
Xin Qian merangkup wajah Zi Han. Ia tersenyum dengan bibir gemetar. Hatinya seperti di peras. "Sayang dengarkan Mami."
Dia tidak tega mengatakannya pada putranya. Akan tetapi ia ingin putrnya tidak terlalu berharap. "Jangan mencari Papi lagi. Papi sibuk, bagaimana kalau kita menginap di luar saja?"
Ia ingin mengatakan yang sejujurnya, tapi ia tidak tega dan akhirnya malah perkataan yang tak pernah ia pikirkan keluar. Ada baiknya jika Zi Han untuk sementara waktu tinggal di luar.
Ia menoleh ke atas nakas dan melihat hari, berarti ia kembali tiga hari sebelum ibu mertuanya dan suaminya membawa wanita itu. "Bagaimana? Kau mau?"
"Mami, apa Mami dan Papi bertengkar? Kalian sering ribut. Mami sering menangis dan Papi tidak ada di rumah. Sudah seminggu Papi tidak ada di rumah."
Perkataan polosnya Zi Han membuat nyeri di hati Xin Qian. Pikiran Zi Han terlalu peka jika kedua ornag tuanya tidak baik-baik saja. "Sayang apa pun yang terjadi, jangan menangis. Zi Han anak yang kuat,"
Xin Qian memeluk Zi Han dengan erat. Air matanya mengalir deras. Masih kurang tiga hari, ia harus bergegas membawa Zi Han pergi. Ia harus menjaga perasaan putranya.
Drt
Drt
Xin Qian mengangkat ponselnya. Ia mengangkatnya dan seorang wanita berbicara di seberang sana.
"Baiklah, kita akan bertemu di Restaurant Xxx."
__ADS_1
Xin Qian menatap kembali Zi Han. "Sayang kau harus ikut Mami."
.....
"Nyonya, tuan muda." Seorang wanita menunduk. Dua pria berkacamata hitam itu ikut membungkuk hormat dan mereka berjaga di depan pintu ruangan VIP itu.
"Hera." Sapa Xin Qian. Wanita yang bernama Hera di depannya kaki tangan kedua orang tuanya. Hera sangat ahli dalam menembak. Kedua matanya bagaikan elang yang siap menembus jantung seseorang.
"Bagaimana kabar Nyonya dan tuan muda? Nyonya saya sudah mencari tau, pria brengsek itu menyakiti Nyonya. Ini," Hera memberikan beberapa foto. Ternyata Hera sudah menyelidikinya. Ia tidak perlu berpura-pura lagi hubungan keluarga mereka baik. "Sebaiknya Nyonya kembali."
"Mami ini Papi, tapi kenapa dia bersama anak perempuan dan ini siapa?" Tunjuk Zi Han. Dia melihat sangat teliti dan menatap ke arah Xin Qian. "Mami ...."
"Tuan muda bagaimana kalau tuan muda jalan-jalan dulu bersama paman itu?" Tunjuk Hera. Dia menunjuk dua pengawal yang berjaga di pintu.
Setelah Zi Han pergi, Xin Qian menatap foto suaminya yang bersama dengan wanita lain dan anak perempuan. "Nyonya, pria ini tidak bisa di pertahankan."
"Hera aku tidak tau jika ayah ku seorang mafia. Aku kira ayah ku hidup biasa-biasa saja. Sebenarnya apa yang terjadi di masalalu? Apa permusuhan ini tidak bisa di sudahi?"
"Tidak bisa Nyonya." Tegas Hera. Dia mengepalkan kedua tangannya. "Kami memang bermusahan dari awal, apa Nyonya tega mengkhianati tuan Alexander dan Nyonya Xixi?"
"Tuan Leonal ikut campur dalam urusan kami, proyek penelitian yang seharusnya milik kami jatuh ke tangan tuan Leonal. Tuan Leonal sangat kejam, ini kelalaian saya karena tidak bisa menjaga tuan Alexander dan Nyonya Xixi."
__ADS_1
"Tuan Leonal yang membunuh Nyonya Xixi sehingga Tuan Alexander membunuh tuan Leonal."
Xin Qian mengepalkan kedua tangannya. Ingatannya saat kecil membuat kepalanya terasa sakit. Saat itu ibunya sedang menyebrangi jalan dan dari arah kanan sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ibunya.
"Akhh ...."
"Nyonya ..." Hera memegang bahu Xin Qian. "Jangan di paksa untuk di ingat, yang jelas tuan Leonal sangat licik. Bisa saja anaknya, Zi Rui juga sama liciknya."
Hera merasa bersalah. Ia menyesal telah lalai menjaga Xin Qian, nona mudanya itu sampai jatuh cinta. Karena sibuk, ia lalai dalam tugasnya dan yang ia tau nona mudanya telah menikah dengan Zi Rui.
Saat itu ia bertemu diam-diam dengan Xin Qian di sebuah Kafe dan tanpa sadar terlihat oleh ibunya Zi Rui. Hingga Xin Qian dan Zi Rui harus terlibat dalam pertengkaran. Ia kira dengan menyembunyikan identitasnya Xin Qian dan mengalah pada masa lalu bisa membuat Xin Qian bahagia karena ia melihat banyaknya kebahagian di kedua mata Xin Qian.
"Nyonya tolong pikirkan kembali."
"Huwa ...."
Xin Qian dan Hera menoleh saat suara tangisan menggema di ruangan itu.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Xin Qian.
"Ada apa dengan tuan muda?" tanya Hera menatap tajam pada pria di depannya.
__ADS_1
"Papi jahat, dia membentak Zi Han. Dia marah pada Zi Han."