Skandal Cinta Mafia

Skandal Cinta Mafia
CHAPTER 23


__ADS_3

HAPPY READING


Pada sore harinya, Misca terlihat mulai berberes - beres, bersiap untuk pulang. Tetapi tiba - tiba saja telpon di atas mejanya berdering.


“Hallo.”


“Datang ke ruanganku sekarang!” Perintahnya, dan mau tidak mau Misca kembali harus menurutinya.


**


“Ada apa Tuan?” Tanyanya dengan bingung. Karena jam kerjanya sudah selesai dan dia harus pulang sekarang.


“Supirku sedang sakit, jadi dia tidak bisa datang, jadi hari ini kamu yang akan mengantar aku pulang.” Jawabnya, tanpa melihat ke arah Misca sedikitpun.


Dia tetap fokus pada ponselnya tanpa memperdulikan tatapan Misca yang menatapnya dengan penuh amarah.


“Maaf Tuan, tapi ini sudah lewat dari jam kerja saya, jadi saya -“


“Kamu adalah sekertarisku Misca! Kalau supirku tidak bisa mengantar aku pulang! Maka kamu harus melakukkannya!” Perintahnya lagi, kali ini wajahnya melihat ke arah gadis yang ada di depannya.


“Baik Tuan.” Sahutnya dengan malas.


Kemudian dia berjalan mengambil barang bawaan milik Justin yang ingin di bawa pulang.


****


Selama perjalanan pulang, mereka terlihat hanya saling diam saja. Tidak ada yang membuka mulut di antara mereka.


Hingga mobil terparkir sempurna di halaman sebuah rumah yang cukup besar, suara Justin kembali terdengar untuk memerintah.

__ADS_1


“Bawakan masuk semua barang - barangku!”


Dan mau tidak mau dengan cepat Misca langsung mengerjakan itu. Dia terlihat sangat buru - buru masuk ke dalam rumah dan meletakan barang - barang milik Justin di atas meja.


Namun, ketika dia baru saja ingin melangkahkan kakinya keluar, tiba - tiba saja tanganya di tarik oleh Justin. “Tidak secepat itu kamu bisa pergi dari rumahku.” Tegasnya, lalu mendekatkan dirinya pada Misca dan men cium paksa bibir Misca.


Dia berusaha untuk mendorong tubuh Justin, namun kekuatannya sama sekali tidak setara.


Hingga Justin menjatuhkan tubuhnya di sofa dan mulai melonggarkan dasinya serta membuka bajunya. “Lepaskan aku! Kita sudah melakukkannya tadi! Aku lelash Justin! Aku tidak ingin melakukkannya!” Misca menolak keinginan Justin yang satu ini, dia berusaha bangkit namun Justin kembali menahan tubuhnya dan bahka kembali menghempaskannya.


“Jangan munafik Misca! Kamu juga menginginkan inikan! Kamu bahkan menikmati setiap sentuhan yang aku berikan!” Tegasnya, tanpa memperdulikan teriakan Misca yang meminta untuk di lepaskan.


Sampai dia membuka celana da lam milik Misca, dan memasukan kukubirdnya secara paksa. “Ahhhrrrrggg.” Erangnya ketika kukubird itu sudah masuk sepenuhnya.


Misca sudah tidak bisa melawan, karena percuma saja melawan toh sudah masuk juga.


Di rumah itu semuanya adalah pelayan setia Justin, jadi salah satu dari mereka akan pernah ada yang berani melaporkannya pada mamahnya.


Apa lagi di rumah itu juga Justin tinggal sendirian, sedangkan istrinya tinggal di rumah yang lainnya.


Di sini di rumah ini memang dia sudah sangat sering berhubungan dengan Misca, dia selalu menuntusakan hasratnya itu pada mantan kekasihnya ini.


Entah kenapa dia tidak bisa melakukannya dengan istrinya, setiap dia melakukkannya, dia merasa kurang bersemangat, tidak seperti ketika bermain dengan Misca yang mampu sampai beronde - ronde.


“Argghh, Misca kenapa kamu -“


“Terus, iya terus.” Teriakan Misca terdengar sangat menggairahkan. Jika di bilang munafik, iya dia adalah gadis yang munafik.


Tubuhnya selalu menginginkan hal seperti ini, dia menginginkan setiap sentuhan yang di berikan oleh Justin, tapi mulut dan hatinya kerap kali menolaknya.

__ADS_1


Dia khawatir jika hubungan gelap ini suatu saat akan ketahuan. Dia khawatirnya jika Justin tidak akan membelanya dan bahkan semakin menjerumuskannya dalam kehancuran.


“Missccccccaaaaaaaa.”


“Jussstttttiiinnn.” Teriak mereka bersamaan, ketika ke duanya sudah sama - sama sampai di puncak kesenenangan.”


Dengan nafas yang terengah, Justin menatap ke arah Misca. “Sekarang kamu boleh pergi!” Ucapnya, seperti mengusir Misca dari rumahnya.


“Apa yang kamu lakukkan?!” Tanyanya dengan geram.


“Melakukkan apa?” Tanya Justin balik, seakan - akan dia merasa jika perbuatannya itu tidaklah salah.


“Kenapa kamu memaksaku untuk melayanimu di kantor, dan sekarang kamu memintaku untuk datang ke rumahmu dan melayanimu lagi?!” Tanyanya dengan perasaanya yang benar - benar hancur.


“Aku melakukkannya karena aku mau, kenapa aku harus memberikanmu sebuah alasan, toh kamu juga menikmatinya.” Jawab Justin dengan begitu santai.


Misca tersenyum ketir saat mendengar jawaban Justin yang sangat menghina harga dirinya. “Kenapa kamu melakukkan ini padaku?! Kenapa kamu tidak melakukkanya pada istrimu atau dengan orang lain Justin!!!!!!!!!!” Teriaknya penuh dengan amarah.


Bagaimana dia tidak marah? Setiap kali Justin menginginkannya, pria itu selalu saja bersikap seoalah - olah dirinya sangat menginginkannya, dia memuja dia seakan - akan memberitahu padanya jika dia masih mencintainya.


Tetapi jika sudah selesai, pria itu pasti langsung mengusirnya bagaikan barang rongsokan yang sudah tak berguna.


“Jangan berani - beraninya kamu berteriak di depanku Misca! Aku ini mau bos di tempatmu bekerja kalau kamu lupa itu!” Justin memberikan peringatan kepada Misca untuk tidak memakinya seenaknya seperti itu.


Mischa tersenyum walaupun dia mengeluarkan air matanya, lalu dia buru - buru mengenakan pakaiannya untuk segera pergi dari rumah itu.


“Aku tidak akan mau berhubungan denganmu lagi! Tidak akan! Kamu dengar itu!” Tegasnya, sebelum dia melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Justin yang masih terkapar lemah berbaring di sofa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2