
Xin Qian mengepalkan kedua tangannya setelah mendengarkan penjelasan pengawal yang bertugas menjaga Zi Han. Pria itu menjelaskan panjang dan lebar hingga membuat jantung Xin Qian berdenyut nyeri. Ia terus melangkah menggendong Zi Han masuk ke dalam pelukannya.
Hera membukakan pintu mobil Xin Qian. "Nyonya, kabari saya jika terjadi sesuatu."
Xin Qian mengangguk, ia menekan gas mobilnya. Sepanjang perjalanan Xin Qian atau pun Zi Han tak ada yang berbicara.
Zi Han menoleh, ia memendam pertanyaannya melihat ibunya yang diam dan fokus menyetir.
....
Xin Qian membuka mobilnya dan melihat mobil Zi Rui. Dia menggendong Zi Han dan melangkah masuk. Langkahnya berhenti saat melihat seorang anak perempuan berada di dalam pangkuan Zi Rui.
Zi Han menoleh dengan wajah sedih. "Mami, dia anak perempuan itu. Kenapa bersama Papi di rumah kita?"
Tubuh Zi Han merosot dia menghampiri ayahnya. "Papi."
Zi Rui melihat ke arah Zi Han kemudian beralih pada Xin Qian.
__ADS_1
"Oh kalian sudah datang, aku membuatkan kue untuk kalian." Seorang wanita dengan celemek berwarna pink menaruh sepiring kue brownis di atas meja.
"Papi ayo makan, Luna ingin makan," ucap anak berumur lima tahun itu.
Xin Qian masih menatap Zi Rui, pria itu mengusap pucuk kepala Luna. Anak yang akan di jadikan anak tirinya itu.
"Kenapa kau memanggilnya Papi? Dia Papi ku," ucap Zi Han. Dia tidak suka beebagi ayah dengan siapa pun.
"Aku juga anak Papi," ucap Luna.
"Tidak!" teriak Zi Han. Dia membentak anak berumur 5 tahun itu. Tentu saja ia tidak terima, sampai kapan pun ayahnya hanya miliknya dan milik ibunya.
"Mami." Zi Han menoleh ke belakang, ia mendongak dengan air mata menggenang. Seperti di kehidupan pertamanya, Zi Rui membentak Zi Han hanya demi Luna anak tirinya.
Xin Qian tersenyum mengelus pipi Zi Han. "Tidak apa-apa sayang, sebaiknya kita ke atas. Ayo ..." Ajak Xin Qian. Hari ini ia tidak ingin berdebat dengan Zi Rui.
"Mau kemana? Zi Han belum meminta maaf." Sarkas Zi Rui.
__ADS_1
Xin Qian menghentikan langkahnya, Zi Han mengenggam erat tangan sang ibu. Zi Han tak ingin meminta maaf yang jelas bukan kesalahannya.
"Minta maaf? Seharusnya kau sadar siapa yang seharusnya meminta maaf. Anak itu, Luna menyebut mu papi, sedangkan dirimu ayah kandung dari Zi Han. Tidak ada seorang anak yang ingin berbagi ayahnya. Zi Han tidak perlu meminta maaf, kita semua tau siapa yang seharusnya minta maaf."
"Satu hal lagi, kalau kau ingin menikahi Xin Yi. Silahkan, jadikan dia istri mu dan kita bercerai."
"Xin Qian, kalau ingin bercerai ya sudah. Aku akan tetap menikahi Xin Yi."
Xin Qian memejamkan kedua matanya, kamudian melangkah dengan lebar. Ia membawa Zi Han masuk ke kamarnya dan berjongkok. Air matanya langsung mengalir. Ia memeluk Zi Han dengan erat.
"Papi jahat sama Mami, dia membentak Mami."
"Sayang maafkan Mami."
Zi Han mengepalkan kedua tangannya. Dadanya kembang kempis menahan rasa sakit. "Apa dia istri baru Papi?"
"Maafkan Mami sayang. Zi Han kau mau ikut Mami kan? Kita pergi dari sini." Dadanya terasa terhimpit oleh batu yang tajam. Ia rasanya tak sanggup lagi bertahan di rumah ini. Dulu ia mengalah dan bertahan, tapi sekarang ia tidak ingin lagi.
__ADS_1
"Mami ayo kita pergi." Ajak Zi Han.