
HAPPY READING
Selesai mendapatkan jatahnya, Justin terlihat duduk santai di sofa ruang tamu dengan menikmati wine dan juga menghisap sebatang rokok.
Sedangkan Misca, terlihat masih duduk di atas meja makan, dengan meringkuk menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Ya, Justin tidak hanya memaksanya melakukkan hubungan in tim saja, tetapi Justin juga menyiksanya karena dirinya yang mengabaikannya hari ini.
Misca tidak kuat jika harus seperti ini terus menerus, sudah 7 tahun dia berusaha agar bisa lepas dari jeratan Justin, Namun dia tidak bisa.
Pernah dia mengajukan pengunduran diri dan tidak lagi bekerja di perusahaan Justin, Namun Justin malah memberikan ancaman jika dia akan menyakiti Allegra yang merupakan satu - satunya orang yang paling dekat dengannya.
“Buat apa kamu menangis seperti itu? Bukankah kamu juga menikmati setiap kali kita berhubungan?!” Suara Justin terdengar, membuat Misca menaikan pandangannya dan menatap Justin dalam pantulan cahaya minim.
“Lebih baik janganlah menjadi seorang wanita yang munafik, kalau kamu menikmatinya, maka tipu daya pura - pura tersakiti itu tidak kamu perlihatkan.” Tambahnya lagi, Misca hanya diam saja, karena dia juga tidak mampu mengatakan apapun.
Kalaupun dia membuka suaranya, maka itu akan sangat percuma, Justin tidak akan mendengarnya dan bahkan tidak akan menganggap jika kalimatnya adalah sebuah pembelaan.
Tetapi, apa yang di katakan oleh Justin itu memang benar, walaupun mulutnya menolak, tapi setiap kali Justin mulai merang sangnya, pasti dia akan menikmatinya dan malah meminta lebih.
Justin terlihat bangkit dari duduknya, menjatuhkan puntung rokoknya yang tersisa lalu menginjaknya agar mati.
Lalu dia kembali melangkah ke arah Misca. “Tidak, Justin, please, tolong jangan lagi.” Misca memundurkan tubuhnya di meja makan.
Dia sudah cukup lelah melayani Justin hari ini, bagian bawahnya juga terasa sangat perih, dia tidak akan mungkin bisa melayani Justin lagi.
__ADS_1
“Kenapa? Bukankah kamu juga menikmatinya?” Tanya Justin dengan senyumnya yang masih bisa di lihat walau hanya berbayang saja.
Justin yang entah apa yang sedang merasukinya, dia langsung mencekik leher Misca dengan sangat keras. “Uhhukkk? Justin, lepaskan a - aku! Justin!” Pinta Misca karena dia sudah mulai tidak bisa bernafas dengan baik.
“Kemana kamu hari ini?! sejak tadi kamu belum menjawabku! Jika kamu tidak menjawab aku benar - benar akan membunuhmu Misca!” Ancamnya, memperlihatkan raut wajahnya yang frustasi.
Tetapi Misca tidak menjawabnya sama sekali, dan malah mencoba untuk meraih sesuatu yang ada di atas meja yang bisa membantunya.
Dia mendapatkan sebuah asbak yang berbahan dari kaca tebal, sepertinya tadi sebelum Misca datang, Justin sudah lebih dulu merokok di sana.
Brrruggghhhhhh, Misca menghantamkan asbak itu pada kepala Justin dengan sekuat tenaganya, Hingga Justin langsung terjatuh dengan banyak darah yang keluar dari kepalanya.
Tubuh Misca seketika langsung gemetar, dia tidak tahu harus bagaimana sekarang? Tidak ada niatnya untuk membunuh Justin, tetapi kenapa Justin sekarang malah tidak bergerak?
Sepertinya dia sudah mencium hubungan perselingkuhan Justin dan Misca, dan awalnya dia ke apartemen Misca bersama dengan polisi hanya untuk menangkap basah hubungan mereka, namun siapa sangka jika ke datangan mereka malah melihat kejadian di mana Misca melakukkan pembunuhan terhadap Justin.
“Justinnnn, bangun Justin!!!” Teriak Violet, dan berusaha menyadarkan suaminya, namun detak jantung Justin semakin melemah.
“Pak tolong pak bawa suami saya ke rumah sakit.” Pinta Violet pada salah satu polisi yang menenamninya.
Beberapa polisi itu langsung bergegas untuk membawa Justin ke rumah sakit, namun pandangan Violet kembali pada Misca. “Tangkap wanita ini pak?! Dia yang sudah membunuh suami saya!” Perintahnya pada polisi yang lain.
Misca menggelengkan kepalanya pelan, tetapi dia tidak bisa membela dirinya karena semua bukti dan kenyataannya memang sudah ada di sana.
“Wanita yang sangat menjijikan, bahkan banyaknya orang di sini saja kamu masih bisa berdiri tanpa busana seperti itu?!” Tungkas Violet lagi, menatap penampilan Misca dari atas sampai ke bawah.
__ADS_1
Lalu dia memilih untuk pergi mengikuti ambulance yang sudah datang untuk membawa suaminya ke rumah sakit.
Sedangkan Misca, masih berdiri dengan air mata yang terus menarik dan tubuh yang terus menegang. “Nona Misca, kami mohon gunakan pakaian Anda.” Pinta sang polisi.
Misca yang bingung, hanya bisa menganggukan kepalanya dan menuruti permintaa polisi itu untuk menggunakan pakaiannnya yang berserakan di lantai.
“Nona Misca, apa yang terjadi di sini apakah Anda bisa menjelaskannya?” Tanya polisi itu lagi.
Misca menoleh menatap wajah polisi itu, lalu dia menggelengkan kepalanya pelan. “Apakah Anda tidak mau menjelaskannya?”
Tanya polisi itu lagi.
“Apakah Anda mengakui kesalahan Anda?”
Misca hanya menganggukan kepalanya pelan, karena menurutnya memang tidak ada yang bisa dia jelaskan untuk saat ini.
Kalaupun dia menjelaskan jika dia di paksa dan di siksa oleh Justin, lalu apakah mereka akan percaya?
Sepertinya tidak, selamanya Misca akan tetap di Cap sebagai seorang pembunuh, dan mulai dari sini biarlah Pengadilan dan hukuman yang akan menentukan takdirnya untuk ke depannya.
Kalaupun dia di penjara, tidak akan pernah ada yang merasa kehilangan, dia tidak mempunyai orang tua dan bahkan juga keluarga. Setelah kejadian ini dia juga sudah tidak memiliki harapan hidup.
Kenangan tentang kejadian berusan, pasti akan dia ingat sepanjang hidupnya jika dia adalah seorang pembunuh.
The Ending 🙏🏻
__ADS_1