
Xin Qian membuka pintu Apartementnya, mulai saat ini ia akan tinggal di Apartementnya. Menghabiskan waktu berdua dengan Zi Han.
"Sayang, Mami akan menyiapkan air hangat untuk mu."
Zi Han mengangguk, dia menuju ke lantai atas. Di lantai atas hanya ada dua kamar. Satu khusus untuknya Zi Qian dan Zi Rui sedangkan satunya untuk Zi Han.
Zi Han menyapu kamarnya, ia pernah menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tuanya. Foto keluarga di ruangannya masih ada dan masih seperti semula, tidak ada yang berubah.
Xin Qian membantu membersihkan tubuh Zi Han kemudian menemaninya tidur. Dia mengecup kening Zi Han dan kedua netranya menangkap foto keluargnya. Dadanya terasa panas, sangat sakit seakan nafasnya di tarik paksa untuk keluar. Rasanya ia ingin membela dadanya.
Drt
Xin Qian mengangkat panggilan di ponselnya, dari seberang sana terdengar suara seoranf wanita.
"Nyonya ada di mana?" tanya Hera. Dia baru saja mendapatkan kabar jika Xin Qian keluar dari rumah Zi Rui.
"Kau tentunya sudah tau, aku berada di Apartement."
__ADS_1
"Nyonya bagaimana kalau Nyonya kembali saja? Di luar tidak aman untuk Nyonya dan tuan muda," ucap Hera. Ia takut terjadi sesuatu pada majikannya ini.
"Aku lebih enak tinggal di sini. Kau hanya perlu mengawasi saja kan? Jadi tidak akan terjadi sesuatu pada ku."
"Baiklah Nyonya, kalau ada sesuatu tolong Nyonya katakan."
"Iya."
Xin Qian mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas nakas Ia menoleh pada putranya yang sudah tertidur. Memikirkan perjalanan hidup ke depannya ia tidak tau entah apa yang harus ia lakukan.
....
Xin Yi membuka kemeja Zi Rui dan pria itu pun membuka kedua matanya. Ia menepis tangan Xin Yi.
"Kau mau apa?" tanya Zi Rui.
Bau mulutnya membuat Xin Yi memalingkan wajahnya. "Aku hanya membantu mu melepaskan pakaian mu Zi."
__ADS_1
"Tidak perlu, biarkan aku sendiri dan sendiri melakukanya semuanya." Zi Rui tertawa renyah. "Kenapa kau datang dalam kehidupan ku?" tanya Zi Rui.
Wajah Zi Rui berubah, wajahnya seperti kabut hitam yang ingin menurunkan air hujan.
Xin Yi teringat awal pertemuannya. Dia adalah anak saudara teman sosialitanya yang di pilih oleh ibunya Zi Rui, Nyonya Yan.
"Semenjak pertemuan pertama kita, aku sudah mencintai mu Zi. Kau pria yang hangat dan ibu mu sangat baik. Aku sebagai wanita, istri dan anak yang kurang kasih sayanh keluarga begitu ingin mendambakan sebuah keluarga."
Semenjak bersama dengan Zi Rui ia merasa menjadi seorang wanita. Suaminya dulu sangat kasar dan sering memukulnya, kehidupannya seperti nereka.
"Aku bisa membahagiakan mu tapi aku tidak bisa membahagiakan istri dan anak ku."
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Zi." Xin Yi menggenggam tangan Zi Rui. "Kau pria yang hangat mungkin takdir cinta mu dan Xin Qian sampai di sini."
Zi Rui menatap wajah Xin Yi. Ia melepaskan tangannya, semakin ia melupakan Xin Qian semakin ia tersiksa. "Aku sangat mencintai Xin Qian."
Nyut
__ADS_1
Sangat sakit, bagaikan di hujani oleh ribuan jarum. Rasanya sangat nyeri, bahkan jantungnya tak bisa bernafas. "Aku percaya, suatu saat nanti kau bisa melupakannya."