
"Nenek." Zi Han melepaskan genggaman Xin Qian saat melihat nyonya Yan turun dari mobilnya. "Nenek." Panggil Zi Han lagi.
Nyonya Yan begitu enggan menatap kedua manik Zi Han. Wajah yang begitu mirip dengan putranya dan hatinya tak bisa menerimanya karena ibunya anak dari pembunuh suaminya.
Tidak ingin bersitatap dan berbicara dengan Zi Han, Nyonya Yan melewati Zi Han. Namun Zi Han tak menyerah, ia berharap neneknya mau berbicara dengan ayahnya.
"Nenek." Zi Han menggenggam tangan Nyonya Yan. Akan tetapi Nyonya Yan menepis tangan Zi Han dan membuat anak laki-laki itu menatap nanar tangan kecilnya. "Nenek."
"Jangan panggil aku Nenek lagi, mulai saat ini kau bukan cucu ku."
Air mata Zi Han menggenang, Nyonya Yan tak memperdulikannya dengan langkah tergesa-gesa dia menuju masuk ke dalam rumahnya.
"Tidak bisakah anda berbaik saja pada Zi Han? Dia cucu mu Nyonya Yan."
Nyonya Yan menghentikan langkah kakinya tepat di samping Xin Qian. Wanita itu menoleh dan hatinya sama sekali tidak tersentuh lagi. "Aku bisa menerima cucu orang lain, tapi bukan anak pembunuh suami ku sekalipun dia cucu ku."
"Aku sudah memiliki cucu lainnya, kau bisa membawanya pergi."
__ADS_1
"Jika Zi Han mau, dia pasti tidak ingin di lahirkan oleh rahim ku. Jika aku mau aku juga tidak ingin di lahirkan orang tua pembunuh."
Xin Qian bergegas menuju ke arah Zi Han. Dia merasa bersalah pada putrsnya itu, kenapa dunia seakan tidak mau ia bahagia?
Jedar
Suara gemuruh yang membelah langit, langkah kaki yang di iringi derasnya air hujan seakan langit pun mengijinkannya menangis dalam derasnya air hujan.
"Mami hujannya deras." Zi Han merasakan tetesan air hujan bagaikan kelereng yang menghujani wajahnya.
"Mami apa kita akan berpisaha dari Papi? Apa salah kita? Kenapa Papi begitu membenci kita?"
Xin Qian mengelus pipi Zi Han. "Sayang suatu saat nanti jika Zi Han sudah dewasa, Mami akan bercerita. Maafkan Mami Zi Han."
"Kenapa Mami selalu meminta maaf? Zi Han sangat mencintai Mami."
....
__ADS_1
"Zi." Sapa Xin Yi. Wanita itu memegang sebelah bahu Zi Rui. "Kuatkan hati mu, mungkin ini yang terbaik."
"Tinggalkan aku sendiri," ucap Zi Rui. Pria itu sejak tadi melihat kepergian Zi Han dan Xin Qian. Ia tidak berdaya dalam kekejaman dunia padanya. Ia sangat mencintai istri dan anaknya tapi ia juga benci karena identitas istrinya. Kenapa harus istrinya? Kenapa bukan orang lain?
"Zi aku tau kau membutuhkan tempat bersandar. Aku ..."
Zi Rui mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menancap di telapak tangannya. "Tinggalkan aku sendiri, apa kau tidak bisa meninggalkan ku sendiri?" Sentak Zi Rui.
Ehem
Xin Yi menoleh ke arah belakang dan Nyonya Yan mengangguk. Xin Yi kemudian tersenyum, ia yakin Nyonya Yan bisa menenangkan Zi Rui.
"Zi kau tidak boleh seperti itu pada Xin Yi. Bagaimana pun juga dia akan menjadi istri mu. Perlakukan dia dengan baik."
"Mam aku belum berpisah dengan Xin Qian." Dalam kepedihan hatinya, ia tidak bisa menikah dengan siapa pun. Cintanya telah ia berikan pada Xin Qian. Ia tidak bisa memalsukan perasaannya.
"Zi, jangan mengecewakan ayah mu. Kau harus lepas dari Xin Qian. Suatu saat kalau kau sudah terbiasa dengan Xin Yi, Mama yakin kau bisa mencintainya seperti mencintai Xin Qian."
__ADS_1