
Beberapa hari kemudian.
Seorang wanita memakai dress berwarna merah selutut dan rambut hitamnya yang lurus sampai ke pinggang itu menambah keindahan tubuhnya. Wanita memakai heels berwarna hitam dengan beberapa mutiara menghiasi heelsnya dan kaca mata di atas hidungnya itu.
Wanita dengan bibir semerah buah chery itu membuka kacamatanya. Ia langsung menuju ke ruang persidangan. Sesampainya di sana, ia melihat Zi Rui, Xin Yi dan Nyonya Yan.
"Nyonya." Sapa seorang pengacara. Pria itu memberikan hormat padanya.
Xin Qian duduk di samping pengacarnya dengan wajah elegant. Kini wanita itu seperti terlahir kembali. Beberapa hari ia merenungi pernikahannya. Kini ia bertekad menjadi kuat. Awalnya ia berpikir untuk memperbaiki pernikahannya karena memang ayahnya juga salah, ayah Zi Rui juga salah, akan tetapi sepertinya tidak bisa.
Zi Rui melirik Xin Qian, ia merasa wanita itu sama sekali baik-baik saja, tidak seperti sedih dengannya. Ia benci dengan semua ini, ia sangat membencinya.
Setelah pengacaranya adu mulut, Zi Rui langsung berdiri. "Aku tidak akan menceraikannya."
Sontak semua orang di ruangan itu terkejut. Xin Yi menganga dengan lebar dan nyonya Yan langsung memukul lengan Zi Rui.
"Zi apa yang kau lakukan?" Nyonya Yan mengeraskan rahangnya. Padahal putranya sudah setuju untuk menceraikan Xin Qian.
"Xin Qian." Zi Rui berlari menghampiri Xin Qian. Wanita itu hendak memasuki mobilnya. Hatinya masih sakit dan belum rela.
Xin Qian membuka kacamatanya. Setelah melihat Zi Han ia jadi teringat perkataan putranya bahwa ia tidak membutuhkan ayahnya. Ia kira Zi Han masih membutuhkan sosok seorang ayah. Segala cara ia lakukan sampai harus menangis meraung-raung demi pria di depannya. Yah, ia mencoba memperbaikinya, ia mencoba mengalah demi anaknya.
"Apa?!" Xin Qian melirik ke belakang tubuh Zi Rui. Dia melihat Xin Yi dan ibunya.
__ADS_1
"Dimana Zi Han?" tanya Zi Rui.
Saat mendengarkan Xin Qian sakit, ia sangat khawatir pada istrinya. Ia menyesal tidak mengangkat panggilan Xin Qian yang ternyata putranya meminta tolong.
(Flasback)
"Xin Qian." Dengan wajah kusut bagaikan pria yang tak merawat diri. Pria itu perlahan mendekati Xin Qian yang sedang memakan buah apel dan di tangannya ada sebuah majalah. "Bagaimana keadaan mu?" tanya Zi Rui.
"Aku hampir mati dan aku sudah bosan berpura-pura. Ternyata benci bisa mengalahkan cinta. Beberapa hari aku memang seperti wanita yang terpukul, aku akui, aku merasakan sakit hati, tapi separuhnya. Aku berpikir aku melakukannya demi Zi Han. Putra ku yang malang, aku kira kau akan mempertahankan kami. Jadi aku tidak ingin berakting lagi."
"Kalau kau ingin bercerai aku sudah memutuskan menerima perceraiannya."
"Aku akan memperjuangkan hak asuh Zi Han." Zi Rui mengepalkan kedua tangannya. Jadi hanya dia yang terpuruk.
"Apa?!" Xin Qian menggigit bibirnya. Dia langsung melemparkan majalah di tangannya. "Bicara sekali lagi, kau tau kan? Aku bisa membunuh mu kapan saja."
(Flasback Off)
"Berhenti bertanya Zi Han." Xin Qian melipatkan kedua tangannya. Dia memiringkan kepalanya pada wanita di belakang Zi Rui yang seperti menghujaninya dengan anak panah berapi dan satu wanita seperti ingin menghujaninya anak panah beracun.
"Hay Mama mertua, sepertinya putra mu harus di bawa ke rumah sakit. Bukankah dia dulu yang ingin menceraikan ku dan membuang Zi Han? Tapi kenapa sekarang dia seperti menyesalinya."
Xin Qian mencibir, ia langsung masuk begitu melihat kedua wanita yang sepertinya akan marah pada Zi Rui.
__ADS_1
"Nyonya." Sapa Hera. "Saya tidak mengerti maksud Nyonya. Bukankah Nyonya sangat mencintai tuan Zi Rui. Bahkan Nyonya bersedih beberapa hari."
"Aku berkabung," ucap Xin Qian asal. "Hera, aku seorang ibu yang ingin mempertahankan hak putra ku. Aku berpikir setidaknya aku bisa mempertahankan pernikahan ku. Ada kalanya aku berpikir aku menyerah dan membiarkannya saja. Zi Han, dia masih kekurangan kasih sayang seorang ayah dan aku hanyalah sosok seorang ibu. Aku tidak bisa menggantikan sosok seorang ayah walaupun aku mencurahkan kasih sayang ku. Hera, tidak ada di dunia ini seorang anak yang ingin kehilangan kasih sayang seorang anaknya."
"Aku mencoba mempertahankannya. Di kehidupan ku yang dulu," Xin Qian menoleh pada Hera. Ia yakin Hera tidak akan mempercayainya. "Intinya di kehidupan ku yang dulu aku tidak bisa mempertahankannya dan mungkin posisi ku kurang, tetapi di kehidupan kedua ku. Aku ingin sedikit saja mempertahankannya memaksa hati yang terluka dan pada akhirnya aku menyerah. Aku berpikir Zi Han akan terluka karena ketidakadilan Zi Rui."
"Aku istri pertamanya, awalnya tidak ingin mengalah lagi. Aku tidak ingin kalah, tapi kali ini aku menyerah dan membiarkannya saja."
Sekalipun Hera tidak mengerti di kehidupan yang di maksud nyonya mudanya. Akan tetapi ia menyimpulkan bahwa selama ini nyonya mudanya hanya ingin menarik perhatian Zi Rui demi Zi Han dan melawan hatinya yang sudah terluka, ternyata tidak mudah menjadi sosok seorang ibu. Banyak hal yang harus di pertimbangkan dalam berkeluarga.
"Nyonya wanita yang kuat."
"Ibu ku meninggal dan ayah Zi Rui meninggal. Aku berpikir lagi dan lagi, banyak hal yang harus aku pikirkan. Aku melakukan segala caranya. Aku sosok istri dan ibu yang mempertahankan keluarga ku dan mengenyampingkan luka ku. Aku berpikir, mungkin aku bisa melakukannya lagi di kehidupan kedua ku. Tetapi sepertinya tidak bisa. Hah, kalau boleh jujur aku masih ada rasa pada suami ku. Tidak mudah melupakan orang yang kita cintai dalam waktu dekat."
"Tapi kau jangan khawatir, aku tidak akan lagi melakukannya. Aku tidak ingin mengemis lagi. Tapi sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya Zi Rui ... Akh ... "
"Intinya aku berpura-pura. Hera malam ini aku ingin berpesta. Yah, aku harus mengeluarkan semua unek-unek ku."
Di tempat lain.
Zi Rui menahan rasa sakit dan panas di salah satu pipinya. Temparan dan amarah ibunya harus ia rasakan.
"Apa yang kau lakuka Zi Rui? Kenapa kau mengatakam hal bodob?!"
__ADS_1
Zi Rui terdiam dan menggelengkan kepalanya. Saat memikirkan berpisah dengan Xin Qian hatinya sudah sakit dan saat ia memikirkan Xin Qian benar-benar lenyap dari hidupnya, nyawanya seperti langsung di tarik. Ia mencoba membencinya, tapi rasa cintanya lebih mewakili perasaannya.
"Kau akan memilih wanita yang sudah membunuh ayah mu. Kenapa kau tidak membunuh ibu mu sendiri Zi Rui? Kenapa? Dia sudah membunuh ayah mu. Aku yakin ayah mu akan mengutuk mu Zi Rui. Aku sangat yakin ayah mu tidak akan memaafkan mu."