
HAPPY READING
Sekitar tiga puluh menit kemudian, dia terlihat sudah siap untuk pergi, dan sopirnya membawanya untuk pergi menemui Lorenzo.
Dia mengirim pesan kepadanya saat dia sudah berada di jalan. “Aku sedang dalam perjalanan ke air mancur Pretoria, semoga kamu tidak membatalkan janji temu kita.” Tulisnya dalam pesan itu, dan lalu mengirimkannya.
Bianca menarik napas dalam-dalam. dia merasa muak dengan antisipasi karena dia akan bertemu dengan pria yang telah mengobrol dengannya sejak lima tahun. dia benar-benar menginginkan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit kehilangan Daddynya. Allegra tidak ada di sini untuk melakukan pekerjaan itu, dan dia belum siap untuk sibuk dengan bisnis mafia sekarang. bertemu dengan Lorenzo itu juga termasuk pilihan yang bagus. Bagaimana kira - kira postur tubuhnya? Apakah dia tampan? Keren? Ramping? Besar? Apakah dia akan persis seperti yang dia khayalkan selama ini? Atau apakah dia akan cocok dengan deskripsi Allegra yang mengatakan jika dia adalah pria yang jelek? Bagaimana mereka bisa cocok nantinya? Bagaimana
Mereka akan memulai pembicaraan? Dia tidak tahu bagaimana perasaannya.
“Nona Bianca, kita sudah sampai di lokasi.” Ucap Supirnya memberitahukan Bianca jika mereka telah sampai di lokasi itu.
“Hemmm.” Sahut Bianca dengan acuh.
Lalu dia bersiap - siap untuk turun dari mobil. “Nanti aku akan menelponmu, ketika aku akan pulang.” Ucapnya pada supirnya, sebelum dia benar - benar turun dari sana.
Ketika dia keluar, dia melihat banyak orang di sekitaran lokasi itu, mungkin tidak sampai penuh banget, tetapi masih tergolong lumayan. Dan jika seperti ini, bagaimana caranya dia bisa menemukan Lorenzo?
Merasa bosan, lalu dia melihat ponselnya, pria itu masih belum membalas pesannya. mungkin dia harus meneleponnya dan tahu di mana pria itu berada.
Dia mencari nama Lorenzo dalam ponselnya dan langsung menghubunginya. “Hallo, kamu di mana ya? Aku sudah di sini, di lokasi tempat kita janjian.” Tanyanya, dan memberitahukan lokasinya.
“Aku juga sudah di sini, dan aku duduk di dekat air mancur.” Jawab Lorenzo, lalu Bianca mulai mendekat ke sebuah air mancur yang besar. Dulu dia pernah ke sini bersama Capria, ketika mereka masih kecil, jadi dia masih sedikit mengenali tata letak ya.
Tetapi ketika dia melihat di sekitaran air mancur itu, ada sekitar empat orang yang duduk di atasnya, dan karena dia masih berbicara di telepon dengan Lorenzo, akhirnya dia kembali bertanya. “Aku melihat empat orang, kamu yang mana?”
Kemudian dia melihat seorang pria melambai padanya dan dia pikir itu adalah pria yang dia cari, hingga akhirnya dia memilih untuk memutuskan panggilan dan pergi ke arah pria yang melambaikan tangan padanya itu. “Hai, aku Bianca.” Ucapnya memperkenalkan diri ketika sudah berhadapan dengan pria itu.
Dia tidak tahu kenapa, dia cukup puas dengan penampakan pria yang ada di hadapannya ini. Yang bisa dia simpulkan dari fisik saat dia menatap Lorenzo Dekat. rambut hitam legamnya digel ke belakang, meninggalkan beberapa helai di dahinya, matanya abu-abu, rahang dipahat, dengan janggut tunggul yang selama sepersekian detik, membuatnya berfantasi tentang menjalankan tangannya melaluinya. dia lolos dari kutukan menjadi aktor film, hanya dengan hidungnya. dia mengenakan sweter hingga ke leher.
Dan ada hal lain yang dia rasakan saat dia berdiri di ruang yang sama dengan pria itu.
"Apakah kamu mau duduk atau haruskah kita berjalan?” Tanya pria itu.
"Um, ayo jalan-jalan.” Jawab Bianca dengan senyumnya.
Mereka menjauh dari air mancur, berjalan dalam langkah lambat. “Aku tahu kamu sudah memberitahuku banyak tentang dirimu selama obrolan kita," Lorenzo memulai pembicaraan mereka.
“Tetapi, sepertinya aku ingin mendengarnya langsung darimu.” Ucapnya, menatap Bianca penuh harap.
"Baiklah.” Balas Bianca.
“Namaku Bianca, saat ini aku sedang melanjutkan Study di Los Angeles, saya suka lasagna tapi saya akan membunuh untuk risotto, Aku suka tarian bola,” sejenak Bianca menghentikan kalimatnya, karena dia memikirkan bahasa yang simple agar pria di sebelahnya ini mengerti.
“Hemm, maksudku, tarian bola itu, tarian bola topeng, aku suka menari di acara-acara itu.” Sambungnya lagi.
"Apa yang kamu pelajari saat di kampus?” Tanya pria itu lagi.
“Hemm, aku mengambil pelajaran hukum, tetapi aku tidak tahu, apakah aku akan berhasil di bidang itu.” Jawabnya, dan menceritakan juga keluh kesahnya.
__ADS_1
"Kenapa? Apakah kamu tidak yakin dengan kemampuanmu sendiri?
“Eh, bukan begitu maksdunya, tapi aku -“ dia kembali menghentikan kalimatnya. Dia bukan tidak yakin akan melanjutkan kuliahnya, hanya saja binis kotor yang di tinggalkan Daddnya padanya, membuatnya tidak yakin apakah dia masih layak untuk mempelajari tentang hukum - hukum dunia.
“Kalau begitu, apakah jurusan ini kamu ambil karena dipaksa oleh orang tuamu?" Tanyanya lagi.
Bianca tersenyum meresponnya. “Aku Rasa kurang lebih seperti itu.” Dia berbohong, karena sejujurnya memang dia ingin belajar tentang hukum, tetapi mungkin dia hanya tidak akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi pengacara seperti impiannya dulu.
“Hemmm, kalau kamu? Bagaimana?” Tanya Bianca balik, pada kesibukan Lorenzo.
“Hemmm, aku membangun bisnis dari awal, dan sekarang aku sedang menjalankan bisnis itu.” Jawabnya.
"Apa spesialis dari perusahaan kalian?” Tanya Bianca lagi.
"Membuat dan menjual perhiasan.”
Jawab Lorenzo, berasa itu adalah hal yang sangat biasa.
“Wow,” Bianca berseru, karena kekagumannya.
"Jadi itu menjelaskan teks genit itu, hari itu.” Bianca mengingatkan akan pesan teks yang di kirimkan Lorenza pada waktu itu.
Lorenzo tertawa, suara yang khas dan elegen, itu membuat bagian dalamnya bergetar, “aku tidak menganggapnya seperti itu. Malahan aku berkata jujur tentang apa yang saya katakan pada saat itu.” Balasnya lagi.
Dan itu sontak membuat wajah Bianca langsung berseri-seri. "benarkah? Itu berarti kamu sering memikirkanku?" Bianca berkata sembari menggoda Lorenzo.
“Hemmm, asal kamu tahu ya, karena pesan teks itu aku sampai kehilangan kekasihku tau.” Ujarnya, memberitahu Lorenzo keadaanya pada saat itu.
“Oh.” Balas Lorenzo dengan singkat. Lalu untuk sesaat dia langsung terdiam.
"Maafkan aku.” Ucapnya lagi.
"Untuk apa kamu meminta maaf? Itu bukan salah kamu, malah aku justru berterima kasih karena pesanmu itulah yang membuat aku akhirnya mengetahui jika pria itu memiliki sifat yang sangat brengsek.” Tungkasnya dengan senyumnya, tidak mau sampai Lorenzo merasa tidak nyaman atas kejadian ini.
“Aku juga kehilangan wanitaku, karena teks hari itu.” Ujarnya, memberitahukan Bianca kalau dia juga mendapatkan kejadian yang sama.
“Ha? Serius?” Tanya Bianca dengan antusias. “Berarti dia juga melihat ponselmu?” Tanyanya lagi, dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Lorenzo.
“Hahahah, ternyata takdir kita sama ya, kita mempunyai mantan - mantan yang dramatis.” Serunya, di iringi dengan tawanya.
“Oh, kamu salah, Vero bukanlah mantanku, kami tidak pernah berpacaran jadi dia tidaj masuk ke dalam katagori mantanku.” Lorenzo menyela pemikiran Bianca lebih dulu.
Mambuat Bianca langsung menyeritkan keningnya bingung. “Lalu siapa dia? Apakah seorang pelampiasan Nafsumu? Friends with benefits mu, atau -“
“Ya, mungkin bisa di bilang seperti itu.” Balas Lorenzo lagi, sebelum tebakam Bianca berjalan kemana - mana.
“Ehhm, okey, kalau begitu ceritakan tentang dirimu Lorenzo,” Bianca sejak tadi bertambah penasaraan dengan pria ini. Dia seperti memiliki hawa yang sangat misterius.
Tetapi, belum saja Lorenzo menjawab terlihat dari kejauhan sebuah mobil menukik tajam melewati mereka, dan hampir menabrak Bianca, tetapi dengan cepat Bianca menghindar dan Lorenzopun dengan sigap menangkapnya.
__ADS_1
“Apakah kamu baik-baik saja?” Tanya Lorenzo dengan khawatirz
Dia jauh dari baik-baik saja. dia tidak tahu apakah hatinya sedang bermain game Dengannya atau melakukan kompetisi bela diri sekarang di dalam seana. bagian pinggangnya tempat Lorenzo berusaha Untuk mematahkan kejatuhannya, merasa seperti mendesis. Dia tidak mau terhanyut dengan keadaan ini. Dia langsung bangkit dan mencoba untuk menetralkan perasaanya.
"Aku baik-baik saja.” Jawab Bianca dengan wajahnya yang memerah, tetapi sebenarnya wajahnya sudah memerah dari semenjak mereka bertemu tadi.
“Jadi, apakah kamu tidak akan menjelaskan tentang siapa dirimu?” Bianca kembali bertamya, agar bisa memecahkan keheningan di antara mereka, karena ke duanya kini terlihat sama - sama sesang canggung.
Lorenze tersenyum, dan lalu menghela nafasnya, “tidak banyak yang menarik dari diriku, mungkin aku sama sepertimu, aku menyukai risotto, tapi aku benar-benar bukan penggemar lasagna.” Jawabnya dengan wajahnya yang terlihat sedang berpikir apa yang menarik dari dirinya untuk dia ceritakan.
"Keseharianku hanyalah bekerja, dan kenyataannya, kehidupan kerja juga sudah mengambil alih segala sesuatu dalam hidup ku.” Ungkapnya, memang seperti tidak ada yang menarik dari dirinya untuk di ceritakan.
“Sepertinya memang benar, karena kamu selalu memberitahu aku jika kamu sedang sibuk,” sahut Bianca yang mengetahui hal
Itu.
“Ya, karena tidak ada lagi yang menarik dariku selain kerja, kerja, kerja dan kerja.”
Balasnya lagi.
“Jadi, tidak ada pacar?” Tanya Bianca, yang sebenarnya sejak tadi dalam intinya dia mau menanyakan itu.
"Tidak ada.” Jawabnya langsung.
"Apakah kamu mengerti betapa anehnya kedengarannya?" Anehnya seseorang seperti dia tidak memiliki wanita dalam hidupnya. seperti, dengan jenis fisik dan wajah papahnya, dia bisa memilih wanita mana pun yang dia inginkan.
"Tidak.” dia tersenyum.
"Kamu terlihat seperti ini dan kamu tidak punya wanita?" Tanya Bianca lagi.
“Maksudmu 'ini' dengan cara yang baik atau buruk?" Lorenzo kembali bertanya, dengan tatapannya yang menggoda.
"Jangan bertingkah seperti kamu tidak tahu apa yang aku maksud. tidakkah kamu melihat dirimu sendiri di cermin?" Dia tahu persis apa yang dia lakukan.
"Terima kasih atas pujiannya, Bianca. Tetapi Saya benar-benar tidak memiliki seorang wanita di dalam hidupku, karena Kehidupan kerja saya pada dasarnya adalah segalanya.”
Hari terlihat sudah mulai menggelap, dan Bianca merasa jika dia harus segera pulang, di khawatir Mommynya akan mulai mencarinya. “Hemmm, sepertinya aku harus pulang sekarang, bagaimana kalau kita bertemu lagi besok? Itupun Jika kamu mau.”
“Sure,” dia dengan cepat menjawab.
“Besok Aku akan mentraktirmu makan.” Tambahnya lagi.
"Itu keren.” dia menyeringai "Aku sibuk di siang hari, jadi mari kita bertemu di malam hari.” Ucapnya karena dia berlatih seni bela diri dengan June di pagi hari dan pamannya Luigi, akan mengambil semua sisa waktunya.
“Anytime.” Sahut Lorenzo.
Bianca tersenyum dengan puas, karena dia akan benar - benar meluangkan waktunya untuk bertemu lagi dengan pria ini besok.
...****************...
__ADS_1