
HAPPY READING
3 bulan berlalu
Setelah mencapai puncaknya, Bianca terlihat tersenyum dengan sangat bahagia. Ini adalah kenangan terbaik yang pernah terukir di dalam hidupnya. Apa lagi, dia mendapatkan Lorenzo sudah menegaskan jika pria itu mencintainya.
Lalu, tiba - tiba saja, ketika dia masih berada di dalam pelukan Lorenzo, tiba - tiba saja pintu kamar terbuka dengan paksa. Dan betapa terkejutnya dia ketika orang yang membuka paksa pintu itu adalah ibunya.
“Apa yang sudah kamu lakukkan kepada putriku?!” Tanyanya berteriak, lalu menodongkan pi stolnya pada Lorenzo.
“Apa yang ibu lakukan?! Lorenzo adalah kekasihku! Jangan menodongkan pis tol ke arahnya bu! Jatuhkan senjata ibu!” Bianca membentak ibunya dengan amarah.
Baginya ibunya sudah sangat keterlaluan dengan melakukkan hal seperti ini pada Lorenzo kekasihnya.
Dan karena situasinya sudah tidak baik, Bianca langsung bergegas untuk mengenakan pakaiannya.
Mendengar apa yang di katakan oleh putrinya, Iris terlihat malah tertawa. “Kekasih?” Tanyanya dengan wajahnya yang sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja putrinya katakan.
“Hahahaha tidak mungkin Bianca, tidak mungkin!!” Tungkas Iris dengan ke dua matanya yang terlihat seperti menyemburkan api.
“Kenapa tidak mungkin bu? Aku mencintainya dan dia mencintaiku, wajar aja kita berpacaran.” Balas Bianca, merasa tidak ada yang salah dengan hubungannya bersama dengan Lorenzo.
“Tidak Bianca! Kamu tidak boleh berpacaran dengan pria ini, karena dia adalah putra dari Anos Voldigoad!”
“Dia berasal dari keluarga yang bertanggung jawab atas kematian ayahmu Bianca! Dan kamu bukannya membalaskan dendam kematian ayahmu, malah kamu berbuat hal yang tidak senonoh dengannya, apakah kamu masih mempunyai otak Bianca?!”
Mendengar apa yang di katakan oleh Ibunya, Bianca seketika langsung membeku, dia bahkan tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini.
Baru saja dia memadu kasih dengan pria itu, dan sekarang dia harus menerima kenyataan bahwa pria itu adalah anak dari musuhnya. Saat ini yang dia inginkan hanya berharap agar tanah tempatnya berdiri saat ini, bisa menelannya hidup - hidup.
“Apakah dia putri dari Ray Gransdori?” Suara dingin Lorenzo ikut terdengar.
Karena tidak ada yang menjawab, Lorenzo langsung tersenyum sembaei menggelengkan kepalanya pelan. Bahkan suara tawanya terdengar hingga siapapun pasti mengira dia sudah sakit jiwa.
“Harusnya aku tahu hal ini sejak dulu, dan aku lebih baik hancur di bandingkan harus tidur dengan pe la cur sepertimu.” Ucapnya dengan serkas.
Kalimat Lorenzo barusan, mampu membuat Bianca langsung menatapnya dengan banyak pertanyaan. “Kamu dan keluargamu yang malang itu, kalian semua bertanggung jawab atas kematian ayahku!”
__ADS_1
“Ahhh aku paham, ternyata kamu berusaha menggodaku, seperti apa yang di lakukan oleh ayahmu yang sudah menggoda ibuku, dan setelah itu, bommm.”
“Kalian mau membunuhku.”
"Diam!” Iris berteriak.
Lalu dia kembali menaikan pis tolnya, “Selamat tinggal lelaki bereng sek! Pergi dan temui ayahmu di neraka!”
Door,,,doorrrr,, dooorrrrr. Suara tembakan terdengar, ketika ibunya berhasil melepaskan pelurunya ke kepala Lorenzo.
Bianca tetap tidak bisa bergerak, ketika dia melihat tubuh kekasihnya jatuh di lantai dengan darah yang mengalir keluar dari kepalanya. “Tidak, tidak, - Lorenzo. Tidak, Lorenzo.” Dia berteriak dengan ketakutan.
Sampai akhirnya dia bisa mendekat dengan tubuh kekasihnya. “Lorenzo.” Panggilnya lagi, namun Lorenzo sudah tidak bergerak, meskipun Bianca sudah mengguncang - guncang tubuhnya, pria itu masih tidak bergerak sama sekali.
Lorenzo sudah meninggal, dan itu membuatnya merasa sangat terguncang. Tidak ada yang bisa dia lakukkan lagi.
“Kenapa Ibu membunuhnya?!” Tanyanya pada Iris.
Lalu dia meringkuk kesakitan, dia sakit karena Lorenzo sudah meninggalkannya begitu saja, dia sakit karena ternyata selama ini dia memadu kasih dengan pria yang merupakan anak musuh keluarganya, dia sakit karena menerima kenyataan bahwa dia harus hamil tanpa suami.
Ya, sebelum melakukkan hubungan panas tadi, Bianca melakukkan tes kehamilan di depan kekasihnya itu. Dan Lorenzo sangat bahagia dengan kehamilannya makanya mereka mengungkapkan rasa kebahagian itu dengan kegiatan panas ini.
***
Hari demi haripun telah berganti, hari berubah menjadi minggu, minggupun berganti menjadi bulan.
Tetapi semua itu dia lewatkan dengan rasa sedih yang membuatnya merasa sangat depresi.
Bagaimana tidak? Dia mencintai musuhnya dan dia tidak bisa berhenti membenci dirinya sendiri karena hal itu.
Takdir macam apa ini? Kenapa Tuhan membuatnya jatuh cinta kepada orang yang seharushnya dia benci?
Apa lagi, pria itu sudah meninggal di tangan ibunya, membuatnya tidak bisa bertanya kenapa pria itu tega membohonginya selama ini.
Tetapi, sebesar - besar apapun kebenciannya, di dalam hatinya tetap saja sangat mencintai pria itu, dan berharap pria itu tidak mati dan masih di sini bersamanya.
Tetapi masalahnya sekarang dia sedang hamil, dan dia bingung harus berbuat apa? Dia tidak mau sampai ibunya mengetahui tentang kehamilannya ini, dia tidak mau jika ibunya akan membunuh anaknya, karena anaknya ini adalah keturunan dari keluarga Voldigoad.
__ADS_1
Dan sekarang dia juga sudah tunggal selama beberapa bulan belakangan ini di Los Angles, dia hanya tinggal sendiri merawat kehamilannya yang sudah tinggal menghitung hari. Tidak ada yang mengetahui tentang kehamilannya ini.
Hanya saja, terkadang Allegra masih mau datang untuk mengunjunginya. Tetapi dalam keadaan ini, dia harus sadar jika takdir memintanya untuk berjuang sendiri.
Sendirian dan itu membuat jiwanya sakit. Mengapa dia melakukan hubungan terlarang dengan Lorenzo tanpa pengaman? Sekarang dia terjebak dengan bayi pria itu dan tidak memiliki siapa pun yang bisa membantunya selain Allegra.
Dia merasa sangat kesepian dan sedih. Tak jarang dia memiliki pikiran untuk bunuh diri tetapi dia menghentikan dirinya untuk melakukkan itu karena dia masih perduli dengan anaknya.
Ini semua karena bisnis permusuhan mafia, itu sebab dari awal dan akhir dari segalanya. Selamanya tidak akan pernah ada kata damai, seandianya saja dia bisa memutar waktu, dia ingin terlahir di keluarga yang biasa - biasa saja, lalu bertemu dengan Lorenzo yang juga dari keluarga biasa.
*******************
Hari merasakan kontraksipun telah tiba, Bianca berteriak dengan sangat kesakitan, dia tidak tahan merasakan sakit seperti jni.
“Ahhhhhh, sakit!!! Tolong aku, sakit!!” Pintanya memohon, agar penederitan itu bisa cepat selesai.
“Tenanglah Bianca, kamu akan baik - baik saja, percayalah,” Allegra berusaha untuk menengangkan Bianca.
Lalu tak lama kemudian, tim dokter langsung masuk ke dalam untuk menolong Bianca melewati persalinan ini.
Sampai dia mendengar suara tangisan bayi, barulah dia bisa tersenyum dalam ekspresi kelelahannya. “Bisakah aku melihatnya?” Tanya Bianca, ketika dia merasakan sesak di dadanya.
Dokter yang mengurus bayi Bianca, langsung mendekatkan bayi itu pada ibunya untuk melakukkan Inisiasi menyusu dini. “Hay sayang, anak ibu, kamu cantik sekali Nak.” Ucapnya memuji kecantikan bayinya yang baru saja lahir.
Tanpa dia sadari, air matapun menetes keluar dari matanya. “Arrgghhh.” Rintihnya ketika dia merasa sakit di dadanya semakin menusuknya.
“Misca Voldigoad.”
“Aku menamainya Misca.” Ucapnya dengan lirih, namun tak lama kemudian ke dua matanya tertutup dan tubuhnya merosot lemah.
Dokter yang melihat itu lagi bergegas mengambil kembali bayi Bianca yang sudah diberikan nama itu.
Dokter bergegas ke arahnya dan meraih bayi itu dari tangannya. Lalu dokter memberikan bayi itu pada perawat yang ada di sana untuk di berikan pada Allegra yang sudah menunggu di luar.
Setelah memberikan bayi Bianca pada perawat, dokter kembali menolong Bianca, dia menekan - nekan dada Bianca, agar detak jantungnya bisa kembali.
Namun ketika dia sudah berusaha, tubuh Bianca sama sekali tidak merespon, dan dia sudah meninggalkan dunia ini.
__ADS_1
Dia pergi ikut bersama dengan Lorenzo, dan meninggalkan anaknya seorang diri di dunia.
...****************...