapa sangka sebuah truk melaju kencang menerobos lampu merah.


Hembusan nafasnya seperti asap air panas. Tubuhnya terasa kaku hanya satu anggota badannya yang bisa bergerak. Ia menoleh dan menatap sebuah cincin yang melekat di jari manisnya.


Ingatan pada saat mereka berawal bertemu di sebuah danau, saat mereka bersepeda bersama di taman, ciuman yang saling menghangatkan di bibir keduanya, tertawa bersama di halaman rumah sambil bermain air hujan dan sebuah hadiah terindah saat dia mengandung anak pertama mereka.


"Zi Han." Nafasnya tercekat, dadanya naik turun. Ingatan pada putranya yang berumur 5 tahun membuat sudut air matanya mengalir. Ia belum rela meninggalkan putranya yang menggemaskan, siksaan ini membuatnya menyesal karena tidak bisa membuat putra semata wayangnya bahagia.


"Mami." Panggilan Zi Han yang tertawa memanggilnya membuat dadanya semakin sesak dan perlahan kedua matanya tertutup rapat.


....

__ADS_1


Kring ......


Suara jam di atas nakas itu membuat kedua mata yang tertutup rapat itu terbuka lebar. Dia langsung beranjak dan nafasnya memburu, dadanya naik turun seperti akan di cabut oleh malaikat maut.


"Mami, Zi Han akan terlambat!" Suara anak kecil dari luar pintu dan anak kecil itu memanyungkan bibir sebelahnya sambil membuka pintu dengan kasar. "Mami, ayo cepat siap-siap. Zi Han sudah telat."


Zi Han menggeleng-gelengkan kepalanya, rambut hitamnya yang bergelombang bagaikan burung sangkar. Dia tidak suka mengikat rambutnya menurutnya rambutnya harus di lepas agar burung kenari mengenalinya.


"Mami ...." Zi Han mengguncang lengan Xin Qian. Wanita itu masih syok dengan kejadian yang bagaikan mimpi namun terasa nyata. "Mami sakit," ucap Zi Han.


Tangan kecilnya memeriksa kening Xin Qian. "Hah! Mami sakit," ucap Zi Han terkejut. "Mami tenang saja, Zi Han akan merawat Mami." Bocah itu berlari keluar untuk mengambilkan alat kompres di dapur.


Xin Qian memegang kepalanya, ia teringat kejadian malam itu. Ia mengalami sebuah kecelakaan dan membuat kepalanya berdarah. Cairan berwarna merah di sertai bau amis itu membuat wajahnya langsung berubah tak karuan. "Aku, aku kecelakaan. Lalu ...."


"Mami, kau belum sadar." Di tangan kecilnya itu, Zi Han membawa sebaskom air dan sapu tangan. Meletakkanya di atas nakas dengan hati-hati. "Mami hari ini jadwal terakhir ku mengikuti latihan piano dari guru Bai Zhi."


Deg


Tiiiing ...


Bagaikan bunyi lonceng, Xin Qian memejamkan kedua matanya. Rasa sakit dari otaknya membuatnya mengingat sesuatu. Ia memegang kepalanya dengan rasa sakit yang seakan mencabut nyawanya itu.


"Mami Zi Han akan memanggilkan Dokter."


Zi Han berlari ke kamarnya. Dia menghubungi seseorang di ponselnya dan terlihat sebuah nama 'Papi', namun sama sekali tidak di angkat. Dia mencoba beberapa kali hingga akhirnya menyerah dan kembali ke kamad Xin Qian.


"Mami, Papi tidak mengangkat panggilan ku. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Zi Han. Ia sangat khawatir pada sang ibu yang mengerang kesakitan. Ia ingin menangis tapi melihat ibunya merintih dan tidak menangis ia harus menahan ketakutannya.


"Hah!"


Xin Qin menurunkan tangannya yang memegang kepalanya, perlahan rasa sakit di kepalanya menghilang.

__ADS_1


"Zi Han." Xin Qian menarik Zi Han masuk kedalam pelukannya. Bibir pucatanya bergetar, air matanya menggenang. Setelah apa yang ia ingat wajahnya berubah menjadi dingin.


__ADS_2